Friday, September 16, 2005

16 Sept 05: 11.00

Jumat, 16 September 2005

11.00 WIB

Hari terakhir writing workshop. Kelegaan yang kurasakan. Seperti yang kutulis kemarin, aku lega bisa mengalahkan diri sendiri. Aku lega mempunyai cara pandang baru tentang waktu untuk menulis.

Sepuluh hari di sini, tidak hanya kemampuan menulis “canggih” yang kupelajari. Lebih dari itu, aku belajar keuletan dari teman-teman. Aku juga belajar dari diri sendiri untuk mengubah cara pandang. Inilah yang paling berharga.

“Waktu tidak akan pernah ada, kecuali kita sendiri yang menentukan. Maka, jika kita ingin menulis, relakanlah waktu untuk menulis.”

“Hal-hal kecil yang kita lihat, hilang dalam hitungan waktu, kecuali jika kita melestarikannya dalam tulisan. Kemudian, saat semua tertulis, hal-hal kecil tersebut ternyata begitu indah dan menyenangkan”

Terimakasih untuk hari-hari inspiratif ini,

Terima kasih buat mentor dan semua teman.

Tami

 

 

 

 

Posted by Tami at 04:53:20 | Permalink | Comments (4)

Thursday, September 15, 2005

Aku: 15 Sept 05

Aku kangen dengan tiga anakku yang sudah beberapa hari kutinggalkan. Writing workshop di Bogor memang menyenangkan, tapi ingat anak lebih menyenangkan lagi.

Rama, bungsuku yang 23 Sept nanti dua tahun dan belum bisa ngomong, hanya berceloteh seperti biasanya lewat telpon. Mengoceh panjang lebar, ucapannya akan berakhir, he….

Ara, si nomor dua, yang 6 Sept lalu berulangtahun ke 4, berkomentar, “Mah, kok mamah pulangnya lama? Sudah lebih setengah jam perginya.” He he lucu, padahal aku sudah meninggalkan rumah sejak 5 Sept, tapi Ara mengukurnya dalam hitungan jam

Alif, yang 1 Sept lalu tepat 6 tahun, lewat telpon menanyakan jam berapa di Bogor, jam berapa di Jakarta, Australia, Amerika, Perancis dan Islandia. Aku sempat menjawab beberapa, tapi bingung dengan yang lain. “Lif, kok kamu tahu nama-nama negara?’ tanyaku. “Alif kan baca, Mah,” jawabnya lugu. He he, aku lupa kalau anak sulungku ini gila baca.

Hari ini kembali menyenangkan. Final draft tulisanku untuk “Jender dan Keanekaragaman Hayati” sudah selesai. Senang rasanya aku bisa mengalahkan diri sendiri. Lama sekali aku punya cita-cita menulis pengalamanku dan teman-teman di lapangan. Tapi terbentur banyak hal. Tidak punya waktu alasan utamaku. Kemudian aku menyadari bahwa waktu tidak akan ada kalau kita tidak pernah meluangkannya.

Dan malam ini aku mulai meluangkan waktu untuk menulis…

Posted by Tami at 14:33:19 | Permalink | Comments (2)

Menapak Sukses Bersama Bakau

Menapak Sukses Bersama Bakau
?>

Oleh: Swary Utami Dewi

 

“…Kita tidak boleh putus asa meski penghasilan melaut tidak lagi mencukupi. Anak-anak tetap harus sekolah.“

(Amriani, ibu empat anak, tinggal di Teluk
?>Lombok)

 

Semangat untuk meraih sukses bisa timbul dari mana saja, termasuk dari kerusakan alam. Inilah yang ditunjukkan masyarakat Dusun Teluk Lombok Taman Nasional Kutai, Kalimantan Timur. Pesisir desa dengan hutan bakau yang rusak tidak membuat semangat mereka surut untuk merintis kesuksesan. Bergandengan tangan dengan sebuah lembaga swadaya masyarakat bernama Bikal, dimulailah tapak perjalanan masyarakat, laki-laki dan perempuan, menuju hidup yang lebih baik bersama bakau.

 

Bakau dan Teluk Lombok

Teluk Lombok dan satu dusun lainnya berada dalam naungan desa Sangkima, tidak jauh dari pesisir Taman Nasional Kutai. Sangkima sendiri tercatat sebagai desa tertua di wilayah taman nasional yang memiliki luas 198.629 hektar ini. Hutan mangrove yang melindungi pantai dari erosi, hantaman gelombang dan terpaan badai, terbentang di sepanjang timur taman nasional itu. Hutan bakau di Taman Nasional Kutai merupakan bagian dari kekayaan hutan bakau Kalimantan Timur yang luasnya hanya kalah dari hutan serupa di Papua dan Sumatera Selatan.

