Thursday, June 28, 2007

MENGAIS REJEKI DARI KARTU POS

April 2007 lalu, saat berkesempatan menginjak Bali untuk kesekian kalinya, aku merasa keteduhan yang nyaman. Mungkin karena kakiku menjejak di tempat suci salah satu pusat ibadah masyarakat Hindu Bali. Ya, suatu hari di bulan April, aku  berkunjung ke Pura Besakih, pura terbesar di pulau Dewata yang terletak di Kintamani. Kakiku terus melangkah ke atas, puluhan bahkan mungkin ratusan anak tangga kujejaki hingga akhirnya aku mencapai Pura Gelap, pura tertinggi di Besakih.

 

Lewat tengah hari, sesudah menikmati cantiknya pemandangan dari puncak Besakih, aku dan sahabatku Agung Ayu, turun bersama. Dalam perjalanan turun, aku melewati beberapa perempuan yang menawarkan kartu pos dalam bungkus plastik. Seorang perempuan tiba-tiba mencolekku. Aku menoleh dan baru sadar kalau dia sedang duduk di salah satu anak tangga. Dia ternyata harus duduk karena sedang memangku bocah mungil yang tertidur nyenyak.

 

Ayu, demikian ibu muda itu dipanggil. Paras Ayu memang ayu, khas wajah Bali yang unik dan eksotis. Bocah di pangkuannya yang juga perempuan, mewarisi kecantikan ibunya. “Ibu dan anak sama cantiknya,” gumamku memandangi Eva, berusia dua tahun yang masih terlelap nyenyak. Sedikitpun balita ini tidak terganggu dengan keributan akibat suara beberapa ibu penjual kartu pos. Satu dua orang, karena begitu bersemangatnya menawarkan jualan, terkesan setengah berteriak dan memaksa.

 

Ayu, biarpun duduk, tidak kalah bersemangatnya dengan para penjual lain. “Murah Bu, Cuma Rp 10 ribu satu plastik,” tawar Ayu kepadaku sambil memperlihatkan isi plastik tersebut. Aku menggeleng. “Bisa ditawar, Bu,” lanjut perempuan berkuncir kuda itu.

 

Tiba-tiba Eva, sang anak, terbangun. Dia agak kaget melihat dua orang asing di hadapannya. Aku dan Agung Ayu tertawa gemas melihatnya. Aku yang semula tidak begitu peduli dengan tawaran sang ibu, merasa trenyuh dan berniat mengajaknya ngobrol lebih jauh. Untuk memulai pendekatan, aku lebih lanjut menanyakan berapa aku boleh menawar per plastik yang berisi 10 kartu pos. “Berapa saja boleh Bu, asal saya tidak rugi,” jawabnya dengan logat Bali yang kental. “Berapa yang tidak rugi?” tanyaku lebih lanjut. “Asal lebih dari Rp 5 rb. Modalnya segitu,” jawab Ayu. Aku sama sekali tidak bercuriga dia membohongiku. Parasnya terlihat polos tidak berpretensi apapun. Selanjutnya, dari situ semua cerita mengalir, membuatku paham tentang perjuangan hidup Ayu.

 

Ayu yang masih berusia di awal 20 tahunan menikah pada usia muda. Tidak penting diketahui apakah ia menikah dijodohkan atau berdasarkan cinta. Yang dikisahkannya kemudian, ternyata sang suami, bukan sosok pria yang bertanggung jawab. Semenjak menikah, perempuan muda inilah yang membanting tulang, bekerja mencari sesuap nasi. Tiap hari dia bangun subuh. Sesudah memasak dan membereskan rumah, mulailah dia berangkat mencari nafkah. Yang dikerjakannya sederhana, menjual kartu pos sembari menjual canang (bunga untuk upacara).

 

Saat Ayu memiliki anak tidak berapa lama sesudah menikah, tidak ada rutinitas yang berubah. Setiap pagi pada jam 10, sehabis pekerjaan di rumah selesai, anak balitanya digendong. Kain panjang penggendong Eva menjadi saksi kerasnya usaha Ayu. Yang dilakukanpun tetap sederhana dan tidak berubah: menjual kartu pos yang terkadang dipadukan dengan canang. Kartu pos diambil dari penyalur lokal, yang rumahnya tidak jauh dari rumah Ayu di Desa Menak Angin. Soal canang, aku lupa menanyakan darimana Ayu dan teman-temannya mendapatkan bunga untuk keperluan upacara itu.

 

Sementara itu, apa yang dilakukan sang suami? Tanpa segan, Ayu menceritakan rutinitas suaminya. Sehari-hari sang suami, yang tidak kuketahui namanya, bekerja mencari rumput untuk dua ekor sapi peliharaan. Sapi ini bukan murni dimiliki mereka. Suami Ayu dipercaya untuk mengasuh dua anak sapi milik seorang tetangga kaya. Jika sapi telah berusia 1,5 tahun, sapi tersebut dijual dengan harga sekitar Rp 5 juta per ekor. Dari hasil penjualan tersebut, Rp 2,5 juta dikembalikan ke pemilik dan sisanya dibagi dua lagi antara sang pemilik dengan yang memelihara sapi. Jika saja, anak sapi dipelihara sejak berusia kurang dari 1 bulan, maka rata-rata per bulan kurang dari Rp 80 ribu yang diperoleh suami Ayu dari seekor sapi.

