Sunday, July 29, 2007

MENJAGA KESEIMBANGAN

Membuka koran masih banyak berita duka yang kutemui. Utamanya bencana alam. Tingkat lokal, tidak jauh-jauh ada banjir di beberapa kabupaten di Kalimantan Selatan, seperti Tanah Laut. Tingkat nasional, terjadi bencana banjir bandang dan longsor di Morowali, Sulawesi Tengah. Sampai hari ini, karena susahnya akses ke beberapa desa akibat rusaknya infrastruktur, menyebabkan kita belum tahu persis berapa jiwa yang menjadi korban dan berapa banyak harta hancur.

Disinyalir karena perubahan iklim yang membuat curah hujan begitu tidak terkendali di banyak tempat, beberapa negara mengalami banjir dahsyat. Sebut saja China, Inggris dan Rusia. Inggris, sesudah 60 tahun baru kali ini mengalami banjir yang begitu luar biasa dan memakan korban jiwa.

Lalu pendidikan. Berbagai keluhan tentang mahalnya biaya pendidikan dan buku, kurangnya fasilitas, sampai standard ujian nasional yang dianggap terlalu tinggi bagi sebagian daerah, menghiasi berita di berbagai media massa. Dari presiden sampai bupati di Kalimantan Selatan menjadi tempat mengadu. Aku membuktikan uniknya duni a pendidikan kita ketika anakku yang kelas 1, diharuskan membeli buku pelajaran yang berbeda dengan kakaknya yang sekarang duduk di kelas 3. Alasannya, ganti tahun pelajaran ganti kurikulum. Kocekpun kembali harus dirogoh.

Gambaran kemiskinan, seperti biasa, juga menjadi berita di mana-mana. Meskipun beberapa bulan lalu disebutkan menurutnya angka kemiskinan 2007 dibandingkan tahun lalu, nyatanya kemiskinan masih merajalela. Aku sempat tercenung ketika suatu malam di Jakarta pada pertengahan Juli, sekelompok anak mengenakan seragam coklat pramuka, masih harus bergelut dengan malam. Tangan mereka menadah ke arah para pengemudi mobil yang berhenti di lampu merah. Beberapa orang tua berpakaian lusuh, nampak lahap mengerubungi nasi bungkus di trotoar, tidak jauh dari lampu merah.

Banyak lagi yang membuat resah: bom di beberapa tempat di dunia, permen yang diberi formalin (termasuk permen susu kesukaanku sejak kecil) serta beberapa harga kebutuhan yang masih merambat naik seperti susu anakku.
Lalu, apa yang menjadi kebahagiaan diri dan dunia jika ternyata di sekeliling hidup begitu rumit dan susah? Aku mencari-cari dalam berita dan kenyataan di sekitar. Masih ada ternyata. Soal perubahan iklim, semakin nampak komitmen banyak pemerintah dan para pihak dalam upaya mengurangi penyebab dan dampak perubahan iklim. Tidak lagi berupa slogan, tapi aksi bersama mulai dirancang.

Kemudian bola. Benda bundar ini menjadi begitu ajaib ketika beberapa pertandingan Piala Asia yang diselenggarakan di Jakarta begitu tenang, tanpa kerusuhan. Pertandingan Indonesia melawan Korea Selatan misalnya, yang diperkirakan rusuh, ternyata berjalan begitu mulus. Meski Indonesia kalah, supporter tetap memberikan applaus meriah kepada tim nasional. Tidak ada gangguan sedikitpun sebelum dan sesudah pertandingan.

Sepanjang Juli ini aku juga berkunjung ke beberapa kelompok petani di Yogyakarta dan Lampung. Mereka yang selama bertahun-tahun mengelola hutan negara dengan mengantongi ijin sementara Hutan Kemasyarakatan (HKm), masih merajut harapan untuk meraih hidup lebih baik. Departemen Kehutanan dibantu beberapa pihak seperti LSM telah dan akan melakukan evaluasi ijin sementara HKm tersebut, untuk kemudian merekomendasi dikeluarkannya ijin definitif jangka panjang.