Saat masih begitu rimbun, hutan bakau menjadi gantungan hidup masyarakat Teluk Lombok. Ikan, udang dan kepiting yang begitu melimpah, mencari makan, bernaung dan berkembang biak di sekitar rimbunan bakau. Nelayan menangkap hasil laut dan menjualnya mentah ke pasar. Sebagian diolah menjadi ikan asin oleh para perempuan.

 

Petaka Datang

Rimbun bakau ternyata tidak bertahan lama. Hutan bakau perlahan menghilang, tercerabut dari pesisir Taman Nasional Kutai. Bermula dari dibangunnya jalan di wilayah tersebut oleh satu perusahaan besar di awal 1970-an, akses masuk pun tercipta. Perambahan terhadap kawasan ini pun terjadi. Bakau bersama jenis hutan lain yang ada di situ ditebangi secara membabi buta oleh orang luar, seperti dari Balikpapan dan Ujungpandang. Hutan bakau juga banyak disulap menjadi tambak udang.  

Pesisir Teluk Lombok yang dulu terkenal rimbun juga tidak luput dari gerayangan tangan-tangan penjarah.  Ado Tadulako (58 tahun), mantan kepala dusun Teluk Lombok, masih mengingat dengan jelas bagaimana mulai pertengahan 1970-an banyak orang luar datang menebangi bakau dan memboyongnya ke kota. “Katanya ada yang dijual ke Ujungpandang,” papar Ado sambil mengisap kreteknya. Masyarakat Teluk Lombok waktu itu hanya menonton berkubik-kubik kayu bakau dari dusun mereka diangkut keluar. “Waktu itu, tidak ada yang melarang. Tidak ada yang menghalangi karena kami pikir tidak akan ada akibatnya bagi kami yang tinggal dan bermata pencaharian di sini,” kenangnya.

Bertahun-tahun kemudian, Teluk Lombok mulai merasakan derita akibat lenyapnya hutan bakau di pesisir. Abrasi membuat garis pantai semakin melebar sehingga Ado harus memindahkan pondok keluarganya ratusan meter ke arah daratan. Beberapa bulan kemudian, anggota dusun lainnya menyusul langkah Ado.

Sambil terus merokok dan menyeruput kopi, Ado melanjutkan cerita terpuruknya Teluk Lombok.  “Dulu kita tidak perlu jauh melaut. Tapi, hasilnya melimpah. Setiap hari kita bisa menangkap ikan, selain udang dan kepiting rata-rata 2-3 pikul,” tuturnya. Seiring rusaknya bakau, tangkapan hasil laut pun semakin menipis. “Mulai 1982 terasa susahnya. Sehari paling banyak 20 kilogram (kg). Itu pun sudah harus melaut jauh dari pantai,” tutur pria bertubuh kurus ini.

Seiring berjalannya waktu, keadaan bertambah sulit. Untuk melaut, masyarakat harus pergi jauh dari pantai. Bertarung dengan ombak yang lebih besar harus dilakukan. Perahu juga membutuhkan bahan bakar lebih banyak karena jarak melaut yang makin jauh. Namun, hasil tangkapan tidak seberapa. Bahkan jika bisa mendapat 10 kg saja dalam sehari, kata Ado, “kita sudah seperti kejatuhan rejeki dari langit“.

Saat hasil laut sudah tidak bisa menjadi satu-satunya pegangan, masyarakat mulai mencoba melakukan pekerjaan lain. Bersamaan dengan pindahnya letak dusun ke arah daratan akibat abrasi, masyarakat mulai mencoba kegiatan berkebun palawija. Walau tidak menyumbang pada tambahan penghasilan, hasil kebun ditambah hasil tangkapan laut yang tidak seberapa, cukup jadi pengganjal perut. 

 

Ado: Sang Motivator

Ado, sebagai seorang tokoh setempat, terus berpikir mengapa nasib buruk bisa menimpa Teluk Lombok. Saat itu, pemerintah dan beberapa lembaga swadaya masyarakat yang peduli terhadap Taman Nasional Kutai mulai melakukan berbagai aktivitas. Rasa ingin tahu membuat Ado bersemangat mengikuti kegiatan tersebut. Ado pun mulai paham bahwa kerusakan bakau menghancurkan kehidupan ikan, udang dan kepiting serta membuat pemukiman Teluk Lombok harus berpindah jauh ke arah daratan.

