Saturday, October 28, 2006

Meratus Tetap Bertahan

Sejak tanggal 28 malam, aku dan beberapa teman dari LPMA Kalsel berangkat menuju Barabai, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalsel. Sesudah menginap semalam di hotel setempat, esok pagi perjalanan ke Meratus dilanjutkan. Satu setengah jam kemudian, sampailah kami ke Balai Batu Kambar. Kemudian naik ke atas, menuju kantor Credit Union (CU) Bintang Karantika Meratus, lembaga keuangan simpan pinjam yang didirikan masyarakat Meratus dan melayani lebih dari 70 balai atau kampung adat di sana.

Walaupun mengalami sedikit masalah kredit macet, secara keseluruhan CU BKM bisa dikatakan cukup sukses. Anggotanya sekarang, semenjak berdiri November 2002, telah melebihi 600 orang, dengan total aset lebih dari 2 milyar. Bukan hanya aset yang kemudian bisa menjadi tolok ukur kemajuan CU di masyarakat Meratus ini. CU Meratus didirikan di kampung, di kaki pegunungan Meratus yang notabene dihuni Dayak Meratus. Lazimnya mereka yang tinggal jauh dari pusat kota, penduduk Dayak Meratus merasa telah banyak stigma miring yang diberikan kepada mereka. Karena itu, mereka ingin mengubah imej yang selama ini sudah terbentuk, untuk memajukan diri. Tambahan lagi, tuntutan ekonomi yang seringkali ditemui masyoritas penduduk Meratus ini kemudian memberikan mereka keinginan untuk memiliki sesuatu yang bisa menolong mereka di kala susah (terjepit).

LPMA memberikan jalan kepada masyarakat Meratus untuk mendirikan dan mengembangkan CU BKM ini. Melalui beberapa proses (studi banding, peninjauan kelayakan dsb), CU ini akhirnya pun berdiri. Kini CU tersebut sudah melayani puluhan “balai” (kampung-kampung adat Dayak Meratus) dan telah berkembang sampai ke Loksado.

 Memang ada beberapa kendala, yang juga lazim dihadapi oleh banyak CU, seperti credit macet. Namun, untuk CU Meratus, aset bukanlah satu-satunya cara melihat berjalan tidaknya lembaga keuangan ini. Ketika ratusan orang Dayak Meratus tersadarkan tentang pentingnya menabung dan merencanakan masa depan untuk anak misalnya, pada saat itu kesadaran dan harapan tentang sesuatu yang lebih baik tidak lagi menjadi mimpi. Tapak meraih kenyataan sudah mulai ada di depan mata.

Dengarlah komentar Pak Markuban, salah seorang penduduk Balai Kiyu, pegunungan Meratus, “Dari CU saya sekarang punya harapan tentang masa depan dua anak saya yang sekarang masih duduk di SMP. Jika dulu saya tidak yakin mampu bisa menyekolahkan anak, sekarang saya yakin ke sekolah yang lebih tinggipun saya bisa asal anak tersebut mau. Tidak lagi saya takut anak saya hanya sampai kelas 3 SR seperti saya. Kalau orangtua punya cangkul, anak harus punya parang. Kalau anak tetap punya cangkul sama seperti orang tuanya, berarti tidak ada perubahan dan perkembangan.” Dari CU, dari sesuatu yang sangat sederhana, Pak Markuban semakin sadar tentang arti perubahan dan perkembangan.

Ke depan, untuk membuat CU BKM semakin berkembang, selain memberikan peningkatan kapasitas kepada para pengurus dan staf, dari hasil perbincangan dengan masyarakat dan pengurus, perlu juga dilakukan strategi pengembangan lain yang lebih baik, seperti mengembangkan CU ke daerah Meratus lainnya, membuat tunggakan menjadi terkembalikan dan lebih membuat aktif anggota yang sudah ada sekarang ini.

Swary Utami Dewi

 

Posted by Tami at 17:45:22 | Permalink | Comments (5)

Thursday, October 26, 2006

Big Day

Sekedar berbagi.

Hari ini aku berkumpul bersama keluarga. Juga menggunakan kesempatan untuk membersihkan rumah dan menyelesaikan beberapa PR kantor. Menjelang MFP tutup, banyak banget pekerjaannya. Tapi menyenangkan mengetahui bahwa apa yang sedang dilakukan dalam waktu-waktu terakhir program adalah menarik “lessons learned”.

Aku juga senang karena sempat membantu Alif, anak pertamaku membuat blognya: alifyusuf.blog.com. Tulisan pertamanya di blog tentang kisah dua orang miskin yang menjadi kaya karena menemukan harta karun. Mudah-mudahan ia selalu terpacu untuk menulis.

26 Oktober 2006,

Tami

Posted by Tami at 17:09:57 | Permalink | Comments (2)

Wednesday, October 25, 2006

Conservation, Economic Benefits and Gender Empowerment through Mangrove

A Story from Teluk Lombok Sub-village,
Kutai National Park, East Kalimantan

By: Swary Utami Dewi

 

Teluk Lombok sub-village, part of Sangkima village is located on the coastal area of Kutai National Park, which covers 198,629 hectares of forestland in East Kalimantan. Like many other coastal communities, the community of Teluk Lombok sub-village had depended on mangrove forests and marine resources such as crabs, shrimp, and fish for their livelihoods. However, in the 1970s, things started to change. External parties came to cut down the mangrove forests. Some also introduced shrimp rearing ponds. Slowly, it depleted the village’s mangrove forests. In 1980-an, the Teluk Lombok community started to harvest the fruits of depleted mangrove forests. Due to abrasion on the coast, the community had to move houses to inland. The subsequent reduction in crabs and fish that lived in the roots of the mangrove trees had also a devastating impact on the community’s welfare. 

 

In 2002, the local government responded to the damaged mangrove forests in Kutai Timur including the coastal area of Teluk Lombok, with a rehabilitation programme that disappointingly failed. Later, the community members of Teluk Lombok started to conduct a mangrove rehabilitation project by their own. The effort was led by a local mangrove farmers’ group Pangkang Lestari. The project started to succeed. Mangrove seedlings grew abundantly. The farmer’s group and other community members could even start to sell mangrove seedlings to other areas for mangrove rehabilitation projects.

 

The community’s survival couldn’t depend only on mangrove seedlings and decreasing marine products. The people still had to find a way to endure while waiting for their mangrove forest to fully recover. Rearing crabs in floating cages was a feasible alternative that they decided to explore. Young mangrove crabs were obtained from Teluk Kaba, a thirty-minute trip by boat from Sangkima, where the mangrove forest was still in relatively good condition. Within 20 days, the crabs could be harvested and sold for around Rp.8,000 – Rp.10,000/kg. Nevertheless, rearing crabs in floating cages was a relatively new practice amongst the Teluk Lombok people and a number of attempts failed to reap sufficient crabs of the quality the market demands. The farmers discovered that of the 15-20 kg of crabs harvested in one cage, approximately 2 - 3 kg of them were defective.

 

Upon seeing the large quantity of wasted crabs, the women in the sub-village had the idea to use them to make crab chips. Unprocessed crabs were sold for around Rp 8,000 – 10,000/ kg, whereas the crab chips could be sold for Rp 40,000/ kg, with a reasonable profit margin. The woman quickly formed the Crab Chip Task Force (Pokja Krupuk Kepiting), under Pangkang Lestari group.

 

The village acknowledged the high economic value of the women’s activity but realised the business was not sustainable without a constant supply of raw material, the rejected crabs. The floating crab system is still being perfected by the farmers and can’t guarantee the women the volume of crabs needed for the chips. The women obtain raw crabs from other coastal villages. Now, Pangkang Lestari has started to learn effective ways to improve their crab rearing techniques while nurturing their mangrove forest so that young crabs return to live in the roots.

 

Not only crab chips produced by women of Teluk Lombok which have provided economic benefits. Mangrove seedling selling, now, has expanded very well. Pangkang Lestari has become a supplier for mangrove rehabilitation projects in several districts in East Kalimantan. The business involves around 50 families in the sub-district. Men have a role to seek mangrove seedlings, while women and children prepare polybags (plastic bags filled with soil) to put the seedlings. From the end of 2005 until October 2006, at least 1,113,500 mangrove seedlings were sold. The community gained Rp 541,850,000. Sumanti, 34 tahun, the chief of Pokja Krupuk Kepiting commented in Mamuju dialect, ”Ampunna’ u’de tau mabbalukang polo, u’de diang ni pambayyari anak sekolah ampe mambayarri panginranggang”. It means, ”If we hadn’t had the mangrove seddling business, we could not have afforded fees for children schools as well as paid debts.”

