Monday, November 26, 2007

SEMUA MENGHADAP TUHAN

Samyong pertengahan 2000. Tidak ada yang tahu apa yang ada di benak para perempuan yang duduk berjejer di salah satu pusat hiburan kelas bawah di Batam itu. Beberapa asyik menghirup nikotin dari batang-batang rokok di sela-sela jari pucat mereka. Gincu dan bedak tebal menempel ketat di bibir dan wajah. Rambut di keriting atau dipotong bergaya bob. Satu dua dari mereka nampak saling berbisik, kemudian tertawa terkikik.


Samyong di bulan Juni. Hari makin sore. Belum banyak tamu yang datang. Beberapa perempuan yang sudah untung mendapatkan pelanggan duduk di pojok. Meski matahari masih memancarkan sinar, pojokan berkesan temaram. Jika mata tidak menapaki lekat-lekat sudut ruangan, tidak akan terlihat nyata gerak-gerik pasangan yang sedang bercumbu. Satu-satunya yang menjadi penanda adalah cekikikan.

Saat malam menjelang, geliat Samyong semakin dahsyat. Para perempuan yang siangnya lebih banyak duduk melamun, membenahi gincu atau ngobrol, menjadi begitu bergairah. Sapa manja dan genit dilontarkan kepada lelaki hidung belang yang datang. Bau bir murahan makin merebak, asap rokok dan keringat makin semerbak. Beberapa pasang yang sudah asyik masyuk bergegas masuk ke kamar. Mmh, mungkin tepatnya bilik karena hanya ditutupi oleh lembaran kain.

Menjelang subuh, kesibukan salah satu bar hiburan merangkap tempat bilyar dan transaksi seks itupun pudar. Seiring ayam hendak berkokok, satu persatu para tamu bubar. Mereka keluar melenggang dengan senyum menyungging di bibir, mata merah kuyu dan mulut beraroma alkohol. Sementara, para perempuan dengan mata tak kalau kuyu dan tubuh berjalan lunglai, melambai tangan mengucap salam perpisahan.

Aku memperhatikan semua adegan dengan sabar, bak menonton film layar lebar. Kadang ternganga, kadang termangu. Yang jelas, kepala berdenyut pusing dan hati teriris. Anis, sebut saja dia begitu, yang sejak malam duduk ngobrol menemaniku, mencolek bahu mengagetkan lamunanku.

Gak ngantuk, Mbak?” tuturnya dengan logat kental suatu bahasa.

Aku menjawab dengan gelengan.

Meike kembali memandang dan sesaat kemudian beranjak.”Ke kamarku saja, Mbak. Kan tadi malam tidak ada tamu. Jadi cukup bersih. Kita ngobrol di dalam.”

Aku mengikuti langkahnya yang setengah mengantuk. Masuk ke salah satu deretan bilik. Saat mataku sudah agak terbiasa di dalam keremangan,aku melihat suasana dan bau yang sangat tidak nyaman.Tempat tidur memang masih tersusun rapi. Tapi di sudut masih terlihat bekas tumpahan minuman keras.

Anis,si pemilik kamar yang berparas ayu, mengajak untuk membaringkan badan melepas lelah. Rasa kantuk menyebabkan aku tidak sempat lagi mempertimbangkan banyak hal. Baru saja menyentuh bantal lusuh bersarung bunga mawar, aku terlelap.

Entah berapa lama aku tertidur, sentuhan halus di bahu membangunkan. Mulutku sudah bersiap menyatakan penolakan bangun saat kata-kata itu meluncur dari bibir Anir, “ Ayo, subuh hampir lewat. Kita sholat bareng yuk.”

Kata-kata itu spontan membuatku melek.Rasa kantuk hilang berganti takjub dan heran.


Sentuhan air dingin di kran belakang membuat mata bertambah melek. Aku kemudian mengikuti Anis ke kamarnya, melakukan sholat berjama’ah. Sayup-sayup kemudian,kudengar suara merdunya membaca ayat suci Al Qur’an. Ups, aku bukan tandingannya.

Saat aku keluar kamar mencoba duduk di kursi tamu dekat meja bilyar, mataku menatap beberapa perempuan yang masih mengenakan mukena,menatap dunia luar melalui kerangkeng kayu. Ya, jika siang, para perempuan penjaja cinta ini tidak bisa bebas keluar tanpa dibuntuti para penjaga yang merangkap sebagai tukang pukul. Jika tidak ada perintah sang Mami untuk menenui tamu di luar rumah bordil, pintu tergembok rapat dari luar.Beberapa penjaga tetap menunggu di luar, setengah tidur di beberapa sofa lusuh atau bangku bambu panjang.