 

Sang suami sendiri mencari rumput tiap hari untuk makanan sapi, dari jam 7 – 9 pagi dan 4 – 6 sore. Terkadang, jika kayu bakar di rumah habis, dia keluar rumah mencari kayu bakar. Selebihnya, sang suami duduk diam santai di rumah, ngobrol dengan teman, atau sesekali ikut sabung ayam.

 

Sementara itu, Ayu tiap hari bangun dari subuh untuk membersihkan rumah dan memasak. Kemudian jam 10 pagi dengan menggendong anak, dia berjualan kartu pos dan terkadang canang. Sore hari jika wisatawan telah pulang dan kartu pos sudah lumayan terjual, barulah dia kembali ke rumah. Kemudian, kesibukan di rumah kembali menanti: memasak, membersihkan rumah dan mengurus anak. Semua ini tanpa henti dilakukan Ayu.

 

Saat hamil anak kedua, rutinitas Ayu tidak berubah. Dia baru berhenti bekerja beberapa hari menjelang kelahiran sang anak. “Mana adiknya Eva?” tanyaku berfikir kalau Ayu meninggalkan sang bayi di rumah atau menitipkannya pada kerabat. “Sudah meninggal, Bu. Usianya hanya 10 hari. Gak tahu sakit apa,” jawab Ayu polos. Ayu tidak sempat berlama-lama merasakan duka derita kehilangan anak karena lagi-lagi dia harus kembali bekerja.

 

“Kamu tidak minta suamimu bekerja membantumu?” tanyaku kembali. “Ah, sudah malas, Bu. Orangnya mereng, susah. Daripada saya dipukul, lebih baik saya tidak memintanya ini itu,” jawab Ayu terdengar ringan, tanpa beban sedikitpun.

 

Tiba-tiba Eva terdengar merengek di gendongan ibunya. Ayu menepuk pantatnya perlahan. “Beli ya Bu, kartu posnya. Kalau Rp 5 ribu kembali modal. Tidak apa-apalah daripada tidak dapat uang sama sekali. Susu Eva habis, “ jelas Ayu, kali ini tanpa memaksa. Aku melirik jam. Sudah hampir pukul 4 sore. Matahari sudah mulai condong. Pura yang sedari tadi memang sepi, sudah makin bertambah sepi. “Lagi sepi pengunjung ya, “ tanyaku yang diiringi anggukan Ayu.

 

Aku mencolek sahabatku, Agung Ayu, membisikkan sesuatu. Sesaat kemudian dia berbicara kepada Ayu. Penjual kartu pos muda ini terlihat ceria, kemudian mengajak kami berjalan cepat. Melewati jalan samping keluar dari komplek Pura Besakih, pergilah kami menuju warung terdekat. Dua kotak kardus kecil susu untuk Eva digenggam Ayu. Sesaat kemudian, aku dan sahabatku naik ke mobil, beranjak pulang menuju Ubud. Ayu dan anaknya mengantar sambil terus melambaikan tangan, sampai mobil kami tidak kelihatan lagi.

 

Dalam banyak hal, hidup seringkali tidak adil bagi banyak orang, terutama perempuan dan anak. Tapi dari Ayu dan Eva, aku belajar kalau hidup tidak untuk ditangisi, melainkan untuk diperjuangkan.


          Ayu dan Eva                                       Depan Pura Besakih

Posted by Tami at 13:50:19 | Permalink | Comments (2)

Sunday, June 24, 2007

PEREMPUAN PENGGELUT LA GALIGO (Bagian 2)

Keprihatinan akan ancaman punahnya La Galigo dalam masyarakatlah yang mendorong Nurhayati memfokuskan diri pada upaya menghidupkan kembali, memperkuat dan melestarikan La Galigo dalam kehidupan masyarakat Bugis. Semua berawal sejak dia masih kecil. Sejak kecil, perempuan berdarah Bugis ini sudah terbiasa dengan cerita La Galigo. “Saya beruntung karena memiliki nenek penembang La Galigo dan saya terbiasa mendengar ceritanya.” Tidak heran, kecintaannya terhadap naskah Bugis ini begitu mendarah daging. Sewaktu kuliah S1 di Universitas Hasanuddin, topik skripsinya tentang naskah tersebut. Begitu pula saat dia menjalani perkuliahan S2 di Universitas Pajajaran dan S3 di Universitas Indonesia .

Saat Nurhayati harus bergelut mempelajari tulisan Bugis kuno yang hampir punah di catatan kumpulan Arung Pancana, dari sang neneklah dia banyak belajar. Sekarang, tulisan kuno tersebut tidak jadi masalah bagi Nurhayati. Menulis, membaca dan memahami huruf Bugis kuno ini dilakukannya dengan mudah, semudah dia menulis, melafal abjad serta memahami kata-kata dalam Bahasa Indonesia. Penguasaannya terhadap huruf dan bahasa Bugis kuno lagi-lagi terbukti saat dia membantu proses penterjemahan naskah La Galigo ke Bahasa Indonesia bersama dua pakar lain. Sampai sekarang telah ada dua jilid naskah kuno Bugis tersebut yang diterjemahkan dan diterbitkan dalam Bahasa Indonesia.

Lebih jauh, upaya perempuan berjilbab ini untuk menumbuhkan kembali kecintaan msyarakat Bugis dengan La Galigo dilakukan dengan melakukan serangkaian kegiatan revitalisasi adat. Tidak mudah langkah yang harus ditempuh. Saat menyadari La Galigo sedang matisuri, Nurhayati mulai menyusun strategi untuk membangunkan kembali arti penting dan peran naskah tersebut dalam masyarakat. “Tahun 1997-1998 saya bertemu beberapa pihak, menjelaskan ini itu, melobi, minta mereka memberikan perhatian,” kenangnya getir. “Hasilnya, mereka hanya mendengarkan, tapi tidak melakukan tindakan apapun. Aduh, seperti pengemis rasanya,” imbuhnya.

