Sunday, March 9, 2008

Papah Sudah Pulang

Aku baru menjadi yatim. Saat Papah meninggal 3 Maret 2008 lalu, aku memang tidak bisa banyak menangis. Hampir tidak menangis malah. Memandangi wajahnya yang bak tertidur, aku merasa dia sudah mendapatkan ketenangan di alam yang berbeda.

Saat menungguinya beberapa kali, juga tidak banyak yang bisa diperbuat karena Papah sudah tidak bisa berkomunikasi. Serangan stroke ke-2 sejak 23 Februari 2008, membuat Papah yang biasanya kuat, menjadi lumpuh total tidak berdaya. Suarapun tidak bisa keluar dari mulutnya. Dua hari kemudian, saat aku menjenguknya, Papah mulai bisa membuka mata. Melihat dengan pandangan mata bayi, aku tahu dia memberikan isyarat lain. Sakitnya kali ini tidak biasa.

26 Februari menjelang senja, keadaan Papah semakin memburuk. Lebih buruk saat dia pertama masuk ke ICCU. Tidak ada sedikit responpun yang bisa diberikan. Nafasnya kemudian menjadi satu satu. Dokter mengatakan Papah kritis. Aku tahu Papah sedang mengalami saat di mana kesadaran fisik hampir tidak ada, kemampuan respon menjadi tercerabut. Tapi aku juga tahu jiwa Papah masih tetap dekat dengan kami.

Keharusan mengurus beberapa hal di Banjarbaru membuatku harus pulang sejenak. Kontak tetap dilakukan. Suatu hari aku menelfon Papah cukup lama. Papah memang tidak merespon secara fisik. Aku hanya bisa mendengar desahan nafas yang agak serak karena pengaruh cairan di paru-paru. Namun aku yakin dia bisa mendengar setiap kataku. Anak keduaku, Ara, juga sempat menceritakan banyak hal lewat telfon kepada sang Kakek.

Rencanaku dan keluarga adalah kembali secepat mungkin ke Palangkaraya, sesudah Ben selesai mengikuti suatu tes tanggal 3 Maret di Banjarmasin. Mamah berencana membawa Papah pulang ke rumah hari Rabu atau Kamis, minggu pertama Maret, karena dokter sudah angkat tangan. Membawa Papah pulang bisa jadi memberikan ketenangan lain kepadanya di saat-saat terakhir hidupnya. Doa yang terbaik dari Allah bagi Papah tetap dilakukan. Papah sementara itu, masih tetap sama, diam dalam kedamaiannya.

Lewat jam 12 malam, hari telah memasuki tanggal 3 Maret. Aku sedang tidak bisa tidur. Waktupun kuhabiskan di muka komputer mengerjakan beberapa hal. Menjelang jam 2 dini hari WITA, tiba-tiba aku merasa seseorang memperhatikan dan melihatku lekat-lekat. Aku menghentikan ketikanku dan menoleh. Tidak ada siapa-siapa dan aku meneruskan kegiatanku.

Setengah jam kemudian aku merasakan haus. Aku pun beranjak menuju dapur, meminum segelas air. Tiba-tiba kurasa ada yang mengikutiku lagi. Aku menoleh dan tidak menemukan apa atau siapapun. Namun, aku tetap merasakan suasana lain. Aku segera masuk ke kamar tidur, membangunkan Ben, mengatakan ada yang menemaniku sejak tadi, walau aku tidak melihat siapapun. Ben yang setengah mengantuk tidak berkomentar, bahkan kembali tidur.

Aku duduk di ranjang, mengambil hp dan mengotak-atiknya. Aku masih tidak bisa tidur. Padahal waktu hampir jam 3 dini hari WITA. Tiba-tiba aku mendengar ada yang mengetok-ngetok kaca jendela kamar dua kali. Aku menoleh dan tiba-tiba merasakan Papahlah yang beberapa jam ini menemaniku. Aku merasa kalau Papah pamit untuk terakhir kali.
Limabelas menit kemudian hpku berdering. Adikku Tiva dengan menahan tangis mengatakan Papah sudah tiada. Aku menjawab ya, aku sudah tahu. Aku diam, merasakan kehilangan yang tiba-tiba. Kehilangan yang aneh karena tidak sakit, tidak menusuk. Kehilangan dalam rasa yang damai dan pasrah. Aku menghela nafas, kemudian menghapus beberapa butir air mata yang keluar setetes demi setetes. Tidak terisak, tidak meraung.