Suasana yang mula-mula kaku,lamban laun berubah menjadi akrab. Tutur cerita mulai keluar dari bibir-bibir mereka. Ayu, yang tidak kalah manisnya dengan Anis menceritakan dia terjebak masuk Samyong dua tahun lalu.Dia katakan terjebak karena kedatangannya di pulau ini dengan tujuan untuk mencari kerja. Seorang lelaki datang ke kampungnya di Jawa menawarkan pekerjaan sebagai pelayan restoran. Ayu dan beberapa temannya ikut dan masuk perangkap: dipaksa melayani para lelaki pemangsa.

Lain lagi kisah Nani. Dia terpaksa melakukan pekerjaan ini karena dia tidak tahu lagi bagaimana cara mencari uang untuk membiayai ibunya yang sudah sakit-sakitan di kampung dan membantu adik-adiknya menyelesaikan sekolah, paling tidak sampai SMA. Yang penting, keluarga di kampung tidak tahu bagaimana caranya dia mendapatkan uang, yang tidak seberapa, yang rutin dikirim tiap bulan. Pernah satu ketika, saat dia merasa bahwa uangnya sudah cukup untuk membayar hutang kepada sang Mami, si pengelola rumah bordil, dia mendapati hutangnya sudah bertambah banyak tanpa sebab yang jelas. Pelototan kepala pengawal dan tampang judes Mami membuat nyalinya ciut untuk mendebat mereka. Satu-satunya yang bisa dilakukan adalah pasrah dan percaya suatu saat dia akan keluar dari tempat laknat ini.

Udara sejuk berganti panas saat mentari makin memancarkan sinar. Ayu melepas mukena yang dipakai, kemudian melipatnya. Nani melakukan hal yang sama. “Apek kelamaan dipakai. Sabun kan mahal,”celetuk Nani.

Pertanyaan yang sedari tadi menggantung di awang pikiran, pasang surut kutimbang-timbang apakah perlu dilontarkan atau tidak, akhirnya keluar juga. Menggunakan kata-kata sehalus mungkin, aku menanyakan apa yang membuat mereka, tepatnya beberapa di antara mereka, tetap sholat.

Semua hening sesaat. Nani memandangku setengah berkernyit, lalu menjawab. “ Aku telah melakukan dosa besar saat mulai melakukan pekerjaan ini. Mudah-mudahan dengan sholat, Tuhan mengampuni sebagian dosa-dosaku.”

Ayu yang sudah berdiri, hendak melangkah ke dapur, sedikit sinis menjawab,”Ya, udah biasa sholat dari kecil. Gak enak toh, kalau tiba-tiba menghentikan ini hanya karena aku menjadi pelacur.”

Anis yang menangkap ketidaknyamananku mencoba tersenyum, “Mbak, sejelek-jeleknya yang kulakukan, lebih melegakan hati jika aku menganggapnya sebagai pekerjaan. Jika sopir taksi, pegawai kantor dan tukang salon di sela-sela pekerjaannya, saat istirahat menunaikan sholat, apakah aku tidak boleh sholat hanya karena aku berada di tempat ini?”

Aku tidak mampu berkomentar. Semakin tergugu, tidak beranjak saat satu persatu perempuan-perempuan itu masuk ke kamar masing-masing untuk tidur atau melakukan pekerjaan rumah lainnnya. Yang aku tahu, air mata menggenang di kedua pelupuk mataku. Dalam kenaifan, aku menemukan sesuatu. Ternyata, semua menghadap Tuhan.

Ditulis di Jakarta, Menjelang subuh, 27 November 2007

 

Posted by Tami at 20:50:28 | Permalink | Comments (5)

Tuesday, November 13, 2007

MELON PUN MENYERUPUT SODANYA DENGAN GEMBIRA

Suatu senja menjelang magrib di pelataran Taman Ismail Marzuki, awal November 2007. Aku dan dua teman duduk menunggu pesanan. Di kafe sederhana paling pojok, aku memesan jus jambu. “Enak banget lho,” promosiku kepada mereka yang kemudian turut memesan jus itu. Seperti biasa, lenggang, sejenis empek-empek yang dicampur telur dan dimasak layaknya telur dadar, melengkapi santapan soreku.