 

Responding to growing businesses of the community in Teluk Lombok, a financial institution, called Unit Pelayanan Tapak Surya, was established. It started to run in August 2006 and covered 5 villages in Kutai National Park. The financial insitution provides credit and saving services as well as training to teach community members how to manage their money wisely.

 

Seeing successes of Teluk Lombok, other sub-villages learn from the community. For example, women in Dusun Satu sub-village, Sangkima Lama village, have establihed a women business group, Pokja Krupuk Udang, focusing on shrimp cracker business. Pokja Krupuk Kepiting and Krupuk Udang have conducted several learning meetings to share experiences in managing business and organizing women. Another palm farmers’ group, Gula Aren Mamiri, still in Dusun Satu sub-village, has planned to empower a women business group, which just started focusing on gula semut business (a diversification of palm sugar).

 

The story of Teluk Lombok shows that a community can go hand-in-hand in conducting the efforts of conservation, economy and gender empowerment to reach a better future.

 

 
 
Posted by Tami at 07:50:42 | Permalink | Comments (5)

Tuesday, October 24, 2006

PENDIDIKAN DASAR BAGI ANAK: HARUSKAH DISERAGAMKAN?

Mungkin banyak di antara kita yang masih ingat, waktu dulu kita masuk sekolah dasar (SD), kita mulai bergelut dengan sesuatu yang diseragamkan: baju sekolah, sepatu, kaos kaki, buku dan yang utama kurikulum. SD zaman dulu sekali, saat aku bersekolah selama 5 tahun di Palangkaraya, saat pergi sekolah masih kutempuh dengan becak langganan, segala sesuatu yang terkait sekolah hampir pasti seragam. Saat di kelas tiga SD, waktu menterinya Daoed Joesoef, suatu ketika kelas harus di perpanjang 6 bulan untuk alasan yang tidak kupahami. Karena datangnya dari pemerintah dan hukumnya wajib, yang terjadipun tetap keseragaman. Rame-rame, tanpa kecuali, semua teman sekelasku tidak jadi naik kelas 4. Bukan karena bodoh. Aku yang kebetulan waktu itu hampir selalu jadi juara kelas, juga ikut-ikutan batal naik kelas karena keseragaman perpanjangan tadi.
Waktu itu di SDku, yang mengikuti kurikulum sekolah dengan baik dan benarlah yang unggul. Tanpa banyak protes dan memang karena aku bisa menikmati, aku selalu rajin dan giat mengikuti kurikulum di sekolah, tidak banyak aneh-aneh (kecuali aku menjadi salah satu biang ribut di kelas). Dan betul, aku yang mengikuti kurikulum dengan baik dan benar, jadi unggul di sekolah (diukur dari nilai akademis, jadi juara atau tidak). Sialnya bagi teman yang kebetulan tidak suka matematika, bahasa Indonesia, atau IPA dan nilainya jelek, ia kemudian dipandang tidak pintar. Apalagi yang rankingnya selalu urutan buncit. Mereka menjadi anak yang tidak pintar dari ukuran akademis, bahkan kemudian cenderung menjadi peribut dan pembuat onar di kelas.
Untungnya, saat semua seragam, aku beruntung punya orang tua yang menyalurkan bakat dan minat anak, yang sudah barang tentu unik dan tidak seragam. Meskipun di sekolah aku “lurus” mengikuti kurikulum, di luar aku punya bentuk variasi lain yang kulakukan. Karena suka menari, akupun mengambil les menari di luar, di musium pal 2. Papah dengan rajin selalu mengantarku dua minggu sekali ke sana. Kemudian, beberapa kesukaan lain juga kutekuni seperti menyanyi dan karate (meskipun juga gak sampai tingkat atas).
Kegemaran lain yang kulakukan di luar keseragaman tadi adalah membaca. Sejak kecil, di rumah ada perpustakaan sederhana berisi buku-buku kesukaan kami, yang dipilih oleh masing-masing anak. Jumlahnya sampai ratusan. Ini yang jarang dipunyai teman-teman sekelasku. Aku beruntung bisa melakukan beberapa ketidakseragaman lain yang kusukai, di luar kewajiban-keseragaman di sekolah. Pendeknya, keseragaman di sekolah kusiasati secara tidak sadar dengan memilih hal-hal lain yang betul-betul kusukai di luar sekolah.
Saat anak pertamaku, Alif Yusuf Vicaussie, usia 5 tahun lebih, masuk SD di Banjarbaru, Kalsel, tidak jauh dari rumah, aku semakin melek tentang rumitnya keseragaman pendidikan dasar bagi anak-anak. Alif sedari kecil sudah menunjukkan minat tersendiri, terutama pada alam dan lingkungan. Dia juga gemar membaca, yang mulai dilakukan sejak dia bisa membawa waktu masih TK. Dia membaca apa saja tentang alam, binatang, dinosaurus, fosil, dongeng, pengetahuan populer, penemuan, sejarah, tokoh-tokoh dunia dan lain-lain. Alif menolak membaca yang tidak disukainya. Dia sendiri yang menentukan apa yang mau dibacanya. Jika membeli buku, Alif memilih buku sendiri (tanpa bisa kupengaruhi). Alif juga suka mengamati lingkungan. Batu dipelototi, siput dan jangkring dibawa pulang untuk diperlihatkan, serangga ditangkapi untuk dihitung berapa jumlah kaki, ranting dan bunga dipetik untuk diperlihatkan kepada aku atau ayahnya. Pendeknya, ia memiliki keunikan tersendiri.
Hari pertama di SD yang letaknya tidak jauh dari rumah, Alif tidak duduk manis di kelas. Dia malah berputar-putar ke seluruh kelas dan melihat-lihat lingkungan sekitar sekolah. Dalam tiga hari pertama, gurunya kesulitan mencari karena Alif tidak ada di kelas 1 SD. Alif malah berjalan-jalan melihat kelas lain, masuk ke ruang guru bahkan duduk di ruang kepala sekolah. Saat gurunya menjelaskan pelajaran sesuai dengan kurikulum, Alif menginterupsi menanyakan sesuatu yang lain. Hari ke-4, dia bisa duduk tenang di dalam kelas membaca sesuatu yang diambilnya dari meja gurunya dan ini membuat sang guru terheran-heran. Saat ditanyakan apa yang dibaca dan membuatnya duduk tenang, ternyata Alif membaca “Pedoman Pengajaran Guru”.
Tingkah laku Alif yang aneh yang tidak bisa duduk diam di kelas, tidak peduli dengan apa yang diajarkan guru dan malah melakukan sesuatu yang lain, dalam beberapa hari saja, kurang dari seminggu sudah bisa disimpulkan sendiri oleh guru dan kepala sekolahnya. Mereka memandang Alif sebagai anak yang aneh. Dengan terus terang dikatakannya kepada Ayah Alif tentang kesulitan yang mereka hadapi. “Kita bukan hanya punya murid Alif, Pak. Murid di sini banyak. Kita sudah ada kurikulum tersendiri. Kita tidak bisa selalu mengawasi Alif.” Lebih unik lagi, mereka menyuruh Alif dipindahkan ke Sekolah Luar Biasa (SLB) karena keanehannya itu.
Selama dua hari berikutnya, Ben sibuk mencari-cari sekolah lain buat Alif. Untungnya ada teman neneknya Alif, yang masih mengajar di suatu SD, menawarkan untuk mendaftarkan Alif di sekolahnya. Sekolah ini masih tetap sama, mengajarkan sesuatu yang sudah terprogram. Namun, banyak guru di situ yang jauh lebih senior dan punya pengalaman mengajar cukup lama. Salah satu gurunya, walaupun tidak mengajar di kelas satu, kebetulan dekat dengan nenek Alif. Untungnya di SD yang baru, mereka bisa cukup mengerti dengan keunikan anak sulungku ini. Alif, yang sudah bisa membaca dengan sangat lancar sejak TK, di SD ini tetap melakukan sesuatu yang disukainya. Terkadang ia membawa benda-benda yang dianggapnya perlu untuk diperlihatkan ke guru dan teman-teman. Jika bosan, ia pergi membaca ke perpustakaan atau main ke kolam di halaman sekolah. Sampai sekarang (kelas 2 SD), Alif tetap bisa bertahan di sekolah ini dan menunjukkan nilai-nilai akademis (berdasarkan kurikulum) yang lumayan,  dan ia tetap mengembangkan keunikannya!!!
Sekarang, aku sedikit bisa bernafas lega. Namun demikian, harus diakui, aku yang karena pekerjaan menjadi pindah ke Banjarbaru selama 5 tahun terakhir ini, tetap gregetan dengan kondisi keseragaman yang kuyakin menjadi fenomena umum di sekolah-sekolah di Indonesia: semua siswa diajarkan hal yang sama dan diharapkan patuh pada hal yang sama tersebut, kalau berbeda sedikit menjadi anak “aneh”. 
Di beberapa negara, aku pernah mendengar banyak sekolah di sana berbeda dengan umumnya sekolah di Indonesia. Banyak yang kabarnya tidak berpatokan pada kurikulum yang seragam, tapi berfokus pada bakat dan minat anak. Di Indonesia sendiri, kabarnya lagi, sudah ada sekolah-sekolah, yang jumlahnya sangat tidak banyak, yang mulai menyediakan pendidikan sesuai dengan bakat dan minat anak. Sekolah-sekolah seperti ini, katanya lagi, sangat mahal. (Menanggapi kondisi Alif, aku bahkan sempat berfikir untuk pindah ke Jakarta mencarikan sekolah yang bisa paham dengan keperluan Alif. Tapi pindah bukan urusan gampang, apalagi terkait pekerjaan dan pernik-pernik detil lainnya.)
Alif terhitung masih beruntung. Walaupun masih bersekolah di sekolah “biasa”,  ia memiliki guru-guru yang paham tentang keunikannya. Dia juga sangat beruntung karena orangtuanya semampu mungkin membuka ruang bebas berkreativitas bagi anak-anak sesuai dengan minat masing-masing. Tapi, bagaimana halnya dengan banyak anak-anak unik lainnya, yang kemudian mengalami kendala dan terhambat bahkan mungkin terhenti keunikannya karena dipaksa/terpaksa mengikuti keseragaman pendidikan dasar tadi?
Kapankah pemerintah bisa betul-betul melek untuk memandang pendidikan dasar sebagai sesuatu yang betul-betul dasar, yang bisa membuat anak berkembang sesuai dengan minat dan bakatnya, dan bukan menjadi anak-anak seragam?
Banjarbaru, 24 Oktober 2004
Swary Utami Dewi
Posted by Tami at 08:10:36 | Permalink | Comments (5)

