Tuesday, September 30, 2008

MEMBUKA BLOG BARU: SUDEWI2000.WORDPRESS.COM

Rekan, terhitung hari ini, 30 September 2008, aku mulai menggunakan blog baru:
sudewi2000.wordpress.com
Jika berkenan, silakan juga membuka blog tersebut.
Selamat hari raya Idul Fitri.
Tami

Dear friends,
Please also refer to my new blog:
sudewi2000.wordpress.com
Regards, Tami

Posted by Tami at 06:20:57 | Permalink | Comments (2)

Friday, September 12, 2008

NAIK HERCULES, SIAPA TAKUT?

Jambore Kebangsaan Manokwari Agustus lalu memang banyak memberikanku pengalaman menarik. Salah satunya adalah naik hercules. Sebelumnya, tidak pernah terfikir untuk naik pesawat bermesin plus berbaling-baling ini. Mendengar namanya, bagiku seperti membayangkan burung besi tua yang mengerikan, yang terpaksa harus terbang tinggi dengan suara berisik dengan tingkat keamanan yang rendah.


 

Prasangka tersebut berbeda dengan apa yang kutemui. Sesudah menunggu sekian lama di bandara Hasanuddin lama, pesawat bermotif lurik hijau khas TNI mendarat. Rombongan yang berangkat dari Makassar yang berjumlah hampir 20 orang dibagi dua kelompok. Aku termasuk kelompok pertama yang naik hercules short body.

 

Takut-takut penasaran, kunaiki anak tangga menuju pesawat. Pertama yang kulihat, tumpukan barang di sisi depan pesawat. Sementara para penumpang, tidak duduk menghadap depan, tapi menyamping berhadapan. Persis seperti naik mikrolet, gumamku. Juga, tidak ada sabuk pengaman, tidak ada meja kecil di depan yang bisa dibuka, plus tidak pula ditemui awak kabin seperti di pesawat komersil. Semua serba berbeda, mungkin lebih tepatnya unik.

 

Saat take-off tiba, masih kulihat beberapa teman yang sebelumnya sudah naik dari Jakarta, memainkan hp untuk ber-sms. ”Matikan dong,” teriakku ke salah satu di antara mereka. Suara kerasku yang bersaing dengan deru mesin, dibalas dengan senyum. Yang ditegur tetap asyik bersms dan tidak mematikan hp sama sekali. Merasa tidak digubris, aku duduk agak tegang, berpegangan pada jejaring di belakangku yang menjadi tempat bersandar, siap untuk lepas landas.

 

Aku memandang ke buritan pesawat. Nampak pintu barang yang sudah tertutup menjadi tempat duduk beberapa kru pria berpakaian layaknya orang mau terjun payung. Di sisi kanan dan kiri, masing-masing dekat jendela besar berbentuk oval, berdiri satu orang kru. Dengan alat penutup kuping di telinga, mereka nampak serius mengamati luar melalui jendela. Dan, aku ternganga waktu take-off tiba. Mereka tidak duduk atau berpegangan erat-erat. Dua orang yang berdiri tetap dengan santai berada pada posisinya. Aku yang tanpa sadar dari tadi sudah berpegang kuat pada jaring, perlahan mengendurkan pegangan. Seiring melemahnya cengkramanku, rasa tegangku berkurang, berganti rasa penasaran akan apa yang sedang kualami.

 

Sesaat sesudah lepas landas, Nona, sahabat cantikku dari tim Ormas Depdagri, pindah ke belakang dan duduk bersama-sama para kru di buritan pesawat. Bang Anton dan Mas Eko juga segera bergabung. Mereka nampak tertawa riang. Aku yang mengamati penasaran. Sesaat Nona melambai ke arahku memintaku untuk bergabung. Dengan ragu aku beranjak, melewati beberapa teman dan sebuah kardus besar berisi kotak makan siang, dan akhirnya sampailah aku ke buritan kapal udara. Agak ragu aku menaiki bagian pintu pesawat. Seorang kru mengulurkan tangan membantuku naik, dan sedetik kemudian, aku duduk di samping Nona.

 

Duduk di buritan pesawat inilah yang total mengubah pandanganku terhadap hercules. Beberapa kru yang kemudian bergabung ngobrol sesudah pesawat mengudara sekitar 30 menit, lalu bercerita banyak seputar burung besi TNI ini. Pesawat keluaran tahun 1961 yang diawaki 14 orang termasuk para pilotnya, merupakan satu dari sekitar 24 hercules yang bernaung di bawah 2 skuadron. Skuadron 32 berada di Malang dan 31 di Jakarta, masing-masing memiliki 12 pesawat. Dalam satu hercules, biasanya diawaki 13-14 orang yang terdiri dari pilot, kopilot, bagian navigasi, radio dan teknisi. Andri, seorang awak yang telah setia menemani hercules selama 32 tahun sebagai teknisi, dengan semangat menjelaskan semua yang ingin kuketahui. ”Oh, jadi yang kita naiki ini short body ya, Pak,” tuturku. Aku mengangguk mengetahui hercules yang long body memiliki tubuh yang lebih panjang dan mampu mengangkut barang dan penumpang lebih banyak lagi.

 

”Lantas, seberapa aman naik hercules?” tanyaku kepada bapak beranak 3 berpangkat kapten ini. Pria berlogat Jawa tersebut menjelaskan tingkat keamanan hercules yang lebih tinggi dibandingkan pesawat komersil. Pertama, pesawat ini selalu dipelihara dan dicek kelengkapannya. Kemudian, hercules memiliki empat mesin. ”Jadi kalaupun mesinnya tiga buah mati, kan masih ada satu,” canda Andri tertawa lebar. Dia melanjutkan, selain 4 mesin, sebuah hercules juga dilengkapi 2 baling-baling.