Saat berbincang mengenai hasil rapat yang telah digelar sore itu, tiba-tiba mendekatlah dua bocah berpenampilan dekil, lelaki dan perempuan. Jelas bahwa mereka bagian dari anak jalanan yang banyak ditemui di berbagai pelosok ibukota. Yang perempuan nampak berani mendekati, menyapa, “Tante,” dan kemudian menadahkan tangan meminta uang. Aku yang baru saja menyantap beberapa suap lenggang, menoleh dan menggelengkan kepala. Si gadis kecil mengulangi lagi perkataannya.

Gak usah uang. Makan saja ya,” ujarku yang disambut tatapan bingung keduanya. Kemudian kujelaskan ulang kalau aku tidak mau memberi uang tapi akan membelikan makanan kalau mereka mau. Mereka saling berpandangan dan serentak kemudian mengangguk. Mereka pun duduk di meja bundar sebelah.

“Makan apa ya, Tante?” tanya sang gadis kecil, yang belakangan kutahu bernama Melon.

“Apa aja yang tersedia di sini,” jawabku. Sesaat kemudian pelayan kafe yang kupanggil menghampiri mereka sambil memberikan menu.

Belum lagi dua bocah itu memesan, datang dua teman mereka menghampiri. Sesaat kemudian, seseorang datang lagi. Jadi sekarang semua berjumlah lima, dan Melon yang satu-satunya perempuan. Mereka semua duduk mengelilingi meja.

Melon bersuara, “Tante, apa teman saya juga dibelikan makanan?” Aku berpandangan dengan dua teman dan kemudian mengiyakan. “Jangan panggil lagi yang lain ya,” seorang temanku mengingatkan dan disambut anggukan serentak mereka.

Aku kembali menyuap lenggang. Tapi kali ini tidak memiliki konsentrasi penuh pada empek-empek favoritku tersebut. Aku menguping dengar pembicaraan lima bocah di meja sebelah.

“Aku mau nasi goreng,” terdengar suara Melon cukup nyaring. Yang lain juga menyepakati untuk memesan nasi goreng. “Tapi gak usah pake sayur. Aku gak suka,” bocah lain menimpali. “Sayur kan sehat katanya,” celetuk yang lain. Aku, sang penguping, tersenyum geli mendengarnya.

Sesudah itu, kelima bocah berembuk memilih minuman. Nampaknya ini yang paling membingungkan. Tidak seperti memilih nasi goreng yang super cepat, minuman nampaknya menjadi kendala. Akhirnya seperti tadi, lagi-lagi Melon yang mengambil inisiatif. “Aku mau soda gembira,” ujarnya. “Iya, aku juga mau,” timpal yang lain.

Seorang bocah yang duduk berhadapan dengan Melon, nampak bingung menggarukkan kepala. “Jadi kamu pesan apa?” tanya Melon kepadanya. Akhirnya ia sepakat mengikuti semua teman, memesan soda gembira.

Menunggu pesanan datang, percakapan polos terjadi lagi di antara ke lima anak jalanan ini, tentang berbagai hal yang mereka alami hari itu. Aku tersenyum mendengarnya. Tiba-tiba di antara mereka ada yang teringat pada pesanan minuman. Dia menyeletuk, “Eh, soda gembira itu yang gimana sih? Apa yang warna hijau?”

Ih, masa gak tahu?” Melon menjawab.

“Kalau yang hijau itu jus alpukat,” timpal yang lain.

“Pokoknya enak deh. Ada soda putih, terus dikasih susu kental yang putih. Asyik…” Mata Melon memejam membayangkan.

Anak yang tadi bertanya meneguk liur. Kuyakin dia pasti membayangkan nikmatnya soda gembira. Yang lain juga nampak bersemangat menantikan santapan datang.

Dan benar, saat nasi goreng dan susu soda datang, mereka langsung menyantap. Episode menyeruput soda gembira yang paling menarik. Melon dengan nikmat menyeruput. Bocah lelaki yang tadi tidak tahu rasa soda gembira mengikuti dan mmm, dia juga nampak asyik menikmati rasa unik soda susu tersebut.

Seorang lainnya memiliki ide seru, meneguk soda begitu saja tanpa campuran susu kental manis. Hasilnya, matanya menjadi berkejap-kejap dan sesaat kemudian dia terbatuk-batuk.

“Jelas gak enak. Harus dicampur susu dong. Baru enak…” jelas Melon bersemangat.

