Sunday, July 27, 2008
REMBANG TETAP MEMPESONA (3) : KULINER, BATIK, AKSESORIS
KULINER. Lontong tuyuhan tetap jadi favoritku. Lontong yang diberi lauk sejenis ayam opor memang menggugah selera. Ayam kampung yang liat-liat ketika digigit, membuat makan lontong ini menjadi lebih berseni. Dua porsi menjadi layak jika aku menyantap makanan khas tersebut.
Aku dan Eny
Foto: Lilik, staf pemkab Rembang

Salah satu sudut Rembang
Foto: Tami
Selain tuyuhan, di rumah Eny biasa tersedia berbagai makanan khas Rembang. Yang paling membuatku kepincut adalah terong yang dipenyet dengan sambal terasi. Aku merasa itu paling yahud. Esoknya, aku semakin merasa cinta terong yang kali ini dipenyet dengan parutan kelapa berbumbu. Dicocol dengan tempe, tahu atau ikan goreng, santap siang dan malamku selalu terasa spesial.
BATIK. Batik Lasem tetap kujelajahi. Ada beberapa penjual yang aku kunjungi bersama Eny. Tapi dari semua yang menjadi favoritku adalah Purnomo. Batik tulisnya berwarna cerah ceria, bermotif hidup dan harganya tidak semahal tempat lain. Aku memilih beberapa kain batik tulis berwarna coklat kemerahan, coklat kehitaman dan merah maron. Batik-batik ini kutinggal di Rembang untuk dibordir dan dijahit. Tidak sabar aku membayangkan bentuk cantik baju-baju batik ini juga sudah selesai dijahit.
Menjelang pulang dari Rembang menuju Semarang tanggal 22 Juli pagi, aku dan Eny merambah pasar tradisional Rembang dan langsung berkunjung ke kios batik langsung jadi langganan Eny. Kali ini bukan batik Lasem, tapi batik Pekalongan dan Solo yang tersedia. Ada beberapa baju yang menarik perhatianku. Dengan harga sangat terjangkau, paling tidak 3 baju batik berpindah ke tanganku.
AKSESORIS. Saat menghadiri selamatan pengajian malam di rumah Mustofa Bisri pada 21 Juli 2008, sehari sebelum Mbah Mus beserta istri dan 2 anaknya berangkat Umroh, tiba-tiba Eny memanggilku dari kamar tengah. Aku masuk dan sesaat kemudian terbelalak. Iyah, salah satu anak Mbah Mus, ternyata sedang belajar membuat aksesoris dari bebatuan yang diuntai dengan kawat besi. Beberapa aksesoris yang sudah jadi - - bros, kalung, cincin dan gelang — terlihat begitu rupawan dengan paduan warna dan corak yang pas. Aku yang memang tergila-gila dengan aksesoris, terutama kalung dan cincin unik, segera membeli. Iyah masih agak bingung menentukan harga yang pas. Bagiku, harga yang diberikan Iyah tidak mahal. Dengan Rp 75 ribu aku mendapatkan satu stel lengkap. Keren dan pas ketika kukenakan.
Rembang tidak kehilangan pesona. Panas dan tandus kota pantai ini menjadi tidak terasa saat keteduhan keluarga besar Bisri dan berbagai pernik kuliner, batik serta aksesoris, menemaniku saat aku berada di sana selama 4 hari. Aku pun berencana kembali lagi ke Rembang.
REMBANG TETAP MEMPESONA (2): PESTANYA BOWO
Entah gerah atau gregetan melihat kalemnya Bowo dalam mencari pasangan, Eny, istri temanku Yaqut, rela menjadi comblang. Lilis, seorang santri dari pesantren alm. Mbah Cholil Bisri, menjadi target. Bowo akhirnya bertekuk lutut.
20 Juli 2008 dipilih sebagai hari Bowo dan Lilis melepas masa lajang. Sekitar jam 10, puluhan keluarga besar Bowo datang dari Semarang. Mereka melepas lelah dan berdandan di rumah Yaqut dan Eni. Si kecil Salma, buah hati Eny, juga tidak kalah sibuk. Maklum, dia bersama Rara akan menjadi pedamping penganten duduk di pelaminan nanti.
Pukul 1 siang, rombongan penganten lelaki bergerak menuju kediaman mempelai perempuan, yang terletak tidak jauh dari pantai. Sepoi-sepoi angin disertai musik khas pesantren yang dibawakan para santri, menyambut kedatangan kami. Semua seremoni, dari ijal kabul berbahasa Arab, sampai bersandingnya pasangan mempelai di pelaminan, berjalan lancar. Duapun menjadi satu berdampingan mengarungi hidup.
Aku yang sejak awal sibuk mengambil foto setiap momen, duduk bersebelahan dengan Eny ketika penganten duduk bersanding. Saat melepas lelah, sejenak kutoleh semua yang hadir. Ada Gus Mus, yang menikahkan Bowo, datang beserta keluarganya. Ada Nyai Cholil Bisri beserta anak, mantu dan cucunya. Ada beberapa kyai ternama di Rembang. Ada para santri. Ada para tamu. Dan tentunya, ada teman-teman baikku.
Angin pantai kadang bertiup seakan menyapu gerahnya udara. Aku mengambil saputangan untuk berkipas, duduk berbaur dengan yang lain. Turut gembira aku merasakan suasana riang di hajatan Bowo dan Lilis. Rembang hari ini, kali ini, pasti memiliki makna yang sangat dalam bagi mereka. Aku bersyukur menjadi bagian dari keluarga besar ini.