Tahun 1999, Nurhayati mendapat kesempatan bertemu dengan seorang pejabat tinggi di bawah pemerintahan Habibie. Habibie, yang waktu itu menjadi presiden, telah mendengar di Bugis sudah lama ada sastra yang paling panjang di dunia. Sesudah mendengar penjelasan Nurhayati, disetujui ada satu tim yang akan mendorong upaya menghidupkan kembali La Galigo. Tim tersebut rencananya akan dipimpin oleh seorang pejabat tinggi nasional yang berasal dari Sulawesi Selatan. “Tapi sayang, belum sempat terlaksana, presidennya sudah berganti,” jelas perempuan yang juga menggemari sastra Melayu ini.

 

Akhirnya, sesudah berjuang beberapa tahun, titik awal Nurhayati membangunkan kembali La Galigo mulai terpancang. Walau tertatih-tatih, bahkan hampir mengalami kegagalan, Seminar Internasional Pertama La Galigo berhasil digelar pada 2002 di Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan. Seminar ini memiliki banyak keunikan. Pertama, baru kali ini, menurut Nurhayati, ada seminar internasional yang begitu penting digelar di kabupaten yang jauh dari pusat kota , di tempat asal kebudayaan tersebut berkembang. “Saya banyak dikritik teman-teman karena dianggap terlalu berani menyelenggarakan suatu seminar penting di desa. Tapi saya jalan terus,” ujarnya tegas. Kedua, yang dibahas adalah naskah yang luar biasa, yang dianggap terpanjang di dunia dan memuat banyak kearifan selain mitologis Bugis.

Yang tidak kalah menariknya, Seminar Internasional La Galigo melibatkan masyarakat dan pemerintah  daerah setempat. “Seluruh masyarakat Desa Pancana, Kabupaten Barru, dikerahkan untuk membersihkan desa. Rumah-rumah penduduk yang layak disiapkan sebagai tempat akomodasi para pembicara dan peserta yang datang dari dalam dan luar negeri. Masyarakat dan pemerintah setempat sangat mendukung,” papar Nurhayati bersemangat.

 

Seminar La Galigo dipandang sukses oleh banyak pihak. Beritanya muncul di berbagai koran besar tanah air. Para pihakpun mulai melirik memberikan perhatian untuk isu kebangkitan kembali peran La Galigo. Suatu lembaga dana internasional memberikan dukungan kepada Nurhayati untuk melakukan upaya revitalisasi kebudayaan Indonesia . La Galigo ditetapkan sebagai proyek percontohan.

Apa yang mendasari revitalisasi La Galigo? Nurhayati menjelaskan kalau para penjaga La Galigo sekarang, seperti para penembang dan tokoh adat, sudah tua dan uzur. Sementara kaum muda sangat sedikit yang menguasai dan memahami naskah ini dengan baik. Karenanya, harus segera ada pemindahan pengetahuan dan keahlian ke generasi muda.

Untuk melakukan revitalisasi kebudayaan, termasuk La Galigo, ada empat hal yang harus dimiliki. Pertama, ada kaum tua yang mengerti dan bersedia menurunkan ilmunya ke kaum muda. Kedua, ada kaum muda yang mau dan bersedia belajar. Kemudian, harus ada tradisi yang masih dijalankan. Terakhir, ada masyarakat yang mau memanfaatkan. “Empat hal ini kita yakini masih ada di masyarakat Bugis. Apalagi semenjak seminar internasional digelar, masyarakat sekarang sedang demam La Galigo, “ ujar Nurhayati.

 

Mulailah sejak 2003 Nurhayati bergerak memimpin upaya revitalisasi La Galigo di Sulawesi Selatan, di 11 kabupaten. Kaum tua yang dipandang ahli dan tahu La Galigo diajak berbagi pengetahuan dan ketrampilan di kampus. Yang muda seperti mahasiswa melakukan magang di tempat-tempat tradisi La Galigo masih dijalankan. Mereka sebelumnya sudah mendapat ilmu dari para ahli sepuh yang sudah membagi kepakarannya di kampus. Para mahasiswa ini kemudian diajak turun ke desa-desa mengajarkan apa yang sudah diperolehnya ke anak-anak.

Selain mahasiswa, para guru kesenian di berbagai sekolah juga diajak belajar menimba pengetahuan dan ketrampilan tentang La Galigo dari kaum tua. Kurikulum kesenian dan muatan lokal dibenahi. Para guru kesenian mengajarkan apa yang ditimbanya dari kaum tua ke murid-murid sebagai salah satu ekstra kurikuler sekolah. Huruf lontarpun mulai diajarkan sebagai mata pelajaran muatan lokal. 

Ke publik yang lebih luas juga dilakukan berbagai upaya revitalisasi. Beberapa kegiatan yang dilakukan adalah penyebarluasan isu dan pengenalan kembali La Galigo melalui radio komunitas, penulisan di berbagai majalah dan pemuatan di website.

