Wednesday, May 23, 2007

MENULIS

Aku punya keasyikan tersendiri: menulis

Menumpahkan imaji yang menari dan berlari bebas di kepala

Kadang, mencurahkan larahati kala jiwa sedang merunduk pilu

Kadang pula, meneriakkan pekik girang dan jerit sukacita

saat hati sedang tertawa

Jika mata adalah jendela jiwa

maka hasil coretan tangan adalah bingkai yang melingkupi tidak hanya jiwa,

tapi juga akal

 

Banjarbaru, 22 Mei 2007

 

Posted by Tami at 06:24:52 | Permalink | Comments (5)

Tuesday, May 22, 2007

CERPEN: CUKUP SUDAH

Tangan Salma masih terus menakar minyak tanah yang sedang dibeli Tajang. “Sudah cukup 5 liter, Nak.” Teguran lelaki paruh baya itu menyadarkannya dari lamunan. Sesudah memberikan uang kembalian, Salma bergegas menutup warung. Sudah menjelang magrib. Dia tidak mau sedikitpun melewatkan waktu magrib, saat di mana dia merasa paling khusuk berdoa sesudah sholat, mengadu apa saja yang ada di hati kepada Yang Kuasa.

Ke manakah ku akan mencari kekosongan jiwa?

Ada rasa melayang dan hampa yang tidak terhingga.

Sekecil apapun kekosongan itu, ia tetap dirasakan,

karena kosong tetap kosong.

Salma mengakhiri kata-kata yang ditulisnya. Tahun ketiga sejak dia diharuskan menikah muda,  jika lara hati tiba-tiba membuat batinnya nyeri, dia menulis dan menulis. Apa saja. Satu dua kalimat membuatnya sedikit bisa mengurangi pedih jiwa.  

Ditariknya laci meja kemudian diambilnya cermin kecil. Salma menatap lekat-lekat wajahnya, wajah seorang perempuan di awal usia 30. Masih muda, cantik, segar. Dia memandang kembali ke kaca. Terngiang kata-kata sang suami, Matola, jika memuji, “Kau cantik, ji. Usiamu sudah 30 lebih, tapi masih tetap cantik.”

“Yah, aku cantik.” Sambil menghela nafas dia memasukkan kembali cermin ke laci meja. Meski sudah belasan tahun menikah, dia masih tetap cantik bagi Matola. Tidak, tidak hanya bagi Matola. Tapi juga bagi seorang laki-laki yang dua tahun terakhir ini mengisi hatinya. Salma tahu hatinya mencinta. Tapi dia tahu cintanya terlarang. Bisa-bisa seluruh keluarga melakukan siri jika dia berani melangkahi adat dan norma masyarakat tempatnya lahir dan dibesarkan.

“Lagipula, aku punya suami yang baik dan sabar,” Salma meraba dadanya yang tiba-tiba terasa nyeri. Karena itu, walaupun tahu hatinya hanya untuk Ali, tetangga yang baru bermukim di kampung dua tahun lalu, dia tetap menyimpannya rapat-rapat. Hanya matanya dan mata Ali yang tahu, kerap saling tatap, menyiratkan rindu yang mendalam.

Pasangan hidup kita, suami atau istri,

seringkali hampir memenuhi seluruh ruang jiwa kita

dan menguasai hidup kita.

Tapi seringkali ada ruang-ruang kecil, kosong dalam batin.

Saat seseorang yang tepat hadir, masuk ke relung kosong kecil itu,

dia membuat batin terasa penuh.

Dia mungkin hanya sedikit memenuhi jiwa kita,

karena telah diisi yang lain sebelumnya.

Tapi karena dia yang membuat ruang itu penuh,

dia menjadi kunci jiwamu.

Kehilangan dia akan membuatmu merasa

ada relung-relung kosong lagi di batinmu.

Karena itulah dia menjadi amat berharga.

Salma memejamkan mata rapat-rapat, menghela nafas panjang untuk mengurangi nyeri hatinya, mencoba mengingat suaminya yang baik untuk mengusir wajah Ali. Dengan cepat diletakkannya kembali pena dan perlahan dia menelungkup di meja. Merasa perih dan nyeri.

Suaminya memang baik. Matola, pria yang berusia 7 tahun di atasnya, dikawinkan dengan Salma saat perempuan ini masih berusia 16 tahun. Jarang sekali pria tinggi kurus itu berkata-kata. Diam, sediam malam yang selalu datang mendekap hidup Salma selama belasan tahun. Senyum bagi Matola adalah segalanya.

Usia 16 tahun!!! Salma baru saja menyelesaikan SMP dan siap mendaftar ke SMA. Seminggu sebelumnya dia berteriak girang melihat nilai-nilai yang luar biasa bagus tertera di ijazah. Dia melonjak setinggi mungkin, menarik Sukma, sahabat akrabnya untuk menari berputar-putar. Tarian dan teriakan mereka terhenti saat mereka sadar puluhan mata melihat dengan mulut ternganga.

Di luar pagar sekolah, Mamak, sang ibu, sudah menunggu. “Cepat pulang Nak,” lambainya kepada Salma. Salma mencuri cium di pipi Sukma. “Kita bertemu Senin ya. Aku langsung bawa semua keperluan pendaftaran. Kau jangan lupa jemput aku ya.” Sukma mengangguk kemudian melambai ceria.

Malam itu, Salma sedang bersiap-siap. Berkas-berkas yang diperlukan sudah disusun rapi dalam map coklat. Salma tersenyum memandang foto yang sengaja dipajangnya di sudut kiri map. “Asyik, sedikit lagi aku sudah SMA.” Janji untuk tetap duduk sebangku dengan Sukma membuatnya semakin tersenyum.

Ketukan pintu membuyarkan konsentrasi. “Masuk, Mak.” Langkah Mamak yang didengarnya berat, lain dari biasa, membuat Salma mengangkat kepala, memandang wajah ibunya.

Tidak banyak yang bisa dimengerti Salma, setelah Mamak berbicara berputar-putar selama setengah jam, kecuali satu kalimat: “Kamu bulan depan harus menikah dengan Matola”.

Salma membantah, berkali-kali menggeleng, mengatakan tidak. “Aku ingin terus sekolah Mak. Aku ingin. Besok aku dan Sukma akan mendaftar di SMA 1. Mamak sendiri yang membolehkan aku. Aku tidak mau kawin. Aku 16 Mak, masih 16.”

Salma ingin menekan nada suaranya yang tinggi, sadar bahwa di depannya adalah Mamak. Sesaat kemudian digigitnya bibir perlahan menahan tangis, memandang wajah Mamak yang tiba-tiba berlinang air mata. Nampak butiran mengalir deras di pipi perempuan paruh baya itu.

“Jawabanku tetap tidak Mak.“ Bisik Salma di telinga Mamak yang masih memohon, meratap sambil memeluknya erat-erat.

Tiba-tiba, pelukan Mamak mengendur. Dirasakannya tubuh Mamak melorot. Sigap Salma menangkap tubuh sang ibu, yang disangkanya jatuh pingsan. Tapi tidak. Mamak tidak pingsan. Tubuh Mamak terus molorot. Hingga akhirnya, membentuk posisi sembah. Masya Allah, ibu yang melahirkannya, bersujud di hadapannya!

“ Tolong Mamak Nak. Lebik baik kau membunuh Mamak daripada menolak menikah dengan Matola.” Lemas rasa raga Salma. Sekuat mungkin dia menarik tubuh Mamak untuk berdiri. Mamak tidak beringsut sedikitpun: bersujud sambil terisak.