Monday, October 23, 2006

Tentang anak-anakku, 23 Oktober 2006

Siang hari, 23 Oktober 2006.

Anak-anakku sudah tumbuh semakin besar. Alif, 7 tahun, sudah bisa membuat komik sederhana, versi sendiri. Tadi malam, Alif begadang menemaniku dan membuat cerita bergambar lagi. Campur aduk yang dilukiskannya di situ, satu halaman penuh gambar dengan pensil. Dari cerita peluncuran roket, toko mainan yang murah meriah, hotel menjulang yang tinggi dipenuhi oleh fans AFI, sampai kolam ikan. Dia menggabungkan semuanya dengan unik.
Alif juga sempat mengomentari cerpenku “Malam Takbiran”. “Wah, ayahnya tidak mencaritahu dulu ttg uang itu ya Mah. Padahal uang dari dua Bapak itu belum terpakai. Dan uang untuk beli obat itu adalah hasil dari anaknya menyemir sepatu. Kasian jadinya. Ayahnya mati karena kaget sementara anaknya sedih karena ayahnya mati dan tidak tahu yang sebenarnya.” Aku merasa Alif sudah semakin matang cara berfikirnya.
Beberapa hari lalu dia sibuk bicara tentang Perang Kiev, di mana Prancis bisa mengalahkan Rusia, meskipun jendral Prancis bukan lagi Napoleon. “Napoleon mati karena patah hati akibat kalah perang di Waterloo.” Aku ternganga karena aku tidak tahu ttg perang ini dan Napoleon. Sesaat kemudian, dia beralih bicara ttg tokoh Voldermort, Lupin dan Black Sirius dalam buku Harry Potter, kemudian tentang jenis-jenis Dinosaurus. Lalu, dia asyik membicarakan Beethoven yang budek, tapi bisa menciptakan musik dengan sangat bagus. “Masa siang hari bolong dia malah mendengar bunyi hujan gerimis,” ujar Alif. Sulungku ini memang gemar membaca dan apa saja dibacanya.
Lain halnya dengan Ara. Dia sangat peka dangan hal-hal yang bersifat emosional. Perasa dan terkadang meledak-ledak. Hampir dua minggu lalu, dia sangat senang ketika mendapat kiriman dari Eka, temanku di Manado. Ara mendapat bingkisan tas Dora dan kotak pensil Sponge Bob untuk ultah ke 5-nya, 6 September lalu. Dia kemudian protes kenapa hanya dia yang dapat, sementara Alif, kakaknya, dan Rama, si bungsu, tidak mendapat paket. “Kan ulang tahunnya sama-sama September, “ komentar Ara.
Jadilah kemudian, aku dan Ida, teman kantorku di Banjarbaru, memutar otak mencarikan cara supaya yang lain juga dapat paket. Beberapa hari yang lalu, ketika kami transit di Balikpapan, sewaktu mau pulang dari kegiatan di Samarinda, sembari menunggu pesawat yang masih berjadwal 2 1/2 jam lagi, aku dan Ida berinisiatif ke Balikpapan Baru Mall, yang terletak tidak jauh dari bandara Sepinggan, Balikpapan. Sebelumnya aku sudah membeli sepasang sepatu buat Ara, no 34 (untuk anak 5 tahun, besar sekali…). Di Balikpapan Mall, ada toko mainan yang menjual mainan unik dengan harga sangat miring. Jadilah Rama mendapat jatah 2 paket blok huruf dan angka, Alif mainan plastik jenis-jenis serangga dan 3 CD play station. Lengkaplah sudah. Aku juga menuliskan kartu ucapan lebaran untuk mereka bertiga. Satu kartu untuk bertiga dengan tulisan: “Selamat Idul Fitri. Buat anak-anak Mamah. Terima kasih sudah jadi anak-anak yang baik, pintar dan manis. Mamah Tami”
Aku tiba di bandara Syamsuddin Noor, Banjarbaru, menjelang pukul 11 malam tanggal 20 Oktober 2006. Karena kelelahan aku segera tertidur. Untung aku sempat menyembunyikan bingkisanku sebelum diserbu 3 kurcaci lucuku itu. Esok pagi-pagi, saat mereka masih tertidur lelap, aku terbangun karena ada Telkomsel Banjarbaru mengantarkan bingkisan lebaran buatku. Seperangkat mukena yang putih dan halus, selendang warna merah jambu dengan lis dominan merah terang di pinggirnya (mereka tahu mungkin kalau aku gandrung merah dan sekitarnya), dan baju muslim ukuran M warna biru muda (yang pasti tidak akan sedang mengingat beratku yang ampun-ampunan sekarang ini. he he…).
Aku dapat ide. Semua bingkisan untuk anak-anak kumasukkan ke kardus, kuberi lakban di sekelilingnya dan kemudian ditempelkan tanda merah “fragile”. Di atas kardus itu, kuletakkan paket lebaran Telkomsel buatku. Jadilah terlihat bahwa waktu kami tidur, ada paket pos untuk aku dan anak-anak. Selesai.
Menjelang jam 11, ketiganya bangun dan langsung mencari Mamah. Saat tahu ada paket pos mereka senang. Spontan Alif membuka kardus tersebut. Dan membagi-bagikannya. “Betul, ” kata Ara. “Ternyata paket posnya datang telat. Sekarang ada lagi dan kali ini untuk 3 anak Mamah.” Alif segera menemukan kartu ucapan mungilku yang dengan serta merta dibaca Ara. “Oh… dari Mamah. Terima kasih Mamah.” Bergantian mereka bertiga mencium pipiku.
Saat mengatakan bahwa aku juga mendapat paket pos, Ara langsung ternganga. “Lho, Mamah kok mengirim untuk diri sendiri?” tanyanya polos. Aku langsung ngakak dan menjelaskan bahwa paketku dari Telkomsel. “Oh, dari telfon ya,” lanjut Ara.
Dua anakku yang tertua, bagiku merupakan teman ngobrol yang mengasyikkan. Mereka kadang-kadang bisa melontarkan sesuatu yang ajaib. Kadang menjelang tidur, Alif dan Ara bergantian membacakan sesuatu buatku, membuatkan gambar, menyanyi lagu ciptaan masing-masing. Kamar tidur yang lumayan besar, dan satu-satunya yang ber-AC di rumahku, menjadi semacam ruang keluarga yang adem dan menarik bagiku dan anak-anak. Kalau Mamah datang, pasti mereka dengan cepat mengajak ke kamar, meriung, membicarakan banyak hal. Tidak ketinggalan Rama yang sedang belajar untuk bicara akan cepat bergabung. Tidak heran jika kamar tidur lebih mirip sebagai kamar jungkir balik, dibandingkan tempat istirahat yang sesungguhnya. Beragam buku dan mainan, bercampur aduk dengan batal dan selimut. Meriah sekali…
Lebih dari seminggu yang lalu, menjelang tidur, aku bercerita kepada anak-anak tentang dua desa yang berada di pinggir hutan, di kaki gunung. Desa tersebut bernama Desa Aman dan Heboh. Suatu hari, datang seorang kaya yang menawarkan banyak sekali uang kepada para penduduk desa, asal mereka mau menebang pohon di hutannya dan menjual kepada orang kaya tersebut. Kemudian aku menanyakan kepada Alif dan Ara bagaimana pendapat mereka. Alif menjelaskan sebaiknya hutan tidak ditebang. Dia menjelaskan tentang bahaya gundulnya hutan yang bisa mengakibatkan banjir, tidak adanya resapan air dll. Ara lain lagi. “Tidak apa-apa kalau hutan ditebang dan kayunya dijual ke orang kaya itu.” “Lho, kok gitu? Kan bahaya,” sergah Alif. ” Nanti desa mereka bisa kena banjir dan mereka kebanjiran dong,” Alif menjelaskan lebih lanjut.
“Begini,” kata Ara sambil menjelaskan dengan menggunakan tangan-tangannya yang lucu, “Kalau mereka sudah menjual kayunya, mereka kan akan dapat uang banyak….sekali. Sesudah dapat uang banyak, seluruh penduduk pindah ke Australia, beli rumah dan tinggal di sana. Jadi kalau desa lamanya kebanjiran, gak apa-apa dong. Kan mereka sudah tinggal di Australia.” Aku dan Alif spontan terbahak mendengar penjelasan Ara yang kedengaran pragmatis tapi sangat masuk akal itu. Rama, si bungsu, spontan bertepuk melihat kami terbahak. “Hoeee..” katanya menjeritkan kata hore dengan cadelnya.
Akan halnya bungsuku, Rama, dia masih bekerja keras untuk dapat mengucapkan kata-kata. Sekarang sudah banyak kemajuan. Dia sudah banyak mengucapkan kata-kata. Tapi uniknya, huruf konsonan hampir semua hilang, kecuali S. Duduk dilafalkan dudu, makan menjadi maka, pangku menjadi paku. Hanya yang berakhiran S yang diucapkan dengan sempurna, seperti pipis dan habis.  
Seperti halnya kedua anakku yang tertua, Rama juga memiliki keunikan tersendiri. Dia sangat gemar mengkategorikan benda-benda ke dalam kelompoknya masing-masing. Rama senang menyusun koper dan tas-tasku di suatu sudut. Sepatu dan sendal juga diletakkan di tempat yang sama. Rama juga sudah bisa mengembalikan lagi mainan dan buku yang sudah dia pakai. Rapi seperti semula.
Rama juga sudah bisa menyebutkan satu sampai sepuluh dalam bahasa Indonesia dan Inggris, meskipun belum sempurna. Dia juga sudah bisa menyanyikan Bintang Kecil dan Cicak-cicak Di Dinding. Rama gemar menirukan lagu-lagu yang sekarang sedang ngetop, dari Ratu, Raja, Dewa, dan lain-lain, mengikuti Ara yang rajin menghafalkan lagu-lagu baru dan berjoget di atas tempat tidur.
Rama memiliki buku kesukaan, kamus kecil sederhana bergambar dua bahasa, Inggris dan Indonesia. Dari situ dia mulai belajar banyak benda, melafalkan dan kemudian mencari contoh-contohnya di rumah. Ketika dia melihat lampu di buku tersebut, dia spontan melafalkan “lapu” kemudian menarik tanganku keluar dan menunjuk setiap lampu yang ada di langit-langit rumah. Rama juga menggemari buku besar Ara yang berisi arsitektur rumah-rumah binatang, buku imajinatif yang menggambarkan bentuk-bentuk rumah dari berbagai jenis binatang yang didesain oleh Nona Tikus, Miss Henrietta. Jika melihat satu pintu di rumah burung layang-layang misalnya, Rama akan segera membalik halaman lain mencari gambar-gambar pintu yang bentuk dan warnanya bervariasi, dari rumah milik berang-berang, babi, ikan trout dsb. Begitu pula dengan ember, pohon, tangga dll. Dari sini Rama belajar menyukai buku-buku, persis seperti kedua kakaknya. Buku-buku kesukaan Rama sekarang tertumpuk menjadi satu sehingga mudah dicari. Dia menumpukkannya sendiri. Hal yang sama juga dilakukan Alif dan Ara terhadap buku-buku kesukaan masing-masing.
Sekarang, Rama mulai belajar mengenal huruf dan angka. Hadiah lebaranku berupa potongan angka dan huruf, rupanya menjadi salah satu mainan kegemaran Rama sekarang ini.
Tadi malam, menjelang tanggal 23 Oktober, ketika aku sedang asyik menulis cerpen “Malam Takbiran” di blog-ku. Ara datang memberikan sebuah kertas yang dilipatnya kecil. “Buat Mamah,” katanya tersenyum malu saat memberikan kertas itu kepadaku. Aku buka dan ternyata isinya mengharukan sekali. Di dalamnya tertulis ucapan dengan tulisan tangan Ara yang rapi, ” Selamat Idul Fitri. Buat Mamah Tami. Terima kasih sudah jadi Mamah yang baik, pintar dan manis. Ara”. Ternyata anak tengahku ini menulis ucapan selamat lebaran. Kata-katanya sama dengan ucapan yang aku berikan ke mereka, hanya kali ini kartu ini ditujukan buatku, dari Ara.
Anak-anakku semakin tumbuh besar: fisik, mental dan jiwa. September lalu, masing-masing berulang tahun. Alif 7 tahun tanggal 1, Ara 5 tahun tanggal 6, dan Rama 3 tahun tanggal 23. Bagiku mereka anak-anak yang unik dan luar biasa. Aku merasa terberkahi karena mendapatkan mereka sebagai Gift dari Tuhan, berkah yang tidak terkira. Aku memang Mamah yang sangat beruntung.
Swary Utami Dewi
Posted by Tami at 06:23:44 | Permalink | Comments (5)