 

Tapak-tapak menghidupkan kembali La Galigo nampaknya mulai menunjukkan jejak nyata. Selain demam naskah ini sudah mulai kelihatan di masyarakat Bugis, publik nasional dan internasional-pun mulai memberikan perhatian. Pentas kesenian La Galigo yang ditangani seorang sutradara asing sudah dipentaskan di Taman Ismail Marzuki, Jakarta , dan meraup penonton lumayan banyak. Seorang pendeta bissu, bernama Puang Matoa Saidi terlibat aktif dalam pementasan tersebut. Pentas La Galigo juga digelar di berbagai tempat di luar negeri.

 

La Galigo sudah mulai bangkit dari mati surinya. Meski demikian, upaya memperkokoh perannya dalam masyarakat belum selesai. “Masih banyak yang harus terus menerus dilakukan dalam upaya revitalisasi,” ujarnya mantap.  Misalnya, harus lebih banyak lagi kaum muda yang betul-betul tahu, paham dan menyebarluaskan La Galigo ke masyarakat. Sampai La Galigo betul-betul mengukuhkan perannya kembali dalam kehidupan masyarakat Bugis, barulah mungkin perempuan tangguh ini bisa tertawa lebar. Maju terus Nurhayati!

24 Juni 2007

 

Posted by Tami at 04:29:04 | Permalink | Comments (2)

PEREMPUAN PENGGELUT LA GALIGO (Bagian 1)

Saya diuntungkan La Galigo,” demikian lontaran Dr. Nurhayati, ketua Divisi Sosial Budaya, Ekonomi dan Humaniora di Fakultas Sastra, Universitas Hasanuddin. Menjadi doktor di bidang Filologi dengan mengkaji La Galigo serta menjadi narasumber di pelbagai seminar yang membahas naskah ini, membuat perempuan mungil berputri satu ini merasa menjadi raja di dunia kecil. Tepatlah kiranya karena hanya sedikit mereka yang mau menumpahkan perhatian dan tindakan pada La Galigo. “Terlebih karena saya satu-satunya perempuan dari sedikit ahli La Galigo yang bergelar doktor,” imbuhnya.

 

Apa sebenarnya La Galigo yang membuat Nurhayati begitu tertarik sehingga menjadikannya subyek penelitian dari S1 sampai S3? Jika kita tanyakan apa itu Mahabharata, dipastikan akan banyak yang tahu atau setidak-tidaknya pernah mendengar. Tapi, tanyakanlah La Galigo. Bisa dipastikan kebanyakan menggeleng atau malah balik menanyakan: apa itu? La Galigo merupakan naskah kuno yang berasal dari wilayah Bugis, Sulawesi Selatan. Meskipun asli Bugis, tapi waktu telah menggerus dan mencerabut kelekatan masyarakat dengan karya ini. Padahal ia memuat aspek mitologis dan nilai-nilai penting dalam kehidupan masyarakat Bugis yang bermanfaat untuk pemahaman diri dan masyarakat di masa lampau dan bermanfaat sebagai acuan hidup masa depan. Panggilan untuk membangunkan kembali La Galigo dalam masyarakat yang membuat Nur tetap konsisten menekuninya.

 

Oleh para ahli, La Galigo dianggap unik bukan hanya dalam khasanah sastra Nusantara, tapi juga dunia. Beberapa bahkan meyakini naskah ini sebagai naskah terpanjang di dunia. Epos Mahabharata yang begitu terkenal memiliki jumlah baris antara 160 sampai 200 ribu. Sementara La Galigo, seperti tertulis dalam pendahuluan buku I La Galigo Jilid I terbitan Djambatan, memiliki sekitar 300 ribu baris atau 6 ribu halaman. Jadi setidak-tidaknya 1,5 kali lebih panjang dari Mahabharata. Bahkan dalam obrolannya, Nur mengatakan karya sastra Bugis ini terdiri dari 360 ribu baris atau 7 ribu halaman. Itupun, menurut para ahli, hanya sepertiga dari total keseluruhan naskah La Galigo yang berhasil disusun dan ditulis kembali oleh Arung Pancana pada abad pertengahan abad 19.

 

Secara garis besar, La Galigo menceritakan riwayat manusia pertama di bumi (mula tau) dan keturunannya dengan menggunakan bahasa yang indah, yang berbeda dari bahasa Bugis sehari-hari. Dikisahkan, pada suatu kala, semesta ini terbagi dalam tiga dunia: dunia atas, tengah dan bawah. Dunia tengah, yang menjadi tempat kediaman manusia sekarang ini, digambarkan dalam keadaan kosong, tanpa penghuni. “Sang Penentu Nasib”, Patotoqe, yang tinggal dan menguasai dunia atas, kemudian berembuk dengan keluarga. Akhirnya dia memutuskan mengirim putra sulungnya, Batara Guru atau La Togeq Langiq, untuk datang ke dunia tengah dan menjadi manusia pertama.

Batara Guru kemudian direncanakan menikah dengan We Nyiliq Timoq untuk dijadikan permaisuri di dunia tengah. Perempuan yang masih sepupu Batara Guru ini merupakan putri sulung raja dan ratu dunia bawah (Peretiwi). Suami istri penguasa dunia bawah tersebut masih kerabat dekat Patotoqe dan istrinya.

 

Sebelum menikah, Batara Guru ditugaskan sang ayah untuk turun ke bumi. Dia diperintahkan untuk menciptakan gunung, hutan, laut, berbagai jenis hewan dan tumbuhan. Lima bulan sesudah Batara Guru berada di dunia tengah, We Nyiliq Timoq dikirim menyusul calon suaminya. Putri sulung penguasa laut ini muncul dari celah gelombang, ujung busa laut. Sang penguasa dunia tengah harus berenang untuk menghampiri calon pengantinnya. Tidak semudah itu bagi Batara Guru untuk bisa duduk menyandingkan diri dengan We Nyiliq Timoq. Dengan mengucapkan mantera-mantera sakti, dia berhasil duduk di sebelah perempuan yang masih sepupu dekatnya ini, di kursi usungan. Kemudian, selama 9 hari 9 malam mereka berdua terus adu kesaktian. Akhirnya, keduanyapun menikah. Bertahun-tahun kemudian, barulah mereka dikaruniai putra bernama Batara Lattuq.