Salma tidak mampu membantah lagi. Melihat ibu yang dicintainya bersujud terisak, kata itupun keluar dari mulutnya: “Ya Mak. Aku akan menikah dengan Matola.”

Salma, entah bagaimana merasa, saat itulah belenggu mulai ditempatkan di raganya.

Aku tidak akan bisa ke mana-mana,

aku tidak akan ada di mana-mana.

Walau tidak pernah mengenal Matola sebelumnya, lelaki berkulit coklat itu sangatlah baik. Terlalu baik malah bagi Salma. Hampir tidak pernah keluar perkataan keberatan dari mulutnya. Tidak pernah dia menghardik atau memarahi Salma. Jika dia tidak setuju sesuatu, alis matanya hanya terangkat sedikit. Kemudian anggukan dan senyuman tersembul, menandai akhirnya dia setuju pada pendapat Salma.

Salma, sejak menyatakan anggukan karena sujud Mamak, kehilangan masa remaja. Salma kehilangan Sukma, sahabatnya yang kemudian pindah entah kemana. Salma kehilangan cita-citanya.

Laksana nahkoda kapal, Salma yang terbilang cerdas, lebih berani dan terbuka, mengendalikan semua sejak menikah. Rumah, mas kawin dari keluarga Matola, dirawat dan dikelolanya baik-baik. Rumah yang semula tanpa taman, ditata rapi. Dominasi mawar berwarna-warni yang mencuatkan duri menjadi kesayangan Salma.

Perkawinanku bagaikan mawar, indah, namun durinya tetap ada.

Perkawinanku, tenang, tanpa riak gelombang,

tapi jauh di dasar lautan, aku menghadapi badai ganas

yang bisa menghempaskan kapal yang sedang berlayar.

Ketangkasan tukang kebunlah,

yang membuat tangannya tetap tidak tertusuk duri.

Kelihaian nahkodalah,

yang membuat kapal bisa tetap terkendali

Dalam beberapa tahun, layaknya mawar yang merekah berkembang, semua yang dimiliki Salma tumbuh melesat. Kecerdasan Salma membuatnya mampu mengelola toko kelontong kecil hadiah kawin dari Mamak, menjadi salah satu toko besar di kampung.

Dalam bilangan tahun kurang dari sebelah jari, tidak hanya toko Salma yang berkembang pesat. Tahun kedua pernikahannya, Salma sudah memomong bayi perempuan. Aisyah namanya. Bayi berkulit coklat, berbulu mata lentik itu sejak lahir menjadi bagian tak terpisahkan dari hidup Salma.

Tahun ketiga sesudah Sukma pindah dari kampung, Salma mendapat buah tangan dari sahabatnya itu: sekardus buku. Di tumpukan paling atas, dia menemukan secarik kertas bertulis tangan. Tulisan Sukma tetap rapi, berderet miring ke kanan.

Hampir tiga tahun aku meninggalkan kampung kita.

Aku melanjutkan sekolah dan sekarang sudah hampir tamat SMA

Aku tidak bisa bersekolah di tempat di mana cita-cita kita direnggut.

Aku tidak sampai hati melihatmu menikah muda.

Tapi aku tahu, aku juga tidak bisa menahan itu terjadi padamu.

Sahabatku yang cerdas, ini adalah tanda cintaku kepadamu.

Bacalah buku-buku ini. Jelajahi dunia.

Buku akan membawa jiwamu berkelana.

Jika kau merasa kesepian, senang, sedih,

tumpahkah semua dalam tulisan.

Buku yang kau baca dan kertas yang kau tulis,

harapku menjadi bagian dari dirimu sejak saat ini.

Berkelanalah bersama mereka. Bebaskan jiwamu.

Ragamu terikat,

tapi jangan lupa kalau jiwa tidak bisa dibelenggu.

Sayangku buatmu selalu, SUKMA

Salma tergagap. Dengan cepat diletakkan buku bersampul coklat berisi curahan hatinya kembali ke laci. Dari gaya mengetuk, tahu dia Aisyah-lah yang ada di muka pintu.

“Masuk, sayang.” Dipandangnya Aisyah yang menyeret kaki dengan muka tertekuk.Wajah Aisyah persis Matola. Tapi sifat dan kekerasan hatinya, tidak lain dari titisan Salma. Wajah gadis berusia 15 ini terlihat agak kusut.

“Aku bingung menentukan sekolahku Mak. Minggu depan sudah pembagian ijazah. Wati mengajakku masuk ke SMA 1. Tapi…” kata-kata gadis manis ini tercekat di tenggorokan.

“Tapi kenapa?” wanita matang ini memeluk anaknya yang mulai tampak berkaca-kaca.

“Aku tidak mau membuat hati Mamak sakit. Mamak dulukan mau masuk sekolah itu bersama Tante Sukma. Tapi tidak jadi karena Mamak harus…” Aisyah tidak melanjutkan ucapan karena tetesan air mata sudah mulai mengalir di pipinya.

“Hei sayang, tidak ada kaitannya antara sekolah itu dengan nasib Mamak. Kau boleh memilih sekolah apapun yang kau suka. Kau mau duduk sebangku lagi dengan Wati?” Salma menjentik ujung hidung Aisyah dengan ujung jari, kemudian mengusap air mata putrinya itu.

Anggukan Aisyah terlihat mantap. Hati Salma berdegup, ingat kejadian belasan tahun lalu, saat ia dan sahabatnya Sukma berjanji akan duduk lagi bersama, sebangku di SMA 1. Dengan erat, dipeluknya tubuh Aisyah, yang sekarang ganti ternganga melihat ibunya menangis.

Hari berganti hari. Dua minggu sudah Aisyah dinyatakan lulus. Syukuran kecil dirayakan di rumah. Sang Nenek, ibu dari Salma, terlihat sibuk. Dia nampak gembira melihat cucunya bersukacita. Sesekali dipangkunya cucu tunggalnya itu sambil mengusap kepalanya penuh kasih.

Menjelang magrib, semua tamu sudah undur diri. Tinggal keluarga Matola yang sibuk membenahi sisa-sisa pesta syukuran. Salma yang sejak siang agak merasa pusing, meminta izin lebih dahulu masuk kamar. Matola membalasnya dengan anggukan tanda mengerti.

Baru saja melipat mukena sesudah menunaikan sholat isya, Salma mendengar ketukan. Sesaat kemudian nampak Mamak, sang ibu yang sudah terlihat tua, masuk. Salma yakin pasti ada sesuatu yang ingin dibicarakan Mamak. Perempuan ini hanya akan mengetuk pintu Salma jika ada hal yang cukup  penting untuk disampaikan. Sang anak merasa yakin pasti soal umroh yang muncul. Bulan lalu Mamak memang berkata ingin umroh. Haji telah ditunaikan sepuluh tahun lalu. Tapi kerinduan kepada Ka’bah membuatnya ingin dibiayai pergi umroh oleh sang anak.

“Salma. Kau kenalkan keluarga Haji Darussalam?” Mamak mulai percakapannya perlahan. Salma mengangguk cepat. Dia menebak pasti Mamak ingin berkata bahwa dia akan berangkah umroh dengan istri Haji Darussalam, salah satu tokoh paling penting di kabupaten itu. Mamak memang berteman cukup dekat dengan istri sang tokoh.