Atas dorongan Ado, masyarakat Teluk Lombok kemudian giat melakukan upaya rehabilitasi hutan bakau untuk menumbuhkan kembali mata pencaharian mereka. Ado memulainya dengan mengajak anggota dusun mendiskusikan kesulitan mereka dan mencari jalan keluarnya.

 

Dukungan Bikal dan Pihak Lain

Keaktifan Ado, membuatnya bertemu Bikal, salah satu lembaga swadaya masyarakat di Kalimantan Timur. Awal kerjasama Bikal dan Teluk Lombok dilakukan tahun 2000 melalui program “Resolusi Konflik: Konsolidasi Kebijakan Pengelolaan Taman Nasional Kutai“. Program ini mendapat dukungan dana dari NRM (Natural Resources Management), sebuah lembaga pemberi dana.

Selanjutnya, pada 2002-2003 organisasi yang berkantor di Samarinda dan Bontang ini mendapat dukungan dari Civil Society Support and Strengthening Program (CSSP) untuk program peningkatan ketrampilan dan kemampuan masyarakat. Sekarang, Bikal dan masyarakat di tujuh dusun Taman Nasional Kutai  menjalankan program “Penguatan Kemandirian Ekonomi Masyarakat Melalui Kemitraan Multipihak”. Kali ini Bikal didukung oleh Multistakeholder Forestry Program (MFP) atau program kehutanan multipihak, kolaborasi pemerintah Inggris dan Departemen Kehutanan RI.

Pertengahan 2001, saat melakukan kampanye kelestarian dan penguatan kelembagaan desa, Bikal menyadari ajakan melestarikan lingkungan tidak dipedulikan masyarakat karena mereka sedang menghadapi persoalan yang sangat mendesak, yaitu kebutuhan perut. Lembaga swayada masyarakat ini melihat bahwa pendekatan harus diubah. Masalah ekonomi yang dihadapi masyarakat menjadi peluang mengembangkan program rehabilitasi bakau di kawasan pesisir.

Bikal beruntung karena Teluk Lombok memiliki Ado yang menjadi pemompa semangat masyarakat. Dengan dimotori Ado, masyarakat terus melakukan diskusi. Kegiatan ini membuat mereka semakin menyadari pentingnya rehabilitasi bakau untuk mengembalikan sumber mata pencaharian dusun Teluk Lombok.  

Bikal merespon keinginan masyarakat Teluk Lombok untuk memulihkan bakau dan meraih kembali kekuatan ekonominya. Belajar dari proses selama ini, tiga strategi digunakan dalam membantu dusun tersebut. Pertama, penguatan masyarakat dipandang perlu, yang kemudian dilakukan melalui pembentukan organisasi dan peningkatan ketrampilan. Kedua, melihat semangat para ibu Teluk Lombok, penguatan perempuan juga dipandang penting dalam upaya rehabilitasi bakau dan peningkatan kesejahteraan  masyarakat. Terakhir, masyarakat didorong untuk terus menggalang kerjasama dengan pihak-pihak lain misal dengan Dinas Kehutanan Kutai Timur, Dinas Lingkungan Hidup Kutai Timur dan beberapa perusahaan besar yang tergabung dalam Mitra Taman Nasional Kutai.

 

Pentingnya Berorganisasi

Dalam upaya rehabilitasi bakau, masyarakat Teluk Lombok mengalami proses belajar. Kegagalan program reboisasi bakau 2002 yang dilakukan Dinas Kehutanan Kutai Timur, yang juga menjangkau Teluk Lombok menjadi bahan diskusi masyarakat. Masyarakat menilai bahwa program seluas 200 hektar (ha) ini gagal karena mereka tidak dilibatkan secara aktif sebagai pelaku. Program ini hanya menempatkan warga Teluk Lombok sebagai penanam bibit bakau belaka. Selebihnya diatur oleh kontraktor luar yang dipercaya dinas tersebut.

Ketika Bikal memperoleh dana Civil Society Support and Strengthening Program, ruang belajar bagi Teluk Lombok semakin terbuka. Pada Juli 2003, Usman Kallu, tokoh muda masyarakat Teluk Lombok, bersama Bikal  berkesempatan melihat pengelolaan bakau masyarakat di Desa Tongke-Tongke, Sinjai, Sulawesi Selatan. Keberhasilan pengelolaan ini tidak lepas dari peran kelompok petani bakau “Aku Cinta Indonesia“. Cerita menarik Usman sepulang dari Tongke-Tongke membuat masyarakat Teluk Lombok berkeinginan mengelola bakau sendiri. Kunjungan ini juga mengajarkan mereka bahwa keberhasilan masyarakat desa tersebut sangat ditentukan oleh keberadaan organisasi petani yang dibentuk sendiri oleh masyarakat.