 

Tibalah waktunya saat Batara Lattuq harus dicarikan pasangan. Dia menikah dengan We Datu Sengngeng, perempuan berdarah campuran dunia atas dan bawah. Dari pernikahan ini lahirlah sepasang anak kembar lelaki dan perempuan. Yang lelaki bernama Sawerigading dan perempuan We Tenriabeng. Kelak Sawerigading menikah dengan We Cudaiq dan memiliki anak bernama La Galigo. Nama La Galigo-lah yang nampaknya dipilih sebagai nama naskah Bugis kuno tersebut.

 

Tidak diketahui dengan pasti kapan dibuat dan siapa yang menciptakan La Galigo. Bagian pertama dari naskah ini disalin di kertas dengan memakai huruf lontaraq (huruf asli Bugis) sesudah 1852 oleh Arung Pancana, anak perempuan Raja Tanette. Kemudian, bagian ini diterbitkan oleh B.F. Matthes, peneliti Belanda, dengan aksara Bugis pada 1872 di dalam bukunya Boeginesche Chrestomathie Jilid II. Sebelumnya, saat tradisi tulisan dikenal masyarakat Bugis namun kertas belum ada, La Galigo ditorehkan di atas daun lontar, berupa outline cerita, tidak detil bait per bait. Bisa dimengerti karena cerita panjang lebar tidak mungkin ditulis secara rinci di atas lontar.

Lebih jauh lagi, dalam tradisi lisan masyarakat Bugis yang sudah lebih dulu ada dan lama sebelum mereka mengenal tulisan, La Galigo sudah dikenal dan membudaya. Di berbagai ragam upacara, umumnya dahulu ada seorang penembang yang menyanyikan nukilan atau episode naskah di hadapan para hadirin yang berkumpul. Sebut saja misalnya dalam upacara perkawinan, tanam padi dan kelahiran anak. Semua ini menyiratkan betapa Sureq Galigo sudah lama ada dan dipergunakan dalam tradisi masyarakat Bugis.

 

Nurhayati menceritakan kalau dulu La Galigo dijadikan layaknya kitab suci Bugis. “Waktu Islam belum masuk masyarakat masih menganut To Riolo (agama orang dulu atau agama leluhur), kitab La Galigo diperlakukan dengan sangat hormat. Banyak orang menyimpannya dalam kain putih. Tidak boleh menyimpannya di dekat kaki,” ulas dosen sastra ini. Dalam masyarakat Bugis zaman dulu juga ada tiga pilar yang berfungsi menjaga keutuhan tradisi La Galigo, yaitu bissu (pendeta banci), perangkat adat dan raja beserta keluarganya.   

 

Di beberapa tempat lain di luar Sulawesi Selatan, La Galigo juga dikenal dengan berbagai versi. Situs khusus La Galigo di Wikipedia Indonesia memuat beberapa penjelasan singkat tentang naskah tersebut di Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Riau dan Malaysia . Diperkirakan, perpindahan orang-orang Bugis ke tempat-tempat tersebut sekaligus juga membawa arus La Galigo ke situ.

Menurut Nurhayati, La Galigo banyak memuat tuntunan penting bagi kehidupan masyarakat Bugis. Tentang siri atau harga diri misalnya, diajarkan tidak mudah bagi orang Bugis untuk mengeluarkan keris dari sarungnya. Jika ada suatu masalah yang dihadapi, sebelumnya beberapa kali dengan berbagai cara diupayakan untuk menyelesaikannya. “Jika sudah tidak ada lagi jalan keluar, baru keris ditarik keluar dari sarung. Sekali keris dihunus, tidak boleh disarungkan sebelum keris tersebut dipergunakan untuk menikam,” paparnya bersemangat. Makanya, Nurhayati melanjutkan, seringkali jika tidak ditikamkan ke seseorang, keris ditusuk-tusukkan ke batang pisang. “Seringkali yang terjadi sekarang, belum apa-apa, jika ada suatu masalah, langsung keris dihunus. Itu tidak tepat, “ tambahnya lagi.

Contoh penting lainnya adalah isu jender dalam masyarakat Bugis. Dalam La Galigo digambarkan perempuan memiliki posisi dan peran penting. Sewaktu Patotoqe hendak menetapkan siapa manusia pertama yang akan diturunkan ke bumi, sebelumnya dia mengajak istri dan saudara perempuannya berunding. Sesudah mendapat masukan, baru kemudian dia memutuskan Batara Guru-lah yang harus turun ke bumi. Masih banyak lagi nilai-nilai penting dalam La Galigo yang sudah lama menjadi tuntunan hidup masyarakat Bugis seperti ajaran pendelegasian tugas dan wewenang, serta kriteria dan tata cara memilih pemimpin yang baik.