Selama setengah jam, Mamak berbicara, memuji-muji keluarga itu. Kebaikan, kekeluargaan, ketenaran, semua dibicarakan Mamak. Lama-lama, Salma tidak mengerti apa yang dibicarakan Mamak. Sudah lama Mamak tidak berbicara memuji orang setinggi langit seperti ini. Terakhir sepuluh tahun lalu, itu terjadi sepulang Mamak dari haji. Di tanah suci, Mamak bertemu dengan Ustadzah Qonita yang terkenal cantik, pintar dan ramah.Perempuan inilah yang selama lebih dari seminggu terus menerus menjadi buah bibir Mamak.

Salma yang sudah merasa begitu mengantuk karena pengaruh pusing dan lelah seharian, mendadak berdiri. Nafasnya serasa hampir putus. “ Dua minggu lalu, Mamak dan Ibu Haji Darussalam sepakat untuk menikahkan Aisyah dan Sirajuddin, cucu tunggalnya. “ Akhirnya jelas juga ke mana semua pembicaraan Mamak bermuara.

Sang ibu yang melihat Salma berdiri pucat bagai mayat, segera mendudukkan anak satu-satunya itu. Tidak bereaksi sedikitpun, Salma tetap mematung. Tubuhnya sedingin es. Sesaat kemudian, dia merasa sesuatu menghantam hatinya, keras sekali, sudah tidak tertahankan. Salma sudah hampir muntah.

“Aisyah…!” ia berteriak sekuat mungkin.

Tergopoh Aisyah masuk mendengar jerit kencang ibunya. Tidak pernah seumur hidup ia mendengar sang bunda berteriak panik.

Tenang Salma. Aisyah tetap akan bisa melanjutkan sekolah. Dia tetap boleh bersekolah, bahkan sampai unversitas sekalipun. Ibu Haji sudah berjanji memberikan mas kawin, tidak hanya rumah. Tapi juga ruko dan beberapa petak sawah. Aisyah akan hidup dengan sangat baik. Cucu Ibu Haji sangat baik, ganteng, agamanya baik.” Bertubi-tubi penjelasan Mamak, tidak ditanggapi sedikitpun oleh sang anak. Dia tetap berdiri.

Sesaat kemudian, dia berkata kepada Aisyah, “Kemasi barangmu Nak. Bawa yang perlu-perlu saja. Jangan lupa bawa semua ijazahmu.”

Aisyah yang sejak tadi terlongo, segera keluar kamar, mendengar perintah sang Ibu yang sudah tidak bisa dibantah lagi. Mendengar ribut-ribut, Matola menyusul masuk. Dia ternganga menyaksikan Aisyah sedang membongkar lemari, memasukkan beberapa potong baju ke koper kecil, memilah beberapa berkas untuk kemudian turut dimasukkan di atas susunan pakaian. Matanya mengikuti tangan sang istri yang lalu membuka laci meja, mengambil buku bersampul coklat untuk kemudian diselipkan di sisi depan koper.

“Salma,” katanya tergagap.

 

Mamak menoleh ke arah Matola. “Seminggu lalu Mamak sudah bicarakan ini ke Matola. Dia setuju.”

 

Salma berhenti mengemasi barang, menoleh ke Matola dan menatapnya dingin. Dingin sekali, tanpa ekspresi. Perut Salma terasa semakin mual.

 

“Aisyah!!!” Jerit sang ibu membuat gadis belia itu tergopoh-gopoh masuk, hampir terjatuh karena membawa dua ransel berukuran sedang.

 

“Iya Mak. Aku …” Sang gadis tidak jadi berkata. Dia ternganga. Di depannya, sang Nenek sedang menahan kaki ibunya, kemudian bersujud. Di sisi tempat tidur, sang ayah berdiri pucat pasi bagi mayat, diam tidak berkata-kata.

 

“Salma, anakku. Sekali lagi bantu Mamak, Nak. Ke mana Mamak taruh mukaku ini jika pernikahan ini gagal. Mereka akan datang melamar minggu depan. Tolong Nak, demi kebaikan kita semua.” Mamak berkata terbata-bata, sembari menangis dan tetap bersujud.

 

Salma dengan sekuat tenaga menarik kakinya yang ditahan Mamak. Dengan sekali sentakan, kaki itu lepas. “Nak, tolong Mamak. Aku Mamakmu, yang melahirkanmu.” Mamak masih bersujud, menggapai-gapai mencari kaki Salma. “Demi kebaikanmu, Nak. Demi kebaikan cucuku.” Mamak mulai menangis, semakin histeris. Tubuhnya tetap tidak berdiri.

 

Salma terdiam cukup lama. Sesaat kemudian dia menoleh ke Matola, kemudian memandang sang ibu yang masih saja belum beranjak dari sujudnya, lalu ke arah sang putri.

 

“Ayo, Nak. Masih banyak yang harus kita lakukan. Biarkan ayah dan nenekmu menyelesaikan urusan dan janji mereka.” Aisyah mengikuti langkah sang ibu yang keluar menggeret koper kecilnya.

 

Salma melangkah lambat tapi pasti, saat membuka pintu pagar. “Cukup sudah apa yang telah terjadi. Tidak akan kubiarkan Asyiah mengalaminya.”

 

Malam itu, di bawah sinar bulan yang redup, Salma dan Aisyah terus berjalan, beriringan, hanya berdua.

BANJARBARU, 22 Mei 2007 

 

Posted by Tami at 09:59:41 | Permalink | Comments (6)

ULANG TAHUN DAN TERBERKAHI

20 Mei. Puluhan tahun lalu aku dilahirkan. Pagi-pagi melek, aku sudah mendapatkan banyak sms ucapan selamat, juga beberapa telfon. Kepada teman-teman yang tidak tahu tanggal lahirku, entah keajaiban apa yang membuatku mengirim sms kepada mereka memberitahu hari spesialku ini. Lengkaplah sudah. Ratusan sms masuk plus puluhan telfon ucapan selamat. Teman-teman, kerabat, rekan kantor. Semua membuatku bahagia.

Apalah arti ulang tahun bagi seseorang? Aku tidak tahu persis. Setiap orang punya hak untuk memaknainya secara berbeda. Bagiku, pertama, ultah berarti hari bahagia, plus sibuk terima ucapan. Silaturahmi yang mungkin sudah tidak terjadi beberapa bulan, akan terajut kembali. Saling memberi kabar mengikuti ucapan.

Ulang tahun juga berarti kesempatan berkumpul bersama keluarga. Aku yang biasa loncat sana , loncat sini, mengikuti arus perjalanan yang terjadwal atau keisengan mengunjungi suatu tempat, menjadi pulang ke sarang lebih lama dari biasanya. Seharian bermain bersama anak, menemani mereka melihat kado-kado kreasi mereka sendiri buat sang Mamah. Alif, sulungku memberi gambar dalam komputer (paint), yang entah kenapa tiba-tiba dihapusnya. Mau diperbaiki, katanya. Anak tengahku, Ara, perempuan satu-satunya, memberikan dua puisi yang telah ditulis beberapa hari lalu. Janjiku kepada Ara kalau dua puisi itu akan dimasukkan ke blognya. Si bungsu Rama, yang berusia 3 tahun, tidak memberi apapun. Tapi yang jelas dia yang paling heboh kalau aku ada. Ara sering bilang, adik bungsunya ini menjadi luar biasa percaya diri jika dekat Mamah.

