Thursday, July 31, 2008

MAKNA ISRA MI’RAJ: HORIZONTAL, VERTIKAL DAN SUPER REVOLUSI

Saat Isra Mi’raj, Nabi Muhammad melakukan perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa. Kemudian beranjak naik ke langit, lapis demi lapis. Dalam kediamanku, tiba-tiba aku terfikir tentang Isra Mi’raj. Bagi sang Nabi Besar, ia bermakna luar biasa dan membuatnya memiliki keajaiban yang tidak dimiliki para Nabi lain. Muhammad bahkan sanggup berada di langit dan menemui para Nabi yang telah lebih dahulu berpulang.

Tapi, apa bagiku sebagai manusia? Saat melakukan Isra, ada pengertian horizontal yang dilakukan. Horizontal bisa bermakna sejajar. Makna horizontal ini dalam konteks kekinian yang sedang dihadapi bisa diartikan bahwa kita diajak untuk selalu melihat manusia sama derajatnya. Saat menyadari hal ini, perlakukan kita terhadap sesamapun menjadi lebih baik dan lebih arif. Tidak lagi kita membiarkan diri berpangku tangan saat melihat yang lain butuh pertolongan. Tidak lagi kita menjadi begitu serakah menumpuk apa yang seharusnya bukan menjadi hak kita, sementara di belahan nusantara atau bumi lain, masih ada saudara kita sesama manusia yang hidup dalam kondisi mengenaskan dan tidak layak. Buka mata lebar-lebar untuk melihat, telinga untuk mendengar, hati untuk merasakan, otak berfikir bagaimana sebaiknya, dan kaki tangan membantu kita mewujudkan tindakan ke sesuatu yang lebih baik bagi banyak orang.

   Potret Masyarakat Miskin Gn. Kidul          Kernyitan Dahi Tetua di Malinau

Juga, saat kita melihat apa yang ada di bumi dan semesta ini sebagai ciptaan Tuhan memiliki hak hidup dan berkembang yang sama, maka sudah tepat kiranya jika kita mencoba sekali lagi melihat apa yang telah kita perbuat, andil apa secara individu, kelompok, maupun massal yang dilakukan, sehingga kehidupan mahluk lain menjadi begitu terancam? Banyak jenis hewan dan tumbuhan telah punah yang terjadi karena tindakan manusia, langsung maupun tidak langsung, disadari maupun tidak disadari.

Bumi pun berontak menunjukkan sikap. Ketika ambang batas daya tahan dan kesadaran bumi sudah dilangkahi manusia begitu rupa, bumi yang selama ini mengayomipun menjadi bereaksi. Dalam berbagai bentuk, ketidaknyamanan hidup di bumi mulai dirasakan. Berbagai istilah ilmiah seperti pemanasan global sebenarnya merupakan cara kita untuk menggambarkan ketidaknyamanan bumi akibat ulah manusia. Jika sikap kita tidak berubah, bukan mustahil dalam waktu singkat, bukan hanya ketidaknyamanan yang kita terima, bumi bahkan bisa menolak kita. Bisa jadi ini merupakan tragedi luar biasa, saat bumi yang selama ini menjadi orangtua manusia yang melindungi dan mengayomi, menjadi tidak sanggup lagi menerima perlakuan anaknya yang telah menjadi Malin Kundang.


 
       Bola Api (Karya: Alif)                         Lihat Ke Langit

Kiranya, makna horizontal Isra menjadi penting untuk menggugah serta meluruskan kembali sikap dan tindakan kita terhadap sesama manusia, juga terhadap bumi dan isinya.

Selain itu, makna perjalanan Nabi berabad-abad lalu juga bermakna vertikal. Rasa kemanusiaan dan kepedulian yang makin tipis, bisa jadi menunjukkan tingkat ingatan dan pemahaman yang semakin menurun terhadap Yang Kuasa. Allah berada di atas, secara vertikal menjadi “panutan” manusia dalam bersikap dan bertindak. Mi’raj mengajak kita untuk tetap melihat ke atas, selalu mengingat sang Pencipta. Konsekuensinya, pada saat kita selalu mengingat Allah, perbuatan dan sikap kita pun menjadi lebih manusiawi, sesuai dengan apa yang digariskan Allah. Dalam bentuk tindakan, kita menjadi manusia yang lebih baik lagi, menjadi Khalifah Tuhan di bumi yang adil tidak hanya bagi diri sendiri, tapi mengayomi manusia lain dan seluruh isi bumi. Tindakan merusak-pun menjadi sesuatu yang selayaknya kita tinggalkan jauh-jauh. Ingatan atas ke-Ilahi-an dan segala konsekuensinyalah yang coba diketuk dalam makna horizontal Mi’raj.

