DI LAUT KITA (PERNAH) JAYA

Bersama Sahabat Berlatar Kapal TNI
Empat hari sesudah 17 Agustus, tepatnya 21 Agustus, aku membaca di sebuah koran bahwa hari itu adalah Hari Maritim. Saat membaca kata maritim, tiba-tiba terlintaslah cerita guru sejarahku di SMP dulu, Bu Darwina, tentang Sriwijaya: tentang kejayaannya di laut, kekuasaannya yang melampaui batas administratif Indonesia sekarang ini, dsb, dsb.
Membaca kembali sejarah Sriwijaya sejak abad ke 7 sampai sirna di abad 14, laksana merunut kembali kejayaan nenek moyang kita di laut. Pengelana masa lalu China, I Tsing, yang hidup pada abad ke 7, mencatat kebesaran Sriwijaya yang menjadi penguasa laut selama berabad-abad. Dia pernah menumpang salah satu kapal Sriwijaya ke India Tengah. I Tsing mencatat kejayaan Sriwijaya sebagai penguasa maritim Laut Selatan, selain tentunya sebagai pusat perdagangan dan penyebaran agama Budha. Bangsa lain di Sumatera, Melayu, juga pernah memiliki Hang Tuah dan 4 sahabatnya yang terkenal begitu piawai di laut di masa Kesultanan Malaka.
Ujung utara Sumatera, Aceh, juga mencatat nama Laksamana Malahayati. Perempuan perkasa ini bahkan diyakini sebagai laksamana pertama di dunia. Di bawah kepemimpinan Malahayati, Angkatan Laut Kerajaan Aceh terbilang besar, terdiri dari ratusan kapal perang. Saat Cornelis de Houtman, orang Belanda pertama yang tiba di Indonesia, datang untuk kedua kali pada 1599 ke Aceh dengan membawa armada perang, dia dan pasukannya berhadapan dengan pasukan tangguh dibawah pimpinan Malahayati. Cornelis de Houtman sendiri mati dibunuh oleh perempuan pemimpin Inong Balee (janda-janda pahlawan yang telah tewas) ini pada 11 September 1599. Selain armada Belanda, Malahayati juga berhasil membuat lintang pukang armada Portugis. Hanya Inggris yang bebas dari besutan dahsyatnya karena memilih untuk menempuh jalan damai sewaktu mereka mulai masuk ke Aceh.
Bagian timur Indonesia juga memiliki bangsa petarung laut: Bugis-Makassar. Penjelajahan orang Bugis-Makassar bukan saja sampai ke Sulawesi (Celebes), Kalimantan (Borneo), Sumatera (Andalas), Timor, Maluku,Ternate, bahkan merambah jauh ke pelosok bumi lain seperti Cina, Malaysia, Filipina, Kamboja, Afrika, kawasan Pasifik, dan Australia. Dengan perahu phinisinya, mereka mengencangkan layar mengarungi laut dan samudera untuk berdagang dan menjelajah wilayah-wilayah baru. Sebagian dari mereka tinggal, menetap, bahkan kawin mawin di daerah baru tersebut.

Sebuah perahu layar bersandar di pantai Losari, Makassar
Aku kembali teringkat kapal anggun AL yang berlabuh berhari-hari di Fasharkan, Manokwari; Teringat kembali Indonesia punya Hari Maritim 21 Agustus; Mengenang dan membaca kembali cerita dan juga legenda tentang kedigjayaan maritim bangsa berabad-abad silam, dari ujung barat sampai bagian timur negeri; Lalu ingat betapa panik dan marahnya kita ketika dua pulau: Sipadan dan Ligitan, direnggut Malaysia; Betapa lintang pukangnya angkatan laut kita dengan “apa adanya” mengatasi pemodal dan nelayan asing yang masuk menguras isi laut. Apakah betul banyak layar phinisi sudah lama digulung daripada dikibarkan, kapal lebih banyak bersandar daripada berlayar?
Kita tidaklah bisa menghindar dari kenyataan bahwa jalan tol sudah banyak dibangun, mobil semakin masuk bertumpuk utamanya di kota-kota besar, tapi prasarana dan sarana laut terabaikan. Pulau-pulau kecil kita, terutama yang terluar, setiap saat bisa diambil alih negara lain, lautan kita diaduk-aduk dan diangkut isinya di depan mata. Jika kita masih ingin menjaga dan membangun negeri kita secara utuh, laut juga haruslah mendapat perhatian besar dari pemerintah dan masyarakat. Laut bukan lagi dilihat sebagai pemisah, tapi pemersatu dan penghubung antar pulau. Dari sekarang, karenanya, pembangunan, pelestarian dan penjagaan bukan lagi cukup terfokus di darat, tapi juga harus berparadigma tanah air.
Jika daratan penting, maka air (laut dan samudera) juga sama pentingnya. Bagi Indonesia, unsur air dan daratlah yang membentuk tanah air. Mudah-mudahan kita kembali punya semangat untuk mengibarkan kembali bendera kejayaan kita di laut. Di laut kita kembali jaya!
ibu kita ini memang top sejak jaman dulu kala.
salut!!!
http://andriyatmo.wordpress.com/
hey,where are you from??can u email me please,thx
I am very careful and complete reading all your articles! Dry good!