Makna lain ulang tahun adalah menjadi semakin marvelous, setidaknya bagi diri sendiri. Beberapa teman sebelumnya mengatakan marvelous, yang kemudian membuatku terdiam beberapa saat, memikirkan apa makna being marvelous buatku. Maka bagiku, being marvelous berarti memiliki kekuatan batin untuk berbuat baik terhadap sesama, lebih mengerti daripada dimengerti, berbagi semangat dan antusiasme untuk menjadikan dunia lebih baik, dan akhirnya selalu merasa terberkahi dan bersyukur atas apapun yang terjadi pada diri kita.

Akhirnya, terberkahi! Beberapa teman sempat berkerut ketika aku membicarakan soal terberkahi. “Mi, bukannya diberkahi atau memberkahi?” “Tidak”, aku menggeleng. Aku tetap merasa terberkahi. Aku menyukai kata ini, selaras dengan apa yang kurasakan akan anugerah dan berkah yang kudapat. Seringkali aku merasa mendapat miracles, keajaiban-keajaiban kecil yang tiba-tiba datang begitu saja. Kemudian, membuatku semakin merasa betapa baiknya Tuhan kepadaku. Memberi banyak hal, terus memberi, sementara terkadang aku lupa padaNya, berbuat hal aneh-aneh yang aku yakin, Tuhan pun bisa berkerut terhadap apa yang kulakukan.

Seorang sahabat dari Jambi mengirim sms. Isinya mengingatkanku untuk semakin banyak menangis mengingat dosa-dosa sejalan dengan semakin berkurangnya umur. Aku membalas: Sejalan dengan bertambahnya usia, aku ingin semakin banyak tersenyum kepada Tuhan, tidak menangis. Aku tersenyum karena merasa begitu bersyukur terhadap apa yang telah kuperoleh selama ini, berpuluh tahun. Dan biarkan aku selalu tetap merasa terberkahi.

Banjarbaru, 20 Mei 2007

 

Posted by Tami at 06:14:06 | Permalink | Comments (3)

Saturday, May 19, 2007

MASIH SITI NURBAYA

Perjalananku kali ini menyusuri beberapa tempat di Sulawesi, pada Mei 2007. Seorang sahabat, sebut saja Nita, meluangkan waktu menemaniku. Sesudah menjemputku di bandara dan meluangkan waktu sampai malam menyusuri kota, dia mengajakku ke rumahnya, berjarak sekitar 1,5 jam dari bandara. Dan mulailah cerita itu meluncur dari bibirnya, cerita yang cukup menghentak batin.

Nita, dinikahkan secara paksa oleh orangtuanya, ketika ia baru menamatkan SMP. Dia menolak, merasa itu bukan saatnya, merasa banyak hal yang ingin dilakukan dan dikejar. Satu-satunya kemudian yang membuat dia menyerah pada nasib, pada saat sang ibu bersujud di kakinya. Sang ibu telah terlanjur berjanji akan menikahkan Nita dengan anak dari rekan bisnisnya. Dan janji itu, baginya tidak bisa ditarik kembali.

“Aku merasa tidak diberi kesempatan untuk memilih,” kenang Nita tentang saat dimana dia tidak bisa berkata iya atau tidak lagi. “Satu-satunya yang bisa kulakukan adalah pasrah pada nasib,” Suaranya masih terdengar getir pada saat dia bercerita. Kejadian lebih dari sepuluh tahun itu masih diingatnya dengan baik.

Apa yang dialami Nita, ternyata juga dialami adik-adik perempuannya. Rata-rata mereka dikawinkan sebelum menyelesaikan SMA. Alasan orangtuanya juga sama, setali tiga uang –telah terlanjur berjanji dengan X dan Y untuk saling mengawinkan anak–. Tambahan lagi, lebih cepat dinikahkan lebih baik bagi anak perempuan. Orangtua Nita khawatir pergaulan zaman sekarang bisa membuat anak-anak gadisnya melakukan sesuatu yang mencoreng nama orangtua.

Ternyata, kawin muda, rata-rata di usia belasan tahun telah menjadi tradisi. Biasa dilakukan di banyak keluarga di kampung yang kebanyakan masyarakatnya bekerja sebagai petani dan pengusaha itu. Alasannya bisa jadi karena ekonomi –menggabungkan bisnis dua keluarga– bercampur dengan alasan khawatir anak perempuannya terjerumus gaya pergaulan masa kini.

Nita menghela nafas sebelum melanjutkan cerita. Ada satu hal yang tidak dia dimengerti. Kenapa keharusan menikah sesuai dengan kehendak orangtua lebih banyak berlaku bagi anak perempuan? “Anak laki-laki biasanya boleh memilih pasangan hidup. Mereka diijinkan sekolah tinggi-tinggi dan jarang dipaksa kawin muda,” perempuan berusia kepala tiga ini berkata lirih.

Seorang saudara dekat Nita memberikan alasan kenapa laki-laki boleh bersekolah tinggi dan perempuan tidak. “Kata orangtua, percuma perempuan bersekolah tinggi karena akhirnyapun akan kembali ke dapur.” Namun, ketika ditanya apakah sebenarnya dia ingin bersekolah tinggi, kata iya terlontar dari mulutnya. Nita dengan cepat juga mengangguk mengiyakan.

Sesudah menikah, kebahagiaan bagi perempuan yang dinikahkan bukan menjadi masalah. “Bahagia atau tidak, semua itu harus dijalani. Katanya, demi nama baik keluarga,” tutur Nita. Perceraian hampir tidak terjadi. Meski perempuan tersebut tidak mengalami kebahagiaan, nasib harus ditelan bulat-bulat dengan sikap pasrah.

Bebas dari belenggu kawin paksa hanya mungkin terjadi jika seorang lelaki memutuskan melepas si perempuan yang telah dinikahi, dengan berbagai alasan. Seorang saudara Nita hanya bisa pasrah ketika beberapa tahun sesudah pernikahannya, sang suami mengembalikannya kepada keluarga. Dia tidak menjawab pertanyaanku ketika kutanya mengapa. Tapi jelas aku melihat sorot duka di matanya yang berusaha disembunyikan.

Kenyataan lain yang kutemui makin membuatku tercengang kaget. Praktek nikah dini ini ternyata masih terjadi sekarang. Seorang teman yang usianya tidak terlalu jauh dariku dan juga dinikahkan pada usia muda, dengan bangga menceritakan ia sudah memiliki cucu. Cucu itu dari anak perempuannya yang dinikahkan pada usia 17 tahun.

Aku memandang takjub sahabatku saat ceritanya berlanjut. “Masa kecilku terampas. Cita-citaku tidak kesampaian. Tapi aku tidak mau menyerah untuk menunjukkan aku mampu berbuat,” kata Nita tegar. Sejak harus menikah muda, dia menunjukkan diri bisa mengurus bisnis, menjadi tulang punggung keluarga.

“Aku mau kuliah. Dalam waktu dekat aku akan mengurus ijazah SMA agar bisa daftar kuliah,” Nita melanjutkan tuturnya. Kutanya bagaimana cara ia mendapatkan ijazah SMA sementara sekolahnya berhenti di tingkat SMP. Dengan polos dia menjelaskan kalau seorang teman akan membantu mengurus sampai ia mendapatkan ijazah tersebut. “Itu bisa diatur,” senyumnya optimis. Aku tidak tega membantah dan hanya membalas dengan senyum.

Cerita Nita dan banyak perempuan di kampungnya membuatku tidak habis pikir. Di zaman seperti ini –di mana hak perempuan disuarakan di mana-mana, penyadaran tentang akibat kawin muda digiatkan, berbagai media informasi masuk dari kota sampai kampung– praktek menikahkan anak perempuan di usia belia masih terjadi. Bayangkan, ini misalnya terjadi di depan hidung: di suatu kabupaten di Sulawesi yang bisa dijangkau 1,5 jam dari bandara. Dan aku masih saja miris membayangkannya: Siti Nurbaya masih banyak ditemui di zaman ini.