Makna ketiga dari Isra Mi’raj adalah super revolusi. Saat melakukan perpindahan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, dan kemudian melanglang naik ke langit, semua dialami Nabi Muhammad secara begitu cepat. Pergerakan dan perpindahan begitu luar biasa. Super revolusilah yang terjadi. Dalam konteks kekinian, apa makna super revolusi ini? Paling tidak bagi saya, super revolusi berarti kita sebagai manusia yang diberi akal fikiran dan hati nurani, bisa berfikir cepat dan bertindak cepat, sendiri maupun bersama, untuk melakukan perubahan terhadap segala kondisi krisis yang sedang kita hadapi, baik krisis kemanusiaan, lingkungan dan ke-Ilahi-an.

Dengan terus menerus merenungkan, memahami dan kemudian mewujudkan makna Isra Mi’raj dalam tindakan, mudah-mudahan akan banyak perubahan dan kemajuan yang bisa kita dapatkan. Bumipun bisa lebih sayang terhadap kita. Demikian juga anak-anak menjadi lebih bisa tersenyum lebar melihat masa depan mereka yang lebih baik.

     Bersampan Bersama Sunset            Senyum Ceria Bocah Setulang

Banjar Baru, 30 Juli 2008

Posted by Tami at 14:33:11 | Permalink | Comments (2)

Wednesday, July 30, 2008

CERPEN: PEREMPUAN YANG CEMBURU

May, demikian suamiku memanggilnya. Aku tidak tahu nama panjangnya. Yang jelas, yang aku tahu dia adalah May. Suatu malam, sebulan lalu, tiba-tiba sering kudengar sms masuk menjelang tengah malam ke hp Ridho. Mula-mula kupikir itu biasa. Tapi esoknya dan esoknya lagi hal itu berulang. Anehnya, Ridho selalu cepat menghapus sms-sms itu. Sesekali dia nampak melirik ke arahku, khawatir aku memergokinya.

Seminggu kemudian, sepulang kerja, kuajak sahabat akrabku, Alma, berbincang. Kuceritakan tentang kecurigaanku dan bukti tentang masuknya sms menjelang dan saat tengah malam. “Harus dicek, “ tegas sahabatku.

Aku menggeleng bingung, “Aku tidak tahu caranya. Aku tidak pernah mengalami ini.”

“Cek hpnya. Lihat sms yang masuk dan keluar. Dari situ mungkin ada petunjuk,” Alma mengaduk cafe latte yang masih nampak hangat di hadapannya.

“Aku gak bisa, Al. Aku belum pernah melakukannya. Ridho akan marah besar jika tahu aku mengutak-atik privasinya. Aku..” Tergugu rasanya. Aku hampir tidak mampu berkata apa-apa.

Alma menarik tanganku dan menggenggamnya erat. “Cobalah. Tidak ada salahnya, kan?”

Malam itu, saat Ridho tertidur pulas, aku mengecek hp-nya yang tidak pernah terkunci. Ya Allah, hampir pingsan rasanya aku membaca tiga sms terakhir yang ada di inbox. May namanya.

SMS 1: “Tolong aku, Mas. May bingung. Tidak tahu harus berbuat apa-apa. Kandunganku sudah semakin besar.”
SMS 2: “Yah, May setuju. Di Kafe Nasional lebih baik kan Mas?”
SMS 3: “Mas, jangan lupa ya. Kangen juga aku, sekalian kita ketemu. Wah, tidak sabar rasanya menanti bulan depan.”

Dengan cepat otakku mencatat nomor May. Saat aku hendak merangsak jauh mengecek hp, tiba-tiba Ridho bergerak mengubah posisi tidur. Hampir mati berdiri aku rasanya. Dengan cepat kuletakkan kembali hp di meja kecil di pojok kamar. Aku tidak punya nyali lagi mengecek sent items dari hp itu. Masa bodoh. Aku diam-diam menangis malam itu. Untuk pertama kali sejak aku menikah dengan Ridho selama lebih dari 7 tahun, aku merasa sesuatu menusuk menikam ulu hati.

Aku bertemu kembali dengan Alma. Setelah menceritakan isi sms May, Alma terlihat berkerut. “Nampaknya memang dia selingkuhan Ridho, Sis.”

“Tapi Ridho, dia terlalu baik. Tidak mungkin dia tega melakukannya.”

“Siska, jangan naif,” Alma memotong agak ketus.

Akhirnya aku menyerah. Kuturuti saran Alma untuk menyewa seseorang untuk melacak May dari nomor hpnya. Seminggu kemudian, pria tersebut, yang kubayar cukup mahal, bisa memberikan info awal tentang May. Dia berusia 3o tahunan dan belum menikah. Dia tinggal di Bandung, tempat di mana suamiku beberapa kali pergi dengan alasan meeting kantor. Geram aku. Mual aku. Ingin rasanya muntah. Terlebih ketika pria informan itu mengatakan, May sedang hamil muda.

