MEMBUKA BLOG BARU: SUDEWI2000.WORDPRESS.COM
sudewi2000.wordpress.com
Jika berkenan, silakan juga membuka blog tersebut.
Selamat hari raya Idul Fitri.
Tami
Dear friends,
Please also refer to my new blog:
sudewi2000.wordpress.com
Regards, Tami
Dear friends,
Please also refer to my new blog:
sudewi2000.wordpress.com
Regards, Tami
Jambore Kebangsaan Manokwari Agustus lalu memang banyak memberikanku pengalaman menarik. Salah satunya adalah naik hercules. Sebelumnya, tidak pernah terfikir untuk naik pesawat bermesin plus berbaling-baling ini. Mendengar namanya, bagiku seperti membayangkan burung besi tua yang mengerikan, yang terpaksa harus terbang tinggi dengan suara berisik dengan tingkat keamanan yang rendah.
Prasangka tersebut berbeda dengan apa yang kutemui. Sesudah menunggu sekian lama di bandara Hasanuddin lama, pesawat bermotif lurik hijau khas TNI mendarat. Rombongan yang berangkat dari Makassar yang berjumlah hampir 20 orang dibagi dua kelompok. Aku termasuk kelompok pertama yang naik hercules short body.
Takut-takut penasaran, kunaiki anak tangga menuju pesawat. Pertama yang kulihat, tumpukan barang di sisi depan pesawat. Sementara para penumpang, tidak duduk menghadap depan, tapi menyamping berhadapan. Persis seperti naik mikrolet, gumamku. Juga, tidak ada sabuk pengaman, tidak ada meja kecil di depan yang bisa dibuka, plus tidak pula ditemui awak kabin seperti di pesawat komersil. Semua serba berbeda, mungkin lebih tepatnya unik.
Saat take-off tiba, masih kulihat beberapa teman yang sebelumnya sudah naik dari Jakarta, memainkan hp untuk ber-sms. ”Matikan dong,” teriakku ke salah satu di antara mereka. Suara kerasku yang bersaing dengan deru mesin, dibalas dengan senyum. Yang ditegur tetap asyik bersms dan tidak mematikan hp sama sekali. Merasa tidak digubris, aku duduk agak tegang, berpegangan pada jejaring di belakangku yang menjadi tempat bersandar, siap untuk lepas landas.
Aku memandang ke buritan pesawat. Nampak pintu barang yang sudah tertutup menjadi tempat duduk beberapa kru pria berpakaian layaknya orang mau terjun payung. Di sisi kanan dan kiri, masing-masing dekat jendela besar berbentuk oval, berdiri satu orang kru. Dengan alat penutup kuping di telinga, mereka nampak serius mengamati luar melalui jendela. Dan, aku ternganga waktu take-off tiba. Mereka tidak duduk atau berpegangan erat-erat. Dua orang yang berdiri tetap dengan santai berada pada posisinya. Aku yang tanpa sadar dari tadi sudah berpegang kuat pada jaring, perlahan mengendurkan pegangan. Seiring melemahnya cengkramanku, rasa tegangku berkurang, berganti rasa penasaran akan apa yang sedang kualami.
Sesaat sesudah lepas landas, Nona, sahabat cantikku dari tim Ormas Depdagri, pindah ke belakang dan duduk bersama-sama para kru di buritan pesawat. Bang Anton dan Mas Eko juga segera bergabung. Mereka nampak tertawa riang. Aku yang mengamati penasaran. Sesaat Nona melambai ke arahku memintaku untuk bergabung. Dengan ragu aku beranjak, melewati beberapa teman dan sebuah kardus besar berisi kotak makan siang, dan akhirnya sampailah aku ke buritan kapal udara. Agak ragu aku menaiki bagian pintu pesawat. Seorang kru mengulurkan tangan membantuku naik, dan sedetik kemudian, aku duduk di samping Nona.