Masih terkait dengan pekerjaan, beberapa hal masih bisa kulalui dengan sangat baik dan lancar, bahkan saling mendukung. Aku tetap bekerja dengan masyarakat dan para pihak untuk mendorong kebijakan yang lebih pro pada masyarakat miskin sekitar hutan serta mendorong terbentuknya Community Foundation di Kalimantan.

Lantas di rumah, anak-anak tumbuh begitu cerdas dan manisnya. Aku tidak terkena mitos ibu bekerja dan banyak di luar, akan membuat anak tidak dekat dan lekat. Mereka nyatanya masih begitu lekat. Tumbuh cerdas dan berkembang dengan bakat masing-masing. Buku tetap menjadi salah satu pilihan mereka selain melakukan aktivitas lain khas anak-anak seperti menonton kartun dan bermain.

Difikir-fikir, laksana timbangan, terkadang diri kita menjadi gamang ke satu sisi karena melihat banyak hal negatif atau kurang yang harus diperbaiki. Terlalu miring ke satu sisi membuat kita menjadi bingung dan frustrasi. Sebaliknya, terlalu condong ke sisi yang lain, kepada kenikmatan dan kebahagiaan pribadi, terkadang menjadikan kita buta dan lupa pada sekitar. Kuncinya memang keseimbangan. Bagaimana sedapat mungkin kita bisa tetap menempatkan diri untuk tidak condong ke salah satu. Juga, pijakan harus tetap kuat. Ini berarti, tekad untuk berbuat semakin baik terhadap diri sendiri, keluarga dan orang banyak juga harus tetap terjaga.

Mudah-mudahan aku tetap bisa berpijak pada keseimbangan. Kalaupun sesekali terpeleset dan condong, mudah-mudahan rem di batin dan otak bisa membuatku kembali berpijak pada titik keseimbangan. Semoga.

Posted by Tami at 15:47:23 | Permalink | Comments (3)

Tuesday, July 17, 2007

Setiap aku di rumah, membuka koran Kompas dan Banjarmasin Post, duduk membaca sambil menikmati sarapan, biasanya efek kegelisahan yang kudapatkan. Hari ini, 17 Juli 2007 ada beberapa berita yang menarik perhatian. Banjarmasin Post menulis tentang krisis air di 7 kecamatan di Kabupaten Banjar. Akibatnya sulitnya mendapatkan air, sebagian besar warga mulai memanfaatkan air sungai. Musim hujan tak kunjung tiba, malah kemarau akan menjelang. Ini mengakibatkan sungai yang menjadi tumpuan masyarakat di saat krisis menjadi tidak begitu berarti. Sudah tercemar, kotor dan tidak layak, dangkal pula.


Di salah satu kecamatan, yaitu Aluh-Aluh, untuk mendapatkan air yang layak konsumsi, sebagian warga terpaksa harus membeli air tawar. Per drum mencapai harga Rp 12.000. Seorang warga setempat, Arsyad, seperti dikutip Banjarmasin Post, menyatakan dia terpaksa membeli air Sungai Tabuk karena air yang biasa dikonsumsinyam dari Sungai Musang, terasa asin. Sebenarnya air Sungai Tabuk bisa diambil gratis. Tapi jauhnya lokasi dari Aluh-Aluh, sekitar 2 jam dengan kapal air, menyebabkan banyak orang memilih untuk membeli.


Jangan tanya untuk mandi, mencuci atau membersihkan alat-alat makan. Tidak ada pilihan lain bagi warga setempat. Air sungai tetap dimanfaatkan. Tentu saja ada resikonya. Arsyad melanjutkan kalau pada musim susah air akan banyak warga yang terkena diare atau gatal-gatal karena jarang mandi atau mencuci peralatan rumah dengan air kotor.


Lihat lagi berita lain. Kali ini tentang pendidikan. Ada kisah tentang seorang anak berotak cemerlang dari Kotabaru. Salsabela namanya. Lulus SMP dia berniat melanjutkan ke sekolah favorit. Tapi apa daya, biaya daftar ulang yang tinggi menyebabkan keinginannya terhenti. Orangtua Salsa yang menjadi penjual sayur dan bekerja serabutan jelas tidak mampu mengocek duit.