 

Banyak cerita yang kudapat dari Andri, juga dari dua kru yang berusia lebih muda, Bambang dan Imam. Tidak terasa perjalanan lebih dari 2 jam dari Makassar ke Ambon kulalui. Awan tebal nampak bergulung di angkasa kota Manise ini. Aku agak gugup memperkirakan akan ada turbulensi menjelang pesawat mendarat. Melihat beberapa teman dan kru masih duduk dengan manisnya di buritan, akupun tidak beranjak. Benar. Ketika hampir mendarat, hanya riak udara kecil yang kualami. Sampai menyentuh landasan, hampir tidak ada guncangan terasa. Aku tersenyum senang.

 

Memang tanpa sabuk pengaman, juga tanpa awak kabin yang melayani. Tapi, naik hercules ternyata menyenangkan. Keramahan para teknisi, keamanan yang dijelaskan juga pengalaman yang menyenangkan saat lepas landas, di udara dan menyentuh landasan bersama hercules, membuatku tidak takut lagi menaiki moda transport udara tersebut. Lalu, perjalanan 1 jam lebih dari Ambon menuju Manokwari pun kini kulalui dengan penuh semangat dan tanpa kekhawatiran. Aku mulai mencintai hercules dengan segenap keunikannya.

Posted by Tami at 18:15:11 | Permalink | Comments (2)

Friday, September 5, 2008

DI LAUT KITA (PERNAH) JAYA

Di Manokwari, di pusat pemeliharaan fasilitas Angkatan Laut, Fasharkan, tiap pagi sewaktu keluar dari tenda, aku bisa melihat sebuah kapal bercat tutul putih abu-abu khas TNI AL. Itulah salah satu kapal TNI penjaga wilayah laut Nusantara, yang selama 3 hari setia menongkrongi kami, para peserta Jambore Kebangsaan. Kapal yang bertengger di pelabuhan berlatar belakang Pegunungan Arfat menjadi salah satu favoritku.
 
 Bersama Sahabat Berlatar Kapal TNI

Empat hari sesudah 17 Agustus, tepatnya 21 Agustus, aku membaca di sebuah koran bahwa hari itu adalah Hari Maritim. Saat membaca kata maritim, tiba-tiba terlintaslah cerita guru sejarahku di SMP dulu, Bu Darwina, tentang Sriwijaya: tentang kejayaannya di laut, kekuasaannya yang melampaui batas administratif Indonesia sekarang ini, dsb, dsb.

Membaca kembali sejarah Sriwijaya sejak abad ke 7 sampai sirna di abad 14, laksana merunut kembali kejayaan nenek moyang kita di laut. Pengelana masa lalu China, I Tsing, yang hidup pada abad ke 7, mencatat kebesaran Sriwijaya yang menjadi penguasa laut selama berabad-abad. Dia pernah menumpang salah satu kapal Sriwijaya ke India Tengah. I Tsing mencatat kejayaan Sriwijaya sebagai penguasa maritim Laut Selatan, selain tentunya sebagai pusat perdagangan dan penyebaran agama Budha. Bangsa lain di Sumatera, Melayu, juga pernah memiliki Hang Tuah dan 4 sahabatnya yang terkenal begitu piawai di laut di masa Kesultanan Malaka.

Ujung utara Sumatera, Aceh, juga mencatat nama Laksamana Malahayati. Perempuan perkasa ini bahkan diyakini sebagai laksamana pertama di dunia. Di bawah kepemimpinan Malahayati, Angkatan Laut Kerajaan Aceh terbilang besar, terdiri dari ratusan kapal perang. Saat Cornelis de Houtman, orang Belanda pertama yang tiba di Indonesia, datang untuk kedua kali pada 1599 ke Aceh dengan membawa armada perang, dia dan pasukannya berhadapan dengan pasukan tangguh dibawah pimpinan Malahayati. Cornelis de Houtman sendiri mati dibunuh oleh perempuan pemimpin Inong Balee (janda-janda pahlawan yang telah tewas) ini pada 11 September 1599. Selain armada Belanda, Malahayati juga berhasil membuat lintang pukang armada Portugis. Hanya Inggris yang bebas dari besutan dahsyatnya karena memilih untuk menempuh jalan damai sewaktu mereka mulai masuk ke Aceh.

Bagian timur Indonesia juga memiliki bangsa petarung laut: Bugis-Makassar. Penjelajahan orang Bugis-Makassar bukan saja sampai ke Sulawesi (Celebes), Kalimantan (Borneo), Sumatera (Andalas), Timor, Maluku,Ternate, bahkan merambah jauh ke pelosok bumi lain seperti Cina, Malaysia, Filipina, Kamboja, Afrika, kawasan Pasifik, dan Australia. Dengan perahu phinisinya, mereka mengencangkan layar mengarungi laut dan samudera untuk berdagang dan menjelajah wilayah-wilayah baru. Sebagian dari mereka tinggal, menetap, bahkan kawin mawin di daerah baru tersebut.

Sebuah perahu layar bersandar di pantai Losari, Makassar

Aku kembali teringkat kapal anggun AL yang berlabuh berhari-hari di Fasharkan, Manokwari; Teringat kembali Indonesia punya Hari Maritim 21 Agustus; Mengenang dan membaca kembali cerita dan juga legenda tentang kedigjayaan maritim bangsa berabad-abad silam, dari ujung barat sampai bagian timur negeri; Lalu ingat betapa panik dan marahnya kita ketika dua pulau: Sipadan dan Ligitan, direnggut Malaysia; Betapa lintang pukangnya angkatan laut kita dengan “apa adanya” mengatasi pemodal dan nelayan asing yang masuk menguras isi laut. Apakah betul banyak layar phinisi sudah lama digulung daripada dikibarkan, kapal lebih banyak bersandar daripada berlayar?