Sejam kemudian, acara dinner merekapun berakhir. Ucapan terima kasih dan lambaian selamat tinggal menjadi hadiah manis bagiku dan kedua teman.

Langkah Melon dan keempat temannya semakin menjauh meninggalkan kami. Sayup-sayup suara keriangan mereka menghilang, sejalan dengan semakin jauhnya tapak kelimanya.

Aku yang masih duduk manis di kursi, yang sedari tadi mengamati, serasa mendapat irisan sembilu. Nyeri melihat mereka sudah sedari muda harus bekerja, berjuang untuk bertahan hidup. Mana orang tua mereka? Mana pemerintah? Mana negara yang katanya memiliki tugas menaungi mereka?

Masih ingat aku isi suatu pasal dalam Undang-Undang Dasar yang berbunyi,”Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara”. Kenyataannya berbeda jauh. Negara yang diwakili pemerintah, dalam catatan sejarah, lebih banyak menaungi sekelompok orang untuk bertambah kaya. Malah ada catatan ironis saat pemerintah dengan serta-merta memberikan dukungan dalam bentuk BLBI kepada para bankir yang hampir bankrut dan ujung-ujungnya membawa lari uang dukungan tersebut. Padahal selayaknya, uang itu adalah hak rakyat, termasuk hak para anak jalanan tersebut.

Aku menghela nafas, bertanya-tanya pada diri sendiri. Kapankah negara bisa bertanggung jawab kepada anak-anak jalanan dan jutaan rakyat yang masih hidup dalam kesusahan dan kemelaratan? Akankah tiba saatnya rakyat miskin menggapai kehidupan yang lebih baik?

Aku berkhayal. Andaikan, jika suatu saat para pemimpin kita berhasil melakukan tugasnya dengan baik untuk mensejahterakan rakyat, mereka pasti akan merasakan kebahagiaan luar biasa. Dan tentunya jika itu terjadi, Melon dan teman-temannya pasti akan menyeruput soda gembira dengan lebih ceria, dalam kondisi yang layak.

Posted by Tami at 01:17:47 | Permalink | Comments (2)

Monday, November 12, 2007

KEKERASAN, PENDIDIKAN, KETIDAKADILAN

Beberapa hari ini aku merasakan kegelisahan luar biasa. Entah apa yang ada di benak dan batin, rasanya mau ditumpahkan, tapi tidak bisa keluar juga. Malam di rumah, sesudah batal berangkat ke Balikpapan karena penundaan pesawat berjam-jam tanpa kepastian, aku membuka Kompas, Senin 12 November 2007. Dua berita mengusik perhatian. Pertama, tulisan tentang kekerasan terhadap perempuan, tentang keadilan. Kedua, features tentang sistem pendidikan di Finlandia. Semua membuat kegelisahan benak dan batin yang membuncah tidak karuan, menjadi lumayan memadat, bergerak ke arah kesadaran: ku tau yang ku mau.

Seorang anggota Komnas Penghapusan Kekerasan Terhadap Perempuan, Husein Mohammad, menulis tentang fakta masih banyaknya kekerasan dalam berbagai bentuk yang terjadi di Indonesia. Tahun lalu, paling tidak tercatat 22.350 kasus yang tercatat oleh Komnas ini. Dan aku yakin, banyak orang sudah paham fenomena gunung es, yang tercatat biasanya hanya yang di ujung. Di bawah lebih banyak lagi. Angka atau jumlah kekerasan memang penting. Tapi lebih dari semua itu, bagaimana fenomena yang ada ini bisa menjadikan kita belajar, menjadi suatu bangsa yang memiliki budaya non-kekerasan. Bagaimana pendidikan kita bisa berperan memainkannya?

Menyinggung pendidikan, aku bergerak menuju tulisan kedua, tentang sistem pendidikan di Finlandia yang memadukan pendidikan dengan riset dan industri. Tenaga kerja maupun tenaga ahli di sana selalu siap pakai dan siap terjun di dunia kerja maupun di dunia pendidikan dan penelitian. Hasil penelitian selalu tepat guna, terpakai di dunia industri. Tidaklah mengherankan kalau negara pemilik Nokia ini selalu dikenal sebagai negara yang memiliki pendidikan dan riset berkualitas tinggi, industri menakjubkan dan selalu berada dalam urutan terkaya di dunia (sepuluh besar, bahkan pernah menjadi yang terkaya).