Untunglah Salsa yang cerdas teringat akan pernyataan Bupati Kotabaru yang ditayangkan di TVRI tentang sekolah gratis. Dia kemudian berinisiatif meminta bantuan biaya pendidikan. Surat permohonan kepada sang Bupati dibawanya sendiri dengan berjalan kaki sejauh 2 km. Untungnya surat Salsa mendapat tanggapan positif dan Bupati menjanjikan untuk mendukung biaya sekolahnya. Salsa-pun dalam beberapa hari ini mulai mengecap pendidikan di salah satu SMA di Kotabaru.


Salsa jauh lebih beruntung dibandingkan beberapa anak di propinsi lain, yang kebetulan memiliki keinginan yang sama: bersekolah. Di Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah misalnya, musim sekolah menyebabkan kesulitan bagi banyak calon siswa plus orangtua. Beberapa siswa yang hendak masuk suatu sekolah lanjutan atas, terkendala biaya daftar ulang yang tinggi. Seorang calon siswa yang juga harus berjualan kripik karena kesulitan ekonomi menuturkan surat miskin tidak lagi ampuh. Dia tetap diwajibkan membayar seluruh biaya daftar ulang, meskipun ada keringanan dengan cara mencicil. Sebagai informasi, biaya daftar ulang SMA/MAN di kabupaten ini bervariasi sesuai dengan kebijakan masing-masing sekolah. Besarnya antara Rp 697.500 - 845.000.

Mmh, apa arti semua ini? Kehidupan semakin susah bagi mayoritas orang. Sekolah, kesehatan, kebutuhan dasar menjadi bagian yang harus diraih dengan susah payah. Cucuran keringat tidak mampu menjamin bahwa mereka “pasti” mendapatkannya. Yang niscaya adalah kesulitan. Kapan semua ini akan menunjukkan titik-titik cerah? Habis gelap terbitlah…

 

Posted by Tami at 12:32:36 | Permalink | Comments (1) »

ANAK-ANAKKU: JULI 2007

Suasana Baru dan Adaptasi 

Suasana baru. Itulah yang dialami Ara, anak keduaku, saat dia memasuki dunia sekolah dasar. Gadis cilik berusia 5 tahun ini beberapa hari sebelumnya terlihat begitu bersemangat. Mencoba sepatu dan seragam baru, mempersiapkan alat tulis yang dimasukkan ke kotak pensil, menyusun buku-buku tulis, sampai memilih buku bacaan yang katanya akan dibawa dan dibaca saat istirahat.

Menjelang tidur, Ara masih saja menceritakan apa yang akan dilakukannya besok di sekolah. Aku, yang setengah mengantuk, mendengarkan ceritanya sambil sesekali berkomentar. Ara berharap kalau hari pertamanya menyenangkan dan dia bisa cepat punya teman baru. “Ara mau belajar dengan rajin,” tuturnya riang.

Hari pertama sekolah, 16 Juli 2007, ternyata tidak selancar yang dibayangkan. Ara yang diantar sang ayah, menghadapi hari pertama dengan tangis. Saat baru ditinggalkan Ben sesaat, kabarnya Ara menangis. Khas tangisnya yang begitu nyaring bergema membuat Ben datang lagi ke kelas. Ketika pulang, Ara menceritakan alasannya menangis. “Karena tidak punya teman, Mah,” ujarnya polos. Aku menjelaskan kalau nanti dia juga akan punya banyak teman. “Kalau Ara tidak punya teman, Ara mau ke TK lagi ah,” tuturnya setengah merengut. Mendengar ancamannya, aku hanya tersenyum.

Lalu, Ara juga dengan bangga sempat bercerita, kalau waktu istirahat dia sempat membaca Toto Chan yang dibawanya. “Sudah hampir selesai, Mah” katanya sambil menunjukkan halaman buku yang sudah dibacanya. Aku ikut bangga melihat Ara menunjukkan usahanya menyelesaikan satu buku.