Duduk di buritan pesawat inilah yang total mengubah pandanganku terhadap hercules. Beberapa kru yang kemudian bergabung ngobrol sesudah pesawat mengudara sekitar 30 menit, lalu bercerita banyak seputar burung besi TNI ini. Pesawat keluaran tahun 1961 yang diawaki 14 orang termasuk para pilotnya, merupakan satu dari sekitar 24 hercules yang bernaung di bawah 2 skuadron. Skuadron 32 berada di Malang dan 31 di Jakarta, masing-masing memiliki 12 pesawat. Dalam satu hercules, biasanya diawaki 13-14 orang yang terdiri dari pilot, kopilot, bagian navigasi, radio dan teknisi. Andri, seorang awak yang telah setia menemani hercules selama 32 tahun sebagai teknisi, dengan semangat menjelaskan semua yang ingin kuketahui. ”Oh, jadi yang kita naiki ini short body ya, Pak,” tuturku. Aku mengangguk mengetahui hercules yang long body memiliki tubuh yang lebih panjang dan mampu mengangkut barang dan penumpang lebih banyak lagi.
”Lantas, seberapa aman naik hercules?” tanyaku kepada bapak beranak 3 berpangkat kapten ini. Pria berlogat Jawa tersebut menjelaskan tingkat keamanan hercules yang lebih tinggi dibandingkan pesawat komersil. Pertama, pesawat ini selalu dipelihara dan dicek kelengkapannya. Kemudian, hercules memiliki empat mesin. ”Jadi kalaupun mesinnya tiga buah mati, kan masih ada satu,” canda Andri tertawa lebar. Dia melanjutkan, selain 4 mesin, sebuah hercules juga dilengkapi 2 baling-baling.
Banyak cerita yang kudapat dari Andri, juga dari dua kru yang berusia lebih muda, Bambang dan Imam. Tidak terasa perjalanan lebih dari 2 jam dari Makassar ke Ambon kulalui. Awan tebal nampak bergulung di angkasa kota Manise ini. Aku agak gugup memperkirakan akan ada turbulensi menjelang pesawat mendarat. Melihat beberapa teman dan kru masih duduk dengan manisnya di buritan, akupun tidak beranjak. Benar. Ketika hampir mendarat, hanya riak udara kecil yang kualami. Sampai menyentuh landasan, hampir tidak ada guncangan terasa. Aku tersenyum senang.
Memang tanpa sabuk pengaman, juga tanpa awak kabin yang melayani. Tapi, naik hercules ternyata menyenangkan. Keramahan para teknisi, keamanan yang dijelaskan juga pengalaman yang menyenangkan saat lepas landas, di udara dan menyentuh landasan bersama hercules, membuatku tidak takut lagi menaiki moda transport udara tersebut. Lalu, perjalanan 1 jam lebih dari Ambon menuju Manokwari pun kini kulalui dengan penuh semangat dan tanpa kekhawatiran. Aku mulai mencintai hercules dengan segenap keunikannya.

Empat hari sesudah 17 Agustus, tepatnya 21 Agustus, aku membaca di sebuah koran bahwa hari itu adalah Hari Maritim. Saat membaca kata maritim, tiba-tiba terlintaslah cerita guru sejarahku di SMP dulu, Bu Darwina, tentang Sriwijaya: tentang kejayaannya di laut, kekuasaannya yang melampaui batas administratif Indonesia sekarang ini, dsb, dsb.
Membaca kembali sejarah Sriwijaya sejak abad ke 7 sampai sirna di abad 14, laksana merunut kembali kejayaan nenek moyang kita di laut. Pengelana masa lalu China, I Tsing, yang hidup pada abad ke 7, mencatat kebesaran Sriwijaya yang menjadi penguasa laut selama berabad-abad. Dia pernah menumpang salah satu kapal Sriwijaya ke India Tengah. I Tsing mencatat kejayaan Sriwijaya sebagai penguasa maritim Laut Selatan, selain tentunya sebagai pusat perdagangan dan penyebaran agama Budha. Bangsa lain di Sumatera, Melayu, juga pernah memiliki Hang Tuah dan 4 sahabatnya yang terkenal begitu piawai di laut di masa Kesultanan Malaka.