Kita tidaklah bisa menghindar dari kenyataan bahwa jalan tol sudah banyak dibangun, mobil semakin masuk bertumpuk utamanya di kota-kota besar, tapi prasarana dan sarana laut terabaikan. Pulau-pulau kecil kita, terutama yang terluar, setiap saat bisa diambil alih negara lain, lautan kita diaduk-aduk dan diangkut isinya di depan mata. Jika kita masih ingin menjaga dan membangun negeri kita secara utuh, laut juga haruslah mendapat perhatian besar dari pemerintah dan masyarakat. Laut bukan lagi dilihat sebagai pemisah, tapi pemersatu dan penghubung antar pulau. Dari sekarang, karenanya, pembangunan, pelestarian dan penjagaan bukan lagi cukup terfokus di darat, tapi juga harus berparadigma tanah air.

Jika daratan penting, maka air (laut dan samudera) juga sama pentingnya. Bagi Indonesia, unsur air dan daratlah yang membentuk tanah air. Mudah-mudahan kita kembali punya semangat untuk mengibarkan kembali bendera kejayaan kita di laut. Di laut kita kembali jaya!

Posted by Tami at 13:53:30 | Permalink | Comments (3)

Wednesday, August 20, 2008

MANOKWARI SEKILAS PANDANG: AWAL YANG MENYENANGKAN

Memang hanya sekilas! Total cuma 3 hari yang kuhabiskan di Manokwari. Bersama-sama dengan ratusan peserta lain dari LSM, mahasiswa dan pihak lain, aku terlibat dalam kegiatan Jambore Kebangsaan 2008 yang diadakan Depdagri.

15 Agustus 2008. Ketika hercules kedua yang membawa rombongan mendarat di bandara Manokwari, tarian adat penyambutan disuguhkan. Beberapa lelaki dan perempuan berpakaian adat menari dengan gerak lincah dan energik. Wajah-wajah perempuan para penari begitu eksotis. Lelakinya juga tidak kalau menarik dengan badan tinggi tegap dan kulit kecoklatan.

       Lihat Herculesku               Di Bandara Manokwari

      Wajah Wajah Eksotis            Lincah Menari

Sesudah menikmati sesaat keramahan sambutan khas Papua Barat, kami menuju bis berangkat menuju Fasharkan, tempat pemeliharaan peralatan angkatan laut yang terletak di pusat kota. Perjalanan ke sana cukup menyenangkan. Apalagi melihat teluk berbanyu biru disertai deretan Pegunungan Arfat yang ditutupi awan. Papua memang selalu eksotis.

    Pegunungan Arfat                Kapal AL di Fasharkan

Menjelang sore, acara pembukaan Jambore Kebangsaan 2008 dibuka oleh Dirjen Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Depdagri. Aku yang sudah belasan tahun tidak mengikuti upacara, berbisik ke kedua sahabatku, Desy dan Frieda, mengkhawatirkan kalau-kalau upacara berjalan lama. Perjalanan sekitar 5 jam memakai Hercules dari Makassar, termasuk transit di Ambon, walau menyenangkan, cukup melelahkan jua. Kalau aku pingsan, mati aku, pikirku. Dan memang ada peserta yang pingsan. Tapi bukan aku.

Selesai upacara, aku menghampiri Pak Dar, panggilan akrab Pak Sudarsono, Dirjen Kesbangpol, sekedar memberitahu kalau aku sudah bergabung. Desy dan Frieda juga terpaksa kuseret-seret untuk bersalaman dengan beberapa tamu lain. Seru rasanya bertemu dengan banyak orang, beberapa di antaranya teman lama di kegiatan ini.

Sesudah itu, entah berkah atau anugerah, kami bertiga yang kelelahan, bertanya kepada salah satu anggota AL di mana ada kamar mandi. Agak heran juga melihat kami dibawa ke gedung yang di dalamnya mewah, ber-AC. Asyik, kita dapat kamar mandi bagus, jeritku. Sepuluh menit kemudian, bagian belakang gedung di mana ditemui kamar mandi dan dapur pintu yang kami kunci, diketuk. Ketika dibuka, nampak seseorang berpakaian AL terbata-bata memberitahu bahwa kami salah masuk. Kujelaskan kalau seseorang dari mereka yang mengantar kami ke sini. Beberapa saat kemudian, ketika giliran Frieda yang mandi terakhir sedang jebar jebur, pintu diketuk kembali. Kali ini seorang petugas perempuan yang mengatakan bahwa ini ruangan untuk pejabat. Ha ha, kontan aku dan Desy terbahak sesudah petugas tersebut pergi. Sesaat sesudah keadaan aman, bersijingkat kami bertiga keluar lewat pintu belakang. Tak apalah salah pakai kamar mandi. Yang penting segar sesudah berjam-jam berjibaku dengan keringat.

Malam itu dilanjutkan dengan kegiatan hiburan. Tarian khas Papua Barat kembali digelar. Para penari mengajak peserta berdansa. Ada beberapa tampilan lain yang cukup memukau seperti tari Tanduk Majeng dari Madura yang diperagakan empat penari profesional yang telah cukup berpengalaman melanglang buana menjadi duta budaya. Tapi yang paling luar biasa adalah suguhan nyanyian dari Edo Kondolagit. Penyanyi asal Sorong ini membuat bulu kuduk berdiri meriding dan jantung berdebar, ketika dengan gayanya sendiri, dia membawakan lagu “Indonesia Tanah Air Beta”. Edo memang dahsyat, komentar seorang teman yang duduk di belakangku.