Pentingnya berorganisasi semakin terlihat saat Bikal dan masyarakat Teluk Lombok mengejar peluang untuk mengelola bakau sendiri. Bercermin dari kegagalan program Dinas Kehutanan Kutai Timur 2002 dan keberhasilan masyarakat Tongke-Tongke mengelola bakau sendiri, masyarakat yakin bahwa rehabilitasi bakau di dusunnya bisa berjalan jika mereka sendiri yang menanam, menjaga dan memelihara. Namun, kesempatan untuk membuktikan diri harus lebih dulu ada. Pendekatan Bikal dengan Mitra Taman Nasional Kutai membuahkan hasil. Masyarakat mendapat dukungan modal untuk mengelola sendiri rehabilitasi bakau di pesisir dusunnya seluas 10 ha. Namun, keperluan administratif membutuhkan adanya organisasi resmi.

Berdasarkan berbagai pertimbangan di atas, Pangkang Lestari didirikan pada April 2004. Dalam bahasa setempat, Pangkang berarti api-api (sejenis bakau). Penamaan Pangkang Lestari menandai keinginan masyarakat untuk menumbuhkan dan melestarikan bakau di Teluk Lombok.

Dalam perjalanannya, saat upaya rehabilitasi bakau menimbulkan inovasi lain seperti krupuk kepiting, Kelompok Tani Pangkang Lestari, yang diketuai Usman Kallu ini, juga berkembang. Beberapa Kelompok Kerja terbentuk sesuai kebutuhan, misal Kelompok Kerja Krupuk Kepiting Bakau dan Kelompok Kerja Aneka Hasil Rumput Laut.

 

Semangat Belajar dan Inovasi yang Mulai Membuahkan Hasil

Semangat belajar yang tinggi diperlihatkan masyarakat dalam melakukan proses rehabilitasi. Pangkang Lestari memiliki cara tersendiri untuk memantau perkembangan bibit bakau yang ditanam. Setiap bulan Sekolah Lapang digelar, baik di lokasi pembibitan maupun di pantai tempat penanaman. Di tempat pembibitan, Sekolah Lapang dilakukan untuk mengamati bibit, misal serangga apa saja yang mengganggu dan bagaimana mengatasi gangguan tersebut. Di pantai tempat penanaman akan dilihat sejauh mana pertumbuhan tanaman setiap bulan dan apakah ada gangguan di lokasi tanam. Sesudahnya, sambil duduk santai di pantai, masyarakat secara serius mendiskusikan perkembangan bakaunya.

Berkat ketekunan masyarakat, bibit bakau yang ditanam tumbuh dengan baik. Seorang pengamat lingkungan dari Semarang, Muhammad Marzuki, seperti dikutip Harian Kompas (9 Agustus 2004), menjelaskan tentang tidak mudahnya menanam bakau. “Untuk setiap inci pertumbuhan bakau bisa memerlukan  waktu berbulan-bulan. Kendala berdatangan ketika masyarakat sekitar pantai tidak juga paham perlunya hutan bakau,“ tutur Marzuki. Di Teluk Lombok, bibit bakau yang ditanam sekitar 200.000 pohon. Menurut Ado, anak bakau yang waktu ditanam memiliki tinggi sekitar 30-50 cm dalam 13 bulan menjadi 1,5-2 m. Karenanya, rehabilitasi Pangkang Lestari bisa dikatakan sukses.

Tidak hanya itu, luas wilayah rehabilitasi yang semula luasnya 10 ha pada Agustus menjadi 12 ha pada Desember 2004. Para petani melakukan penanaman tambahan secara swadaya sesudah melihat ada tanah gundul di sekitar pesisir yang perlu ditanami. Bibit bakau di area tambahan ini juga tumbuh dengan baik.

Keberhasilan ini menjadikan Pangkang Lestari dipercaya sebagai penyedia bibit untuk program rehabilitasi bakau Dinas Kehutanan Kutai Timur. Dinas selama ini memasok bibit dari Balikpapan. Saparuddin dari Bikal menjelaskan Pangkang Lestari mampu menyediakan 375.000 bibit bakau untuk lahan seluas 150 ha. Setiap batang bibit dihargai Rp 450,00.

Keinginan menerapkan hasil belajar dari tempat lain untuk meningkatkan pendapatan, sekali lagi ditunjukkan petani bakau Teluk Lombok. Meski sudah mulai menampakkan hasil, bergantung semata dari tangkapan ikan dan hasil penjualan bibit bakau ke proyek rehabilitasi pemerintah belum mencukupi. Masyarakat tetap harus mencari jalan bagaimana dapur masih tetap berasap sembari menanti pulihnya hutan bakau.