Sunday, October 22, 2006

Malam Takbiran (cerpen)

Malam Takbiran

Swary Utami Dewi

Hari ini tanggal 22 Oktober 2006. Kata Abah malam takbiran. Kata Emak? Ah, aku harus menanyakan lagi besok apa kata Emak sewaktu aku menjenguk makamnya?

Tapi ya, betul… Anang, temanku sehari-hari yang setia bersamaku pergi dari pagi sampai sore untuk menyemir sepatu di bandara Syamsuddin Noor, juga mengatakan ini adalah malam takbiran. Tapi yang Muhammadiyah aja. Yang NU baru lusa lebarannya, tanggal 24. Lho, kok bisa beda gitu? Aku tidak mendapat jawaban kecuali garukan kepala Anang menandakan kebingungannya.

Aku tidak peduli, apakah lebaran hari ini atau lusa. Bagiku tetap sama, lebaran membawa berkah. Pak Kusnanto, yang kerap kusemir sepatunya di bandara menyuruhku mampir ke rumah untuk mengambil hadiah lebaran. Dan janjinya malam ini. Pak Rusdi, langgananku yang lain, yang katanya punya belasan toko di Jakarta dan hampir dua kali seminggu bolak-balik Banjarmasin Jakarta, menyuruhku datang ke hotelnya, yang tidak jauh dari bandara, untuk mengambil hadiah lebaran untukku.

Mmh, aku membayangkan apa bentuk hadiah dari mereka. Aku memimpikan baju yang bagus, atau .. aku melirik sendal jepitku yang sudah hampir putus. Akhhh, sendal jepit lebih perlu kubeli. Itu kalau aku mendapatkan uang dari mereka. Kalau baju? Aku masih punya dua yang lumayan bagus dan hanya kupakai pada saat-saat tertentu saja: saat ulang tahunku, ulang tahun Abah dan pergi nyekar ke makam Emak.

Uhuk uhuk… Tergesa-gesa aku mengambilkan Abah segelas air putih. Abah meludah dan hi … aku agak ngeri melihat ludahnya bercampur darah. Abah, yang katanya belasan tahun lalu pindah ke ?>?>?>Kalimantan dari Sumedang, ingin mengadu nasib di rantau orang. Nyatanya hanya Emak dan kamu yang Abah dapatkan, ingatku akan cerita Abah yang seringkali diulang-ulangnya. Lantas, Abah akan bercerita padaku tentang Emak, perempuan Banjar berkulit hitam, tapi manis, yang sangat disayang Abah. Emak, kata Abah, meninggal saat dia melahirkanku. Karena Abah hanya seorang tukang becak, dia tidak mampu membawa Emak bahkan ke bidan, saat dia melahirkanku. Emak meninggal karena pendarahan. Bidan Neneng, yang kemudian dipanggil tetangga sebelah untuk menolong Emak, hanya bisa menyelamatkan nyawa sang bayi. Akulah si bayi itu, Asep, yang kini berusia 7 tahun.