Tengah malam berlalu. Sesudah mengatur tempat tidur lipat khas tentara di tenda berukuran besar, aku dan Frieda mengobrol tentang hari yang menyenangkan itu. Desy terpisah entah ke mana. Udara malam terasa dingin, tidak sepanas siang tadi. Kucoba duduk di ranjang. Wah, empuk ternyata. Kokoh dan nyaman. Sesaat kemudian aku berbaring. Frieda yang berada di sisi kiriku juga melakukan hal yang sama. Lamat-lamat bunyi jangkrik mengiringi tidur nyenyakku. Selamat malam, Manokwari.

Posted by Tami at 10:58:50 | Permalink | Comments (3)

Thursday, July 31, 2008

MAKNA ISRA MI’RAJ: HORIZONTAL, VERTIKAL DAN SUPER REVOLUSI

Saat Isra Mi’raj, Nabi Muhammad melakukan perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa. Kemudian beranjak naik ke langit, lapis demi lapis. Dalam kediamanku, tiba-tiba aku terfikir tentang Isra Mi’raj. Bagi sang Nabi Besar, ia bermakna luar biasa dan membuatnya memiliki keajaiban yang tidak dimiliki para Nabi lain. Muhammad bahkan sanggup berada di langit dan menemui para Nabi yang telah lebih dahulu berpulang.

Tapi, apa bagiku sebagai manusia? Saat melakukan Isra, ada pengertian horizontal yang dilakukan. Horizontal bisa bermakna sejajar. Makna horizontal ini dalam konteks kekinian yang sedang dihadapi bisa diartikan bahwa kita diajak untuk selalu melihat manusia sama derajatnya. Saat menyadari hal ini, perlakukan kita terhadap sesamapun menjadi lebih baik dan lebih arif. Tidak lagi kita membiarkan diri berpangku tangan saat melihat yang lain butuh pertolongan. Tidak lagi kita menjadi begitu serakah menumpuk apa yang seharusnya bukan menjadi hak kita, sementara di belahan nusantara atau bumi lain, masih ada saudara kita sesama manusia yang hidup dalam kondisi mengenaskan dan tidak layak. Buka mata lebar-lebar untuk melihat, telinga untuk mendengar, hati untuk merasakan, otak berfikir bagaimana sebaiknya, dan kaki tangan membantu kita mewujudkan tindakan ke sesuatu yang lebih baik bagi banyak orang.

   Potret Masyarakat Miskin Gn. Kidul          Kernyitan Dahi Tetua di Malinau

Juga, saat kita melihat apa yang ada di bumi dan semesta ini sebagai ciptaan Tuhan memiliki hak hidup dan berkembang yang sama, maka sudah tepat kiranya jika kita mencoba sekali lagi melihat apa yang telah kita perbuat, andil apa secara individu, kelompok, maupun massal yang dilakukan, sehingga kehidupan mahluk lain menjadi begitu terancam? Banyak jenis hewan dan tumbuhan telah punah yang terjadi karena tindakan manusia, langsung maupun tidak langsung, disadari maupun tidak disadari.

Bumi pun berontak menunjukkan sikap. Ketika ambang batas daya tahan dan kesadaran bumi sudah dilangkahi manusia begitu rupa, bumi yang selama ini mengayomipun menjadi bereaksi. Dalam berbagai bentuk, ketidaknyamanan hidup di bumi mulai dirasakan. Berbagai istilah ilmiah seperti pemanasan global sebenarnya merupakan cara kita untuk menggambarkan ketidaknyamanan bumi akibat ulah manusia. Jika sikap kita tidak berubah, bukan mustahil dalam waktu singkat, bukan hanya ketidaknyamanan yang kita terima, bumi bahkan bisa menolak kita. Bisa jadi ini merupakan tragedi luar biasa, saat bumi yang selama ini menjadi orangtua manusia yang melindungi dan mengayomi, menjadi tidak sanggup lagi menerima perlakuan anaknya yang telah menjadi Malin Kundang.


 
       Bola Api (Karya: Alif)                         Lihat Ke Langit

Kiranya, makna horizontal Isra menjadi penting untuk menggugah serta meluruskan kembali sikap dan tindakan kita terhadap sesama manusia, juga terhadap bumi dan isinya.

Selain itu, makna perjalanan Nabi berabad-abad lalu juga bermakna vertikal. Rasa kemanusiaan dan kepedulian yang makin tipis, bisa jadi menunjukkan tingkat ingatan dan pemahaman yang semakin menurun terhadap Yang Kuasa. Allah berada di atas, secara vertikal menjadi “panutan” manusia dalam bersikap dan bertindak. Mi’raj mengajak kita untuk tetap melihat ke atas, selalu mengingat sang Pencipta. Konsekuensinya, pada saat kita selalu mengingat Allah, perbuatan dan sikap kita pun menjadi lebih manusiawi, sesuai dengan apa yang digariskan Allah. Dalam bentuk tindakan, kita menjadi manusia yang lebih baik lagi, menjadi Khalifah Tuhan di bumi yang adil tidak hanya bagi diri sendiri, tapi mengayomi manusia lain dan seluruh isi bumi. Tindakan merusak-pun menjadi sesuatu yang selayaknya kita tinggalkan jauh-jauh. Ingatan atas ke-Ilahi-an dan segala konsekuensinyalah yang coba diketuk dalam makna horizontal Mi’raj.

Makna ketiga dari Isra Mi’raj adalah super revolusi. Saat melakukan perpindahan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, dan kemudian melanglang naik ke langit, semua dialami Nabi Muhammad secara begitu cepat. Pergerakan dan perpindahan begitu luar biasa. Super revolusilah yang terjadi. Dalam konteks kekinian, apa makna super revolusi ini? Paling tidak bagi saya, super revolusi berarti kita sebagai manusia yang diberi akal fikiran dan hati nurani, bisa berfikir cepat dan bertindak cepat, sendiri maupun bersama, untuk melakukan perubahan terhadap segala kondisi krisis yang sedang kita hadapi, baik krisis kemanusiaan, lingkungan dan ke-Ilahi-an.