Kebetulan, saat mendapat kesempatan melihat proses pembibitan bakau di Kariangau, Balikpapan Juli 2003, Usman juga sempat melihat cara penggemukan kepiting melalui keramba. Kepiting keramba inilah yang menjadi alternatif mata pencaharian lain. Dalam 20 hari kepiting sudah bisa dipanen, kemudian dijual dengan harga antara Rp 8.000,00 – Rp 10.000,00 per kg.

Selain itu,  masyarakat juga mulai melirik upaya budidaya rumput laut yang biasanya juga dilakukan di wilayah hutan bakau. Kelompok Kerja Rumput Laut dibentuk di bawah Kelompok Pangkang Lestari. Budidaya ini baru dikembangkan sejak Agustus 2005.

Budidaya rumput laut nampaknya pilihan tepat. Budidaya ini sangat menguntungkan dan hanya memerlukan teknologi sederhana. Kantor Berita Antara mengutip pendapat Prof. Sulistijo, peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) tentang hal ini. Menurutnya, jika budidaya berhasil, rumput laut dapat dipanen setiap 1,5 bulan. Satu hektar bisa menghasilkan Rp  1.000.000,00 – Rp 3.000.000,00. Indonesia sendiri, masih menurut Sulistijo, setiap tahunnya kekurangan rumput laut sebanyak 40.000 ton untuk diekspor. Mengingat prospeknya, kiranya tepat pilihan budidaya rumput laut yang baru dimulai Pangkang Lestari.

 

Saling Dukung Lelaki dan Perempuan

Usaha kepiting keramba Pangkang Lestari menumbuhkan inovasi tersendiri bagi para ibu di Teluk Lombok. Saat ujicoba penggemukan kepiting di keramba, ternyata tidak semua kepiting bisa dijual. Kepiting yang cacat tidak laku di pasaran. Petani harus membuang lumayan banyak kepiting cacat. Dari 15-20 kg kepiting yang ada di satu keramba, sekitar 2-3 kg cacat. Melihat banyaknya kepiting yang terbuang percuma, saat itu timbul ide para ibu untuk mengolahnya menjadi krupuk kepiting.

Ide krupuk kepiting ini berdasarkan cerita Usman tentang seorang ibu di Kariangau, Balikpapan, yang membuat produk ini untuk dikonsumsi sendiri. Saat Pangkang Lestari mendapatkan pelatihan pengelolaan kepiting keramba, seorang ibu menanyakan makanan apa saja yang bisa diolah dari kepiting. Krupuk adalah salah satu jawaban.

Ternyata, usaha krupuk kepiting sangat menguntungkan. Jika harga kepiting mentah berkisar antara Rp 8.000,00 – Rp 10.000,00 per kg, krupuk kepiting produksi perempuan Kelompok Kerja Krupuk Kepiting ini dihargai Rp 40.000,00 per kg. Penjualan pun mulai merambah ke beberapa kota seperti Sangatta dan Bontang.

Kelompok Kerja Krupuk Kepiting yang diketuai Sumanti ini sudah menunjukkan prestasi. Dalam Lomba Teknologi Tepat Guna Masyarakat tingkat Kabupaten Kutai Timur dan tingkat Propinsi Kalimantan Timur, mereka berhasil meraih kemenangan. Kelompok ini akan mewakili Kaltim dalam lomba tingkat nasional yang diselenggarakan September 2005 di Palembang.

Inovasi para ibu lebih membuat bersemangat para petani Teluk Lombok. Masyarakat setempat menyadari perlunya ketersediaan bahan mentah untuk menunjang usaha krupuk kepiting. Bahan mentah dari kepiting alam masih sulit diperoleh karena hutan bakau belum pulih. Maka, dalam jangka pendek, upaya penggemukan kepiting keramba tetap dilakukan. Petani Pangkang Lestari kini giat mempelajari cara penggemukan keramba yang lebih efektif. Dalam waktu dekat, penetasan telur kepiting untuk mendapatkan bibit kepiting keramba juga akan dipelajari.

Semangat para ibu tidak hanya berhenti sampai krupuk kepiting. Kini mereka sedang mempelajari berbagai macam makanan olahan dari rumput laut, menyambut upaya budidaya yang sedang diujicoba Pangkang Lestari. Beberapa jenis makanan, seperti puding, manisan dan es rumput laut, sudah dihasilkan dan dijual ke perusahaan sekitar.

