Monday, June 30, 2008

Kekeluargaan dalam Kemasan Ekologi Politis

Sepanjang Mei dan Juni 2008 di Eropa kurasa sangat mengasyikkan. Banyak hal yang kupelajari. Di Institute of Social Studies, Den Haag, kursus Political Ecology berlangsung cukup intens. Sebagai informasi, Political Ecology mengajarkan analisis yang lebih tajam, holistik dan komprehensif dalam melihat satu kejadian atau fenomena, bahwa sesuatu yang terjadi di tingkat lokal, dipengaruhi oleh tingkat yang lebih tinggi (kabupaten, nasional bahkan global). Apa yang sedang terjadi di tingkat global akan berpengaruh pada tingkat yang lebih bawah. Kejadian yang ada dan saling mempengaruhi ini umumnya berdampak pada peminggiran suatu kelompok dan menguntungkan kelompok lain. Sumber daya alampun kerap menjadi korban eksploitasi dari kekuasaaan global (pasar) yang mengakibatkan lokal menguras habis-habisan sumber dayanya untuk kemudian mendapatkan return yang tidak setara. Inilah yang coba dibongkar melalui analisis ekologi politis.

Suasana perkuliahan yang mendukung, pengajar dan mentor yang cukup profesional, membuat materi yang berat dan cukup padat menjadi nyaman dan lezat dikunyah otak. Bahan yang bejibun dalam Bahasa Inggris menjadi lebih bisa dipahami karena adanya diskusi malam yang kerap dilakukan bersama teman-teman.

         Di satu seminar di ISS                Habis kuliah, duduk depan ISS
         Foto: Budi ISS                               Foto: Budi ISS

Total 17 orang yang datang dari penjuru Indonesia menjadi terbagi tiga, terutama kelompok anak lelaki di lantai dua, jika hampir tiba waktu makan malam. Terbagilah tiga kelompok sesuai keahlian masing-masing: juru masak, tukang belanja dan pencuci piring. Kelas juru masak paling elit, sementara tukang piring sudah tidak bisa naik kelas lagi karena kemampuan sudah mentok. Demikian komentar seorang teman yang disambut gelak tawa yang lain.

         Rame-rame masak                        Santai di Scheveningen
         Foto: Budi ISS                                 Foto: Budi ISS

Suasana penuh tawa, canda dan terkadang nakal saling mencela inilah yang sangat membantu membuat betah satu sama lain. Belajar, masak, jalan dan belanjapun menjadi kegiatan bersama atau paling tidak berkelompok. Kehidupan yang lebih banyak dihabiskan di Den Haag pun menjadi tidak terasa lewat sebulan, menyisakan kenangan dan kenyamanan yang tidak terlupakan. All is one, 17 menjadi 1.

Posted by Tami at 05:49:50 | Permalink | Comments (2)

Monday, June 9, 2008

Masih dari Belanda: Budaya Bersepeda, Resapan Air dan Kanal

Ada beberapa pelajaran yang kutemui di Belanda. Pertama, sikap dan gaya hidup yang menunjukkan ramah lingkungan. Transportasi umum bersih dan ramah, tidak mengeluarkan asap polusi. Sarana yang mudah dijangkau dan menyenangkan membuat banyak orang memilih untuk naik trem atau kereta api (train) untuk bepergian jarak jauh.

Untuk jarak dekat, sepeda menjadi “keharusan” bagi semua orang yang tinggal di Belanda. Mungkin di Belanda lebih banyak jumlah sepeda daripada penduduknya, komentar seorang teman yang sudah lebih dari 10 tahun tinggal di Belanda, menikah dan beranak pinak di sana. Jangan heran di sana menjadi pemandangan lazim jika lelaki atau perempuan bergaya eksekutif atau mengenakan baju mode paling mutakhir nampak begitu nyaman mengayuh sepeda, yang rata-rata menyerupai sepeda onthel di Indonesia. Jadi, biarpun Belanda berpenduduk sangat padat, polusi bukanlah sesuatu yang lazim ditemui layaknya Jakarta.

Hal kedua yang patut ditiru adalah penjagaan resapan air. Utamanya jalan yang diperuntukkan bagi pejalan kaki dan pengendara sepeda, bahan penutup jalan adalah sejenis batu yang dibentuk persegi empat, jajaran genjang atau bentuk lainnya. Yang unik, ketika disusun untuk membentuk trotoar misalnya, sengaja dibiarkan ada celah selebar beberapa mili atau sentimeter. Tujuannya tidak lain agar air hujan bisa meresap di antara celah-celah dan merembes ke tanah. Beberapa kali juga aku menemukan rumput-rumput kecil menyeruak bebas di antara celah mungil tadi. Pelajarannya, alam memang bisa diubah, tapi peruntukkannya bisa tetap dijaga.

Hal lain yang kusukai adalah keberadaan kanal yang banyak ditemui di Belanda. Di kanal tersebut, air mengalir bebas. Jarang sekali aku melihat sampah ditemui di kanal. Jikapun ada, paling hanya reruntuhan daun atau ranting yang jatuh dari pepohonan yang tumbuh subur di sepanjang kanal. Mungkin ini yang harus ditiru kota-kota di Indonesia yang dilewati sungai. Sistem kanal yang dibuat cukup lebar, membuat air, termasuk air hujan, bisa tertampung dan mengalir dengan baik. Budaya tidak membuang sampah di kanal juga menjadikan kanal tidak tersumbat. Mmh, beda dengan Jakarta dan Banjarmasin, keluhku, di mana sungai-sungai berukuran kecil atau sedang kerap tersumbat di sana sini dan kemudian menimbulkan bau tidak sedap. Akibatnya, ada hujan sedikit saja seperti di Jakarta, bisa dipastikan luapan air akan terjadi.