Hari ini, hari kedua, Ara pulang dengan ceria. Dia menceritakan sudah punya teman: Debby dan Aldi. Dia juga bercerita kalau di kelas jumlah anak perempuan sangat sedikit dibandingkan dengan anak lelaki.  Ara juga memperlihatkan kepadaku jadwal pelajarannya dalam satu minggu. Aku tersenyum. Kadang, kalau tidak harus menunggui si bungsu Rama di rumah, mau juga aku ikut mengalami hari-hari pertama sekolah Ara. Yang jelas, aku merasa, Ara telah mulai melakukan adaptasi dengan sekolah barunya. Aku lega.

Buku Bacaan

Anak-anakku sejak dini menampakkan minat baca yang tinggi. Alif bisa membaca sejak berusia 5 tahun, sementara Ara sejak berusia 4 tahun. Keduanya melahap buku apa saja untuk anak-anak: komik, cerita petualangan, cerita tokoh, ilmu pengetahuan untuk anak, kamus bergambar dan sebagainya. Alif bisa membaca beberapa buku berukuran sedang dalam 1 hari. Eragon, buku tentang naga, yang memiliki lebih dari 800 halaman diselesaikannya dalam 2 hari. Dia bisa menceritakan dengan lancar apa yang telah dibacanya. Ara agak berbeda. Dia biasanya tidak fokus membaca satu buku. Belum selesai satu, jika dia sudah tertarik dengan buku lainnya, dia akan segera beralih. Jadi dia bisa berganti-ganti membaca beberapa buku dalam satu hari sehingga perlu waktu agak lama untuk menyelesaikan satu buku. Akan halnya Rama, meskipun bungsuku ini belum bisa membaca, dia sudah memiliki beberapa buku favorit. Ensiklopedia dan berbagai buku tentang alam menjadi kesenangannya. Dia biasanya minta ditemani jika sedang memelototi buku.

Jadilah kemudian, buku menjadi kebutuhan pokok di rumah. Paling tidak sebulan sekali aku harus mencari buku baru untuk anak-anak. Jika bertepatan dengan hari libur, kami berangkat beramai-ramai ke Gramedia, Banjarmasin. Alif, Ara dan Rama akan memilihkan buku kesukaan masing-masing.

Sejak beberapa waktu lalu, tanpa bermaksud membuat mereka merasa “dibayar” karena telah membaca, aku membuat kesepakatan dengan Alif dan Ara. Siapa yang berhasil menyelesaikan satu buku, akan diberi uang Rp 1.000. Jika buku tersebut memiliki lebih dari 500 halaman, akan diberikan Rp 5.000.

Anak-anakku, yang memang tidak biasa jajan di sekolah, ternyata memiliki cara yang unik dengan uang insentif tersebut. Mereka memiliki rencana sendiri-sendiri. Saat ban sepedanya rusak, Alif membeli ban baru dengan uang tabungannya. Dia juga telah beberapa kali membeli komik Doraemon sendiri. Sementara Ara, berencana membeli baju atau buku dengan uangnya jika telah cukup.

Rama dan Kantung Semar

Beberapa hari lalu, aku sempat membeli buku tentang kantung semar. Berisi tentang pengetahuan dasar tentang tanaman khas Kalimantan ini dan cara budidayanya. Di halaman rumahku yang lumayan memadai memang dipenuhi berbagai jenis tanaman dan buah, termasuk kantung semar.

Mertuaku yang getol bercocok tanam, keesokan harinya menyempatkan diri membaca buku tentang kantung semar itu. Rama mendekati dan ikut-ikutan memelototi. Sesudah selesai, sang nenek memberikan buku tersebut kepada si bungsu yang terlihat antusias. Jadilah kemudian giliran Rama mengamati buku yang memuat berbagai gambar kantong semar.

Tiba-tiba, Rama keluar membawa buku tersebut, memperlihatkan kepada Ben. Dia kemudian menarik tangan Ben dan membawa berkeliling. Mula-mula Ben tidak paham apa maksud Rama. Saat menemukan tanaman kantung semar di dekat tembok halaman, si bungsu menunjuknya dan kembali memperlihatkan buku tersebut. Ternyata, Rama paham bahwa kantung semar di buku itu ada yang sama dengan kantung semar di halaman rumah. Buku memang mengajarkan anak paham banyak hal, tanpa terkadang kita sadari.