 

Dampak: Kepercayaan Pihak Lain

            Proses belajar yang membuktikan bahwa dusun Teluk Lombok mampu mengelola rehabilitasinya sendiri menjadikan masyarakat percaya diri dan kemudian menumbuhkan kepercayaan pihak lain. Ini terlihat ketika masyarakat berkeinginan menjadi penyedia bibit bagi program rehabilitasi bakau 2004 dari pemerintah kabupaten Kutai Timur. Bikal menyambungkan keinginan ini kepada seorang anggota DPRD Kutai Timur, yang lalu menyampaikannya ke Dinas Kehutanan Kutai Timur. Pangkang Lestari pun menjadi penyedia bibit bagi program rehabilitasi bakau yang baru ini, mengganti pemasok bibit dari Balikpapan.

Mitra Taman Nasional Kutai juga memberikan dana untuk program penggemukan kepiting dan berjanji memberikan dukungan lebih lanjut. Kelompok Kerja Krupuk Kepiting mendapat modal dari Program Kesejahteraan Keluarga dan Badan Pemberdayaan Masyarakat Kutai Timur. Untuk masa mendatang, beberapa pihak seperti Dinas Perindustrian Kutai Timur telah berkomitmen mendukung usaha masyarakat Teluk Lombok.

 

Pelajaran Berharga Teluk Lombok

Dari upaya yang dilakukan Bikal bersama masyarakat Teluk Lombok, ada beberapa pelajaran menarik yang dipetik. Pertama, masyarakat memiliki kemampuan bertahan dan mengembangkan diri meski berangkat dari kondisi keterpurukan. Pada masyarakat Teluk Lombok, kerusakan hutan bakau mendorong mereka untuk berjuang dan kreatif dalam menumbuhkan kembali bakau dan meningkatkan kesejahteraan ekonominya.

Kedua, apa yang terjadi di Teluk Lombok memperlihatkan hal-hal yang diperlukan masyarakat untuk menyelamatkan lingkungan serta meningkatkan kesejahteraan. Adanya tokoh atau motivator lokal serta pihak yang mendukung menjadi hal penting. Yang juga sama pentingnya adalah pengorganisasian diri masyarakat, semangat untuk belajar serta saling dukung antar komponen masyarakat. Ketiga, terkait isu gender, apa yang terjadi di Teluk Lombok menunjukkan hubungan saling dukung antara laki-laki dan perermpuan.

Dalam lingkup yang lebih besar, apa yang dilakukan masyarakat Teluk Lombok mendukung pendapat yang mengatakan bahwa kekayaan alam akan mudah dipulihkan bila berkontribusi langsung pada kehidupan masyarakat. 

 

Masyarakat Teluk Lombok dan dusun lainnya di Sangkima berdarah Sulawesi. Gelombang kedatangan orang Sulawesi Selatan, yang memiliki budaya pelaut, ke Sangkima diawali oleh hadirnya Datuk Solong pada 1922 bersama dua anaknya, Lato La Talana dan Lato La Dolomong. Dolomong-lah yang dikenal sebagai orang pertama yang menetap di Sangkima. Khusus Teluk Lombok, wilayah ini menjadi perkampungan pada 1960-an. Kini paling tidak ada sekitar 320 orang (120 keluarga) menetap di Teluk Lombok, meneruskan tradisi para leluhurnya: menjadi nelayan.

Posted by Tami at 11:40:45 | Permalink | Comments (1) »

Happy

I’m happy.

Life is so beautiful indeed.

Tami

Posted by Tami at 03:41:14 | Permalink | Comments (1) »

Monday, September 12, 2005

Menulis Lagi

Ada keasyikan tersendiri menydari aku sudah bisa menulis (lagi). Dulu pernah kulakukan menulis diari dan cerpen. Kemudian perkuliahan mengharuskan menulis, dengan gaya yang berbeda. Pekerjaan menjadi pengharusan kedua yang juga hanya sesekali memicuku, karena deadline.

 

Saat menyadari betapa banyak yang sebenarnya bisa kutulis dari pengalaman lapanganku, aku merasa bersalah tidak melakukannya dengan berbagai alasan. Sibuk adalah alasan klasik utama yang menjadi tameng ketidakberanianku untuk kembali menulis.

 

Saat ini aku merasa mulai lepas dari belenggu ketakutan. Aku ingin menulis sebanyak-banyaknya.

 

“ Kadang, orang sering tidak menyadari bahwa ia mampu melakukan apa yang ia sebenarnya bisa”

 

Tami,


12 September 2005

Posted by Tami at 14:32:23 | Permalink | Comments (2)

Saturday, September 10, 2005

Gua lagi bete

Aku lagi bete. Biarkan aku bebas .