Dengan terus menerus merenungkan, memahami dan kemudian mewujudkan makna Isra Mi’raj dalam tindakan, mudah-mudahan akan banyak perubahan dan kemajuan yang bisa kita dapatkan. Bumipun bisa lebih sayang terhadap kita. Demikian juga anak-anak menjadi lebih bisa tersenyum lebar melihat masa depan mereka yang lebih baik.

     Bersampan Bersama Sunset            Senyum Ceria Bocah Setulang

Banjar Baru, 30 Juli 2008

Posted by Tami at 14:33:11 | Permalink | Comments (2)

Wednesday, July 30, 2008

CERPEN: PEREMPUAN YANG CEMBURU

May, demikian suamiku memanggilnya. Aku tidak tahu nama panjangnya. Yang jelas, yang aku tahu dia adalah May. Suatu malam, sebulan lalu, tiba-tiba sering kudengar sms masuk menjelang tengah malam ke hp Ridho. Mula-mula kupikir itu biasa. Tapi esoknya dan esoknya lagi hal itu berulang. Anehnya, Ridho selalu cepat menghapus sms-sms itu. Sesekali dia nampak melirik ke arahku, khawatir aku memergokinya.

Seminggu kemudian, sepulang kerja, kuajak sahabat akrabku, Alma, berbincang. Kuceritakan tentang kecurigaanku dan bukti tentang masuknya sms menjelang dan saat tengah malam. “Harus dicek, “ tegas sahabatku.

Aku menggeleng bingung, “Aku tidak tahu caranya. Aku tidak pernah mengalami ini.”

“Cek hpnya. Lihat sms yang masuk dan keluar. Dari situ mungkin ada petunjuk,” Alma mengaduk cafe latte yang masih nampak hangat di hadapannya.

“Aku gak bisa, Al. Aku belum pernah melakukannya. Ridho akan marah besar jika tahu aku mengutak-atik privasinya. Aku..” Tergugu rasanya. Aku hampir tidak mampu berkata apa-apa.

Alma menarik tanganku dan menggenggamnya erat. “Cobalah. Tidak ada salahnya, kan?”

Malam itu, saat Ridho tertidur pulas, aku mengecek hp-nya yang tidak pernah terkunci. Ya Allah, hampir pingsan rasanya aku membaca tiga sms terakhir yang ada di inbox. May namanya.

SMS 1: “Tolong aku, Mas. May bingung. Tidak tahu harus berbuat apa-apa. Kandunganku sudah semakin besar.”
SMS 2: “Yah, May setuju. Di Kafe Nasional lebih baik kan Mas?”
SMS 3: “Mas, jangan lupa ya. Kangen juga aku, sekalian kita ketemu. Wah, tidak sabar rasanya menanti bulan depan.”

Dengan cepat otakku mencatat nomor May. Saat aku hendak merangsak jauh mengecek hp, tiba-tiba Ridho bergerak mengubah posisi tidur. Hampir mati berdiri aku rasanya. Dengan cepat kuletakkan kembali hp di meja kecil di pojok kamar. Aku tidak punya nyali lagi mengecek sent items dari hp itu. Masa bodoh. Aku diam-diam menangis malam itu. Untuk pertama kali sejak aku menikah dengan Ridho selama lebih dari 7 tahun, aku merasa sesuatu menusuk menikam ulu hati.

Aku bertemu kembali dengan Alma. Setelah menceritakan isi sms May, Alma terlihat berkerut. “Nampaknya memang dia selingkuhan Ridho, Sis.”

“Tapi Ridho, dia terlalu baik. Tidak mungkin dia tega melakukannya.”

“Siska, jangan naif,” Alma memotong agak ketus.

Akhirnya aku menyerah. Kuturuti saran Alma untuk menyewa seseorang untuk melacak May dari nomor hpnya. Seminggu kemudian, pria tersebut, yang kubayar cukup mahal, bisa memberikan info awal tentang May. Dia berusia 3o tahunan dan belum menikah. Dia tinggal di Bandung, tempat di mana suamiku beberapa kali pergi dengan alasan meeting kantor. Geram aku. Mual aku. Ingin rasanya muntah. Terlebih ketika pria informan itu mengatakan, May sedang hamil muda.

Dan inilah harinya. Sejak semalam aku gelisah. Hampir tidak bisa tidur. Kepada Ridho kukatakan aku sedang tidak enak badan dan minta tidak dibangunkan. “Aku mau ijin hari ini, Say, “ bohongku kepada Ridho yang terlihat iba menatapku. Aku tidak peduli. Kupejamkan mata. Aku memang sakit. Hatiku yang sakit. Tikaman itu terasa makin menghujam di dada. Sesaat, aku merasakan luapan di dada yang tidak bisa kutahan. Sakit itu bercampur amarah. Aku… aku mulai membenci suamiku!

Setelah tahu Ridho sudah berangkat, aku bergegas beranjak. Tanpa sempat mandi dan berdandan, hanya mencuci muka dan menggosok gigi, kukenakan pakaian sekenanya. Tidak perlu rapi, karena toh, nanti, sesuai diskusiku dengan Alma, aku menyamar. Sepatu pantofel kukenakan, dengan celana panjang hitam dan hem maron kedodoran, beserta syal krem yang kusilang di kepala, aku segera mengeluarkan motor dari garasi. Semua pakaian untuk keperluan menyamar kubeli 2 hari lalu di Tanah Abang. Dengan ditemani Alma, aku memilih pakaian yang betul-betul berbeda dari biasanya yang kukenakan. Masa bodoh dengan segala trend terbaru, gerutuku. Hari ini adalah hari di mana aku akan melabrak Ridho dan May, selingkuhannya.