Posted by Tami at 07:32:05 | Permalink | Comments (2)

Monday, July 9, 2007

PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM KALIMANTAN

PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM KALIMANTAN :

Urgensi Paradigma dan Tata Pemerintahan yang Lebih Bijak

Kekayaan Alam dan Sumbangannya

Kalimantan merupakan pulau terbesar di Indonesia . Pulau ini terkenal kaya dengan berbagai sumber daya alam seperti hutan dan tambang. Hutan misalnya, selama masa orde baru menjadi sumber pendapatan yang signifikan. Lebih dari 50 % Hak Pengusahaan Hutan berada di pulau nomor tiga terbesar di dunia ini. Paska orde baru-pun hutan Kalimantan masih memegang peran penting. Total produksi kayu nasional sekitar 70% masih berasal dari sini.

Akan halnya tambang, sejak lama Kalimantan sudah dikenal kaya akan berbagai jenis  tambang seperti minyak bumi, gas, emas dan batubara. Berbagai perusahaan besar baik swasta maupun BUMN telah lama melakukan kegiatan tambang, misalnya minyak, gas bumi, dan batubara di berbagai tempat di Kalimantan . Dalam masa desentralisasi, tambang masih menjadi primadona. Batubara misalnya menjadi andalan beberapa kabupaten seperti Tanah Bumbu dan Kotabaru di Kalimantan Selatan dan Kutai Barat di Kalimantan Timur. Minyak tetap menjadi andalan utama di Kalimantan Timur.

Pendapatan nasional dan daerah pun mendapat kontribusi memadai dari kekayaan alam Kalimantan. Seorang anggota DPR Kaltim dalam kegiatan seminar Himpunan Mahasiswa Biologi se-Indonesia di Samarinda awal Juli mengemukakan untuk 2005 Kaltim menyumbang Rp 200 trilyun untuk devisa nasional. Dari jumlah tersebut, sekitar 80 % berasal dari pengelolaan sumber daya alam seperti pertambangan, kehutanan dan perkebunan. Data BPS Kaltim 2003 misalnya mencatat bahwa sektor ekonomi yang sangat berperan dalam pendapatan rejional, selain dari industri pengolahan (38,70 %), diperoleh dari sektor pertambangan (35,68 %). Angka ini tidak jauh berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.

Untuk Kalimantan Selatan, beberapa kabupaten misalnya sangat mengandalkan pendapatan dari tambang batu bara. Kalimantan Tengah sangat mengandalkan pendapatan dari hutan dan perkebunan (kopra, sawit dan karet). Data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Kalteng Desember 2006 menunjukkan sektor kehutanan misalnya (kayu olahan seperti moulding dan plywood) memiliki nilai ekspor US$ 74,5 juta.

Sumbangan pada Kesejahteraan?

Jika pada masa era orde baru pengelolaan sumber daya alam di Kalimantan disinyalir hanya menguntungkan pihak tertentu saja, pada era desentralisasi diharapkan agar partisipasi dan manfaat kekayaan alam dapat lebih mensejahterakan masyarakat. Namun kenyataannya, meski kaya akan sumber daya alam, angka kemiskinan masih tergolong tinggi. Jumlah penduduk miskin Kalimantan Timur 2006 misalnya, menunjukkan kenaikan sekitar 30 % dibanding tahun sebelumnya. Plt Gubernur Kaltim, Yurnalis Ngayoh, menyatakan pada 2005 ada sekitar 464 ribu, sementara 2006 tercatat 606 ribu jiwa yang tergolong miskin. Total penduduk propinsi sekitar 3,9 juta jiwa.