Ujung utara Sumatera, Aceh, juga mencatat nama Laksamana Malahayati. Perempuan perkasa ini bahkan diyakini sebagai laksamana pertama di dunia. Di bawah kepemimpinan Malahayati, Angkatan Laut Kerajaan Aceh terbilang besar, terdiri dari ratusan kapal perang. Saat Cornelis de Houtman, orang Belanda pertama yang tiba di Indonesia, datang untuk kedua kali pada 1599 ke Aceh dengan membawa armada perang, dia dan pasukannya berhadapan dengan pasukan tangguh dibawah pimpinan Malahayati. Cornelis de Houtman sendiri mati dibunuh oleh perempuan pemimpin Inong Balee (janda-janda pahlawan yang telah tewas) ini pada 11 September 1599. Selain armada Belanda, Malahayati juga berhasil membuat lintang pukang armada Portugis. Hanya Inggris yang bebas dari besutan dahsyatnya karena memilih untuk menempuh jalan damai sewaktu mereka mulai masuk ke Aceh.
Bagian timur Indonesia juga memiliki bangsa petarung laut: Bugis-Makassar. Penjelajahan orang Bugis-Makassar bukan saja sampai ke Sulawesi (Celebes), Kalimantan (Borneo), Sumatera (Andalas), Timor, Maluku,Ternate, bahkan merambah jauh ke pelosok bumi lain seperti Cina, Malaysia, Filipina, Kamboja, Afrika, kawasan Pasifik, dan Australia. Dengan perahu phinisinya, mereka mengencangkan layar mengarungi laut dan samudera untuk berdagang dan menjelajah wilayah-wilayah baru. Sebagian dari mereka tinggal, menetap, bahkan kawin mawin di daerah baru tersebut.

Sebuah perahu layar bersandar di pantai Losari, Makassar
Aku kembali teringkat kapal anggun AL yang berlabuh berhari-hari di Fasharkan, Manokwari; Teringat kembali Indonesia punya Hari Maritim 21 Agustus; Mengenang dan membaca kembali cerita dan juga legenda tentang kedigjayaan maritim bangsa berabad-abad silam, dari ujung barat sampai bagian timur negeri; Lalu ingat betapa panik dan marahnya kita ketika dua pulau: Sipadan dan Ligitan, direnggut Malaysia; Betapa lintang pukangnya angkatan laut kita dengan “apa adanya” mengatasi pemodal dan nelayan asing yang masuk menguras isi laut. Apakah betul banyak layar phinisi sudah lama digulung daripada dikibarkan, kapal lebih banyak bersandar daripada berlayar?
Kita tidaklah bisa menghindar dari kenyataan bahwa jalan tol sudah banyak dibangun, mobil semakin masuk bertumpuk utamanya di kota-kota besar, tapi prasarana dan sarana laut terabaikan. Pulau-pulau kecil kita, terutama yang terluar, setiap saat bisa diambil alih negara lain, lautan kita diaduk-aduk dan diangkut isinya di depan mata. Jika kita masih ingin menjaga dan membangun negeri kita secara utuh, laut juga haruslah mendapat perhatian besar dari pemerintah dan masyarakat. Laut bukan lagi dilihat sebagai pemisah, tapi pemersatu dan penghubung antar pulau. Dari sekarang, karenanya, pembangunan, pelestarian dan penjagaan bukan lagi cukup terfokus di darat, tapi juga harus berparadigma tanah air.
Jika daratan penting, maka air (laut dan samudera) juga sama pentingnya. Bagi Indonesia, unsur air dan daratlah yang membentuk tanah air. Mudah-mudahan kita kembali punya semangat untuk mengibarkan kembali bendera kejayaan kita di laut. Di laut kita kembali jaya!