Dalam waktu setengah jam, aku sudah berada di jalan, tepat di seberang Kafe Nasional. Sesudah kuparkir motor, aku siap-siap menyeberang. Aku menajamkan pandanganku mencari sosok perempuan itu. Aku belum pernah melihatnya. Tapi sesuai pesan yang diterima Alma dari sang informan, May akan mengenakan batik corak kebiruan dan memakai tas warna coklat. Walaupun aku sempat bingung mengernyitkan dahi - -dari mana Alma tahu tentang May sedetil itu – aku tidak terlalu ambil pusing. Rasa geram dan cemburuku yang saat ini kurasakan semakin memuncak.

Lima menit aku berdiri di seberang, mencoba mencari-cari perempuan berbatik kebiruan dan mengenakan tas coklat. Lalu lintas yang lumayan padat cukup menghalangi pandanganku. Tiba-tiba, itu dia. Kulihat perempuan itu duduk, tepat di pinggir bagian luar kafe. Dan… Ya Tuhan. Dia duduk semeja dengan suamiku. May memang sedang bertemu dengan Ridho. Aku sudah hampir muntah, pusing, geram, marah. Semua bercampur aduk.

Tanpa melihat kanan kiri, aku segera menyeberang jalan. Tidak kuhiraukan beberapa kali klakson berbunyi. Peduli setan, dua meter lagi aku sampai. Mataku terus menatap pasangan yang nampak asyik berbincang itu. Tiba-tiba, Ridho menoleh ke arahku dan matanya terbelalak kaget. Aku hendak berteriak geram ketika blas….. Aku terhempas, terkapar. Yang kutahu sekilas, sebuah motor yang melaju sangat kencang menabrakku.

“Siska…,” Ridho melompat. Memeluk tubuhku, mengguncang sesekali. Kerumunan orang semakin banyak. Aku bingung, kenapa tiba-tiba Ridho memeluk perempuan yang mirip aku. Padahal aku berada di antara orang-orang yang berkerumun. Kucoba menghampiri Ridho yang sedang menangis dan berteriak histeris. Kusentuh bahunya, dia tidak bergeming. Kucubit tangannya, dia tidak bereaksi sedikitpun.

Aku makin bingung. Panik. Kudekati May. Dia tidak bergeming, tetap duduk di mejaku. Anehnya, dia malah sedang asyik sms. Mmh, keterlaluan perempuan lacur ini. Geram aku melihat kelakuannya. Kuhampiri untuk meludahi mukanya. Sebelumnya, ingin kutarik rambutnya. Ya, betul-betul kutarik. Tapi, dia tidak peduli. Kutarik kembali. Tidak ada perubahan, dia tetap asyik dengan hp-nya.

Akhirnya kugerakkan badan untuk bisa duduk tepat di hadapannya. Dan … aku hampir melorot. Lemas melihat May yang tidak lain adalah Alma. Kurangajar. Kulayangkan tangan ke mukanya. Tapi dia sepertinya tidak merasakan apa-apa. Malah, tiba-tiba dia tersenyum lebar.

Penasaran kudekati dia. Ingin kurampas hp-nya. Dia seperti tadi, tidak peduli sedikitpun, seolah aku tidak ada di dekatnya sama sekali. Aku sudah tidak peduli. Mataku memelototi apa yang sedang diketiknya. Untuk sesaat, aku betul-betul sudah kehilangan akal membaca isinya: “Mas, caramu menabraknya luarbiasa. Dia betul-betul terkapar tidak berdaya. Tidak akan ada lagi yang menghalangiku menjadi wakil direktur bulan depan. I love u, Mas.”

Bangsat, sialan, sundal! Alma sundal….!!!!!!!

Sedetik Alma berdiri. Aku yang terduduk lemas melakukan upaya terakhir, mencoba menjegal kakinya. Tapi dia tetap bisa melenggang bebas tanpa kendala.

Tinggallah aku yang menangis meraung-raung tanpa seorangpun bisa mendengarku. Tinggallah suamiku, yang makin terisak, di tengah kerumunan orang yang sedang menantikan ambulans dan polisi.

Banjarbaru, 30 Juli 2008


  
 Zombie (Oleh Alif, 13 Jan 07)
   
   Fosil Dino Pelangi (Oleh Alif, 6 Mei 2007)

Posted by Tami at 17:50:14 | Permalink | Comments (1) »

Tuesday, July 29, 2008

PEREMPUAN DARI BERBAGAI PELOSOK NUSANTARA

Saat aku berkesempatan menjelajah beberapa tempat unik dan menarik di Indonesia, aku diberkahi waktu untuk bisa datang, duduk, berbicara ataupun sekedar menatap beberapa perempuan yang kutemui. Beberapa di antaranya berusia sangat lanjut.

Tidak peduli apa yang kulakukan, mereka masih asyik terus dengan pekerjaannya. Perempuan renta namun perkasa yang kutemui sedang menyuburkan tanah gersangnya, saat aku dan beberapa teman dari Dephut melakukan kegiatan Hutan Kemasyarakatan Juli 2007 di Gunung Kidul, Yogyakarta, membuatku tersentak dan semakin menyadari betapa penting arti tanah sebagai alat dan aset utama untuk bertahan hidup bagi jutaan orang di Indonesia. Ada lagi perempuan yang diapit oleh anak dan temannya, nampak ceria sesudah pulang membawa hasil hutan di wilayah Gunung Kidul. Namun, mereka nampak agak malu-malu saat kufoto.

    Yang Tua Yang Perkasa                        Membawa Pulang Hasil Hutan
    Gunung Kidul, Yogyakarta                   Gunung Kidul, Yogyakarta

Atau lihat juga bervariasinya tatap mata dan raut wajah dua perempuan yang terbilang cukup tua yang kutemui di Desa Setulang, Malinau, Kalimantan Timur, Agustus 2007. Satu memperlihatkan rasa lelah sehabis pulang mengolah ladang, sementara satunya lagi sesudah menyelesaikan tugas menganyam topi dari sejenis daun dan memasak, masih tetap memperlihatkan senyum jenakanya.