 

Namun sayang, sejalan dengan perkembangan zaman, pergelutan masyarakat dengan La Galigo memudar, bahkan cenderung menghilang. Nurhayati berpendapat sejak masuknya Islam di Sulawesi Selatan, La Galigo mulai ditinggalkan. Berbagai adat, tata cara, hukum dan kearifan yang dimuat naskah tersebut sudah banyak dilepas. Perempuan bertubuh mungil ini mengatakan ada anggapan bahwa mempercayai atau menjalankan sesuatu di luar dari tuntunan Islam adalah musyrik. Anggapan ini sangat berperan dalam menyurutkan peran La Galigo dalam kehidupan masyarakat Bugis.

Lambat laun, La Galigo hanya terdengar sayup-sayup sampai. Tradisi menyanyikan episode naskah di berbagai upacara misalnya, sudah tidak banyak lagi ditemui. “Penembang hanya tinggal beberapa gelintir, bisa dihitung jari dan ditemui hanya di 6 kabupaten di Sulawesi Selatan,” imbuh perempuan yang mengambil S1 di Universitas Hasanuddin ini. Di setiap kabupaten-pun hanya episode-episode tertentu saja yang disukai dan masih dipakai. “Beda wilayah, beda yang digemari,” jelas Nurhayati. Tidaklah mengherankan jika sampai awal 2000-an, jika ditanya apa itu La Galigo, akan lebih banyak orang yang menggeleng daripada mengangguk tahu.

Posted by Tami at 03:58:39 | Permalink | Comments (3)

Monday, June 11, 2007

WISATA SEJARAH KARTINI, KULINER DAN BUAH TANGAN LASEM

Salah satu kota impian yang sangat ingin kukunjungi sejak masih di bangku SD adalah Rembang. Pesona Kartini yang mendorongku begitu ingin menginjakkan kaki di kota pantai ini. Di sinilah, pejuang perempuan Indonesia tersebut dimakamkan.

 

Rembang sendiri terletak di pinggir pantai utara Jawa, masuk dalam wilayah Jawa Tengah. Pusat kota dilalui lalu lintas padat, terutama truk dan bis besar, baik siang dan malam hari. Tidaklah heran karena Rembang merupakan titik penting jalur pantura, singkatan dari pantai utara.

 

Meski menjadi salah satu titik pantura, perkembangan Rembang tidaklah semaju dua kabupaten tetangganya, Kudus dan Pati. Dua kabupaten ini terkenal karena berbagai pabrik seperti rokok rokok dan kacang, menjadikan perputaran ekonomi di 2 kota ini berjalan sangat baik. Berbeda dengan Rembang, baru masuk kota sudah terasa suasana sepi. Lebih sepi jika saja seliweran lalu lintas tidak menjarahinya. Kabupaten ini masuk dalam daftar daerah tertinggal. Tingkat kemiskinan tergolong tinggi. Hampir 38 % dari sekitar 650 ribu penduduk Rembang, menurut data BPS, dikategorikan miskin. Kemiskinan meningkat drastis menjadi sekitar 60% pada saat program Bantuan Langsung Tunai (BLT) diluncurkan pemerintah pusat.

 

Lantas, apa saja daya pikat Rembang yang kutemui dalam kunjungan dua hariku pada awal Juni 2007? Jawaban pertama sudah barang tentu makam Kartini. Kurang setengah jam perjalanan dari pusat kota Rembang, tempat peristirahatan pahlawan nasional ini sudah bisa ditemui. Makam perempuan kelahiran Jepara tersebut terletak di kompleks pemakaman keluarga besar Djojo Adiningrat. Djojo Adiningrat merupakan Bupati Rembang ke-6. Dialah yang menikah dengan Kartini dan menjadikannya sebagai istri kedua.

 

Kartini sendiri lahir pada 21 April 1879, saat sang ayah menjabat Wedono Mayong. Saat berusia dua tahun, RM Sosroningrat diangkat menjadi Bupati Jepara. Sedari kecil, Kartini sudah terlihat berkemauan keras dan cerdas. Karena kelincahan dan kegesitannya, sang ayah menggelarinya Trinil, sesuai dengan nama burung kecil yang terkenal lincah.

 

Kartini mencurahkan pikiran-pikirannya yang tergolong maju pada zaman itu melalui surat-surat kepada dua sahabat Belanda-nya, Stella dan Ny. Abendanon. Kumpulan surat Kartini kemudian dibukukan oleh Mr J.H. Abendanon pada 1911, 7 tahun sesudah dia wafat, dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang. Perempuan tangguh ini mangkat 4 hari sesudah melahirkan anaknya, R.M. Soesalit. Statusnya sebagai istri dari Bupati Rembang, menjadikan kota ini dipilih sebagai tempat peristirahatan akhir Kartini.

 

Di komplek pemakaman keluarga besar Djojo Adiningrat juga ditemui makam sang Bupati, istri pertama dan para turunannya. Semua tertata rapi di suatu tempat berpagar dan beratap, mirip rumah megah dan besar. Di dekatnya, ada sebuah bangunan baru dalam tahap pembangunan. Menurut keterangan penjaga makam, jika bangunan utama sudah penuh, maka turunan lainnya yang meninggal, bisa dikebumikan di bangunan baru tersebut. Di luar pagar bangunan, ditemui patung besar Kartini, menggunakan kebaya sambil memegang sebuah buku. Dari samping, patung ini menampakkan kecantikan perempuan Jawa. “Cantik ya,” kataku sambil mengagumi tampilan anggun Kartini.