Sulawesi , 13 Mei 2007

(Atas permintaan “Nita”, nama tempat tidak disebutkan secara detil untuk menyamarkan identitas)

 

Posted by Tami at 02:40:34 | Permalink | Comments (3)

MANGGARAI - BAGIAN KEDUA

MANGGARAI: SEKERANJANG PELAJARAN DARI MASYARAKAT

Hobbit dari Flores dan Penduduk Rampasasa

(Bagian kedua)

 

Siapa tidak kenal film Lord of The Ring? Trilogi perjalanan menyabung nyawa Frodo dan kawan-kawan untuk membuang cincin pembawa petaka dunia sangat terkenal di mana-mana. Menyebut Frodo berarti menyebut komunitas manusia kecil yang tingginya sekitar 1 m: Hobbit.

 

Mungkin banyak orang menganggap manusia sejenis Hobbit hanya rekaan sampai kemudian Prof. Teuku Jacob dan timnya menemukan sesuatu yang menakjubkan pada 2004. Di Flores Barat, tepatnya sekitar 10 km dari Ruteng, ibukota Manggarai, guru besar terkenal dari UGM ini menemukan fosil manusia purba yang tingginya lebih sedikit dari 1 m. Gua Liang Bua-lah tempat sisa-sisa kerangka 8 manusia kerdil ini digali keluar. Para ahli memberikan nama ilmiah untuk fosil ini: Homo Floresiensis. Artinya, manusia Flores . Disinyalir mereka menghuni Liang Bua antara 95 ribu dan 12 ribu tahun lalu. Salah satu dari sisa-sisa kerangka 8 manusia kerdil dari Flores ini diidentifikasi berjenis kelamin perempuan, berusia 30-an. Diperkirakan ia meninggal sekitar 18 ribu tahun lalu. Perempuan tersebut memiliki tinggi 1 m. Volume otaknya hanya 380 cc, tidak lebih besar dari otak simpanse.

 

Fosil manusia mungil Flores inilah yang kemudian menghebohkan dunia ilmiah: mencuatkan kembali perang antara mereka yang pro dan kontra teori evolusi. Para pendukung teori Darwin , menurut info yang kutemui di internet, mula-mula menyambut gembira penemuan fosil berukuran kerdil ini dan menganggapnya sebagai suatu spesies manusia baru. Jika pendapat ini terbukti, missing link evolusi dari manusia-kera menjadi manusia modern, bisa jadi terbongkar.

 

Namun, nampaknya situs Liang Bua memberikan lebih banyak bukti yang menguntungkan kelompok penyanggah teori Darwin. Dari tinggi tubuh dan volume otak, manusia Flores memang cukup mungil dibandingkan rata-rata manusia pada umumnya. Tetapi temuan beberapa jenis perkakas dan tulang belulang hewan di gua yang sama membuktikan manusia mini ini memiliki kecerdasan. Mereka mampu membuat alat-alat yang memudahkan hidup. Mereka juga menunjukkan kemampuan berburu, bahkan berburu binatang yang jauh lebih besar dari tubuhnya. Tambahan lagi, para manusia Flores ini, diyakini telah memiliki kemampuan berbahasa dan bermasyarakat. Menjadi menarik karena ini berarti volume otak tidak lagi berbanding lurus dengan kecerdasan.

 

Selain itu, ukuran mungil Homo Floresiensis diyakini bukan karena mereka merupakan spesies tersendiri. Ukuran kecil, menurut beberapa pakar, bisa jadi karena ukuran tubuh mereka mengecil –sejalan dengan situasi dan kondisi yang dihadapi. Ada istilah island dwarfism (dwarfisme pulau). Penjelasannya, mahluk hidup yang terpisahkan secara geografis dari populasi di daratan induk mengalami pengecilan ukuran tubuh secara bertahap akibat tidak mencukupinya sumber makanan setempat. Flores konon dulunya merupakan bagian dari deretan daratan panjang yang membentang dari Sumatra, Jawa dan seterusnya sampai menyentuh pulau eksotis ini.

 

Penemuan si mungil dari Kabupaten Manggarai ini kemudian juga membawa para peneliti berusaha menelusuri jejak keturunan para penghuni Liang Bua. Penduduk Kampung Rampasasa yang terletak tidak jauh dari gua beberapa kali dikunjungi. Beberapa dari mereka menceritakan pernah diukur kepalanya, diteliti wajahnya dsb. “Katanya untuk tahu apakah kita ini turunan manusia gua itu, dari ukuran kepala dan bentuk wajah,” jelas seorang bapak yang pernah menjadi “obyek pengukuran”. Sayangnya aku lupa mencatat nama bapak ini. Tidak juga diperoleh informasi apakah pengukuran tersebut dalam rangka mendukung atau menyanggah teori evolusi.

 

Perang ilmiah apapun yang terjadi di luar sana, nampaknya tidak sedikitpun diketahui atau mungkin dipedulikan oleh penghuni Kampung Rampasasa. Mungkin satu-satunya yang mereka ketahui dan rasakan adalah kedatangan orang-orang baru dalam beberapa tahun terakhir. Bisa jadi untuk tujuan penelitian mengukur ukuran tengkorak dan profil wajah atau mencari tahu sejarah kampung ini dan kaitannya dengan Liang Bua. Bisa juga orang berkunjung didasari kepenasaranan karena pengaruh berita, seperti apa yang kulakukan.

 

Hampir tidak ada yang berubah dari kampung berpenduduk 170-an jiwa atau sekitar 80-an keluarga ini. Homo Floresiensis boleh menjadi terkenal di mana-mana. Tapi bagi penduduk sekitar semua hampir tetap sama. Kemiskinan tetap tercium sejak saat kita menjejak kaki di sana . Di Rampasasa, misalnya, 30 rumah kecil berlantai tanah dihuni banyak orang, banyak anak tidak bersekolah, beberapa ibu bertampang belia menggendong balita ingusan.

 

Di sela-sela keadaan mereka, bagaimanapun, aku tetap menemukan kesejukan. Kedatanganku disambut sapaan dan kerumunan ramah penduduk, sajian kopi dan air kelapa, kesempatan bermain dan bertebak kata dengan anak-anak, serta lambaian tangan saat aku meninggalkan Rampasasa. Homo Floresiensis sesudah digali berubah menjadi tenar di mana-mana, penduduk Rampasasa tetap sama: miskin. Meski demikian “manusia modern” ini menunjukkan kekuatannya: dalam kecerdasan hati dan sosial.

Posted by Tami at 02:32:01 | Permalink | Comments (1) »

Friday, May 11, 2007

MANGGARAI: SEKERANJANG PELAJARAN DARI MASYARAKAT

Kesejukan dan Tapak Meraih Mimpi

Menyejukkan. Itulah kata yang mungkin cukup bisa menggambarkan Kabupaten Manggarai, NTT, saat pertama aku mengenalnya. Menyejukkan baik dalam hal cuaca, keramahan penduduk dan keindahan alam. Saat itu lewat pertengahan April 2007. Walau tidak tahu persis berapa derajat suhu waktu aku berkelana seminggu di sana , siang hari terasa sejuk. Bahkan pada saat matahari ada dan menyembul dari balik awan, dingin tetap terasa. Jangan tanya di malam hari. Kita dipastikan akan menggigil jika tidak mengenakan celana dan baju panjang, jaket, kaos kaki dan selimut tebal. Beberapa teman mengatakan, aku cukup beruntung datang saat musim hujan. Jika musim kemarau datang, bbbrrrr…. pasti lebih dingin lagi. 