10 September 20005

 

 

Posted by Tami at 15:45:24 | Permalink | Comments (2)

Cerita Kebangkitan Rotan

“Jangankan menyekolah anak, untuk makan sehari-hari pun terkadang kurang”, keluh Kusen Tariu, seorang petani rotan dari Desa Kuluk Leleng, Kalteng, ketika ditanya tentang penghasilannya sebagai petani rotan sekarang ini. Keluhan seperti ini mulai berkurang, berganti harapan, ketika sekelompok petani rotan mulai berembuk membicarakan apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi keadaan ini.


 

Rotan memang sudah lama menjadi gantungan hidup masyarakat di Kalteng, termasuk di Kabupaten Katingan. Paling tidak sejak 1850 masyarakat di sana sudah membudidayakan rotan, dalam arti menanam bibit di sela-sela pohon buah-buahan dan kemudian mengambil keuntungan dari panen rotan.

 

Memasuki zaman yang lebih “modern”, rotan tetap menjadi andalan. Rotan budidaya Kalteng, menjadi salah satu andalan ekspor
Indonesia. Pernah suatu masa tercatat bahwa 80-90 % pasokan rotan mentah dunia berasal dari Indonesia. Untuk rotan mentah alam, Sulawesi menjadi andalan, sedangkan untuk budidaya, andalannya adalah rotan Kalteng dan sebagian kecil lainnya dari Kaltim.

Pada masa kejayaan rotan, penduduk Katingan bisa dikatakan hidup lumayan.

 

Gatin Rangkay, yang sekarang menjadi Sekda Katingan, dengan semangat menceritakan bahwa dirinya bisa bersekolah sampai ke perguruan tinggi karena rotan. “Semua yang sekarang ini menjadi pejabat di Katingan, boleh dikatakan bisa bersekolah karena rotan”, jelas Gatin. Dari sudut pandang petani, kejayaan ini terlihat dari perbandingan sederhana yang diberikan Kusen. “Jika dulu dari 1 kg rotan basah bisa membeli 3-4 kg beras, sekarang dari 4 kg rotan basah baru bisa membeli 1 kg beras, ” jelasnya.

 

Masa keemasan berganti saat eksport rotan asalan dilarang tahun 1988. Harga rotan pun jatuh tak tertahankan. Pembeli beralasan bahwa  rotan tidak bisa dibeli tinggi karena tidak lagi bisa diekspor. Untuk kebutuhan industri dalam negeri, hanya 30 % dari total produksi rotan mentah dari Katingan dan tempat lain yang bisa terserap. Akibatnya, hasil panen rotan yang menumpuk di kebun petani menjadi pemandangan yang lazim ditemui. 

 

Saat ekspor rotan mentah kembali diijinkan, harga di kalangan petani tidak serta merta membaik. Para pembeli rotan yang kemudian mendominasi memakai berbagai alasan untuk tidak menaikkan harga rotan. Kehidupan para petani pun tetap terhimpit. Tidak banyak yang bisa dilakukan kecuali merenungi nasib dan berusaha mencari cara bertahan hidup, seperti melakukan pembalakan.

Dorongan untuk memperbaiki nasib muncul saat sebuah LSM, Teropong masuk ke Marikit. Dimulai dari diskusi santai di rumah-rumah penduduk, akhirnya muncul semangat untuk berkumpul dan membicarakan masalah rotan ini. Lebih lanjut, obrolan serius tapi santai ini mulai menjadi bagian dari perbincangan masyarakat sehari-hari.

 

Akhirnya, awal 2005, dipelopori oleh 8 kampung di Marikit,  didirikan Perkumpulan Petani Rotan Katingan (P2RK). Dalam waktu singkat, P2RK telah berkembang ke lebih dari 30 desa di Katingan. Kegiatan fokus sekarang ini adalah peningkatan kualitas rotan, pembuatan sistem pemeliharaan dan pengawasan kebun serta peningkatan kemampuan petani.

 

Kelompok  juga menyadari bahwa kolaborasi penting dilakukan. Bersama Teropong dan Pemerintah Kabupaten Katingan, berbagai aksi dilakukan. Upaya perbaikan kebijakan di tingkat kabupaten dan nasional yang mempengaruhi harga rotan dilakukan secara bersama. Memotong mata rantai pemasaran dan menciptakan pasar alternatif yang memberikan harga lebih layak juga menjadi fokus bersama. Melalui P2RK inilah terlihat semangat petani rotan Katingan untuk membangkitkan kembali kejayaan rotannya.