“Bah, minum Bah,” aku menyorongkan segelas air ke Abah. Huk, huk. Abah kembali terbatuk. “Obat Abah habis ya yang dari Puskesmas?” Abah menjawab dengan anggukan.

Aku diam melihat Abah hanya diam. Aku mengingat-ingat berapa uang yang sudah kudapatkan dari semiran seminggu ini. Rasa-rasanya, hampir cukup untuk membelikan obat Abah di tukang obat Cina dekat pasar Banjarbaru. Mudah-mudahan toko Akong masih buka malam lebaran ini.

 ”Bah, aku keluar dulu ya. Sebentar juga pulang.” Aku bergegas berlari mengambil sendal jepitku yang hampir putus, tanpa sempat mendengar jawaban iya atau tidak dari Abah.

Aku bergegas lari, mengetuk rumah Anang. “Hayo, lekas…Ingatkan kubilang ada janji dari Pak Kusnanto dan Pak Rusdi. Hadiah lebaran buatku.” Anang bergegas luar dan mengenakan jaket lusuhnya.

Mengenakan sepeda ontel milik ayah Anang, aku dan Anang sampai di komplek Ratu Elok. “ Ini mungkin rumah Pak Kusnanto ya. Nomornya sama 76.” Aku ragu-ragu ingin mengetuk. Kulihat rumah megah ini begitu bersih, membuatku begitu takut bahkan untuk memencet bel.

Melihat aku terdiam lama berdiri ragu-ragu, Anang yang lebih pemberani, memencet bel tersebut. Tidak berapa lama, keluar seorang laki-laki muda. “Mencari siapa?” dia bertanya setengah bingung melihat penampilan kami berdua. “Dari Asep, Pak. Kata Pak Kusnanto…”

“Oh, ya ya. Bapak sudah bilang. Sebentar kuambilkan.” Aku belum sempat mengangguk ketika lelaki tersebut sudah hilang masuk ke rumah. Sebentar kemudian dia keluar membawa amplop. “Nih, buatmu kata Bapak.”

Aku ternganga, belum sempat mengucapkan terima kasih, lelaki tersebut sudah masuk kembali dan menutup pagar rumah.

“Lho, kok bingung?” Anang mencolekku. “Terima kasihnya belum,” jawabku lirih.

Di atas sepeda ontel yang dikayuh Anang, aku masih terdiam. Jika tadi memikirkan ketidaksempatanku berterima kasih, kini memikirkan apa yang mungkin kubelikan dengan uang seratus ribu ini.

“Auw,” aku menjerit menahan cubitan Anang. “Sudah sampai di hotel, Sep,” Anang menyuruhku turun, kemudian menyeret sepedanya masuk ke parkiran hotel. Tanpa mempedulikan lototan satpam, kami bergegas masuk ke bagian dalam hotel.

“Aduh, bagaimana cara mencari Pak Rusdi?” Aku sekarang yang menggaruk-garuk kepala. Petugas hotel yang sedari tadi mengamati gerak-gerik kami dengan curiga, akhirnya menghampiri.

Ada perlu apa?” tanyanya menyelidik. Tiba-tiba aku teringat kertas segiempat kecil yang diberikan Pak Rusdi minggu lalu.

“Oh… Pak Rusdiyanto. Ada keperluan apa dengan beliau?” perempuan petugas hotel tersebut masih memperlihatkan tampang menyelidik.

Anang terbata-bata menjelaskan dan penjelasannya membuat perempuan cantik berbaju merah itu semakin mengerutkan dahinya. “Baiklah, saya coba tanyakan. Tunggu sebentar ya.”

Lewat telfon, kuliat perempuan itu berbicara. Sesaat kemudian dia mengangguk-angguk, melambaikan tangan kepada seorang petugas hotel laki-laki, yang dengan sigap langsung datang menghampiri.

Tidak sampai 5 menit, giliran pria berstelan merah yang tadi tergopoh naik ke atas tangga yang menghampiri kami. “Ini, dari Pak Rusdi. Katanya buat Asep.”

“Tolong bilang, teri..” Aku belum sempat menyelesaikan kalimat ketika pria berstelan merah tersebut sudah berlalu dan membukakan pintu buat seorang tamu.

Anang menggamit tanganku mengajakku keluar. Di parkiran, aku sempat mengintip apa yang ada di amplop. Hah, aku melonjak kaget. Uang dua ratus ribu. Dari Pak Kusnanto saja sudah membuatku bingung. Ini tambahan dua ratus ribu lagi. Waduh, banyak yang bisa kulakukan dengan uang tiga ratus ribu: beli sandal jepit, baju koko Abah, bunga yang banyak untuk ditanam di makam Emak, lalu apa lagi? Oya, sandal jepit untuk Anang. Aku melirik ke kaki Anang mengamati sandal jepitnya yang bernasib sama dengan kepunyaanku.

Abah! Tiba-tiba aku teringat janjiku kepada Abah untuk pulang cepat. “Nang, lewat toko obat Akong ya. Beli obat buah Abah. Cepat, kasihan Abah menunggu lama.”

Aku menghela nafas lega, ketika kulihat Akong masih duduk terkantuk-kantuk di depan mejanya. “Kong, obat yang biasa, buat Abah.”

“Wah, untung kamu cepat datang. Lima menit lagi sudah mau tutup. Empat hari lagi baru buka. Akong juga mau ikut libur lebaran” ucapnya sembari memberikan bungkusan obat itu. Aku segera memberikan uang duapuluh ribu. Akong mengembalikan seribu.

Lima puluh meter menjelang sampai rumah, aku sudah mendengar batuk Abah yang terus menerus. Anang mempercepat sepedanya.

“Dari mana kamu?” Abah bertanya sembari menahan batuk. “Kenapa lama?” Batuk Abah semakin bertambah-tambah.

“Bah, airnya,” aku memberikan segelas air putih hangat ke Abah.

Sambil menggeleng, Abah mengulang pertanyaannya, “Kamu dari mana?”

Anang membantu menjelaskan, sementara aku pura-pura sibuk menyiapkan obat. Aku tahu, Abah akan marah besar jika tahu aku dari mana.

“Kurangajar. Jadi kau ambil uang dari mereka, Asep…?!!!” Aku terlonjak kaget dan hampir menumpahkan bungkusan obat yang ada di pangkuanku. “Apa kata Abah tentang mereka? Berapa kali Abah bercerita tentang mereka?”

“Lebih dari lima kali, Bah,“ jawabku terbata-bata ketakutan.

“Hayo, jawab. Apa kata Abah tentang mereka? Jawab sekarang!!!” suara Abah semakin meninggi, sebentar-bentar batuknya datang.

“Pak Rusdi penipu rakyat. Kerjanya memeras. Dia suka mengatasnamakan rakyat. Dia gemar menyogok. Pak Kusnanto pelaku penebangan liar di Hutan Meratus, yang mengakibatkan banjir di beberapa tempat. Mereka…” Aku tidak sempat melanjutkan ceritaku. Aku terloncat panik, melihat Abah muntah-muntah. Dan banyak darah di muntahannya itu.

“Abah, Abah, minum obatnya. Minum, Bah,” dengan panik aku menjejalkan obat ke mulut Abah. Anang tampak bingung dan ikut mengguncang-guncang badan Abah.

“Tidak, aku tidak mau makan obat dari uang ha….ram…,” Abah diam, lemas, kemudian tidak bergerak-gerak lagi.

“Abah…!!! Abah ….!!! Kenapa diam…!!!” aku semakin panik dan takut dan mengguncang-guncang tubuh Abah. Tapi Abah diam, kaku, tak bergerak.

Beberapa tetangga yang sudah dipanggil Anang, datang merubungi tubuh Abah. Satu dua orang kulihat menggeleng-geleng.

Aku duduk di pojok tempat tidur, meringkuk terisak-isak. Aku belum sempat mengatakan kepada Abah, kalau uang pemberian itu belum kuapa-apakan, dan obat Abah kubelikan dari hasilku menyemir sepatu selama seminggu.

“Abah….” Sedetik kemudian aku tidak merasakan apa-apa lagi.

 Banjarbaru, 22 Oktober 2006

Posted by Tami at 17:58:17 | Permalink | Comments (3)

Merintis Konservasi, Kesejahteraan dan Kesetaraan Bersama Bakau

“…Kita tidak boleh putus asa meski penghasilan melaut tidak lagi mencukupi. Anak-anak tetap harus sekolah.