Dalam dunia pendidikan, Finlandia tidak mengenal sistem ranking atau tinggal kelas, tidak mengenal ada yang bodoh atau pintar. Setiap orang didukung sesuai kemampuannya. Ah, aku menghembus nafas perlahan, teringat dua tahun lalu, saat anak sulungku, Alif, harus masuk sekolah dasar. Betapa saat itu ayahnya harus berkeliling mencari sekolah baru karena sekolah pertama yang baru dimasukinya seminggu, menolak anakku. Bukan karena Alif tidak cerdas, justru karena keunikan dan kemajuannya yang membuat guru kewalahan, tidak mampu menjawab pertanyaan-pertanyaannya dan merasa khawatir kalau anakku hanya mengganggu program pendidikan di sekolah itu.

Inilah beda antara sekolah Finlandia dengan umumnya sekolah di Indonesia. Saat kita begitu gemarnya melakukan penyeragaman di sana-sini terhadap para murid dan menjadikan mereka kelinci percobaan dengan menggonta ganti kurikulum hampir setiap tahun, Finlandia sudah lama menerapkan sistem yang mengakui perbedaan unik setiap orang dan mengoptimalkan keunikan tersebut. Saat pendidikan kita sering menghasilkan lulusan yang tidak siap pakai dan tidak nyambung dengan kepentingan industri, dan hasil penelitian banyak disimpan di lemari atau gudang karena tidak terpakai, di sana ketiganya bersinergi dengan baik.

Memadatkan kembali buncahan kegelisahan benak dan batin, aku mencoba menarik kesadaran pada diriku. Saat kekerasan terhadap perempuan dan kekerasan yang lainnya masih kerap terjadi di Indonesia, sistem pendidikan kita baik di sekolah maupun informal di rumah dan keluarga, layak dipertanyakan. Budaya pendidikan apa yang masih menghasilkan para manusia yang gemar berlaku keras?

Kedua hal di atas, kekerasan dan pendidikan ternyata memiliki titik sambung. Saat kita tidak mengakui hak unik anak didik, orang per orang, sebagai pribadi yang berbeda, saat itu kita juga melakukan kekerasan dalam bentuk yang lain. Sistem pendidikan kita yang cenderung menyeragamkan, ternyata telah melakukan kekerasan mental dan budaya dalam bentuk masif. Anak menjadi robot dan kelinci percobaan. Pada akhirnya, rasa keterpinggiran banyak anak yang merasa tidak dihargai, membuat banyak dari mereka menjadi berbalik tidak menghargai orang lain, dalam berbagai bentuk.

Mari belajar lagi dari Finlandia. Negara ini terkenal sebagai negara dengan tingkat korupsi yang mungkin terendah di dunia. Penduduknya terkenal jujur. Kekerasan terhadap perempuan? Aku yakin statistiknya pasti rendah (aku akan mencari tahu statistik mereka tentang ini). Pendidikan di sana, terbukti menghasilkan kebiasaan dan budaya yang luar biasa. Tidak hanya pintar otak, trampil, tapi juga berbudaya positif bernurani.

Aku mencoba bercermin pada diri sendiri. Membenahi rasa tidak nyaman di diri karena tahu dan yakin, sadar atau tidak sadar ada bentuk-bentuk kekerasan yang pernah kulakukan. Ada kezaliman dan ketidakadilan dalam berbagai bentuk yang pernah kulakukan, baik pada diri sendiri, keluarga, orang lain bahkan bumi dan semesta ini. Tidak hanya itu, ketidakadilan pada Tuhan sering kulakukan. Mengabaikan rasa sayang-Nya kepadaku di saat aku mendapat berkah yang begitu berlimpah dalam berbagai bentuk.

Aku terhenyak dari lamunan dan keasyikan menulis, saat anak bungsuku menabrak dari belakang dengan badannya. Dengan caranya dia mengingatkanku untuk meluangkan waktuku yang begitu sempit untuknya, untuk bermain dan menghargai haknya sebagai anak. Tuhan, jangan biarkan aku lagi berbuat ketidakadilan.

Banjarbaru, 12 November 2007

Posted by Tami at 12:01:36 | Permalink | Comments (2)

Sunday, November 11, 2007

Selebriti Indonesia dan Media Massa: Suatu Catatan Kecil

Ada yang membuat kita merasa miris tiap hari saat membaca berita surat kabar atau mendengar liputan televisi. Hampir tidak ada berita menggembirakan. Kalau tidak kecelakaan dalam berbagai bentuk, musibah bencana yang terjadi. Selain itu, berita korupsi juga terpapar di sana-sini.