 

Magnet kedua kutemui dari wisata kuliner. Teman lamaku di kampus dulu, yang sekarang menjadi pejabat penting di Rembang mengajakku mencicipi lontong Tuyuhan. Sekitar 15 menit berkendaraan dari pusat kota , sampailah kami di Desa Tuyuhan. Nampak deretan warung-warung menyambut kedatangan para pencinta lontong. Tidak sabar aku mencicipi makanan ini dan rasanya, wow, betul-betul menggoyang lidah. Lontong yang dibungkus dengan daun pisang berbentuk segitiga ini beraroma wangi. Lauknya bervariasi, bisa ayam kampung atau telur yang dimasak serupa gulai pedas dan opor. Saat menyentuh lindah, kelembutan dan rasa nikmat penganan inilah yang terasa. Selain lontong Tuyuhan, beberapa jenis masakan lain juga sempat dicicipi. Sebut saja nasi uduk khas Rembang dan nasi gandul. Semuanya memang membuat lidah berdecap nikmat.

 

Hal lain yang biasa kucari saat mengunjungi suatu tempat adalah kerajinan tangan yang bisa kubawa pulang. Temanku menyebut batik. Kontan aku tertarik ketika diajak berburu batik Lasem. Sekitar 15 menit dari Rembang, menjelang sore, sampailah kami ke Lasem, salah satu kecamatan yang ada di kabupaten ini. Tempat tersebut terkenal karena tradisi membatik penduduknya. Beberapa home industry bisa ditemui. Aku mengunjungi suatu industri rumah tangga P, yang cukup terkenal di sana . Di tempat tersebut, ada semacam toko kecil yang memajang mayoritas batik tulis khas Lasem. Kata temanku, kalau siang hari datang, aku bisa menjumpai para pembatik yang bekerja di bagian belakang toko.

 

Aku yang menggemari warna merah maron dan sejenisnya, dengan cepat mencomot dua batik bermotif merah bercampur coklat. Per potong batik yang memiliki panjang sekitar 3 meter berharga ratusan ribu. Harga yang lumayan ini memang layak untuk batik tulis, yang dibuat dengan penuh ketekunan oleh para pembatik yang rata-rata sudah berusia lanjut.

 

“Jika mau batik murah dan masal, memang bukan di sini tempatnya, Mbak,” jelas seorang bapak yang duduk denganku di pendopo rumah jabatan temanku. “Warna yang relatif cerah, merah dan biru, dipadukan dengan motif unik dengan garis tegas yang semua dilukis tangan, menjadikan batik Lasem istimewa. Kadang-kadang satu batik bisa diselesaikan berminggu-minggu,” jelas bapak tersebut, yang memperkenalkan diri sebagai pendamping para pembatik Lasem. “Karena itulah harganya lumayan mahal. Tapi puaskan Mbak, membelinya?” tanya si bapak yang kujawab dengan anggukan setuju.

 

Namun, ternyata, keunikan dan mahalnya batik Lasem per lembar, belum bisa menjadikan nasib para pekerja pembatik bernasib lebih baik. Per hari, mereka umumnya dibayar Rp 4 - 6 ribu. Jika batik yang dikerjakan tergolong rumit dan sulit dan sang pembatik sudah tergolong ahli, dalam seminggu mereka bisa mendapatkan Rp 150 ribu. Selain itu, sekarang, seni kerajinan tangan tersebut lebih banyak digeluti oleh mereka yang berusia lanjut. Golongan muda nampaknya mulai menoleh pergi dari tradisi unik leluhur mereka ini.

 

Rembang yang panas di siang hari, mulai terasa senyap sesudah magrib, kecuali hiruk pikuk jalan utama yang dilalui banyak truk dan bis. Namun apakah semua ini tetap menjadikan kabupaten Rembang diam dan tetap dalam posisi wilayah tertinggal? Beberapa kekuatan yang disebut di atas, jika tergarap dengan baik, bisa sedikit membantu dalam memulihkan citra Rembang. Usaha home industry seperti batik, ditambah berbagai jenis penganan lain, jika dikelola dengan tepat, bisa jadi cukup berperan dalam memutar roda perekonomian kabupaten. Dalam hal ini, pemerintah daerah harus bisa melihat dengan jeli peluang yang bisa berfungsi untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat dan tidak untuk keuntungan pihak-pihak tertentu saja. Semoga Rembang bisa segera bangun dari tidur seperti slogan yang kulihat di salah satu sudut kota : Rembang bangkit!

Posted by Tami at 06:39:10 | Permalink | Comments (2)

PUKAUAN YOGYA DAN JAWA TENGAH

Rangkaian perjalanan di Yogyakarta dan Jawa Tengah dimulai dengan mendaratnya aku di Jogjakarta pada 29 Mei 2007. Pesawat yang membawaku agak terguncang tertiup angin selama sepuluh menit sebelum menyentuh landasan. Agak harap-harap cemas hatiku. Untunglah burung besi ini mencium bumi dengan selamat.

 

Supir langgananku sudah siap menanti. Dia mengangguk paham ketika kujelaskan jadwalku kali ini. Menuju Wonosobo dari Yogyakarta , kemudian dari Wonosobo ke Semarang dan Rembang. Dari Rembang, seorang teman lain akan mengantarkanku ke bandara Semarang , untuk kembali ke Jakarta .

 

Target pertama, sebelum ke Wonosobo adalah mampir ke seorang sahabat. Dia kukenal tahun lalu di suatu training gender di Yogyakarta . Satu sama lain kemudian saling akrab dan tetap kontak melalui sms. Bahkan kemudian, aku mengenal keluarganya. Istri sahabatku ini dari negara benua di selatan Indonesia , tempatku menimba ilmu dahulu, sementara sang anak merupakan salah satu bocah favoritku.