(Amriani, ibu empat anak, tinggal di Teluk
Lombok)

 

Semangat untuk meraih sukses bisa timbul dari mana saja, termasuk dari kerusakan alam. Inilah yang ditunjukkan masyarakat Dusun Teluk Lombok, Taman Nasional Kutai, Kalimantan Timur. Pesisir desa dengan hutan bakau yang rusak tidak membuat semangat mereka surut untuk merintis kesuksesan. Bergandengan tangan dengan sebuah lembaga swadaya masyarakat bernama BIKAL, dimulailah tapak perjalanan masyarakat, laki-laki dan perempuan, menuju kesetaraan dan hidup yang lebih baik bersama bakau.  

Bakau dan Teluk Lombok

Teluk Lombok merupakan salah satu kampung nelayan dalam naungan desa Sangkima, Kabupaten Kutai Timur, di pesisir Taman Nasional Kutai. Hutan mangrove yang melindungi pantai dari erosi, hantaman gelombang dan terpaan badai, terbentang di sepanjang timur taman nasional yang memiliki luas 198.629 hektar ini. Hutan bakau di Taman Nasional Kutai merupakan bagian dari kekayaan hutan bakau Kalimantan Timur yang luasnya hanya kalah dari hutan serupa di Papua dan Sumatera Selatan. Masyarakat Teluk Lombok dan dusun lainnya di Sangkima berdarah Sulawesi. Gelombang kedatangan orang Sulawesi Selatan, yang memiliki budaya pelaut, ke Sangkima diawali oleh hadirnya Datuk Solong pada 1922 bersama dua anaknya, Lato La Talana dan Lato La Dolomong. Dolomong-lah yang dikenal sebagai orang pertama yang menetap di Sangkima. Khusus Teluk Lombok, wilayah ini menjadi perkampungan pada 1960-an. Kini paling tidak ada sekitar 320 orang (120 keluarga) menetap di Teluk Lombok, meneruskan tradisi para leluhurnya: menjadi nelayan. Saat masih begitu rimbun, hutan bakau menjadi gantungan hidup masyarakat Teluk Lombok. Ikan, udang dan kepiting yang begitu melimpah, mencari makan, bernaung dan berkembang biak di sekitar rimbunan bakau. Nelayan menangkap hasil laut dan menjualnya mentah ke pasar. Sebagian diolah menjadi ikan asin oleh para perempuan.  

Petaka Datang

Rimbun bakau ternyata tidak bertahan lama. Hutan bakau perlahan menghilang, tercerabut dari pesisir Taman Nasional Kutai. Bermula dari dibangunnya jalan di wilayah tersebut oleh satu perusahaan besar di awal 1970-an, akses masuk pun tercipta. Perambahan terhadap kawasan ini pun terjadi. Bakau bersama jenis hutan lain yang ada di situ ditebangi secara membabi buta oleh orang luar, seperti dari Balikpapan dan Ujungpandang. Hutan bakau juga banyak disulap menjadi tambak udang.  Pesisir Teluk Lombok yang dulu terkenal rimbun juga tidak luput dari gerayangan tangan-tangan penjarah.  Ado Tadulako (59 tahun), mantan kepala dusun Teluk Lombok, masih mengingat dengan jelas bagaimana mulai pertengahan 1970-an banyak orang luar datang menebangi bakau dan memboyongnya ke kota. “Katanya ada yang dijual ke Ujungpandang,” papar Ado sambil mengisap kreteknya. Masyarakat Teluk Lombok waktu itu hanya menonton berkubik-kubik kayu bakau dari dusun mereka diangkut keluar. “Waktu itu, tidak ada yang melarang. Tidak ada yang menghalangi karena kami pikir tidak akan ada akibatnya bagi kami yang tinggal dan bermata pencaharian di sini,” kenangnya.Bertahun-tahun kemudian, Teluk Lombok mulai merasakan derita akibat lenyapnya hutan bakau di pesisir. Abrasi membuat garis pantai semakin melebar sehingga Ado harus memindahkan pondok keluarganya ratusan meter ke arah daratan. Beberapa bulan kemudian, anggota dusun lainnya menyusul langkah Ado. Sambil menerawang, Ado melanjutkan cerita terpuruknya Teluk Lombok.  “Dulu kita tidak perlu jauh melaut. Tapi, hasilnya melimpah. Setiap hari kita bisa menangkap ikan, selain udang dan kepiting rata-rata 2-3 pikul,” tuturnya. Seiring rusaknya bakau, tangkapan hasil laut pun semakin menipis. “Mulai 1982 terasa susahnya. Sehari paling banyak 20 kilogram (kg). Itu pun sudah harus melaut jauh dari pantai,” tutur pria bertubuh kurus ini. Seiring berjalannya waktu, keadaan bertambah sulit. Untuk melaut, masyarakat harus pergi jauh dari pantai. Bertarung dengan ombak yang lebih besar harus dilakukan. Perahu juga membutuhkan bahan bakar lebih banyak karena jarak melaut yang makin jauh. Namun, hasil tangkapan tidak seberapa. Bahkan jika bisa mendapat 10 kg saja dalam sehari, kata Ado, “kita sudah seperti kejatuhan rejeki dari langit“. Saat hasil laut sudah tidak bisa menjadi satu-satunya pegangan, masyarakat mulai mencoba melakukan pekerjaan lain. Bersamaan dengan pindahnya letak dusun ke arah daratan akibat abrasi, masyarakat mulai mencoba kegiatan berkebun palawija. Walau tidak menyumbang pada tambahan penghasilan, hasil kebun ditambah hasil tangkapan laut yang tidak seberapa, cukup jadi pengganjal perut.   

Ado: Sang Motivator

Ado, sebagai seorang tokoh setempat, terus berpikir mengapa nasib buruk bisa menimpa Teluk Lombok. Saat itu, pemerintah dan beberapa lembaga swadaya masyarakat yang peduli terhadap Taman Nasional Kutai mulai melakukan berbagai aktivitas. Rasa ingin tahu membuat Ado bersemangat mengikuti kegiatan tersebut. Ado pun mulai paham bahwa kerusakan bakau menghancurkan kehidupan ikan, udang dan kepiting serta membuat pemukiman Teluk Lombok harus berpindah jauh ke arah daratan. Atas dorongan Ado, masyarakat Teluk Lombok kemudian giat melakukan upaya rehabilitasi hutan bakau untuk menumbuhkan kembali mata pencaharian mereka. Ado memulainya dengan mengajak anggota dusun mendiskusikan kesulitan mereka dan mencari jalan keluarnya.  

Upaya Konservasi dan Pendirian Kelompok Petani Bakau

Keaktifan Ado, membuatnya bertemu BIKAL, salah satu lembaga swadaya masyarakat di Kalimantan Timur, yang berkantor di Samarinda dan Bontang. Awal kerjasama BIKAL dan Teluk Lombok dilakukan tahun 2000 melalui program “Resolusi Konflik: Konsolidasi Kebijakan Pengelolaan Taman Nasional Kutai“. Program ini mendapat dukungan dana dari NRM (Natural Resources Management), sebuah lembaga pemberi dana.Pertengahan 2001, saat melakukan kampanye kelestarian dan penguatan kelembagaan desa, BIKAL menyadari ajakan melestarikan lingkungan tidak dipedulikan masyarakat karena mereka sedang menghadapi persoalan yang sangat mendesak, yaitu kebutuhan perut. Lembaga swadaya masyarakat ini melihat bahwa pendekatan harus diubah. Masalah ekonomi yang dihadapi masyarakat menjadi peluang mengembangkan program rehabilitasi bakau di kawasan pesisir.BIKAL beruntung karena masyarakat Teluk Lombok memiliki Ado yang menjadi pemompa semangat masyarakat. Dengan dimotori Ado, masyarakat terus melakukan diskusi. Kegiatan ini membuat mereka semakin menyadari pentingnya rehabilitasi bakau untuk mengembalikan sumber mata pencaharian dusun Teluk Lombok.  Dalam upaya rehabilitasi bakau, masyarakat Teluk Lombok mengalami proses belajar. Kegagalan program reboisasi bakau 2002 yang dilakukan Dinas Kehutanan Kutai Timur, yang juga menjangkau Teluk Lombok menjadi bahan diskusi masyarakat. Masyarakat menilai bahwa program seluas 200 hektar (ha) ini gagal karena mereka tidak dilibatkan secara aktif sebagai pelaku. Program tersebut hanya menempatkan warga Teluk Lombok sebagai penanam bibit bakau belaka. Selebihnya diatur oleh kontraktor luar yang dipercaya Dinas Kehutanan.Ketika BIKAL memperoleh dana Civil Society Support and Strengthening Program (CSSP) untuk program peningkatan ketrampilan dan kemampuan masyarakat 2002-2003, ruang belajar bagi masyarakat Teluk Lombok semakin terbuka. Pada Juli 2003, Usman Kallu, tokoh muda masyarakat Teluk Lombok, bersama BIKAL  berkesempatan melihat pengelolaan bakau masyarakat di Desa Tongke-Tongke, Sinjai, Sulawesi Selatan dan pengelolaan bakau proyek masyarakat dengan Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Balikpapan di Kariangau, Balikpapan, Kalimantan Timur. Cerita menarik Usman sepulang dari kunjungan belajar tersebut membuat masyarakat Teluk Lombok berkeinginan mengelola bakau sendiri. Kunjungan ini, terutama ke Desa Tongke-Tongke, juga mengajarkan mereka bahwa keberhasilan masyarakat desa tersebut sangat ditentukan oleh keberadaan organisasi petani yang dibentuk sendiri oleh masyarakat.Bercermin dari kegagalan program Dinas Kehutanan Kutai Timur 2002 dan keberhasilan masyarakat Tongke-Tongke mengelola bakau sendiri, masyarakat yakin bahwa rehabilitasi bakau di dusunnya bisa berjalan jika mereka sendiri yang menanam, menjaga dan memelihara. Namun, kesempatan untuk membuktikan diri harus lebih dulu ada. Pendekatan BIKAL dengan Mitra Taman Nasional Kutai membuahkan hasil. Masyarakat mendapat dukungan modal untuk mengelola sendiri rehabilitasi bakau di pesisir dusunnya seluas 10 ha. Namun, keperluan administratif membutuhkan adanya organisasi resmi. Berdasarkan berbagai pertimbangan di atas, Pangkang Lestari didirikan pada April 2004. Dalam bahasa setempat, Pangkang berarti api-api (sejenis bakau). Penamaan Pangkang Lestari menandai keinginan masyarakat untuk menumbuhkan dan melestarikan bakau di Teluk Lombok. Dukungan berbagai pihakpun semakin bertambah menyambut semangat masyarakat Teluk Lombok untuk mengejar kesejahteraan. Mulai Maret 2005, BIKAL dan masyarakat di tujuh dusun Taman Nasional Kutai, termasuk Dusun Teluk Lombok,  menjalankan program “Penguatan Kemandirian Ekonomi Masyarakat Melalui Kemitraan Multipihak” atas dukungan Multistakeholder Forestry Program (MFP) atau program kehutanan multipihak, kolaborasi pemerintah Kerajaan Inggris dan Departemen Kehutanan RI. 