Dan inilah harinya. Sejak semalam aku gelisah. Hampir tidak bisa tidur. Kepada Ridho kukatakan aku sedang tidak enak badan dan minta tidak dibangunkan. “Aku mau ijin hari ini, Say, “ bohongku kepada Ridho yang terlihat iba menatapku. Aku tidak peduli. Kupejamkan mata. Aku memang sakit. Hatiku yang sakit. Tikaman itu terasa makin menghujam di dada. Sesaat, aku merasakan luapan di dada yang tidak bisa kutahan. Sakit itu bercampur amarah. Aku… aku mulai membenci suamiku!

Setelah tahu Ridho sudah berangkat, aku bergegas beranjak. Tanpa sempat mandi dan berdandan, hanya mencuci muka dan menggosok gigi, kukenakan pakaian sekenanya. Tidak perlu rapi, karena toh, nanti, sesuai diskusiku dengan Alma, aku menyamar. Sepatu pantofel kukenakan, dengan celana panjang hitam dan hem maron kedodoran, beserta syal krem yang kusilang di kepala, aku segera mengeluarkan motor dari garasi. Semua pakaian untuk keperluan menyamar kubeli 2 hari lalu di Tanah Abang. Dengan ditemani Alma, aku memilih pakaian yang betul-betul berbeda dari biasanya yang kukenakan. Masa bodoh dengan segala trend terbaru, gerutuku. Hari ini adalah hari di mana aku akan melabrak Ridho dan May, selingkuhannya.

Dalam waktu setengah jam, aku sudah berada di jalan, tepat di seberang Kafe Nasional. Sesudah kuparkir motor, aku siap-siap menyeberang. Aku menajamkan pandanganku mencari sosok perempuan itu. Aku belum pernah melihatnya. Tapi sesuai pesan yang diterima Alma dari sang informan, May akan mengenakan batik corak kebiruan dan memakai tas warna coklat. Walaupun aku sempat bingung mengernyitkan dahi - -dari mana Alma tahu tentang May sedetil itu – aku tidak terlalu ambil pusing. Rasa geram dan cemburuku yang saat ini kurasakan semakin memuncak.

Lima menit aku berdiri di seberang, mencoba mencari-cari perempuan berbatik kebiruan dan mengenakan tas coklat. Lalu lintas yang lumayan padat cukup menghalangi pandanganku. Tiba-tiba, itu dia. Kulihat perempuan itu duduk, tepat di pinggir bagian luar kafe. Dan… Ya Tuhan. Dia duduk semeja dengan suamiku. May memang sedang bertemu dengan Ridho. Aku sudah hampir muntah, pusing, geram, marah. Semua bercampur aduk.

Tanpa melihat kanan kiri, aku segera menyeberang jalan. Tidak kuhiraukan beberapa kali klakson berbunyi. Peduli setan, dua meter lagi aku sampai. Mataku terus menatap pasangan yang nampak asyik berbincang itu. Tiba-tiba, Ridho menoleh ke arahku dan matanya terbelalak kaget. Aku hendak berteriak geram ketika blas….. Aku terhempas, terkapar. Yang kutahu sekilas, sebuah motor yang melaju sangat kencang menabrakku.

“Siska…,” Ridho melompat. Memeluk tubuhku, mengguncang sesekali. Kerumunan orang semakin banyak. Aku bingung, kenapa tiba-tiba Ridho memeluk perempuan yang mirip aku. Padahal aku berada di antara orang-orang yang berkerumun. Kucoba menghampiri Ridho yang sedang menangis dan berteriak histeris. Kusentuh bahunya, dia tidak bergeming. Kucubit tangannya, dia tidak bereaksi sedikitpun.

Aku makin bingung. Panik. Kudekati May. Dia tidak bergeming, tetap duduk di mejaku. Anehnya, dia malah sedang asyik sms. Mmh, keterlaluan perempuan lacur ini. Geram aku melihat kelakuannya. Kuhampiri untuk meludahi mukanya. Sebelumnya, ingin kutarik rambutnya. Ya, betul-betul kutarik. Tapi, dia tidak peduli. Kutarik kembali. Tidak ada perubahan, dia tetap asyik dengan hp-nya.

Akhirnya kugerakkan badan untuk bisa duduk tepat di hadapannya. Dan … aku hampir melorot. Lemas melihat May yang tidak lain adalah Alma. Kurangajar. Kulayangkan tangan ke mukanya. Tapi dia sepertinya tidak merasakan apa-apa. Malah, tiba-tiba dia tersenyum lebar.

Penasaran kudekati dia. Ingin kurampas hp-nya. Dia seperti tadi, tidak peduli sedikitpun, seolah aku tidak ada di dekatnya sama sekali. Aku sudah tidak peduli. Mataku memelototi apa yang sedang diketiknya. Untuk sesaat, aku betul-betul sudah kehilangan akal membaca isinya: “Mas, caramu menabraknya luarbiasa. Dia betul-betul terkapar tidak berdaya. Tidak akan ada lagi yang menghalangiku menjadi wakil direktur bulan depan. I love u, Mas.”

