Wednesday, August 20, 2008

MANOKWARI SEKILAS PANDANG: AWAL YANG MENYENANGKAN

Memang hanya sekilas! Total cuma 3 hari yang kuhabiskan di Manokwari. Bersama-sama dengan ratusan peserta lain dari LSM, mahasiswa dan pihak lain, aku terlibat dalam kegiatan Jambore Kebangsaan 2008 yang diadakan Depdagri.

15 Agustus 2008. Ketika hercules kedua yang membawa rombongan mendarat di bandara Manokwari, tarian adat penyambutan disuguhkan. Beberapa lelaki dan perempuan berpakaian adat menari dengan gerak lincah dan energik. Wajah-wajah perempuan para penari begitu eksotis. Lelakinya juga tidak kalau menarik dengan badan tinggi tegap dan kulit kecoklatan.

       Lihat Herculesku               Di Bandara Manokwari

      Wajah Wajah Eksotis            Lincah Menari

Sesudah menikmati sesaat keramahan sambutan khas Papua Barat, kami menuju bis berangkat menuju Fasharkan, tempat pemeliharaan peralatan angkatan laut yang terletak di pusat kota. Perjalanan ke sana cukup menyenangkan. Apalagi melihat teluk berbanyu biru disertai deretan Pegunungan Arfat yang ditutupi awan. Papua memang selalu eksotis.

    Pegunungan Arfat                Kapal AL di Fasharkan

Menjelang sore, acara pembukaan Jambore Kebangsaan 2008 dibuka oleh Dirjen Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Depdagri. Aku yang sudah belasan tahun tidak mengikuti upacara, berbisik ke kedua sahabatku, Desy dan Frieda, mengkhawatirkan kalau-kalau upacara berjalan lama. Perjalanan sekitar 5 jam memakai Hercules dari Makassar, termasuk transit di Ambon, walau menyenangkan, cukup melelahkan jua. Kalau aku pingsan, mati aku, pikirku. Dan memang ada peserta yang pingsan. Tapi bukan aku.

Selesai upacara, aku menghampiri Pak Dar, panggilan akrab Pak Sudarsono, Dirjen Kesbangpol, sekedar memberitahu kalau aku sudah bergabung. Desy dan Frieda juga terpaksa kuseret-seret untuk bersalaman dengan beberapa tamu lain. Seru rasanya bertemu dengan banyak orang, beberapa di antaranya teman lama di kegiatan ini.

Sesudah itu, entah berkah atau anugerah, kami bertiga yang kelelahan, bertanya kepada salah satu anggota AL di mana ada kamar mandi. Agak heran juga melihat kami dibawa ke gedung yang di dalamnya mewah, ber-AC. Asyik, kita dapat kamar mandi bagus, jeritku. Sepuluh menit kemudian, bagian belakang gedung di mana ditemui kamar mandi dan dapur pintu yang kami kunci, diketuk. Ketika dibuka, nampak seseorang berpakaian AL terbata-bata memberitahu bahwa kami salah masuk. Kujelaskan kalau seseorang dari mereka yang mengantar kami ke sini. Beberapa saat kemudian, ketika giliran Frieda yang mandi terakhir sedang jebar jebur, pintu diketuk kembali. Kali ini seorang petugas perempuan yang mengatakan bahwa ini ruangan untuk pejabat. Ha ha, kontan aku dan Desy terbahak sesudah petugas tersebut pergi. Sesaat sesudah keadaan aman, bersijingkat kami bertiga keluar lewat pintu belakang. Tak apalah salah pakai kamar mandi. Yang penting segar sesudah berjam-jam berjibaku dengan keringat.

Malam itu dilanjutkan dengan kegiatan hiburan. Tarian khas Papua Barat kembali digelar. Para penari mengajak peserta berdansa. Ada beberapa tampilan lain yang cukup memukau seperti tari Tanduk Majeng dari Madura yang diperagakan empat penari profesional yang telah cukup berpengalaman melanglang buana menjadi duta budaya. Tapi yang paling luar biasa adalah suguhan nyanyian dari Edo Kondolagit. Penyanyi asal Sorong ini membuat bulu kuduk berdiri meriding dan jantung berdebar, ketika dengan gayanya sendiri, dia membawakan lagu “Indonesia Tanah Air Beta”. Edo memang dahsyat, komentar seorang teman yang duduk di belakangku.

Tengah malam berlalu. Sesudah mengatur tempat tidur lipat khas tentara di tenda berukuran besar, aku dan Frieda mengobrol tentang hari yang menyenangkan itu. Desy terpisah entah ke mana. Udara malam terasa dingin, tidak sepanas siang tadi. Kucoba duduk di ranjang. Wah, empuk ternyata. Kokoh dan nyaman. Sesaat kemudian aku berbaring. Frieda yang berada di sisi kiriku juga melakukan hal yang sama. Lamat-lamat bunyi jangkrik mengiringi tidur nyenyakku. Selamat malam, Manokwari.

Posted by Tami at 10:58:50 | Permalink | Comments (3)