Untuk propinsi Kalimantan Selatan, Gubernur Rudy Ariffin, pada Maret 2007 mengungkapkan kondisi kemiskinan di Kalsel juga memprihatinkan. Sebanyak 983.792 jiwa atau sekitar 31 % dari 3,3 juta penduduk Kalsel berada dalam kondisi miskin. Sementara itu, untuk Kalimantan Tengah, BPS Kalteng menunjukkan data bahwa pada 2004 jumlah penduduk miskin sekitar 10,44 % dari total penduduk hampir 2 juta jiwa.

Dampak Lain

Lebih lanjut, pengelolaan sumber daya alam yang sampai sekarang lebih banyak bersifat eksploitatif, menimbulkan dampak sosial lain seperti konflik antara masyarakat dengan perusahaan tambang dan konflik horisontal antar sesama masyarakat. Berbagai praktek illegalpun masih kerap terjadi di depan mata seperti pertambangan dan pembalakan kayu (illegal mining, illegal logging). Untuk kayu misalnya, Walhi Kalsel (2003) memperkirakan ada sekitar 5 juta m3 kayu per tahun yang dibabat secara illegal di Kalimantan Selatan.

Pengelolaan sumber daya alam yang masih cenderung eksploitatif juga berdampak pada kerusakan lingkungan. Untuk hutan di Kalimantan Selatan misalnya, data WALHI Kalsel menunjukkan pada 2001-2002 setiap harinya terjadi pengurangan luas hutan sebesar 140 ha. Untuk skala nasional, deforestasi hutan 2000-2005 misalnya, menurut FAO, mencapai 1,8 juta ha/tahun. Angka ini lebih rendah dari angka resmi Dephut yaitu 2,8 juta ha/tahun. Walaupun ada yang menilai kontroversial, data Greenpeace pada 2007 misalnya menunjukkan tingkat penghancuran hutan Indonesia, termasuk Kalimantan, setara dengan 51 km2 setiap harinya. Pada gilirannya, berbagai akibat turunan dari semua inipun muncul seperti sungai yang tercemar, banjir dan gagal panen.

Kemudian, dalam beberapa tahun terakhir muncul fenomena perubahan iklim (climate change). Perubahan iklim ini menyebabkan berbagai hal seperti pencairan es di kutub, cuaca yang sulit diprediksi, curah hujan yang lebih banyak di berbagai tempat dan kekeringan yang lebih cepat terjadi di tempat lain. Deforestasi hutan Kalimantan , beserta kebakaran hutan dan lahan gambut yang kerap terjadi, dinyatakan sebagai salah satu pendorong perubahan iklim. Kemampuan hutan untuk menahan karbon begitu terkurangi sejalan dengan tingkat deforestasi hutan yang masih tinggi di Kalimantan . Kebakaran hutan yang terjadi tahun 1997-1998 di pulau ini menghasilkan lepasan CO2 lebih dari 1 gigaton.

Kenapa Terjadi?

Beberapa hal yang menjadi penyebab adalah:

Orientasi Jangka Pendek.

Eksploitasi sumber daya alam di berbagai tempat di Kalimantan menjadi terlihat berorientasi jangka pendek untuk mendapat keuntungan sesaat. Pertambangan batubara misalnya, seringkali dilakukan di areal yang seharusnya berfungsi lindung. Pengerukan batubara yang tidak disertai dengan upaya nyata reklamasi lingkungan menyebabkan bekas-bekas galian batubara menjadi warisan dari aktivitas tersebut. Dampak-dampak lanjutannya sudah bisa ditebak dan nyata terjadi, sebut saja ketegangan dan konflik sosial serta bencana akibat kerusakan lingkungan.

Kebijakan yang Tidak Memihak.

Banyak fakta menunjukkan kebijakan yang terjadi kerap menjadi pendorong pengelolaan sumber daya alam yang salah kaprah, yang justru tidak membuat sejahtera rakyat banyak dan menyumbang pada kerusakan alam. Pada masa orde baru, pemberian HPH kepada beberapa pengusaha (50 % lebih HPH berada di Kalimantan), terbukti tidak memberi manfaat bagi masyarakat dan bahkan memberikan andil besar bagi tingkat pengurangan luas hutan yang begitu tinggi.