Bangsat, sialan, sundal! Alma sundal….!!!!!!!

Sedetik Alma berdiri. Aku yang terduduk lemas melakukan upaya terakhir, mencoba menjegal kakinya. Tapi dia tetap bisa melenggang bebas tanpa kendala.

Tinggallah aku yang menangis meraung-raung tanpa seorangpun bisa mendengarku. Tinggallah suamiku, yang makin terisak, di tengah kerumunan orang yang sedang menantikan ambulans dan polisi.

Banjarbaru, 30 Juli 2008


  
 Zombie (Oleh Alif, 13 Jan 07)
   
   Fosil Dino Pelangi (Oleh Alif, 6 Mei 2007)

Posted by Tami at 17:50:14 | Permalink | Comments (1) »

Tuesday, July 29, 2008

PEREMPUAN DARI BERBAGAI PELOSOK NUSANTARA

Saat aku berkesempatan menjelajah beberapa tempat unik dan menarik di Indonesia, aku diberkahi waktu untuk bisa datang, duduk, berbicara ataupun sekedar menatap beberapa perempuan yang kutemui. Beberapa di antaranya berusia sangat lanjut.

Tidak peduli apa yang kulakukan, mereka masih asyik terus dengan pekerjaannya. Perempuan renta namun perkasa yang kutemui sedang menyuburkan tanah gersangnya, saat aku dan beberapa teman dari Dephut melakukan kegiatan Hutan Kemasyarakatan Juli 2007 di Gunung Kidul, Yogyakarta, membuatku tersentak dan semakin menyadari betapa penting arti tanah sebagai alat dan aset utama untuk bertahan hidup bagi jutaan orang di Indonesia. Ada lagi perempuan yang diapit oleh anak dan temannya, nampak ceria sesudah pulang membawa hasil hutan di wilayah Gunung Kidul. Namun, mereka nampak agak malu-malu saat kufoto.

    Yang Tua Yang Perkasa                        Membawa Pulang Hasil Hutan
    Gunung Kidul, Yogyakarta                   Gunung Kidul, Yogyakarta

Atau lihat juga bervariasinya tatap mata dan raut wajah dua perempuan yang terbilang cukup tua yang kutemui di Desa Setulang, Malinau, Kalimantan Timur, Agustus 2007. Satu memperlihatkan rasa lelah sehabis pulang mengolah ladang, sementara satunya lagi sesudah menyelesaikan tugas menganyam topi dari sejenis daun dan memasak, masih tetap memperlihatkan senyum jenakanya.

     Kelelahan Pulang Berladang               Tetap Ceria Menjelang Senja
     Desa Setulang, Malinau, Kaltim          Desa Setulang, Malinau, Kaltim

Beberapa wajah unik menarik para perempuan penjuru juga disuguhkan di sini. Ada Ayu yang memang ayu, seorang penjual kartu pos di Pura Besakih, Bali, yang harus membanting tulang menghidupi diri dan keluarganya. Dia kutemui saat aku dan sahabatku Agung Ayu dengan gagah beraninya menapaki tingginya tangga-tangga Pura Besakih sampai menuju tingkat tertinggi, Pura Gelap pada April 2007. Tengok lagi seorang nenek yang pernah kutemui Mei 2007 dalam perjalananku menuju Toraja. Saat dia asyik mencuci piring di seberang warungnya, diam-diam aku mengambil fotonya. Yang terlihat darinya tatapan tajam, tegas dan berani.

      Multi Peran Perempuan                   Tajam Menatap
      Besakih, Bali                                          Toraja, Sulawesi Selatan

Kemudian, kita beranjak ke Jambi. Ada dua foto unik yang kutemui. Pertama perempuan adat dari Desa Guguk, Jambi, yang terkenal dengan Hutan Adat Guguk-nya. Saat membawa hasil hutan dalam bakul keranjang yang digendongnya, dia bersedia berpose ketika kuminta. Terakhir, foto perempuan belia berusia belasan tahun yang nampak polos tapi sudah menggendong seorang anak. Dia kutemui saat aku dan beberapa teman berkunjung ke Desa Lubuk Beringin, Jambi. Dua foto ini kuambil pada Juni 2007.

     Pulang Meramu                              Belia Menggendong Balita
     Desa Guguk, Jambi                        Desa Lubuk Beringin, Jambi

Apapun raut yang diperlihatkan, bagiku mereka adalah para perempuan pemberani dari berbagai pelosok negeri, yang dengan caranya masing-masing berani menghadapi tantangan hidup.

Posted by Tami at 15:50:37 | Permalink | Comments (2)

Monday, July 28, 2008

ANGGREKKU DI JULI 2008 (BAGIAN 2)

Inilah anggrek-anggrek lainnya, yang juga kuambil tanggal 27 dan 28 Juli. Semua, tentu saja, masih dari halaman rumahku.