     Kelelahan Pulang Berladang               Tetap Ceria Menjelang Senja
     Desa Setulang, Malinau, Kaltim          Desa Setulang, Malinau, Kaltim

Beberapa wajah unik menarik para perempuan penjuru juga disuguhkan di sini. Ada Ayu yang memang ayu, seorang penjual kartu pos di Pura Besakih, Bali, yang harus membanting tulang menghidupi diri dan keluarganya. Dia kutemui saat aku dan sahabatku Agung Ayu dengan gagah beraninya menapaki tingginya tangga-tangga Pura Besakih sampai menuju tingkat tertinggi, Pura Gelap pada April 2007. Tengok lagi seorang nenek yang pernah kutemui Mei 2007 dalam perjalananku menuju Toraja. Saat dia asyik mencuci piring di seberang warungnya, diam-diam aku mengambil fotonya. Yang terlihat darinya tatapan tajam, tegas dan berani.

      Multi Peran Perempuan                   Tajam Menatap
      Besakih, Bali                                          Toraja, Sulawesi Selatan

Kemudian, kita beranjak ke Jambi. Ada dua foto unik yang kutemui. Pertama perempuan adat dari Desa Guguk, Jambi, yang terkenal dengan Hutan Adat Guguk-nya. Saat membawa hasil hutan dalam bakul keranjang yang digendongnya, dia bersedia berpose ketika kuminta. Terakhir, foto perempuan belia berusia belasan tahun yang nampak polos tapi sudah menggendong seorang anak. Dia kutemui saat aku dan beberapa teman berkunjung ke Desa Lubuk Beringin, Jambi. Dua foto ini kuambil pada Juni 2007.

     Pulang Meramu                              Belia Menggendong Balita
     Desa Guguk, Jambi                        Desa Lubuk Beringin, Jambi

Apapun raut yang diperlihatkan, bagiku mereka adalah para perempuan pemberani dari berbagai pelosok negeri, yang dengan caranya masing-masing berani menghadapi tantangan hidup.

Posted by Tami at 15:50:37 | Permalink | Comments (2)

Monday, July 28, 2008

ANGGREKKU DI JULI 2008 (BAGIAN 2)

Inilah anggrek-anggrek lainnya, yang juga kuambil tanggal 27 dan 28 Juli. Semua, tentu saja, masih dari halaman rumahku.

         Anggrek dari Jawa Barat                      Gergaji Meratus, Kalsel

   Jenis Lain Gergaji Meratus     Anggrek Meratus Mirip Kantong Semar

Posted by Tami at 05:51:15 | Permalink | Comments (2)

ANGGREKKU DI JULI 2008 (BAGIAN 1)

27 dan 28 Juli. Beberapa anggrek yang sedang mekar membuatku bersemangat untuk mengabadikannya. Dan inilah mereka. Ada yang asli, ada yang silang. Masing-masing memiliki keindahan tersendiri. Aku tidak terlalu paham nama dan jenis anggrek. Bagi yang mengetahui nama, asal maupun jenis, tolong kasih tahu ya.

       Anggrek Macan Sulawesi                 Macan Sulawesi - Mekar

          Bulbul  Meratus: Dari Dekat                  Bulbul Meratus, Kalsel


              Golden Shower Silang                         Dandrum Silang

          Modista Meratus, Kalsel                         Catalya, Kalteng

Posted by Tami at 05:17:34 | Permalink | Comments (2)

Sunday, July 27, 2008

JELAJAH BELANDA

DEN HAAG

Di sinilah aku menghabiskan hampir sebagian waktuku selama 1 bulan di Eropa, dari akhir Mei sampai akhir Juni 2008. Centrum, pusat kota, menjadi tempat tinggalku. Hostelku terletak di Oudemostraat. Berjarak sekitar 100 meter dari Istana Resmi Tempat Kerja Ratu Belanda, dan hanya sekitar 10 menit berjalan kaki dari tempat kuliahku, the Institute of Social Studies (ISS).

     ISS tampak samping                            Istana Kantor Ratu Belanda
      Foto: Tami                                                Foto: Tami     

Aku menyukai hampir setiap sisi kota ini. Open market, sejenis pasar tradisional yang bersih, menjadi target jika aku dan teman-teman ingin berbelanja murah. Jenis barang apapun tersedia, termasuk makanan dan pakaian. Terkadang, kami juga iseng mengintip toko-toko “setengah megah” di antara toko-toko merek dunia yang membentang di kira-kanan hostelku. Jika ada pengumuman “korting”, bergegaslah kami masuk untuk mengecek harga. Lumayan. Ada teman yang menemukan sepatu, baju, tas atau dompet dengan harga miring, tapi bagus. Mmh, aku juga melakukan hal yang sama.

Yang mengagumkan di Den Haag, juga tempat-tempat lain di Belanda adalah bangunan tua dan sistem kanal yang terjaga dengan baik. Bangunan baru yang dibangun juga tidak mengganggu jalur hijau dan sistem kanal di kota ini. Trotoar dibuat dari sejenis batu yang disusun tidak rapat, sehingga bisa tetap memberi ruang nafas bagi tanah dan jalan bagi air merambat ke dalam tanah.

Sistem transportasi Den Haag juga tertata rapi. Untuk umum tersedia kereta, trem dan bis. Untuk keperluan pribadi, sepeda berseliweran di mana-mana. Malah ada jalan khusus dan rambu-rambu lalu lintas bagi sepeda. Menurut informasi dari sahabat SD-ku yang menikah dengan orang Belanda, Intan, jumlah sepeda di Belanda lebih banyak dari jumlah penduduknya. Menarik memang. Selain hemat dan tidak mengeluarkan polusi, kebiasaan bersepeda ini menjadikan orang-orang yang tinggal di Belanda menjadi lebih gesit dan sehat.