 

Kangenku pada Fay, anak sahabatku yang belum genap berusia satu tahun, kupuaskan dengan bercanda dan bermain bersama. Walaupun mula-mula asing karena tidak melihatku selama beberapa bulan, pada akhirnya ia mau kugendong dan berinteraksi dengan berbagai cara. Dengan caranya sendiri, Fay menceritakan bagaimana ia bertemu dan takut melihat anjing, meniru aku menelfon dan menikmati duduk bersama di teras rumah.

 

Sang ayah, menunjukkan keahliannya memasak. Paling tidak ada 5 jenis masakan dihidangkan di siang itu. Dari semua yang lezat itu, sambal dengan irisan terong-lah yang begitu menggoyang lidah. Pujian pada akhirnya kuberikan kepada sang cook spesial ini.

 

Hari menjelang sore ketika aku mulai mengukur jalan ke Wonosobo. MP3 yang memuat lebih dari 90 lagu non-stop menemaniku sepanjang jalan. Sempat aku berhenti membeli beberapa jenis minuman dan 3 kg salak pondoh super. Liukan jalan menuju Wonosobo yang biasanya kutempuh dengan kepala pusing, kali ini terasa ringan. “Ajaib, aku gak pusing sama sekali,” komentarku kepada yang menyetir. “Mungkin karena sepanjang jalan aku menyanyi ya,” imbuhku. Satu-satunya keluhanku kali ini hanyalah perbaikan jalan yang terjadi di banyak titik –membuat mobil seringkali harus berjalan pelan, bahkan berhenti bergantian dengan kendaraan lain yang datang dari arah depan–. Selebihnya, menyenangkan.

 

Menjelang magrib, aku memasuki Wonosobo. Kabupaten yang terletak paling tinggi di Jawa Tengah ini berada di dataran tinggi Dieng. Ini menyebabkan Wonosobo begitu sejuk di malam hari dan terasa tidak terlalu panas di siang hari. Hotel tempatku menginap, walaupun bukan hotel terbesar tapi tetap menjadi pilihan favorit. Letaknya di tengah kota , bersih, nyaman dan relatif tidak terlalu menguras kantong.

 

Aku tidak bisa berlama-lama check-in dan harus melompat berpindah ke hotel terbesar di Wonosobo untuk mengikuti kegiatan pertemuan suatu departemen dan para pihak. Fokusnya membahas upaya bersama yang perlu dilakukan merespon kondisi yang sudah beberapa tahun terakhir menimpa dataran tinggi Dieng. Pesatnya pertumbuhan hutan kentang, juga tembakau, di banyak tempat di tempat tujuan wisata ini, menjadikan fungsi Dieng terganggu. Jika dulu hutan alam menjalankan fungsinya dengan baik, alih fungsi yang dilakukan menjadikan Dieng semakin gundul dan berubah wujud terutama menjadi hutan kentang. Bencana alam seperti banjir dan tanah longsor mulai terjadi. Ancaman tambahan di masa depanpun mengintai. Sebut saja rusaknya tempat cadangan air, kekeringan dan penggurunan. Bukan hanya kabupaten Wonosobo yang akan menghadapi, tapi juga banyak kabupaten di sekitar akan terkena dampak rusaknya Dieng. Pertemuan 2 hari di Wonosobo tersebut diharap membawa perhatian lebih pihak-pihak terkait terhadap masalah bersama ini.

 

Sesudah Wonosobo, aku meluncur ke Semarang . Menjelang siang, kota ini terasa panas. Aku ngotot minta diantar ke suatu tempat dimana aku bisa mengetahui sedikit banyak tentang Laksamana Cheng Ho. Dia adalah pemimpin armada Cina yang telah berkeliling dunia sejak awal 1400-an, jauh sebelum para penjelajah Eropa mulai menancapkan kuku di banyak tempat di dunia. Tanya punya tanya, akhirnya aku dirujuk ke suatu kuil yang dibangun untuk menghormati Cheng Ho. Klenteng Agung Sam Poo Kong, ke situlah aku dirujuk. Ternyata Sam Poo Kong (bahasan Hokkian) merupakan nama asli Cheng Ho atau Zheng He. Walau tidak banyak yang kuperoleh, tapi beberapa keterangan tertulis di dinding batu klenteng beserta buku merah berjudul Klenteng Agung Sam Poo Kong, membuatku sedikit lebih paham tentang kehebatan Cheng Ho (lebih jauh, lihat tulisan khusus tentang Cheng Ho).

 

Menjelang sore, dari Semarang , aku menuju Rembang. Tiba malam hari, tidak banyak yang kujumpai selain deru kendaraan di kabupaten yang menjadi salah satu titik jalur pantura tersebut. Tapi esok dan esoknya, aku terpesona pada beberapa hal di sana . Selain cita-cita masa kecilku tercapai: melongok makam RA Kartini, aku juga terpesona oleh kuliner dan batik Lasem Rembang. Dua hari tiga malam terasa kurang. Tapi hatiku berkata, suatu hari aku akan kembali lagi ke sana (lihat juga tulisan khusus tentang Rembang).

 

Walau tidak lama perjalananku kali ini, tapi beberapa hal yang belum pernah kutemui tetap memukau. Kota-kota sepanjang pantai utara Jawa Tengah khususnya, yang baru pertama kutelusuri, ternyata memang menyimpan sejarah dan pesona tersendiri. Layak memang menjadi atau dijadikan tempat wisata domestik.

Posted by Tami at 06:14:07 | Permalink | Comments (2)