         Anggrek dari Jawa Barat                      Gergaji Meratus, Kalsel

   Jenis Lain Gergaji Meratus     Anggrek Meratus Mirip Kantong Semar

Posted by Tami at 05:51:15 | Permalink | Comments (2)

ANGGREKKU DI JULI 2008 (BAGIAN 1)

27 dan 28 Juli. Beberapa anggrek yang sedang mekar membuatku bersemangat untuk mengabadikannya. Dan inilah mereka. Ada yang asli, ada yang silang. Masing-masing memiliki keindahan tersendiri. Aku tidak terlalu paham nama dan jenis anggrek. Bagi yang mengetahui nama, asal maupun jenis, tolong kasih tahu ya.

       Anggrek Macan Sulawesi                 Macan Sulawesi - Mekar

          Bulbul  Meratus: Dari Dekat                  Bulbul Meratus, Kalsel


              Golden Shower Silang                         Dandrum Silang

          Modista Meratus, Kalsel                         Catalya, Kalteng

Posted by Tami at 05:17:34 | Permalink | Comments (2)

Sunday, July 27, 2008

JELAJAH BELANDA

DEN HAAG

Di sinilah aku menghabiskan hampir sebagian waktuku selama 1 bulan di Eropa, dari akhir Mei sampai akhir Juni 2008. Centrum, pusat kota, menjadi tempat tinggalku. Hostelku terletak di Oudemostraat. Berjarak sekitar 100 meter dari Istana Resmi Tempat Kerja Ratu Belanda, dan hanya sekitar 10 menit berjalan kaki dari tempat kuliahku, the Institute of Social Studies (ISS).

     ISS tampak samping                            Istana Kantor Ratu Belanda
      Foto: Tami                                                Foto: Tami     

Aku menyukai hampir setiap sisi kota ini. Open market, sejenis pasar tradisional yang bersih, menjadi target jika aku dan teman-teman ingin berbelanja murah. Jenis barang apapun tersedia, termasuk makanan dan pakaian. Terkadang, kami juga iseng mengintip toko-toko “setengah megah” di antara toko-toko merek dunia yang membentang di kira-kanan hostelku. Jika ada pengumuman “korting”, bergegaslah kami masuk untuk mengecek harga. Lumayan. Ada teman yang menemukan sepatu, baju, tas atau dompet dengan harga miring, tapi bagus. Mmh, aku juga melakukan hal yang sama.

Yang mengagumkan di Den Haag, juga tempat-tempat lain di Belanda adalah bangunan tua dan sistem kanal yang terjaga dengan baik. Bangunan baru yang dibangun juga tidak mengganggu jalur hijau dan sistem kanal di kota ini. Trotoar dibuat dari sejenis batu yang disusun tidak rapat, sehingga bisa tetap memberi ruang nafas bagi tanah dan jalan bagi air merambat ke dalam tanah.

Sistem transportasi Den Haag juga tertata rapi. Untuk umum tersedia kereta, trem dan bis. Untuk keperluan pribadi, sepeda berseliweran di mana-mana. Malah ada jalan khusus dan rambu-rambu lalu lintas bagi sepeda. Menurut informasi dari sahabat SD-ku yang menikah dengan orang Belanda, Intan, jumlah sepeda di Belanda lebih banyak dari jumlah penduduknya. Menarik memang. Selain hemat dan tidak mengeluarkan polusi, kebiasaan bersepeda ini menjadikan orang-orang yang tinggal di Belanda menjadi lebih gesit dan sehat.

        Kanal Kecil Depan ISS                        Budaya Bersepeda
         Foto: Tami                                              Foto: Tami

AMSTERDAM

Di sinilah ibukota Belanda terletak. Dua kali aku sempat singgah di kota ini. Dengan kereta, hanya memerlukan waktu sekitar 30 menit dari Den Haag. Lazimnya ibukota di dunia, kota ini nampak lebih hiruk pikuk. Namun bangunan tua dan kanal tetap terpelihara dengan baik. Sistem transportasi juga sama dengan Den Haag: kereta, trem dan bis. Mmh, tambahan satu lagi, sepeda juga berseliweran di mana-mana.

Yang menarik di Amsterdam adalah cukup banyaknya rumah apung di sepanjang kanal. Sempitnya wilayah Belanda dibandingkan dengan penduduknya yang lumayan padat menjadikan tinggal di perahu berukuran lumayan besar menjadi salah satu alternatif yang ditempuh, selain menghuni “rumah susun” tentunya. Nampak beberapa rumah perahu tertata rapi dan dihias unik oleh para pemilik.