Pagi itu, aku dan anak-anak berangkat ke Palangkaraya untuk melihat Papah terakhir kalinya secara fisik. Aku mencium keningnya beberapa kali dan membisikkan di telinganya betapa aku mengingat banyak kebersamaan kami dari aku kecil hingga aku hidup terpisah mandiri. Aku tidak sempat menangis. Mungkin karena ikut melayani ucapan duka cita dari pelayat dan sanak keluarga. Duduk di samping jenazah sambil memangku Rama, sesekali aku mengusap tangan yang berada di balik kain jenazah itu.

Papah dimakamkan di pemakaman Muslim pal 2 Palangkaraya. Di pekuburan itu juga ada makam ayah ibunya, beberapa saudara kandung papah yang sudah mendahuluinya, juga beberapa iparnya. Aku mengikuti dengan seksama prosesi pemakaman, mengambil foto-foto yang kuyakin bisa menjadi kenangan berhargaku tentang Papah.

Sore 8 Maret 2008, saat tertidur, entah kenapa aku bermimpi bertemu Papah di satu tempat yang mirip vila peristirahatan dengan pemandangan indah. Vila di atas air itu dikelilingi bukit dan pepohonan. Banyak anak-anak yang kutemui di situ, membuatku bingung tempat apa yang kudatangi itu. Tiba-tiba Papah keluar bersama seorang anak lelaki kecil dan perempuan seumurku yang tidak kukenal. Papah bilang habis sholat dan mau menemuiku. Aku memandangnya lekat, melihat kecerahan ada di wajahnya, dan tiba-tiba terbangun.

Papahku memang sudah pulang ke Sang Pencipta. Dan aku tahu dia bahagia. Dia tidak ada secara fisik, tapi akan lekat selalu di hatiku. Aku memang tidak bisa menangis terlalu banyak, hanya satu satu. Saat aku menulis tentang Papah sekarang, aku juga tidak banyak menangis. Tetap satu satu air mataku keluar.


Posted by Tami at 05:10:15 | Permalink | Comments (1) »

Sunday, March 2, 2008

Si Cantik Eksotis yang Terancam

    Anggrek Bulan Halong                         Anggrek Gergaji

    Anggrek Meratus                                 Tampak Dekat

Pagi hari sampai menjelang siang setiap Sabtu, cobalah berjalan di sekitar Jalan Ahmad Yani Km 35, Banjarbaru. Atau, jika hanya punya waktu hari Minggu, pergilah ke Jalan Ahmad Yani Km 7, Banjarmasin. Hampir pasti kita akan menemukan penjual bunga di pinggir jalan itu. Demikian cerita seseorang kepadaku. Kepenasaran kemudian menghantarkanku ke tempat yang paling dekat dengan rumahku, Km 35. Benarlah, nampak sebuah mobil pick-up warna biru tua buatan Jepang membawa berbagai jenis tanaman. Anggreklah utamanya.

Pagi itu, awal Maret 2008, riuh rendah suara para calon pembeli, mayoritas ibu-ibu, melihat-lihat dan memilih anggrek serta beberapa jenis tanaman lain seperti sarang semut dan pakis. Selain mengisi penuh bak pick-up dengan berbagai jenis tanaman, beberapa anggrek juga digelar di bawah beralaskan terpal plastik ala kadarnya. Ada juga yang sudah dilengkapi dengan pot.

Seorang ibu memegang rangkaian anggrek yang sudah ditempatkan di sabut kelapa. Sejenak kudengar dia bertanya kalau berbunga seperti apa bentuk bunganya. Sang penjaja, Haris, dengan sigap mengambil sebuah foto dari serakan puluhan foto di atas tikar. “Ini Bu, nantinya akan berwarna kuning, “ ujarnya sambil memperlihatkan foto tersebut kepada sang penanya. Si Ibu nampak mengangguk puas.

Sesaat kemudian, kudengar beberapa pembeli lain melakukan tawar menawar harga anggrek serta beberapa jenis tanaman lain seperti sarang semut dan pakis. Ternyata, harga yang ditawarkan Haris dan teman-temannya sangat murah, berkisar antara Rp 5.000 – 10.000. Beberapa helai anggrek bulan yang disematkan di sabut kelapa misalnya, berharga mulai dari Rp 5.000. Jika agak gigih menawar, harga bisa lebih turun.

Akhirnya, aku turun ikut melihat anggrek-anggrek tersebut sambil mencocokkan dengan foto-foto yang berserakan di tikar. Kesempatanku menanyakan jenis dan warna bunga anggrek yang nanti akan muncul dari setiap helai daun, membuatku bisa berbincang lebih lanjut dengan sang penjual. Haris mengatakan kalau semua anggrek, sarang semut dan pakis tersebut berasal dari Halong dan Loksado (Kalimantan Selatan) dan Batu Kajang (Kalimantan Timur). Penduduk setempat menjual kepada Haris dkk, yang lalu menjualnya kembali.