Perempuan Mulai Berperan

Ketika mendapat kesempatan melihat proses pembibitan bakau di Kariangau, Balikpapan Juli 2003, Usman juga sempat melihat cara penggemukan kepiting melalui keramba. Kepiting keramba inilah yang menjadi alternatif mata pencaharian lain, selain melaut dan belajar menjadi penyedia bibit bakau. Saat pertama kali dicoba, dalam 20 hari kepiting sudah bisa dipanen, kemudian dijual dengan harga antara Rp 8.000,00 – Rp 10.000,00 per kg.Usaha kepiting keramba Pangkang Lestari menumbuhkan inovasi tersendiri bagi perempuan Teluk Lombok. Saat ujicoba penggemukan kepiting di keramba, ternyata tidak semua kepiting bisa dijual. Kepiting yang cacat tidak laku di pasaran. Petani harus membuang lumayan banyak kepiting cacat. Dari 15-20 kg kepiting yang ada di satu keramba, sekitar 2-3 kg cacat. Melihat banyaknya kepiting yang terbuang percuma, saat itu timbul ide para ibu untuk mengolahnya menjadi krupuk kepiting. Ide krupuk kepiting ini berdasarkan cerita Usman tentang seorang ibu di Kariangau, Balikpapan, yang membuat produk ini untuk dikonsumsi sendiri. Saat Pangkang Lestari mendapatkan pelatihan pengelolaan kepiting keramba, seorang ibu menanyakan makanan apa saja yang bisa diolah dari kepiting. Krupuk adalah salah satu jawaban. Semangat perempuan Teluk Lombok ditanggapi secara positif oleh para lelaki. Untuk lebih mengefektifkan rintisan usaha ekonomi dan menambah ketrampilan perempuan ini, Pangkang Lestari dan masyarakat Dusun Teluk Lombok sepakat untuk membentuk Kelompok Kerja (Pokja) Krupuk Kepiting menjelang akhir 2004.Ternyata, usaha krupuk kepiting sangat menguntungkan. Jika harga kepiting mentah berkisar antara Rp 8.000,00 – Rp 10.000,00 per kg, krupuk kepiting produksi Pokja Krupuk Kepiting ini dihargai Rp 40.000,00 per kg. Penjualan pun mulai merambah ke beberapa kota seperti Sangatta dan Bontang. Meski relatif muda, Pokja yang diketuai Sumanti ini sudah menunjukkan prestasi. Dalam Lomba Teknologi Tepat Guna Masyarakat tingkat Kabupaten Kutai Timur dan tingkat Propinsi Kalimantan Timur, mereka berhasil meraih kemenangan. Kelompok ini kemudian mewakili Kalimantan Timur dalam lomba tingkat nasional yang diselenggarakan September 2005 di Palembang.  

Terus Menggalang Semangat Belajar dan Kerjasama Lelaki Perempuan

Semangat belajar yang tinggi terus diperlihatkan masyarakat dalam berbagai kegiatan yang dilakukan di Dusun Teluk Lombok. Dalam melakukan proses rehabilitasi bakau misalnya, Pangkang Lestari memiliki cara tersendiri untuk memantau perkembangan bibit bakau yang ditanam. Setiap bulan Sekolah Lapang digelar, baik di lokasi pembibitan maupun di pantai tempat penanaman. Di tempat pembibitan, Sekolah Lapang dilakukan untuk mengamati bibit, misal serangga apa saja yang mengganggu dan bagaimana mengatasi gangguan tersebut. Di pantai tempat penanaman akan dilihat sejauh mana pertumbuhan tanaman setiap bulan dan apakah ada gangguan di lokasi tanam. Sesudahnya, sambil duduk santai di pantai, masyarakat secara serius mendiskusikan perkembangan bakaunya.Berkat ketekunan masyarakat, bibit bakau yang ditanam tumbuh dengan baik. Seorang pengamat lingkungan dari Semarang, Muhammad Marzuki, seperti dikutip Harian Kompas (9 Agustus 2004), menjelaskan tentang tidak mudahnya menanam bakau. “Untuk setiap inci pertumbuhan bakau bisa memerlukan  waktu berbulan-bulan. Kendala berdatangan ketika masyarakat sekitar pantai tidak juga paham perlunya hutan bakau,“ tutur Marzuki. Di Teluk Lombok, bibit bakau yang ditanam sekitar 200.000 pohon. Menurut Ado, anak bakau yang waktu ditanam memiliki tinggi sekitar 30-50 cm dalam 13 bulan menjadi 1,5-2 m. Karenanya, rehabilitasi Pangkang Lestari bisa dikatakan sukses.Tidak hanya itu, luas wilayah rehabilitasi yang semula luasnya 10 ha pada Agustus menjadi 12 ha pada Desember 2004. Para petani melakukan penanaman tambahan secara swadaya sesudah melihat ada tanah gundul di sekitar pesisir yang perlu ditanami. Bibit bakau di area tambahan ini juga tumbuh dengan baik.Keberhasilan ini menjadikan Pangkang Lestari dipercaya sebagai penyedia bibit, dimulai dari program rehabilitasi bakau Dinas Kehutanan Kutai Timur. Dinas Kehutanan selama ini memasok bibit dari Balikpapan. Saparuddin dari BIKAL menjelaskan Pangkang Lestari waktu itu mampu menyediakan 375.000 bibit bakau untuk lahan seluas 150 ha. Setiap batang bibit dihargai Rp 450,00. Dalam penyediaan bibit untuk program-program rehabilitasi bakau, Pangkang Lestari melibatkan sekitar 50 keluarga di RT 1, 2, dan 3 Dusun Teluk Lombok. Dalam melakukan pembibitan terdapat pembagian peran antara lelaki, perempuan bahkan juga anak-anak. Nursalim dari BIKAL menjelaskan, lelakilah yang bertugas mencari bibit bakau di sekitar wilayah Teluk Lombok. Jika diperlukan bibit bisa dicari sampai ke wilayah Bontang. Sementara itu, perempuan dan anak-anak biasanya membantu mengisi tanah ke dalam polybag. Sesudah didapatkan, bibit akan ditancapkan ke dalam polybag baik oleh lelaki maupun perempuan. Selanjutnya, ribuan bibit bakau yang sudah berada di kantung-kantung plastik diletakkan sementara di suatu tempat di pinggir pantai. Tempat sementara tersebut memiliki atap sederhana terbuat dari daun nipah. Fungsinya adalah untuk melindungi bibit tersebut dari sinar matahari. Para bapak yang biasanya pergi melaut dan melewati tempat peletakan sementara bibit, biasanya menyempatkan diri untuk mengecek kondisi bibit bakau tersebut. Dalam 1-3 bulan, bibit yang sudah disemaikan di polybag siap untuk ditanam di pinggir-pinggir pantai atau dikirim ke tempat-tempat yang sudah memesan bibit tersebut seperti ke Bontang atau Bulungan, Kalimantan Timur. 