Keramahan penduduk yang menyejukkan terbukti pada saat aku berkunjung ke beberapa desa sekitar Ruteng, ibukota Manggarai. Senyum, lambaian atau sapaan “selamat” hampir selalu ditemui setiap kali aku berpapasan dengan orang-orang di jalan-jalan desa. Apalagi jika kita berkunjung ke rumah atau mengikuti pertemuan desa. Makan bersama  menjadi menu yang kudu wajib, tidak boleh ditolak oleh sang tamu. Sedikit tak masalah, asal sajian disentuh dan dilahap. Aku merasa, bagi kebanyakan orang Manggarai, terutama yang ada di desa, tamu merupakan berkah tersendiri. 

Sekedar tambahan soal makan, jika waktu makan tiba, aku “terpesona” menyaksikan semangat orang Manggarai makan. Pengalaman pertama yang cukup mempesona saat melihat kelompok tani di Desa Golo Watu disodori piring yang memuat nasi penuh. “Bak gunung Rakata”, demikian istilah Delfi, seorang pendamping lapangan dari LSM Yayasan Ayo Indonesia, ketika aku membagi keterpesonaanku itu. “Kalau nantinya di Manggarai ada laporan kekurangan pangan (nasi), bukan karena mereka betul-betul kurang pangan. Tapi karena jatah beberapa orang di tempat lain, disantap satu orang di desa-desa Manggarai, “ candaku kepada Delfi yang disambut gelak tawa.

Kesejukan ketiga yang kutemui saat di mana-mana sejauh mata memandang keindahan alam Manggarai terbentang. Kabupaten yang terletak di Flores Barat ini terkenal sebagai daerah pegunungan. Hijau di mana-mana. Hamparan sawah ditemui di banyak tempat. Aku sempat ternganga melihat salah satu sistem pembagian lahan sawah yang ada di sana : Lingko, membentang indah laksana jaring laba-laba raksasa.

      Para petani Golo Watu                       Sistem Pertanian Lingko

Jika kesejukan ditemui pada pengalaman pertama aku menyentuh Manggarai, berbagai kesan lebih mendalam kudapatkan saat berinteraksi sedikit lebih jauh dengan kelompok masyarakat. Aku mengikuti perjalanan seorang teman, staf Yayasan Ayo, untuk pergi ke beberapa desa dampingan. Dari sinilah semua bermula, yang pada akhirnya bermuara pada keberuntungan. Aku mendapat sekeranjang pelajaran berharga dari masyarakat Manggarai.

Golo Watu menjadi desa pertama yang kujajaki. Saat itu, kelompok tani Tungku Mose, berjumlah 18 orang, sedang mencangkul tanah yang nantinya akan ditanami bibit tanaman umur panjang atau pendek. Semula mereka hanya memandangku dari kejauhan. Saat kudekati dan kuulurkan tangan, dengan cepat mereka menyambut. Kukeluarkan kamera digital untuk memotret kegiatan. Hasilnya mulai terlihat. Beberapa menyembulkan senyum meski suasana belum terlalu cair dan obrolan belum bersambut.

Rambutan manis! Siapa sangka, buah inilah yang menjadi media pelancar komunikasiku dengan petani-petani desa Golo Watu. Kebetulan saat aku hendak berangkat dari kantor Yayasan Ayo, ada tukang buah lewat. Dua kilogram rambutan kutenteng sampai ke desa yang terletak di Kecamatan Wae Rii ini. Saat kutawarkan, mula-mula hanya satu dua orang yang menghampiri tempatku duduk dan merasakannya. Mungkin karena manis, kemudian semua bergiliran mengambil buah ini dari kantong plastik hitam. Lalu, bergulir ide menanam biji rambutan tersebut di tanah yang sedang digarap ini.

Menjelang makan siang, dua perempuan datang membawa makanan. Seperti yang kuungkapkan di atas, di sanalah aku terpesona melihat kemampuan makan orang Manggarai yang diwakili para petani Golo Watu. Beberapa hari kemudian dari hasil perbincanganku dengan beberapa ibu di desa lain, aku baru tahu bahwa orang Manggarai biasa makan besar dua kali, siang dan malam. Berbeda di banyak tempat lain di Indonesia, di sela-sela waktu makan, tidak ada makanan kecil yang disantap. Jadi mengertilah aku kenapa porsi menakjubkan menjadi lazim di banyak tempat di Manggarai.

Saat para petani yang semuanya laki-laki lahap menyantap sajian nasi, sayur daun labu kuning dan ikan asin, dua perempuan tadi sibuk melayani. Aku yang asyik makan bersama para bapak, menanyakan kenapa ibu tidak ikut makan. Dijawab oleh seseorang kalau para ibu di Manggarai biasa makan sesudah para bapak dan tamu selesai makan. Kenapa begitu? Jawabnya, kalau mereka ikut makan, siapa yang melayani mereka yang sedang makan? Aku kembali bertanya, bagaimana jika nasi dan lauk habis tidak tersisa bagi para ibu karena dilahap para bapak dan tamu? Seorang petani muda lainnya bergumam, “Iya, ya. Kalau makanannya habis, para ibu kemudian makan apa?” Walaupun bagiku ini agak unik, aku tidak ingin mendebat lebih jauh. Hanya kujelaskan kalau di tempatku, laki-laki dan perempuan biasa makan bersama, termasuk dengan para tamu.

      Perempuan Menanam Padi               Menyiapkan Makan Siang

Selesai makan, aku menjadi tahu lebih banyak apa yang sedang dikerjakan oleh kelompok tani ini. Yang sedang dilakukan adalah mengolah lahan secara bergilir yang nantinya ditanami berbagai jenis tanaman, seperti buah-buahan, ubi kayu dan jagung. Sistem arisan penggarapan lahan –demikian istilahku– diterapkan. Kali ini tanah yang sedang digarap bersama, nantinya akan menjadi lahan kelola Wenslaus Jehadut, sang kepala desa sekaligus ketua kelompok tani. Saat menggarap yang dilakukan adalah mencangkul dan menggemburkan tanah.

Karena hampir semua petani dalam kelompok ini bekerja sebagai tukang batu, kayu, petani sawah tadah hujan merangkap berjualan sayur mayur di pasar, maka diputuskan satu kali seminggu kerja bersama dilakukan, agar tidak mengganggu pekerjaan utama. Setiap Jumat, sistem arisan penggarapan lahan dilakukan. Jika Jumat ini di lahan Jehadut, Jumat berikutnya di lahan anggota yang lain. Semua dilakukan secara bergotong royong. Tentunya sesudah selesai lahan dicangkuli dan digemburkan, setiap anggota akan bisa menanam lahan itu dan secara mandiri mengelola sesuai kebutuhan masing-masing.

Jika tanaman sudah bisa dipanen, bagi Jehadut dan teman-teman di kelompok Tungku Mose, berarti ada harapan peningkatan pendapatan. Menjadi pekerja bangunan, mengelola sawah tadah hujan dan berjualan sayur tidak cukup dilakukan, jika para petani di Golo Watu ingin mengejar kehidupan yang lebih baik. “Demi keluarga, dan nantinya untuk anak cucu,” tegas Jehadut ketika ditanya untuk apa semua ini dilakukan. Dan, tapak jalan meraih mimpipun telah dirintis.