Mataku mengerling ke arah bak pick-up yang dipenuhi berbagai tanaman. Nampaknya cara memetik tanaman ini asal-asalan. Aku teringat kunjunganku ke Loksado setahun lalu ke tempat budidaya anggrek yang dilakukan masyarakat setempat. Beberapa yang merasa prihatin akan nasib anggrek Meratus mengeluhkan praktek jual beli anggrek yang menurut mereka bisa mengancam keberadaan tanaman eksotis nan cantik ini. Tambahan lagi, kerusakan hutan yang dialami hutan Kalimantan menjadi senjata pemusnah jitu berbagai jenis anggrek dan tanaman lain seperti kantung semar.

Sempat juga aku membaca beberapa tulisan di media massa tentang upaya penelitian anggrek Kalimantan, misal di Kalimantan Barat dan Tengah. “Setelah beberapa kali meneliti anggrek di alam, kami terkejut menyaksikan porak porandanya hutan kita yang mengancam kelestarian anggrek, “ ujar seorang peneliti anggrek di Kalimantan Barat yang kubaca di koran lokal Kalimantan Selatan.

“Aktifitas pembalakan liar, perburuan para penggemar tanaman langka, penyelundupan ke negara lain dan kebakaran hutan menjadikan berbagai jenis anggrek menjadi langka,” kata seorang pejabat berwenang dari Departemen Kehutanan di Kalimantan Barat. Lebih lanjut dijelaskan beberapa jenis anggrek Kalbar seperti anggrek hutan paraphalaeonopsis, anggrek kantong semar, anggrek belang, dan anggrek Singkawang sudah mulai punah.

Mmh, alangkah sayang jika tanaman cantik ini musnah. Padahal, salah satu kebanggaan Kalimantan ini konon telah terkenal ke Eropa sejak 1895, khususnya spesies paphiopedilum dayanum. Sampai kinipun prestasi anggrek Kalimantan tetap luar biasa. Beberapa jenis yang terkenal unik dan masih asli, pada pameran anggrek dunia di Belanda 1984 dan Inggris 1991 masing-masing mengantongi gelar juara II dan I.

Aku memandang anggrek-anggrek yang ada di depan mataku. Lalu, aku memilih 2 jenis dan kemudian membayar dengan harga yang sangat murah untuk total 4 anggrek. Anggrek-anggrek ini akan ditanam di halaman rumahku, seperti halnya berbagai jenis tanaman lain, termasuk beberapa yang langka. Mudah-mudahan apa yang kulakukan, tidak menyumbang pada ancaman kepunahan beberapa jenis anggrek Kalimantan.

Sambil menenteng anggrek yang kubeli, terngiang ucapan salah satu pemuda pelaku budidaya di Loksado setahun lalu, saat memberikan beberapa jenis anggrek Meratus kepadaku, “Jika anggrek yang sudah diberikan ini memiliki anak, tolong induknya dikembalikan lagi ke Loksado. Dengan demikian anggrek kami tidak akan punah.”

Posted by Tami at 17:20:56 | Permalink | Comments (2)

Saturday, March 1, 2008

Menenun Rejeki, Mempertahankan Tradisi

“Saya baru bekerja di sini 3 minggu, Bu. Dan katanya perbulan dibayar Rp 100 ribu. Lumayan untuk bantu menyekolahkan adik.” (Nur, 20 tahun, pengrajin tenun Sukarara, Lombok Tengah)

Suatu hari di Lombok pada Februari 2008, saat memasuki desa Sukarara yang terkenal tradisi tenunnya, aku bermimpi akan menapak ke dunia kain. Ternyata, desa yang berada di Kabupaten Lombok Tengah itu menyambut dengan kesepian. Pikirku akan bertemu dengan lambaian kain yang dijemur di bawah matahari untuk dikeringkan. Ternyata tidak. Barulah saat memasuki suatu bangunan besar, yang ternyata koperasi penduduk setempat, mata mendapat suguhan yang lumayan meriah: kain tenun dan ikat berbagai ukuran, corak dan warna.

Di koperasi Dharma Setya inilah kebanyakan penduduk desa menitipkan hasil kerajinan mereka untuk dijual dengan harga yang lebih layak. Jadi kemudian, tidak hanya kain yang dipamerkan di sini untuk menarik perhatian pengunjung merogeh kocek. Berbagai bentuk kerajinan khas setempat juga ditemui seperti kursi dan meja berukir, perlengkapan dapur, patung dan berbagai hiasan dinding.