Apa alternatifnya? Banyak orang disuguhkan berita ringan, yang kadang mengundang tawa geli: berita-berita selebritis. Si X punya pacar baru, si Badu bercerai, si ini begini, si itu begitu. Tidak membuat otak terlalu pusing, tapi bisa menimbulkan gosip dan cengiran melihat berbagai ulah polah “orang-orang” yang dibuat ngetop oleh media massa.

Kehidupan selebritis memang mengundang keingintahuan. Awam ingin tahu apa yang terjadi terhadap para idola. Ingin meniru gaya apa yang dipopulerkan seleb-nya. Dari gaya pakaian, rambut, sampai cara berbicarapun menjadi bahan tiruan. Pakaian unik ala Ratu (yang waktu itu belum bubar), membuat harajuku populer. Gaya rambut berwarna warni menjadi model yang tidak lagi asing.

Yang terbaru, yang membuatku geregetan, adalah cara bicara (anakku yang berusia 6 tahun, terkadang, tanpa disengaja melakukan gaya bicara yang mirip dengan tokoh Eneng, sinetron kesukaannya). Yang “nyebelin”, pada saat tata bahasa baru dengan tanpa disengaja diperkenalkan dan dipopulerkan mereka. Rambutku menjadi rambut aku, bukuku menjadi buku aku, dan sebagainya. Kata kepunyaan menjadi subyek atau mungkin obyek(?)

Identik dengan gaya hidup yang berbeda, uang yang banyak, terkenal di mana-mana, status selebriti memang memiliki magnet tersendiri. Siapa yang tidak ingin? Maka berbondong-bondonglah para pemula masuk ke berbagai ajang dunia hiburan, mode dan sejenisnya, yang ujung-ujungnya menjadikan mereka bagian dari selebriti. Saking menggiurkannya, setan pun ingin jadi bagian dari kelompok elit ini. Maka bergabunglah Suster Ngesot, Genderuwo, Sundel Bolong dan lain-lain dalam dunia gegap gempita tersebut. Berita-berita tentang mereka pun menjadi santapan sehari-hari.

Simbiosis mutualisme antara media massa dan para selebritis memang unik. Saling memberi. Kadang ada media massa yang bete dengan seorang seleb atau sebaliknya. Tapi lama-lama, persekutuan saling membutuhkan pun terjadi kembali.

Kadang aku merenung-renung, apakah mungkin simbiosis mutulisme ini tidak terbatas pada kedua belah pihak saja? Mungkinkah masyarakat banyak bisa lebih memetik keuntungan positif dari hubungan ini? Di luar sana, ada Anjelina Jolie misalnya, yang sekarang memfokuskan diri pada anak-anak yang menjadi korban perang. Efeknya cukup lumayan, karena ia tidak lagi hanya dikenal sebagai perempuan menarik dalam berbagai film, tapi juga aktris yang memiliki rasa kemanusiaan yang tinggi. Lain lagi Julia Roberts, yang rela pucat pasi dan gemetar dipeluk raja orang utan Kalimantan demi melaksanakan kampanye penyelamatan satwa ini. Mereka tampil apa adanya. Tanpa make-up, berdandan biasa dan tidak dibuat-buat.

Di Indonesia memang mulai ada segelintir selebriti seperti ini. Tapi anehnya, media yang meliput dan artis yang diliput lebih memfokuskan diri pada keselebritisan mereka (yang laku dijual), dibandingkan dengan sisi humanis dan kerendahan hati. Maka jangan heran: ada artis yang disorot sedang mengunjungi korban banjir, tapi dandanannya seperti hendak ke pesta.

Mudah-mudahan di masa mendatang, tidak hanya hal-hal semu yang tidak mampu dicapai dan tidak layak bagi kebanyakan orang yang ditampilkan media massa dan para selebriti kita. Simbiosis mutualisme tiga sisi-lah yang tercapai: sang selebriti, media massa serta masyarakat penerima dan pencerna berita. Artis tetap ngetop, media massa meneguk keuntungan, dan para pemirsa mendapat dan meniru berbagai hal positif. Semoga.