 

 

Posted by Tami at 08:55:37 | Permalink | Comments (4)

Thursday, September 8, 2005

Perempuan dan Krupuk Kepiting


Desa Sangkima berada di pesisir Taman Nasional Kutai. TNK sendiri memiliki luas 198.629 ha, berada di wilayah Kab. Kutai Timur, Kutai Kertanegara dan Kota Bontang. Seperti halnya dengan masyarakat di daerah pantai lainnya, masyarakat Sangkima sangat menggantungkan kehidupannya pada hutan bakau dan hasil laut yang ada di situ. Menangkap kepiting, selain udang dan ikan, menjadi sumber mata pencaharian masyarakat Sangkima.

 

Tahun 1990-an, keadaan mulai berubah. Masuknya usaha tambak udang yang dimiliki pihak luar serta pengambilan kayu tanpa terkendali menjadikan hutan mangrove mulai terkikis habis. Kehidupan ekonomi masyarakat pun mulai terganggu karena bibit kepiting serta udang dan ikan yang tinggal di sela-sela akar pohon bakau semakin menghilang. 

 

Rusaknya hutan bakau di Sangkima mulai menggerakkan pemerintah maupun swasta melakukan program rehabilitasi pada tahun 2002. Upaya ini gagal. Program ini menunjukkan hasil setelah masyarakat setempat dipercaya mengelola sepenuhnya, melalui Kelompok Petani Pangkang Lestari. Bibit bakaupun mulai berkembang hijau dan tumbuh subur. Pangkang Lestari bahkan sudah mulai bisa menjual bibit-bibit bakau mereka ke tempat lain.

Namun, bergantung pada bibit bakau dan sumber laut yang semakin menipis saja tidak mencukupi. Masyarakat tetap harus mencari jalan bagaimana dapur masih tetap berasap sembari menunggu hutan bakau menghijau kembali. Kepiting keramba kemudian menjadi alternatif untuk membuat kepiting kecil cepat besar dan gemuk. Bibit kepiting bakau diperoleh dari Teluk Kaba, sekitar setengah jam berperahu dari Sangkima, yang masih memiliki hutan bakau yang terbilang bagus. Dalam 20 hari kepiting sudah bisa dipanen dan dijual antara Rp 8.000 – 10.000/ kg. Namun, mengingat penggemukan kepiting keramba masih terhitung baru, masih banyak kegagalan yang ditemui.

 

Pada saat petani Pangkang Lestari mengujicobakan penggemukan kepiting di keramba, ternyata tidak semua kepiting bisa dijual. Kepiting yang cacat tidak laku di pasaran. Jumlah yang dibuang lumayan banyak. Dari 15-20 kg kepiting yang ada di satu keramba, sekitar 2-3 kgnya cacat. Melihat banyaknya kepiting yang terbuang percuma saat itu, timbul ide dari para ibu untuk mengolahnya menjadi krupuk kepiting. Jika harga kepiting mentah berkisar antara Rp 8.000 – 10.000/ kg, krupuk kepiting produksi para ibu yang kemudian tergabung dalam Pokja Krupuk Kepiting ini dihargai Rp 40.000/ kg. Suatu nilai tambah yang sangat luar.

 

Masyarakat setempat menyadari bahwa kegiatan para ibu yang sangat bernilai ekonomi ini tidak akan berlangsung lama jika bahan mentahnya tidak selalu tersedia. Mengharap dari keramba masih belum mungkin karena budidaya ini masih mengalami pasang surut dan harus diperbaiki. Menunggu kepiting alam dari bakau setempat juga memerlukan waktu lama. Untuk sementara, kepiting sebagai bahan pengolah krupuk, lebih banyak diperoleh dari wilayah sekitar. Karenanya, dalam jangka pendek, upaya mendapatkan kepiting melalui keramba tetap harus didorong. Untuk itu, Pangkang Lestari harus terus belajar melakukan teknik penggemukan keramba yang efektif. Untuk jangka panjang, jika pohon-pohon bakau sudah kembali tumbuh subur dan menghijau, kelestariannya harus tetap terjaga karena di sela-sela akarnyalah bibit-bibit kepiting hidup.

 

 

Posted by Tami at 09:22:15 | Permalink | Comments (3)

Kripik Kepiting bagian 2

Saya ingin menulis tentang inovasi perempuan membuat kripik kepiting bakau di Desa Sangkima, Taman Nasional Kutai. Hal ini menjadi menarik diangkat karena bisa memperlihatkan bagaimana perempuan membuat kepiting cacat yang selama ini dipandang tidak berguna oleh para petani bakau di wilayah tersebut menjadi produk yang bernilai ekonomi.

Posted by Tami at 03:11:35 | Permalink | Comments (3)