     Kanal di Amsterdam                             Di salah satu sudut Amsterdam
        Foto: Tami                                               Foto: Wahyu ISS

SCHEVENINGEN

Inilah salah satu tempat favoritku. Hanya memerlukan waktu sekitar 20 menit dengan trem dari Centrum, sampailah aku ke salah satu pantai terkenal di sekitar Den Haag. Beberapa kali aku melewatkan waktu di pantai ini menunggu sunset yang terjadi lewat pukul 10 malam. Dua kali aku berhasil mengabadikan momen sunset yang cukup lumayan dan memadukannya dengan latar belakang kafe atau restoran yang banyak ditemukan di sepanjang Sceveningen.

Di Scheveningen juga ada satu hotel tua yang memiliki makna bersejarah bagi Indonesia maupun Belanda. Hotel Kuur Haus menjadi saksi bisu Konferensi Meja Bundar (KMB) 1949. Sampai sekarang hotel ini masih berdiri megah layaknya sebuah istana mini.

      Hotel Kuur Haus                                      Matahari Menyentuh Cerobong

       Sepanjang Pantai                                Matahari Bertengger di Cerobong

      Kuning Keemasan: The Sunset                Merah Merona: The Sunset
      Semua foto di Scheveningen:
      Oleh Tami

LEIDEN

Beberapa hari sebelum pulang meninggalkan Eropa, aku, Mukti dan Boyce menyempatkan diri ke Leiden. Banyak hal yang ternyata sangat menarik di kota kecil yang berjarak hanya sekitar 20 menit dari Den Haag menggunakan kereta. Yang pertama adalah kincir angin atau windmill kecil yang terletak di tengah kota. Aku yang tidak sempat melihat kincir angin ukuran raksasa yang menjadi salah satu ikon Belanda begitu bersemangat memelototi bangunan tua ini.

       Depan Kincir Angin                                 Depan Sebuah Meriam Kuno
         Foto: Mukti ISS                                          Foto: Mukti ISS

Yang kedua, tentu saja Universiteit Leiden yang dianggap sebagai salah satu universitas yang terkenal di dunia. Tepat di seberang universitas itu ada perpustakaan sejarah yang cukup terkenal, KITLV. Yang juga menarik, tepat di bawah temboknya, berbatasan langsung dengan sungai, ada tulisan dengan huruf Lontara, huruf kuno suku Bugis di Sulawesi. Aku mengamati seekor angsa yang lalu lalang sepanjang tulisan Lontara itu.

       Lontara Depan KITLV                         Patung Rembrand
        Foto: Tami                                               Foto: Mukti ISS

Yang ketiga, rumah kediaman Rembrand semasa kecil, tahun 1600-an. Rumah ini tepat berada di jalan Rembrand, yang berjarak hanya sekitar 5 menit berjalan kaki dari Universitas Leiden. Nampak jelas rumah ini terawat dengan baik. Tidak jauh dari rumah itu, ada patung Rembrand kecil yang digambarkan tengah mengamati hasil lukisannya.

MADURODAM

Situs ini cukup terkenal di dunia. Di sini bisa ditemui miniatur dari bangunan-bangunan kuno dan modern, serta ikon-ikon Belanda lainnya. Dari istana Ratu Belanda, gedung parlemen, kincir angin, sampai bandara Schipol. Tempat wisata ini tidak jauh dari Den Haag, hanya perlu naik trem sekitar 20 menit. Bagi yang tidak sempat mengunjungi Belanda untuk waktu yang lama, Madurodam sudah cukup mampu menampilkan gambaran negeri Kincir Angin ini secara garis besar.

    Bangunan mini Madurodam             Lihat istanaku
       Foto: Tami                                           Foto: Mukti ISS

DELF

Kota kecil ini terkenal karena dua hal: tempat menjual souvenir murah dan tempat Universiteit Delf, sejenis ITB-nya Belanda. Sama seperti tempat-tempat lain di Belanda, ada bangunan-bangunan kuno seperti gereja dan istana kecil yang kutemui di sini. Juga ada kanal mungil. Kafe-kafe juga mulai bertebaran, seiring dengan datangnya musim panas di Belanda. Aku tidak sempat menjelajah lebih jauh di Delf. Tapi aku cukup puas sempat melongok sesaat kota teknologi ini. (Foto berikut oleh Tami dan Wahyu ISS)

Posted by Tami at 09:53:05 | Permalink | Comments (3)

BUNGA DI TAMANKU (BAGIAN 1)

    Kuning Merona                                     Trompet Merah Jambu    
            

    Liur Menetes - Anggrek Silang        Anggrek Bulan Halong Meratus

    Lebah dan Teratai                        Si Merah Peach - Anggrek Silang 

Aku gemar sekali mengambil foto. Beberapa foto di atas adalah foto bunga-bunga yang ada di taman kecil rumahku sepanjang tahun 2008. Menarik bukan?
   