Posted by Tami at 12:40:11 | Permalink | Comments (2)

BELAHAN JIWA

BELAHAN JIWA

 

Sungguh menakjubkan

Aku merasa ada di jiwamu

Dan kamu menjadi bagian jiwaku

Meski jarak terbentang, aku tetap merasa dekat denganmu

Kamu ada menemani di setiap langkah dan hembusan nafasku

Jika jiwamu digariskan menjadi teman jiwaku

Relakan takdir menjalani nasibnya

 

Belahan batinku,

Biarlah waktu yang menjawab

Ke mana jiwa-jiwa kita menentukan jatinya

Sementara itu,

Biarkan aku tetap merentang rinduku dan mensyukurinya.

 

Terimakasih telah membuatku merasa begitu terberkahi.

Truly, you are my soulmate

 

Samarinda, 11 Mei 2007

Posted by Tami at 12:34:55 | Permalink | Comments (4)

CERPEN- PENANTIAN TELAH USAI

Asti duduk di beranda belakang rumah sembari menatap kumpulan mawar yang mulai berkelopak. “Mmh… indahnya,” gumamnya perlahan. Rekah dan rona mawar dirasakannya berbeda dengan suasana hati yang sedang tidak menentu. Tanpa terasa dibelainya perlahan cincin berhiaskan jamrud yang melekat di jemari kiri.

“Aku tidak bisa melupakanmu. Aku merindukanmu, selalu mencintaimu,” demikian isi sms yang diterimanya tiga hari lalu. Hampir berhenti rasanya detak jantungnya, membaca kalimat tersebut yang diakhiri dengan nama pengirimnya: Gunawan. Berkali-kali ia membaca sms tersebut tidak percaya.

Gunawan. Bertahun-tahun, nama itu melekat di benak dan hati Asti. Lelaki yang datang di kehidupannya pada saat ia mencari-cari cinta. Perkenalannya dengan lelaki berambut ikal itu berlangsung kilat. Asti yang biasa tidak terlalu peduli dengan lelaki, terpesona melihat kemampuan berfikir Gunawan yang luar biasa. Dia begitu cerdasnya menjelaskan konsep-konsep yang ada di proposal yang dibagikan di meeting siang itu. ”Anak baru ini boleh juga,” Asti menilai kagum dalam hatinya.

Singkat kata, semua berlanjut. Gunawan dan Asti menjadi begitu akrab. Kesamaan cara pandang terhadap banyak hal dan juga hobi yang sama membuat mereka menjadi tidak terpisahkan. Benih-benih cintapun tumbuh dan berkembang. Sehabis pulang kantor mereka menghabiskan waktu menonton film-film terbaru yang menjadi box office, pertunjukan musik, drama ataupun pertunjukan seni lainnya. Sesudahnya, warung tenda menjadi tempat nongkrong yang ideal membahas apa yang baru saja mereka saksikan.

Tiga bulan kemudian, Gunawan melamarnya, menyematkan cincin bermata jamrud. Asti yang memang sudah lama mencari cinta yang ideal menyambut dengan suka cita, tawa bahagia yang sumringah. “Aku mau,” katanya sembari memeluk erat. Dan malam itu menjadi malam yang sangat bahagia bagi mereka.

Sebulan kemudian, Gunawan bertamu ke rumah Asti, bertemu dengan sang Ayah. Calon mertua ini hanya memandangnya lekat-lekat. Tidak mengucapkan kata sepatahpun. Saat semua diam tidak bergeming, satu kalimat muncul dari mulut lelaki paruh baya ini, “Asti sudah kujodohkan dengan anak sahabatku. Dan aku tidak bisa menarik kata-kataku kembali.” Bagi Asti dan Gunawan sudah lebih dari cukup. Palu godam menghantam hati mereka, membuatnya hancur berkeping-keping.

Lari! Inilah kemudian yang menjadi pilihan dua insan yang tengah dimabuk cinta ini. Di bawah terang bulan, di satu tempat di sekitar pantai utara Jawa, mereka berdua mengikrarkan janji setia: tidak akan terpisahkan. Sejak saat itu, mulailah mereka merajut hari-hari berdua.

Sebulan kemudian, Asti tidak mendapat haid. Ketika kabar ini diberitahukannya kepada sang Arjuna, Gunawan memeluknya erat sambil berkata, ” Aku mencintaimu. Aku bahagia.” Air mata menitik di sudut matanya.

Menjelang bulan ketiga usia kandungannya, Gunawan pulang dengan langkah gontai. Asti yang melihat perubahan lain pada rona muka kekasihnya, perlahan mendekati dan bertanya. ”Mama menginginkan pulang. Ke Sumatra. Aku mendapat pesan dari Kandar, yang setengah mati mencariku hanya untuk menyampaikan pesan ini.”

Asti mengangguk. Tidak menampakkan keterkejutannya. Lambat-lambat dia berkata,” Pulanglah jika kau memang harus pulang. Tapi, berjanjilah untuk segera kembali.” Gunawan memeluknya erat. Membisikkan kata bahwa dia akan kembali dalam waktu satu minggu.

Seminggu berlalu. Gunawan tak kunjung datang. Asti mulai gelisah. Meski mencoba paham bahwa rumah Gunawan masih belum terjangkau sarana komunikasi, kegelisahannya tidak dapat terbendung. Setiap hari sepulang kantor, Asti menunggu di beranda depan rumah, berharap-harap cemas akan kedatangan pria yang dicintainya. Rasa mual dan pusing yang akhir-akhir ini menderanya, tidak menghalanginya untuk menanti dengan setia, duduk tiap sore sampai malam di beranda sambil menghirup teh camomile hangat. Terkadang, untuk menenangkan diri dan mengurangi rasa mual, Asti membelai perutnya untuk memberi sugesti diri. ”Sabar Nak, Papah pasti datang,” ucapnya lembut kepada calon bayi yang baru terbentuk.

Dua minggu kemudian, Gunawan muncul menjelang malam. Tampangnya kuyu dan lesu. Asti menjerit girang, berlari menyambut dengan pelukan erat. Lelaki yang dirindukannya itu balas memeluk, erat. ”Kangen ya…,” Asti menggelayut manja, meraih tangan Gunawan ke perutnya. ”Dia suka membuatku mual. Pasti kangen kamu. Tapi selalu kubilang kalau Papah pasti cepat datang.”

Asti merasa tidak ada respon. Ditatapnya Gunawan dan betapa terkejutnya dia melihat air mata mengambang di pelupuk mata kekasihnya itu. ”Maafkan aku Asti. Aku tidak bisa…Ibu stroke, parah. Aku tidak dapat membantah keinginannya. Aku harus mengawini teman sekampungku, gadis pilihan Ibu. Aku tidak punya pilihan lain”.

Asti ternganga. Menatap lemas tak berkedip. Sejak saat itu, Gunawan meninggalkannya. Meninggalkan hatinya yang luka tercabik-cabik, meninggalkan jabang bayi yang semakin tumbuh besar di rahimnya. Sesudah itu, Gunawan berkabar sekali tentang kepindahannya ke pulau lain, di saat Asti baru melahirkan anak laki-lakinya.

 

”Ma, sudah mau hujan…, Andi ambilkan jemuran ya…” Tersentak Asti menatap bocah berusia delapan tahun di depannya. Belum sempat Asti berkomentar, dengan sigap Andi telah mengambil kursi dan kemudian mengumpulkan semua pakaian.