        Kanal Kecil Depan ISS                        Budaya Bersepeda
         Foto: Tami                                              Foto: Tami

AMSTERDAM

Di sinilah ibukota Belanda terletak. Dua kali aku sempat singgah di kota ini. Dengan kereta, hanya memerlukan waktu sekitar 30 menit dari Den Haag. Lazimnya ibukota di dunia, kota ini nampak lebih hiruk pikuk. Namun bangunan tua dan kanal tetap terpelihara dengan baik. Sistem transportasi juga sama dengan Den Haag: kereta, trem dan bis. Mmh, tambahan satu lagi, sepeda juga berseliweran di mana-mana.

Yang menarik di Amsterdam adalah cukup banyaknya rumah apung di sepanjang kanal. Sempitnya wilayah Belanda dibandingkan dengan penduduknya yang lumayan padat menjadikan tinggal di perahu berukuran lumayan besar menjadi salah satu alternatif yang ditempuh, selain menghuni “rumah susun” tentunya. Nampak beberapa rumah perahu tertata rapi dan dihias unik oleh para pemilik.

     Kanal di Amsterdam                             Di salah satu sudut Amsterdam
        Foto: Tami                                               Foto: Wahyu ISS

SCHEVENINGEN

Inilah salah satu tempat favoritku. Hanya memerlukan waktu sekitar 20 menit dengan trem dari Centrum, sampailah aku ke salah satu pantai terkenal di sekitar Den Haag. Beberapa kali aku melewatkan waktu di pantai ini menunggu sunset yang terjadi lewat pukul 10 malam. Dua kali aku berhasil mengabadikan momen sunset yang cukup lumayan dan memadukannya dengan latar belakang kafe atau restoran yang banyak ditemukan di sepanjang Sceveningen.

Di Scheveningen juga ada satu hotel tua yang memiliki makna bersejarah bagi Indonesia maupun Belanda. Hotel Kuur Haus menjadi saksi bisu Konferensi Meja Bundar (KMB) 1949. Sampai sekarang hotel ini masih berdiri megah layaknya sebuah istana mini.

      Hotel Kuur Haus                                      Matahari Menyentuh Cerobong

       Sepanjang Pantai                                Matahari Bertengger di Cerobong

      Kuning Keemasan: The Sunset                Merah Merona: The Sunset
      Semua foto di Scheveningen:
      Oleh Tami

LEIDEN

Beberapa hari sebelum pulang meninggalkan Eropa, aku, Mukti dan Boyce menyempatkan diri ke Leiden. Banyak hal yang ternyata sangat menarik di kota kecil yang berjarak hanya sekitar 20 menit dari Den Haag menggunakan kereta. Yang pertama adalah kincir angin atau windmill kecil yang terletak di tengah kota. Aku yang tidak sempat melihat kincir angin ukuran raksasa yang menjadi salah satu ikon Belanda begitu bersemangat memelototi bangunan tua ini.

       Depan Kincir Angin                                 Depan Sebuah Meriam Kuno
         Foto: Mukti ISS                                          Foto: Mukti ISS

Yang kedua, tentu saja Universiteit Leiden yang dianggap sebagai salah satu universitas yang terkenal di dunia. Tepat di seberang universitas itu ada perpustakaan sejarah yang cukup terkenal, KITLV. Yang juga menarik, tepat di bawah temboknya, berbatasan langsung dengan sungai, ada tulisan dengan huruf Lontara, huruf kuno suku Bugis di Sulawesi. Aku mengamati seekor angsa yang lalu lalang sepanjang tulisan Lontara itu.

       Lontara Depan KITLV                         Patung Rembrand
        Foto: Tami                                               Foto: Mukti ISS

Yang ketiga, rumah kediaman Rembrand semasa kecil, tahun 1600-an. Rumah ini tepat berada di jalan Rembrand, yang berjarak hanya sekitar 5 menit berjalan kaki dari Universitas Leiden. Nampak jelas rumah ini terawat dengan baik. Tidak jauh dari rumah itu, ada patung Rembrand kecil yang digambarkan tengah mengamati hasil lukisannya.

MADURODAM

Situs ini cukup terkenal di dunia. Di sini bisa ditemui miniatur dari bangunan-bangunan kuno dan modern, serta ikon-ikon Belanda lainnya. Dari istana Ratu Belanda, gedung parlemen, kincir angin, sampai bandara Schipol. Tempat wisata ini tidak jauh dari Den Haag, hanya perlu naik trem sekitar 20 menit. Bagi yang tidak sempat mengunjungi Belanda untuk waktu yang lama, Madurodam sudah cukup mampu menampilkan gambaran negeri Kincir Angin ini secara garis besar.

    Bangunan mini Madurodam             Lihat istanaku
       Foto: Tami                                           Foto: Mukti ISS

DELF

Kota kecil ini terkenal karena dua hal: tempat menjual souvenir murah dan tempat Universiteit Delf, sejenis ITB-nya Belanda. Sama seperti tempat-tempat lain di Belanda, ada bangunan-bangunan kuno seperti gereja dan istana kecil yang kutemui di sini. Juga ada kanal mungil. Kafe-kafe juga mulai bertebaran, seiring dengan datangnya musim panas di Belanda. Aku tidak sempat menjelajah lebih jauh di Delf. Tapi aku cukup puas sempat melongok sesaat kota teknologi ini. (Foto berikut oleh Tami dan Wahyu ISS)

Posted by Tami at 09:53:05 | Permalink | Comments (3)