Posted by Tami at 06:20:06 | Permalink | Comments (2)

REMBANG TETAP MEMPESONA (3) : KULINER, BATIK, AKSESORIS

KULINER. Lontong tuyuhan tetap jadi favoritku. Lontong yang diberi lauk sejenis ayam opor memang menggugah selera. Ayam kampung yang liat-liat ketika digigit, membuat makan lontong ini menjadi lebih berseni. Dua porsi menjadi layak jika aku menyantap makanan khas tersebut.

Aku dan Eny
Foto: Lilik, staf pemkab Rembang

                                                                            Salah satu sudut Rembang
                                                                            Foto: Tami
    

Selain tuyuhan, di rumah Eny biasa tersedia berbagai makanan khas Rembang. Yang paling membuatku kepincut adalah terong yang dipenyet dengan sambal terasi. Aku merasa itu paling yahud. Esoknya, aku semakin merasa cinta terong yang kali ini dipenyet dengan parutan kelapa berbumbu. Dicocol dengan tempe, tahu atau ikan goreng, santap siang dan malamku selalu terasa spesial.

BATIK. Batik Lasem tetap kujelajahi. Ada beberapa penjual yang aku kunjungi bersama Eny. Tapi dari semua yang menjadi favoritku adalah Purnomo. Batik tulisnya berwarna cerah ceria, bermotif hidup dan harganya tidak semahal tempat lain. Aku memilih beberapa kain batik tulis berwarna coklat kemerahan, coklat kehitaman dan merah maron. Batik-batik ini kutinggal di Rembang untuk dibordir dan dijahit. Tidak sabar aku membayangkan bentuk cantik baju-baju batik ini juga sudah selesai dijahit.

Menjelang pulang dari Rembang menuju Semarang tanggal 22 Juli pagi, aku dan Eny merambah pasar tradisional Rembang dan langsung berkunjung ke kios batik langsung jadi langganan Eny. Kali ini bukan batik Lasem, tapi batik Pekalongan dan Solo yang tersedia. Ada beberapa baju yang menarik perhatianku. Dengan harga sangat terjangkau, paling tidak 3 baju batik berpindah ke tanganku.

AKSESORIS. Saat menghadiri selamatan pengajian malam di rumah Mustofa Bisri pada 21 Juli 2008, sehari sebelum Mbah Mus beserta istri dan 2 anaknya berangkat Umroh, tiba-tiba Eny memanggilku dari kamar tengah. Aku masuk dan sesaat kemudian terbelalak. Iyah, salah satu anak Mbah Mus, ternyata sedang belajar membuat aksesoris dari bebatuan yang diuntai dengan kawat besi. Beberapa aksesoris yang sudah jadi - - bros, kalung, cincin dan gelang — terlihat begitu rupawan dengan paduan warna dan corak yang pas. Aku yang memang tergila-gila dengan aksesoris, terutama kalung dan cincin unik, segera membeli. Iyah masih agak bingung menentukan harga yang pas. Bagiku, harga yang diberikan Iyah tidak mahal. Dengan Rp 75 ribu aku mendapatkan satu stel lengkap. Keren dan pas ketika kukenakan.

Rembang tidak kehilangan pesona. Panas dan tandus kota pantai ini menjadi tidak terasa saat keteduhan keluarga besar Bisri dan berbagai pernik kuliner, batik serta aksesoris, menemaniku saat aku berada di sana selama 4 hari. Aku pun berencana kembali lagi ke Rembang.

Posted by Tami at 04:59:20 | Permalink | Comments (2)

REMBANG TETAP MEMPESONA (2): PESTANYA BOWO

20 Juli 2008. Aku tidak tahu apa yang ada dalam pikiran temanku Bowo. Dia tetap melajang sampai usia 30-an. Sementara kebanyakan teman kuliahnya di Fakultas Sastra UI sudah momong anak, dia masih menikmati kesendiriannya.

Entah gerah atau gregetan melihat kalemnya Bowo dalam mencari pasangan, Eny, istri temanku Yaqut, rela menjadi comblang. Lilis, seorang santri dari pesantren alm. Mbah Cholil Bisri, menjadi target. Bowo akhirnya bertekuk lutut.

20 Juli 2008 dipilih sebagai hari Bowo dan Lilis melepas masa lajang. Sekitar jam 10, puluhan keluarga besar Bowo datang dari Semarang. Mereka melepas lelah dan berdandan di rumah Yaqut dan Eni. Si kecil Salma, buah hati Eny, juga tidak kalah sibuk. Maklum, dia bersama Rara akan menjadi pedamping penganten duduk di pelaminan nanti.

Pukul 1 siang, rombongan penganten lelaki bergerak menuju kediaman mempelai perempuan, yang terletak tidak jauh dari pantai. Sepoi-sepoi angin disertai musik khas pesantren yang dibawakan para santri, menyambut kedatangan kami. Semua seremoni, dari ijal kabul berbahasa Arab, sampai bersandingnya pasangan mempelai di pelaminan, berjalan lancar. Duapun menjadi satu berdampingan mengarungi hidup.