Posted by Tami at 09:00:42 | Permalink | Comments (1) »

Thursday, November 8, 2007

PERDAGANGAN KARBON SUKARELA: SUATU ALTERNATIF KREATIF

Semakin banyak informasi dan hasil penelitian yang menunjukkan kepada kita tentang fenomena perubahan iklim. Perubahan iklim terjadi akibat proses pemanasan global, yaitu meningkatnya rata-rata suhu permukaan bumi karena akumulasi panas yang tertahan di atmosfer sebagai akibat dari efek rumah kaca. Perkembangan populasi dan aktivitas manusia terutama sejak Revolusi Industri pertengahan abad 19 telah meningkatkan emisi gas-gas rumah kaca dan memperhebat efek rumah kaca di atmosfer.

Berbagai dampak dari perubahan iklim mulai terasa dalam berbagai bentuk. Meningkatnya intensitas banjir, fluktuasi perubahan cuaca, ketidakjelasan transisi antar musim, naiknya permukaan air laut dan kebakaran hutan adalah beberapa contoh dari dampak tersebut. Lebih lanjut, beberapa efek juga akan mengikuti seperti ancaman kekurangan bahan pangan karena kegagalan panen dan semakin berjangkitnya berbagai jenis penyakit. Dalam jangka panjang, beberapa ancaman serius juga bisa terjadi seperti berkurang atau punahnya beberapa spesies flora dan fauna dan terganggunya keanekaragaman hayati. Pendek kata, perubahan iklim akan mengancam berbagai bidang kehidupan, tidak hanya bagi manusia, tapi bagi berbagai makhluk hidup di muka bumi ini.

Ancaman perubahan iklim yang sudah mulai terjadi dan berpotensi untuk terus berlanjut, jika tidak segera diatasi akan menimbulkan berbagai kerugian. Bagi negara berkembang seperti Indonesia, biaya untuk mengatasi akibat negatif perubahan iklim ini diperkirakan bisa menambah beban pengeluaran, misalnya untuk mendapatkan teknologi memadai untuk mengatasi hal ini. Jika tidak diatasi lebih lanjut, biaya-biaya ekonomi dan sosial untuk mengatasi berbagai dampak juga akan semakin besar. Untuk itu langkah-langkah konkrit untuk mengurangi emisi gas rumah kaca penyebab perubahan iklim harus segera dilakukan oleh berbagai pihak.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa hutan memegang peran penting dalam konteks perubahan iklim. Hutan memiliki fungsi sebagai penyerap dan penyimpan karbon. Sebaliknya, hutan juga merupakan sumber emisi CO2 sebagai salah satu gas rumah kaca, misalnya saat kebakaran hutan terjadi.

Bagi Indonesia, hutan juga memegang peranan yang sangat signifikan. Berbagai hasil sumber daya dari hutan, seperti kayu, telah menjadi penyumbang pada perekonomian nasional. Hutan juga menjadi tulang punggung bagi jutaan masyarakat Indonesia yang hidup di dalam dan sekitar hutan. Bagi mereka, hutan tidak hanya memiliki nilai ekonomis, tapi juga nilai budaya, sosial dan religis.

Selain itu, hutan juga merupakan tempat hidup berbagai flora dan fauna dan tempat tersimpannya plasma nutfah. Hutan juga memiliki fungsi pengatur tata air dan perlindungan Daerah Aliran Sungai serta konservasi keanekaragaman hayati.

Mengingat begitu signifikannya fungsi dan makna hutan, baik dalam lingkup lokal, nasional maupun konteks global (perubahan iklim), perlakuan kita terhadap hutanpun menjadi penting untuk dicermati. Tantangan yang kita temui di sini adalah, bagaimana menjadikan hutan itu bisa tetap berperan sebagai sumber perekonomian, menyumbang pada perbaikan hidup masyarakat sekitar hutan, terjaga kelestariannya dan menyumbang pada penurunan emisi gas rumah kaca. Salah satu jawaban dari semua ini adalah dengan menjaga serta memanfaatkan kemampuan hutan dalam menyerap dan menyimpan karbon.