Terus Belajar, Berkembang dan Menularkan Semangat

Menjelang akhir 2006, tercatat paling tidak 3 daerah di Kalimantan Timur, yaitu Bontang, Sangatta dan Bulungan, menggunakan bibit bakau pasokan dari Kelompok Tani Pangkang Lestari dan masyarakat Teluk Lombok. Sejak akhir 2005 sampai Oktober 2006, paling tidak telah terjual bibit bakau sebanyak 1.113.500 dan total penjualan sebesar Rp 541.850.000. Jika dulu satu bibit hanya terjual Rp 450 per buah, sekarang dihargai sampai Rp 600.Hasil wawancara yang dilakukan BIKAL (Oktober 2006) saat menjalankan kegiatan Analisis Kemiskinan Partisipatif (AKP) dukungan MFP di 4 desa, termasuk Desa Sangkima, memperlihatkan peningkatan ekonomi telah terjadi di Dusun Teluk Lombok dari penjualan bibit bakau. Husen, 77 tahun, salah satu anggota Pangkang Lestari mengatakan kepada Mukti Ali dari BIKAL, bahwa dia baru sekali memegang uang jutaan rupiah. Dan ini diperoleh dari hasil penjualan bibit bakau. Sumanti, 34 tahun, ketua Pokja Krupuk Kepiting menyatakan dalam bahasa Mamuju, ”Ampunna’ u’de tau mabbalukang polo, u’de diang ni pambayyari anak sekolah ampe mambayarri panginranggang”. Artinya kira-kira, ”Kalau tidak ada penjualan polo (bakau), tidak ada ongkos untuk membiayai sekolah anak dan membayar hutang.”Lebih lanjut, para petani bakau di Teluk Lombok juga mendapat semangat lain dari usaha krupuk kepiting yang telah dijalankan para perempuan. Mengingat harga krupuk kepiting yang jauh lebih tinggi dibandingkan kepiting mentah, masyarakat setempat menyadari perlunya ketersediaan bahan mentah untuk menunjang usaha krupuk kepiting tersebut. Bahan mentah dari kepiting alam masih sulit diperoleh karena hutan bakau masih belum pulih. Maka, dalam jangka pendek, upaya penggemukan kepiting keramba tetap dilakukan. Petani Pangkang Lestari kini giat mempelajari cara yang lebih efektif untuk pembesaran kepiting di tambak dan penggemukan di keramba dengan dukungan dari Mitra Taman Nasional Kutai.Selain itu,  masyarakat Teluk Lombok, juga mulai melirik upaya budidaya rumput laut yang biasanya juga dilakukan di wilayah hutan bakau. Kelompok Kerja Rumput Laut pun terbentuk di bawah Kelompok Pangkang Lestari. Budidaya rumput laut nampaknya pilihan tepat. Budidaya ini sangat menguntungkan dan hanya memerlukan teknologi sederhana. Kantor Berita Antara mengutip pendapat Prof. Sulistijo, peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia tentang hal ini. Menurutnya, jika budidaya berhasil, rumput laut dapat dipanen setiap 1,5 bulan. Satu hektar bisa menghasilkan Rp  1.000.000,00 – Rp 3.000.000,00. Indonesia sendiri, masih menurut Sulistijo, setiap tahunnya kekurangan rumput laut sebanyak 40.000 ton untuk diekspor. Mengingat prospeknya, kiranya tepat pilihan budidaya rumput laut yang rencananya akan dilakukan juga oleh Pangkang Lestari.Akan halnya para perempuan, mereka juga menunjukkan semangat berkembang yang sama. Tidak hanya berhenti sampai krupuk kepiting, kini mereka sudah mempelajari berbagai macam makanan olahan dari rumput laut, menyambut rencana budidaya rumput laut Pangkang Lestari. Beberapa jenis makanan, seperti puding, manisan dan es rumput laut, sudah bisa diolah oleh para perempuan di Teluk Lombok. Selain itu, pada November 2006 kelompok perempuan yang dalam 2006 ini juga mendapat dukungan MFP, melakukan studi banding tentang manajemen usaha dan pemasaran rumput laut di Kutuh dan Nusa Ceningan, Bali. Mengingat usaha beberapa kelompok masyarakat di Taman Nasional Kutai ini sudah mulai menampakkan hasil, BIKAL mendorong pendirian lembaga keuangan masyarakat. Sejak Agustus 2006, Unit Pelayanan Tapak Surya telah beroperasi di 5 desa di Taman Nasional Kutai. Unit Pelayanan yang merupakan perpanjangan dari Credit Union Daya Lestari ini, diharap mampu berfungsi sebagai wadah simpan pinjam masyarakat. Selain itu, Tapak Surya juga berperan sebagai agen yang berperan mendidik masyarakat tentang arti penting menabung dan merencanakan keuangan untuk masa depan. Jika misalnya masyarakat memiliki masalah modal usaha, mereka dimungkinkan mendapat pinjaman dari Tapak Surya.Yang lebih mengesankan adalah kegiatan-kegiatan yang berdampak pada kesejahteraan dan kesetaraan di masyarakat Teluk Lombok telah memberikan inspirasi kepada masyarakat di dusun dan desa lain di Taman Nasional Kutai. Keberadaan Pokja Krupuk Kepiting di Dusun Teluk Lombok, Desa Sangkima mendorong pendirian Pokja Krupuk Udang di Kelompok Sumber Rejeki, Dusun Satu, Desa Sangkima Lama. Kelompok Sumber Rejeki pada mulanya hanya melibatkan nelayan lelaki. Tertarik dengan proses dan pengalaman di Teluk Lombok, perempuan di Dusun Satu akhirnya juga membentuk Pokja Krupuk Udang, yang berfokus pada usaha pembuatan krupuk udang. Antara Pokja Krupuk Kepiting dan Pokja Krupuk Udang sudah dilakukan beberapa kali pertemuan saling belajar untuk bertukar pengalaman tentang pengelolaan usaha dan organisasi perempuan.Selanjutnya, kelompok tani Gula Angin Mamiri, yang juga terletak di Dusun Satu, Desa Sangkima Lama, juga berniat mendorong penguatan perempuan dalam usaha gula merah dan gula semut. Jika dulu kelompok ini hanya menghasilkan gula merah yang secara turun temurun digeluti lelaki, sekarang mereka juga telah melakukan diversifikasi produk. Gula semutpun bisa dihasilkan. Pada prosesnya, pengerjaan gula semut dilakukan secara bersama oleh lelaki dan perempuan. Lelaki mengambil nira dari pohon aren, sementara perempuan memasak dan memproduksi nira tersebut menjadi gula semut. Di masa mendatang, perempuan akan berfokus pada usaha gula semut dan lelaki tetap berkonsentrasi pada gula merah. 

Pelajaran Berharga Teluk Lombok

Dari upaya yang dilakukan masyarakat Teluk Lombok bersama BIKAL, ada beberapa pelajaran menarik yang dipetik. Pertama, masyarakat memiliki kemampuan bertahan dan mengembangkan diri meski berangkat dari kondisi keterpurukan. Pada masyarakat Teluk Lombok, kerusakan hutan bakau mendorong mereka untuk berjuang dan kreatif dalam menumbuhkan kembali bakau dan meningkatkan kesejahteraan ekonominya. Kedua, apa yang terjadi di Teluk Lombok memperlihatkan hal-hal yang diperlukan masyarakat untuk menyelamatkan lingkungan serta meningkatkan kesejahteraan. Adanya tokoh atau motivator lokal serta pihak yang mendukung menjadi hal penting. Yang juga sama pentingnya adalah pengorganisasian diri masyarakat, semangat untuk belajar serta saling dukung antar komponen masyarakat. Ketiga, terkait isu jender, apa yang terjadi di Teluk Lombok menunjukkan hubungan saling dukung antara laki-laki dan perempuan. Singkatnya, masyarakat Dusun Teluk Lombok dan BIKAL berhasil membuktikan bahwa upaya mendorong usaha alternatif masyarakat bisa menimbulkan efek domino yang lebih besar. Dalam hal ini, bukan hanya usaha alternatif yang diciptakan, tapi juga upaya konservasi dan penguatan kesetaraan jender yang terjadi.

Swary Utami Dewi
Posted by Tami at 10:06:50 | Permalink | Comments (2)