Aku yang sejak awal sibuk mengambil foto setiap momen, duduk bersebelahan dengan Eny ketika penganten duduk bersanding. Saat melepas lelah, sejenak kutoleh semua yang hadir. Ada Gus Mus, yang menikahkan Bowo, datang beserta keluarganya. Ada Nyai Cholil Bisri beserta anak, mantu dan cucunya. Ada beberapa kyai ternama di Rembang. Ada para santri. Ada para tamu. Dan tentunya, ada teman-teman baikku.

Angin pantai kadang bertiup seakan menyapu gerahnya udara. Aku mengambil saputangan untuk berkipas, duduk berbaur dengan yang lain. Turut gembira aku merasakan suasana riang di hajatan Bowo dan Lilis. Rembang hari ini, kali ini, pasti memiliki makna yang sangat dalam bagi mereka. Aku bersyukur menjadi bagian dari keluarga besar ini.

Posted by Tami at 03:18:30 | Permalink | Comments (2)

Monday, July 21, 2008

REMBANG TETAP MEMPESONA (1): HAUL DI LASEM

19 Juli 2008. Kelelahan menempuh jalan darat Jakarta – Semarang – Rembang sekitar 12 jam dan hampir tidak tidur semalaman di mobil, seakan terobati ketika kami memasuki rumah teman kuliahku, Yaqut. Mesem-mesem di teras, kulihat Bowo, sang calon penganten menyambut kami, empat orang teman kuliahnya dengan wajah berseri.

“Kalau tidak karena Bowo, mungkin aku tak akan pernah menempuh pantura sejauh ini,” celetukku disambut cengiran Bowo. Syukri, Caping dan Didik sigap turun dari mobil yang selama berbelas jam membuat pinggang agak pegal. Hanya kumpulan lagu di hp Caping dan semangatku untuk kembali menjejak Rembang membuatku tetap bersemangat dan tidak terlalu merasa lelah dalam perjalanan.

Tanpa istirahat, Yaqut segera mengajakku ke kegiatan haul almarhum Kyai Mashoem, pendiri pesantren Al Hidayah, di Lasem. Keinginan untuk bertemu Bang Kaban di tempat ini membuatku bersemangat. Sampai di pesantren, ya Allah, aku cukup terkesima melihat banyaknya orang yang sudah datang. Masyarakat sekitar, para tamu undangan dan santri berbaur. Lelaki dan perempuan tetap duduk bergerombol terpisah.

Masuk ke rumah cucu Kyai Mashoem, KH Zaim, yang sekarang memimpin Al Hidayah, membuatku lebih kaget. Kupikir Bang Kaban hanya disertai protokolnya saja. Eh, ternyata ada beberapa pejabat eselon 1 dan 2 yang sudah kukenal cukup baik. Kontan aku ngibrit, masuk ke dalam. Untunglah ada bibi dari pemimpin pesantren yang sangat baik dan menemaniku.

Beberapa saat kemudian, sesudah berbincang dengan ajudan dan beberapa staf, aku memperkenalkan Yaqut, termasuk ke Bang Kaban. Tidak ada waktu lama berbincang karena acara puncak segera dimulai. Pengajian dan sambutan-sambutan dihantar. Oleh keluarga tuan rumah, aku “dipaksa” duduk di deretan depan bersama-sama dengan para nyai yang sudah lumayan berumur. Ciuman di tangan, sebagai tanda hormat, yang diberikan beberapa hadirin perempuan yang datang membuatku semakin jengah. Tidak sampai 10 menit, aku sudah kabur, memilih masuk ke rumah utama dan menemui sang bibi sepuh. Lebih aman dan nyaman.

Kantukku akibat tidak tidur semalaman di mobil bercampur gerahnya Lasem membuatku memilih untuk tidak berlama-lama dan kembali pulang bersama Yaqut. Tapi paling tidak ada dua pengetahuan baru yang kuperoleh dari Lasem, selain tradisi batik yang sudah kutahu sebelumnya. Tradisi pesantren memang sangat kental di Lasem, seperti halnya beberapa kota di pantura lainnya. Kyai besar yang memiliki pesantren bertebaran dan mendapat penghormatan yang amat sangat dari banyak orang. Kedua, konon katanya 60% penduduk Lasem adalah Tionghoa dan sisanya mayoritas Jawa. Dari etnis Tionghoa tersebut, 80%-nya adalah muslim. Konon lagi kabarnya, mereka merupakan turunan dari armada Cheng Ho yang bergerak menjelajah dunia baru dengan misi damai, termasuk ke beberapa tempat di Jawa. Tidaklah mengherankan jika kebanyakan dari turunan mereka, seperti layaknya Ceng Ho, memeluk agama Islam.

Lasem tetap memberi banyak hal baru bagiku.

 

Posted by Tami at 16:38:44 | Permalink | Comments (2)