NAIK HERCULES, SIAPA TAKUT?
Jambore Kebangsaan Manokwari Agustus lalu memang banyak memberikanku pengalaman menarik. Salah satunya adalah naik hercules. Sebelumnya, tidak pernah terfikir untuk naik pesawat bermesin plus berbaling-baling ini. Mendengar namanya, bagiku seperti membayangkan burung besi tua yang mengerikan, yang terpaksa harus terbang tinggi dengan suara berisik dengan tingkat keamanan yang rendah.
Prasangka tersebut berbeda dengan apa yang kutemui. Sesudah menunggu sekian lama di bandara Hasanuddin lama, pesawat bermotif lurik hijau khas TNI mendarat. Rombongan yang berangkat dari Makassar yang berjumlah hampir 20 orang dibagi dua kelompok. Aku termasuk kelompok pertama yang naik hercules short body.
Takut-takut penasaran, kunaiki anak tangga menuju pesawat. Pertama yang kulihat, tumpukan barang di sisi depan pesawat. Sementara para penumpang, tidak duduk menghadap depan, tapi menyamping berhadapan. Persis seperti naik mikrolet, gumamku. Juga, tidak ada sabuk pengaman, tidak ada meja kecil di depan yang bisa dibuka, plus tidak pula ditemui awak kabin seperti di pesawat komersil. Semua serba berbeda, mungkin lebih tepatnya unik.
Saat take-off tiba, masih kulihat beberapa teman yang sebelumnya sudah naik dari Jakarta, memainkan hp untuk ber-sms. ”Matikan dong,” teriakku ke salah satu di antara mereka. Suara kerasku yang bersaing dengan deru mesin, dibalas dengan senyum. Yang ditegur tetap asyik bersms dan tidak mematikan hp sama sekali. Merasa tidak digubris, aku duduk agak tegang, berpegangan pada jejaring di belakangku yang menjadi tempat bersandar, siap untuk lepas landas.
Aku memandang ke buritan pesawat. Nampak pintu barang yang sudah tertutup menjadi tempat duduk beberapa kru pria berpakaian layaknya orang mau terjun payung. Di sisi kanan dan kiri, masing-masing dekat jendela besar berbentuk oval, berdiri satu orang kru. Dengan alat penutup kuping di telinga, mereka nampak serius mengamati luar melalui jendela. Dan, aku ternganga waktu take-off tiba. Mereka tidak duduk atau berpegangan erat-erat. Dua orang yang berdiri tetap dengan santai berada pada posisinya. Aku yang tanpa sadar dari tadi sudah berpegang kuat pada jaring, perlahan mengendurkan pegangan. Seiring melemahnya cengkramanku, rasa tegangku berkurang, berganti rasa penasaran akan apa yang sedang kualami.
Sesaat sesudah lepas landas, Nona, sahabat cantikku dari tim Ormas Depdagri, pindah ke belakang dan duduk bersama-sama para kru di buritan pesawat. Bang Anton dan Mas Eko juga segera bergabung. Mereka nampak tertawa riang. Aku yang mengamati penasaran. Sesaat Nona melambai ke arahku memintaku untuk bergabung. Dengan ragu aku beranjak, melewati beberapa teman dan sebuah kardus besar berisi kotak makan siang, dan akhirnya sampailah aku ke buritan kapal udara. Agak ragu aku menaiki bagian pintu pesawat. Seorang kru mengulurkan tangan membantuku naik, dan sedetik kemudian, aku duduk di samping Nona.
Duduk di buritan pesawat inilah yang total mengubah pandanganku terhadap hercules. Beberapa kru yang kemudian bergabung ngobrol sesudah pesawat mengudara sekitar 30 menit, lalu bercerita banyak seputar burung besi TNI ini. Pesawat keluaran tahun 1961 yang diawaki 14 orang termasuk para pilotnya, merupakan satu dari sekitar 24 hercules yang bernaung di bawah 2 skuadron. Skuadron 32 berada di Malang dan 31 di Jakarta, masing-masing memiliki 12 pesawat. Dalam satu hercules, biasanya diawaki 13-14 orang yang terdiri dari pilot, kopilot, bagian navigasi, radio dan teknisi. Andri, seorang awak yang telah setia menemani hercules selama 32 tahun sebagai teknisi, dengan semangat menjelaskan semua yang ingin kuketahui. ”Oh, jadi yang kita naiki ini short body ya, Pak,” tuturku. Aku mengangguk mengetahui hercules yang long body memiliki tubuh yang lebih panjang dan mampu mengangkut barang dan penumpang lebih banyak lagi.
”Lantas, seberapa aman naik hercules?” tanyaku kepada bapak beranak 3 berpangkat kapten ini. Pria berlogat Jawa tersebut menjelaskan tingkat keamanan hercules yang lebih tinggi dibandingkan pesawat komersil. Pertama, pesawat ini selalu dipelihara dan dicek kelengkapannya. Kemudian, hercules memiliki empat mesin. ”Jadi kalaupun mesinnya tiga buah mati, kan masih ada satu,” canda Andri tertawa lebar. Dia melanjutkan, selain 4 mesin, sebuah hercules juga dilengkapi 2 baling-baling.
Banyak cerita yang kudapat dari Andri, juga dari dua kru yang berusia lebih muda, Bambang dan Imam. Tidak terasa perjalanan lebih dari 2 jam dari Makassar ke Ambon kulalui. Awan tebal nampak bergulung di angkasa kota Manise ini. Aku agak gugup memperkirakan akan ada turbulensi menjelang pesawat mendarat. Melihat beberapa teman dan kru masih duduk dengan manisnya di buritan, akupun tidak beranjak. Benar. Ketika hampir mendarat, hanya riak udara kecil yang kualami. Sampai menyentuh landasan, hampir tidak ada guncangan terasa. Aku tersenyum senang.
Memang tanpa sabuk pengaman, juga tanpa awak kabin yang melayani. Tapi, naik hercules ternyata menyenangkan. Keramahan para teknisi, keamanan yang dijelaskan juga pengalaman yang menyenangkan saat lepas landas, di udara dan menyentuh landasan bersama hercules, membuatku tidak takut lagi menaiki moda transport udara tersebut. Lalu, perjalanan 1 jam lebih dari Ambon menuju Manokwari pun kini kulalui dengan penuh semangat dan tanpa kekhawatiran. Aku mulai mencintai hercules dengan segenap keunikannya.
I respect your work,it is the most nice one i ever see
How professional! I think I need to read and learn more in future.