Di era otonomi daerah, kebijakan yang diharapkan bisa memihak, kerap masih terpeleset. Di propinsi Kalimantan Selatan misalnya, beberapa bupati telah mengeluarkan ijin kuasa pertambangan (KP) yang dinilai tidak tepat. Seorang peneliti, seperti dikutip Banjarmasin Post 9 April 2007, mencatat bahwa ada sekitar 200 kuasa pertambangan (KP) yang mengeksploitasi 87.411 ha Hutan Lindung Meratus. Bahkan, dari data Dinas Kehutanan Kalsel tercatat 6 kabupaten di Kalsel yang hutan lindungnya sudah “dikapling” oleh pengusaha tambang. Padahal, maraknya eksploitasi tambang (batubara) di propinsi ini dituding banyak pihak sebagai penyebab berbagai bencana seperti banjir.

Partisipasi yang Rendah dari Stakeholder (Utamanya Masyarakat).

Kebijakan juga kerap meminggirkan masyarakat sebagai penerima manfaat utama, baik pada saat kebijakan tersebut dirumuskan, maupun pada masa implementasi dan pengawasan. Kasus pemberian hak untuk mengusahakan hutan dan tambang misalnya kerap tidak memperhatikan masyarakat yang sudah turun temurun tinggal di suatu area. Akibatnya kebijakan yang terjadi sering tidak tepat sasaran dan malah menimbulkan dampak yang tidak diinginkan misalnya, konflik antara masyarakat setempat dengan pihak pengusaha.

Beberapa Hal Penting yang Perlu Segera/ Harus Semakin Terus Dilakukan

Mempromosikan dan Menekankan Paradigma Pengelolaan Sumber Daya Alam yang Lebih Bijak.

Sudah saatnya kita meninggalkan orientasi jangka pendek dari pengelolaan sumber daya alam. Peningkatan pendapatan (untuk PAD misalnya) adalah penting, namun bukan satu-satunya. Pemerataan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat serta keberlanjutan keberadaan sumber daya alam juga perlu mendapat penekanan yang sama pentingnya. Beberapa kabupaten misalnya Wonosobo (Jawa Tengah) sudah mulai melakukan penekanan pada faktor pengurangan kemiskinan yang terpadu dan pengelolaan sumber daya alam yang lebih lestari. Apa yang dilakukan di kabupaten tersebut kiranya bisa menjadi contoh bagi kabupaten-kabupaten di Kalimantan .

Menerapkan Tata Pemerintahan yang Baik (Good Governance).

Bachrul Emi, seorang peneliti, melakukan kajian tentang good governance di salah satu propinsi di Kalimantan. Dia, dengan mengutip studi yang dilakukan Sudarno Sumarto pada Maret 2004, menyatakan tata kelola pemerintahan yang buruk menghambat upaya penanggulangan kemiskinan. Selain itu, bad governance juga telah terbukti berdampak pada kerusakan dan bencana lingkungan.

Dalam good governance, paling tidak ada tiga prinsip penting yang perlu diperhatikan (akuntabilitas, transparansi dan partisipasi masyarakat). Selain itu, good governance menekankan pentingnya keseimbangan tiga pilar utama yang mendukung (lembaga penyelenggara pemerintahan, dunia swasta dan masyarakat sipil). Loina Lalolo Krina dari Bappenas menyatakan good governance menuntut redefinisi peran para pelaku penyelenggara pemerintahan. Dalam konteks pengelolaan sumber daya alam, pemerintah cepat atau lambat bergeser dari pemegang kuat kendali pemerintahan ke posisi fasilitator. Dunia usaha dan pemilik modal harus mulai menyadari pentingnya regulasi dan praktek bisnis yang mampu melindungi kepentingan publik dan kelestarian sumber daya alam. Sebaliknya, masyarakat yang sebelumnya ditempatkan lebih pada posisi pasif, harus lebih menyadari peran dan kedudukannya sebagai pemangku kepentingan (stakeholder) utama.  

Penutup

“Bumi bisa mencukupi kebutuhan setiap orang, tapi tak bisa mencukupi orang-orang yang rakus” (Mahatma Gandhi)

 

Posted by Tami at 12:34:16 | Permalink | Comments (2)