Andi, tanpa pernah mengenal siapa ayahnya, tumbuh begitu cepat. Pertanyaan mengenai siapa ayah, bapak, papah, bertahun-tahun muncul dari mulut Andi. Setiap kali pertanyaan tersebut keluar, Asti pasti selalu menjawab bahwa Papah adalah sosok yang baik, Papah sekarang sedang bertugas jauh. ”Kapan Papah pulang, Mah?” Asti pun akan selalu menjawab bahwa Papah pasti pulang jika ia memang harus pulang. ”Andi sabar ya, Papah pasti akan datang,” jawabnya sambil menjentik hidung sang anak dengan ujung jari telunjuknya. Sejalan dengan semakin bertambahnya usia, pertanyaan tentang Papah semakin berkurang diganti dengan sikap paham yang ditunjukkan anak seusia Andi terhadap Mamahnya.

”Saatnya hampir tiba, Nak,” Asti memeluk tubuh Andi yang sudah tergolek pulas, di samping tumpukan pakaian yang diletakkan begitu saja di sisi ranjang. Walau sms-nya tidak berbalas, Gunawan berkali-kali mengirim pesan singkat. Salah satu yang paling diingat Asti adalah: ”Aku ingin memperbaiki semua, Sayang. Ingin menata kembali puing-puing kebahagiaan yang kuhancurkan delapan tahun lalu. Ingin memperbaiki semua, membahagiakanmu dan anak kita.”

Mengingat pesan singkat yang satu ini, Asti mengernyitkan dahi. ”…membahagiakanmu dan anak kita.” Tiba-tiba, sesudah delapan tahun hilang tanpa tahu rimbanya, tanpa mengirim kabar, meninggalkan Asti yang terseok-seok menata hidupnya dari kehancuran, Gunawan datang kembali, meski masih lewat sms. Lebih dari itu, sesudah delapan tahun sosok yang dicintainya itu tidak pernah menghubunginya, tiba-tiba ia mengatakan ”ingin membahagiakanmu dan anak kita”.

            Deringan hp membuat Asti terlonjak kaget, terbangun dari tidurnya. Andi masih terlelap pulas tidak terganggu sedikitpun. Hp masih berbunyi nyaring. Sesudah beberapa detik kebingungan mencari, ia menemukan benda tersebut terbelit selimut. ”Ya..halo..” Sedetik kemudian ia tidak mampu berkata-kata, diam bagai orang linglung.

            ” Sayang, kamu masih di situ? ” suara Gunawan masih terdengar berat, tidak berubah sedikitpun. Agak gemetar Asti mengiyakan. ”Kamu betul…Gunawan?” Asti masih setengah tidak percaya.

            ”Kamu tidak membalas smsku. Tapi aku yakin kamu membacanya.” Gunawan berkata pasti.

            ” Dari mana kamu mendapatkan nomorku?” Asti tahu suaranya masih terdengar bergetar kaget.

            ” Apa tidak ada pertanyaan penting lain? Aku tidak akan menjelaskan karena kau pasti membunuh orang itu.” Gunawan tertawa perlahan. Candaannya masih terdengar renyah di kuping Asti, membuat rasa gugupnya sedikit berkurang.

            ” Aku kangen. Dan aku tahu anak kita sudah besar. Delapan tahun ya…Aku…”

            “ Aku tidak tahu kita punya anak,” dengan cepat Asti memotong bernada judes.

            “ Kalau kamu percaya, aku ingin memperbaiki semua. Aku telah begitu bodoh menghilangkan waktu delapan tahun bersama kalian. ”

            ” Gun, buka matamu. Itu pilihanmu, walau aku tidak pernah tahu kenapa aku yang harus dikorbankan. ”

            ” Beri aku kesempatan berbicara, Asti,” suara Gunawan terdengar berat memohon.

            ” Aku lelah dan ingin meneruskan tidur. Selamat malam,” Asti menekan tombol stop di hp. Serasa lelah dia berbaring memeluk bantal, tidak untuk meneruskan tidur, tapi untuk menangis: hal yang sudah bertahun-tahun tidak pernah dilakukannya lagi semenjak Andi bisa berjalan dan memanggilnya Mamah. Perlahan Asti kembali memeluk Andi dan mencium keningnya.     

            Di luar rintik hujan masih turun, membuat beberapa keping kelopak mawar yang baru merekah gugur. ” Esok masih panjang, dan aku tidak akan lelah lagi,” Asti perlahan kembali terlelap.

            Esoknya, saat embun masih membasahi dedaunan, Asti membuka lemari, mengeluarkan kotak kecil segi empat. Perlahan dipandanginya cincin bermata jamrud di jemarinya. Ia tersenyum sembari melepaskan cincin itu, kemudian meletakkannya dalam kotak. ”Delapan tahun aku menanti, delapan tahun aku memakainya sebagai simbol kesetiaanku. Dan sekarang semua telah usai.”

            Lamat-lamat, Asti mendengar suara kecil Andi memanggilnya. ”Mah, jadikan hari ini kita jalan-jalan…” Asti mengiyakan, tersadar dari lamunannya. Dan ia tahu, bahwa sejak hari itu dia sudah punya keberanian untuk memilih dan melepaskan dirinya dari sang Zahir.

           

Taman Nasional Kutai, Kutai Timur, 26 Agustus 2006

Posted by Tami at 12:31:13 | Permalink | Comments (3)

Friday, May 4, 2007

Pangkang Lestari

Pangkang Lestari, Mangrove Rehabilitation and Community Empowerment in Teluk Lombok

This is a summary of experiences of a mangrove farmer organization, Pangkang Lestari and its efforts to promote mangrove rehabilitation & community empowerment in Dusun Teluk Lombok, Kutai National Park , East Kalimantan . Several benefits for the community are also mentioned here.

Teluk Lombok is one of the poorest sub-villages in Kutai Timur district, locating in the coast of the national park. Most of the community came from South Sulawesi , from 1920s, and became fisherman. They had depended on mangrove forest and marine resources (fish, crabs, etc). However, in 1970s things started changes, due to the cutting-down of mangrove trees. Slowly, the destruction affected the community. Because of abrasion, they had to move houses to inland. Marine resources were degraded. It devastated the community livelihood.

 

In 1990s, activities to raise concerns of Kutai National Park started. A local leader, Ado Tadulako was enthusiastic to attend meetings and got aware of reasons of mangrove depletion and the impacts. Tadulako encouraged community members to do mangrove rehabilitation. They formed an organization, Pangkang Lestari in April 2004, with the help of a local NGO, Bikal. It started to do rehabilitation of 10 hectares in Teluk Lombok. The seedlings grow well and reach over 1 metre in height.

 

Starting from the mangrove rehabilitation only, Pangkang Lestari becomes an effective locomotive in empowering the community. Some contributions have been made. The farmers have started having better livelihood when the association become a seedlings supplier for rehabilitation projects in some districts. Gender empowerment occurred, when women showed initiatives to do micro business. Then, they were included in the organization. Now, the women have a modest business group. Finally, Pangkang Lestari and the women business group have started sharing lessons and experiences in developing business and empowering women to other farmer organizations in several sub-districts.

 

The above story shows that through a farmer organization, combined with several factors — such as the existence of local leader, learning & sharing spirits and stakeholders’ supports–, a community can consolidate its power to conduct natural resources rehabilitation and community empowerment.

 

 

Posted by Tami at 15:00:52 | Permalink | Comments (2)