Selain itu, kanal yang terjaga dengan baik, kadang dilengkapi dengan bangku di bawah pepohonan yang tumbuh di pinggirnya, menjadikan kanal-kanal di Belanda sebagai tempat nyaman untuk duduk sekedar melepas lelah. Tenang sambil mengawasi riak air dan itik berenang. Begitulah yang kualami ketika aku menyempatkan diri duduk di pinggir kanal tepat di seberang ISS.

Posted by Tami at 22:45:29 | Permalink | Comments (2)

Sunday, June 8, 2008

MENJEJAK BELANDA: WELKOM TO HOLLAND

Dari 26 Mei sampai 23 Juni, aku dan beberapa teman dari suatu forum NGO lingkungan terkenal di Indonesia mengikuti kursus Political Ecology di Institute of Social Studies di Den Haag, Belanda.

Sesudah terbang 2 jam dari Jakarta ke Kuala Lumpur, kemudian lanjut ke Amsterdam selama 12 jam, mendaratlah burung besi Boeing 747-400 di Schipol. Dua teman sudah menjemput, Grace dan Anna. Angin yang berhembus cukup kencang di tengah-tengah musim semi membuatku harus mengancingkan jaket dan memasang syal. Lumayan bisa membantu menghangatkan badan.

Belanda akhirnya kujejaki. Waktu berbelas jam di pesawat ditambah rasa mengantuk yang luar biasa akibat hampir tidak tidur, dikalahkan oleh rasa dingin. Mungkin 11 atau 12 derajat. Persis musim semi di Melbourne. Dari Schipol, moda transport berganti. Giliran kereta bertingkat dua yang dicicipi. Schipol ke Holland Spur memakan waktu sekitar 45 menit. Keluar dari stasiun kereta, berganti trem yang ditempuh selama 10 menit menuju The Hague alias Den Haag.

Turun di stop Mauritskade, aku dan rombongan berjalan kaki ke hostel selama 10 menit. Angin masih menderu agak kencang, membuat kami merapatkan jaket dan menarik syal rapat-rapat. Ada sedikit insiden menarik saat Mukti menyadari ranselnya yang berisi laptop, hp dan beberapa benda berharga ketinggalan di trem. Dengan sigap Anna menghubungi petugas info trem dari hpnya dan beberapa saat kemudian mengatakan mungkin besok ransel Mukti bisa diambil, kalau ada yang mengembalikan. Aku sempat melirik Mukti yang terlihat pucat dan bersalah karena telah mengabaikan tas berharganya. Dasar Ambo…

Sesudah check-in dan pembagian kamar– aku mendapat kamar 9 — setengah mengantuk beramai-ramai kami berjalan kaki menuju kampus Institute of Social Studies (ISS). Berjalan sekitar 10 menit lurus dari pintu belakang hostel, kami sempat melewati Istana Resmi tempat berkantornya Ratu Belanda Beatix. “The flag is on,” jelas Anna. Bendera berkibar berarti sang Ratu sedang ada di tempat. Jika bendera turun, berarti yang bersangkutan berada di tempat lain (Hari-hari berikutnya sampai Jumat, aku melihat bendera terus berkibar di istana mungil ini. Berarti Ratu memang rajin bekerja 5 hari dalam seminggu. Mmh…).

Bertemu dengan Prof. Ben White dan Dr. Murat Arsel, dua pengajar utama kursus Political Ecology, sangat menyenangkan. Ben yang beristrikan perempuan aktivis pendiri LSM Perempuan pionir di Indonesia bersikap sangat ramah. Briefing tentang modul yang akan diberikan serta agenda kursus diberikan secara singkat. Rupanya mereka sadar bahwa rasa cape dan jetleg masih mendera. Sesudah lunch bersama di kantin kampus, pertemuan pertama selesai. (Ada hal menggembirakan sewaktu makan, karena Anna berhasil membawa tas Mukti dengan selamat sejahtera tidak kurang suatu apapun).

Dari kampus, ternyata perjalanan dilanjutkan dengan orientasi tempat. Grace dengan sabar menunjukkan beberapa tempat penting yang wajib diketahui, seperti tempat penjualan sim card (kartu hp Belanda), super market dan apotik. Agak mengagumkan melihat uniknya pertokoan yang berderet rapi. Sim Card Belanda, yang menurut para senior paling murah dan efektif, Lebara, kubeli dan segera kupasang di hp. Agak kesal aku karena ternyata telfon masih tidak bisa dipakai untuk sms dan hanya bisa untuk telfon — yang tentu saja memakan biaya lebih mahal –. Di super market aku sempat membeli beberapa bahan makanan.

Aku hampir menyerah karena mengantuk dan memutuskan untuk pulang cepat ke asrama. Tapi mengingat jalan yang dilalui masih belum kuhafal, daripada tersesat, aku akhirnya tetap bergabung dengan rombongan mengitari centrum. Peduli amat dengan rasa kantuk…

Malam hari teman-teman ISS yang mendapat beasiswa dari pemerintah Belanda, Stuned, berbaik hati membuatkan makan malam dan mengadakan acara selamat datang kepada 16 peserta kursus dari Indonesia (minus Boyce, yang baru datang keesokan harinya). Sesudah ber-haha hihi– termasuk kaget karena bertemu Erwanto, teman lama yang kukenal waktu aku beberapa kali ke Aceh –, menjelang jam 11 aku memutuskan untuk masuk kamar, tidur dan bermimpi panjang. Masih ada waktu empat minggu di Belanda dan Eropa untuk dijalani, Tami. Selamat tidur.

Posted by Tami at 13:47:00 | Permalink | Comments (2)