Berbagai negara secara bersama-sama menunjukkan kepedulian dalam upaya merespons isu perubahan iklim. Tahun 1997 dihasilkan Protokol Kyoto yang merupakan kesepakatan  negara-negara untuk menurunkan emisi melalui beberapa alternatif mekanisme. Peran negara-negara berkembang, dicakup melalui skema Mekanisme Pambangunan Bersih (Clean Development Mechanism, CDM). Bagi negara-negara berkembang yang memiliki hutan, seperti Indonesia, CDM berpotensi sebagai sumber pendanaan bagi perbaikan dan penjagaan kualitas hutan. Di sini, kemampuan hutan dalam menyerap CO2 sebagai salah satu gas rumah kaca menjadi fokus penting. Namun hingga kini, masih ada berbagai catatan  dalam skema CDM ini. Misalnya, CDM kehutanan hanya digunakan dalam periode 2008-2012 dan terbatas pada reforestasi dan aforestasi, misalnya agroforestry dan reboisasi. Khusus untuk aktivitas reboisasi, dibatasi pada area yang tidak berhutan sebelum tahun 1990. Selain itu, tahapan-tahapan CDM cukup rumit dan panjang. Meski CDM tetap harus dilihat sebagai peluang, diyakini perlu untuk mencari atau menciptakan alternatif lain yang bisa dimanfaatkan Indonesia.

Selain itu ada pula skema Reducing Emissions From Deforestation and Degradation (REDD), yaitu upaya menurunkan emisi gas rumah kaca akibat konversi dan kerusakan yang timbul dari pengelolaan hutan yang tidak berkelanjutan. Skema ini muncul karena saat ini di bawah UNFCCC (United Nations Framework Convention on Climate Change), belum ada mekanisme insentif yang diberikan untuk upaya pencegahan konversi dan kerusakan hutan. Celah inilah yang coba dijawab melalui skema REDD. Indonesia sendiri melalui Presiden RI telah menyatakan komitmen yang kuat untuk melakukan upaya penurunan emisi melalui pencegahan deforestasi dan kerusakan hutan. Tim dari Departemen Kehutanan dan beberapa pihak terkait sedang bekerja sama dalam mempersiapkan dan mengidentifikasi potensi pilot (percontohan) REDD ini.

Pada Conference of Parties (COP) 13 di Bali Desember mendatang, skema REDD akan didiskusikan dan diputuskan apakah mekanisme inisiatif melalui REDD, setelah berakhirnya Protokol Kyoto tahun 2012, akan diterima atau tidak. Jika disepakati, REDD bisa menjadi alternatif pengganti paska Protokol Kyoto 2012. Direncanakan proyek percontohan REDD dimulai tahun 2008.

Skema lain yang bisa menjadi alternatif baru bagi Indonesia adalah Perdagangan Karbon Sukarela (Voluntary Carbon Market, VCM). Salah satu keuntungan yang bisa diraih dari skema ini adalah diperhitungkannya kemampuan hutan dalam menyerap dan menyimpan karbon, termasuk juga di kawasan hutan yang masih utuh (existing forests). Selain itu VCM bersifat fleksibel dan sukarela. Berbagai pihak yang berkepentingan dimungkinkan untuk ikut serta dalam skema tersebut.

Terkait dengan inisiatif Perdagangan Karbon Sukarela atau VCM, pemerintah Kabupaten Malinau yang telah dikenal sebagai kabupaten yang memberikan perhatian besar pada masalah konservasi dan pengembangan masyarakat, memberikan terobosan baru. Kabupaten Malinau dan Global Eco Rescue Ltd saat ini sedang menginisiasi kerjasama proyek percontohan (pilot project) di areal seluas 325 ribu hektar di 3 hutan lindung di Kabupaten Malinau, Kalimantan Timur. Tiga hutan lindung tersebut adalah Pasilan Tabah Hilir Sungai Sembakung, Long Ketrok dan Gunung Laung – Gunung Belayan.

Berbagai hal terkait juga sedang dipersiapkan dalam rangka kerjasama ini. Beberapa di antaranya adalah Badan Layanan Umum (BLU) di tingkat kabupaten yang akan melakukan transaksi dengan pihak pembeli, Unit Pengelolaan Hutan (Forest Management Unit atau FMU) dan kebijakan tingkat kabupaten yang mendukung. Diharapkan agar proyek percontohan yang dirancang selama dua tahun pertama ini akan diperkuat menjadi proyek jangka panjang.

Keuntungan yang diperoleh dari skema perdagangan karbon sukarela yang sedang diinisiasi ini nantinya diharapkan mampu menyumbang pada upaya perbaikan dan kelestarian hutan dan penurunan pemanasan global. Tidak kalah pentingnya adalah kontribusi bagi masyarakat lokal yang bisa membantu menaikkan tingkat kesejahteraan, utamanya bagi mereka yang telah begitu lama menjaga dan memelihara kelestarian hutan. While taking care of forests and planet, we also take care of people who take care of the forests.  

Posted by Tami at 11:39:35 | Permalink | Comments (2)