Di luar bangunan yang menjadi tempat display berbagai hasil olah tangan penduduk Sukarara nampak ada dua berugak - -semacam bale-bale tempat musyawarah, menerima tamu, mengobrol ataupun sekedar melepas lelah bagi orang Lombok- -. Di setiap berugak, ada dua perempuan sedang asyik menenun, memamerkan keahlian mereka dalam memadukan warna dan corak, menjelmakan helai-helai benang menjadi kain cantik siap jual. Di sinilah Nur duduk selonjor sambil menggerakkan tangan dengan lincah untuk memainkan alat tenun dan menyelipkan setiap helai benang warna secara bergantian untuk mendapatkan variasi warna dan corak menarik. Aku terpesona melihat kelihaian Nur memainkan tangan, menahan alat tenun dengan kaki dan memadukan warna-warna benang menjadi kain.

“Perlu konsentrasi dan ketekunan, Bu,“ jelas Nur memecah keterpesonaanku. Kemudian Nur mengatakan sejak usia 10 tahun ia mulai belajar menenun. Perlu waktu sebulan baginya untuk menguasai motif dasar bagi para pengrajin tenun, yaitu motif Bali-Lombok. Rata-rata kemudian, seorang penenun bisa menyelesaikan kain ukuran sedang dengan motif ini antara 2-3 minggu. Berangsur, perempuan yang hanya bersekolah sampai kelas 2 SMP ini mampu menguasai berbagai motif termasuk motif yang dianggap paling susah, Subanala. “Wah, kalau Subanala rata-rata 1,5 bulan baru selesai, “ tambah Nur tersenyum manis.

        Belajar Menenun dari Nur                 Salah Satu Motif Tenunan Nur

Melihat ketertarikanku, Nur menawarkan untuk memberikan kursus kilat menenun. Jadilah aku duduk berselonjor, menyadarkan kaki pada bilahan kayu, mengepaskan pinggang pada sejenis alat yang dililikan di seputar pinggang dan belajar memadukan warna dan corak pada setiap helai benang. Ups, susah ternyata. Pantas butuh waktu sampai sebulan untuk belajar. Tidak hanya diperlukan kepekaan rasa untuk menentukan corak dan warna, tapi juga ketrampilan untuk memadukan gerak tangan dan kaki. Aku sampai mengeluarkan peluh.

Merasa cukup dengan kursus kilat menenun, aku menyerahkan waktu kepada Nur untuk melanjutkan show-nya. Nur meneruskan, sambil berkisah. Ibunya sehari-hari bekerja di sawah. Pulang dari sawah, sang Ibu juga melakukan kegiatan tenun. Nur, seperti halnya gadis-gadis lain di Sukarara, akan menghabiskan waktu seharian untuk bertenun. Hasilnya dijual untuk menambah kebulan asap dapur. “Lumayan Bu, daripada tidak ada tambahan sama sekali, ” tegasnya.

Nur makin bersemangat berbagi ketika tahu asalku dari Kalimantan Tengah. “Bapak saya mencari uang sampai ke Kalimantan Tengah. Dia bekerja di perusahaan sawit, “ tutur gadis berkulit coklat ini. “Maklum Bu, orang di sini miskin-miskin. Sawah dan tenunlah yang bisa menghidupi, walau hanya untuk keperluan sehari-hari. Kalau ingin mendapat lebih, harus punya penghasilan lain seperti yang dilakukan Bapak,” imbuh Nur tanpa terlihat mengeluh.

Aku jadi teringat penjelasan Pak Subhan, yang setia menemani rombongan sampai Sukarara, bahwa koperasi ini didirikan untuk membantu penduduk agar hasil kerajinan tangan mereka bisa terjual lebih layak. Berkat adanya koperasi, harga sebuah kain menjadi lebih baik. Semakin rumit motif, semakin menarik warna dan semakin halus bahan, harga sebuah kain bisa ratusan ribu bahkan mencapai jutaan rupiah. “Mudah-mudahan imbasnya bisa ke penenun ya Pak,” ujarku kepada Pak Subhan.

Tenun ternyata tidak hanya bernilai ekonomis. “Kalau tidak bisa menenun, tidak laku, Bu. Jadi perawan tua nanti,” Nur menambah penjelasan tentang arti penting menguasai ketrampilan tenun bagi perempuan Sukarara. Aku menganggu, menjadi begitu paham.

Tidak terasa waktu berlalu. Setelah menghabiskan waktu hampir setengah jam berbincang dengan Nur dan membeli dua kain gantungan dinding berwarna coklat tanah bermotif manusia, aku bersama rombongan menaiki mobil melanjutkan perjalanan ke belahan pulau Lombok lainnya. Mobil berjalan meninggalkan kesanku akan tenun. Membuatku paham tentang berbagai arti tenun bagi Sukarara dari segi tradisi, ekonomi dan sosial. Tenun berlangsung, kehidupan Sukarara berlanjut.

Posted by Tami at 17:56:02 | Permalink | Comments (2)