Monday, July 21, 2008
REMBANG TETAP MEMPESONA (1): HAUL DI LASEM
19 Juli 2008. Kelelahan menempuh jalan darat Jakarta – Semarang – Rembang sekitar 12 jam dan hampir tidak tidur semalaman di mobil, seakan terobati ketika kami memasuki rumah teman kuliahku, Yaqut. Mesem-mesem di teras, kulihat Bowo, sang calon penganten menyambut kami, empat orang teman kuliahnya dengan wajah berseri.
“Kalau tidak karena Bowo, mungkin aku tak akan pernah menempuh pantura sejauh ini,” celetukku disambut cengiran Bowo. Syukri, Caping dan Didik sigap turun dari mobil yang selama berbelas jam membuat pinggang agak pegal. Hanya kumpulan lagu di hp Caping dan semangatku untuk kembali menjejak Rembang membuatku tetap bersemangat dan tidak terlalu merasa lelah dalam perjalanan.
Tanpa istirahat, Yaqut segera mengajakku ke kegiatan haul almarhum Kyai Mashoem, pendiri pesantren Al Hidayah, di Lasem. Keinginan untuk bertemu Bang Kaban di tempat ini membuatku bersemangat. Sampai di pesantren, ya Allah, aku cukup terkesima melihat banyaknya orang yang sudah datang. Masyarakat sekitar, para tamu undangan dan santri berbaur. Lelaki dan perempuan tetap duduk bergerombol terpisah.
Masuk ke rumah cucu Kyai Mashoem, KH Zaim, yang sekarang memimpin Al Hidayah, membuatku lebih kaget. Kupikir Bang Kaban hanya disertai protokolnya saja. Eh, ternyata ada beberapa pejabat eselon 1 dan 2 yang sudah kukenal cukup baik. Kontan aku ngibrit, masuk ke dalam. Untunglah ada bibi dari pemimpin pesantren yang sangat baik dan menemaniku.
Beberapa saat kemudian, sesudah berbincang dengan ajudan dan beberapa staf, aku memperkenalkan Yaqut, termasuk ke Bang Kaban. Tidak ada waktu lama berbincang karena acara puncak segera dimulai. Pengajian dan sambutan-sambutan dihantar. Oleh keluarga tuan rumah, aku “dipaksa” duduk di deretan depan bersama-sama dengan para nyai yang sudah lumayan berumur. Ciuman di tangan, sebagai tanda hormat, yang diberikan beberapa hadirin perempuan yang datang membuatku semakin jengah. Tidak sampai 10 menit, aku sudah kabur, memilih masuk ke rumah utama dan menemui sang bibi sepuh. Lebih aman dan nyaman.
Kantukku akibat tidak tidur semalaman di mobil bercampur gerahnya Lasem membuatku memilih untuk tidak berlama-lama dan kembali pulang bersama Yaqut. Tapi paling tidak ada dua pengetahuan baru yang kuperoleh dari Lasem, selain tradisi batik yang sudah kutahu sebelumnya. Tradisi pesantren memang sangat kental di Lasem, seperti halnya beberapa kota di pantura lainnya. Kyai besar yang memiliki pesantren bertebaran dan mendapat penghormatan yang amat sangat dari banyak orang. Kedua, konon katanya 60% penduduk Lasem adalah Tionghoa dan sisanya mayoritas Jawa. Dari etnis Tionghoa tersebut, 80%-nya adalah muslim. Konon lagi kabarnya, mereka merupakan turunan dari armada Cheng Ho yang bergerak menjelajah dunia baru dengan misi damai, termasuk ke beberapa tempat di Jawa. Tidaklah mengherankan jika kebanyakan dari turunan mereka, seperti layaknya Ceng Ho, memeluk agama Islam.
Lasem tetap memberi banyak hal baru bagiku.
Wednesday, July 9, 2008
AWAL JULI 2008 DALAM HIDUPKU
Tiba-tiba di awal Juli ini aku begitu excited, senang karena menemukan beberapa teman lama akan muncul dan bertemu dalam Diskusi Refleksi Seabad M. Natsir di Jakarta dalam beberapa hari mendatang, tepatnya 15 Juli 2008, dan dalam sebuah konferensi internasional Antropologi di Banjarmasin pertengahan Juli nanti. Lalu, aku juga menjadi begitu bersemangat menelusuri perkembangan Kawal Borneo Community Foundation (KBCF) yang mulai meluaskan sayap ke Kalimantan Selatan dan Tengah. Kemudian, menemukan keasyikan ketika melakukan live talk show di TV milik pemerintah tentang pembangunan desa. Mmh, setali tiga uang dengan kondisi desa-desa di sekitar hutan. Juga, passion yang sama kudapatkan ketika aku mulai kembali menekuni kegiatan di Working Group Pemberdayaan, mengintensifkan jaringan untuk advokasi dan pemberdayaan dengan beberapa pihak.
Pembukaan Refleksi Seabad Natsir Burhan Magenda Berbicara
Foto: Tami Foto: Tami
Di rumah, anak-anak terlihat makin lucu dan menyenangkan. Rama sibuk bergaya di depan kamera dan minta difoto, saat beberapa kali di rumah aku menyempatkan diri mengambil foto anggrek-anggrek yang sedang bermekaran. Ungu keputihan, merah jambi, putih, ungu lagi, besar dan kecil, hybrid maupun alami. Semua berbaur. Lalu aku takjub melihat Ara yang tumbuh begitu cepat dan lincah, duduk dengan rambut panjangnya asyik menekuni bacaannya. Juga, aku begitu terpesona melihat sifat cuek Alif dengan setumpuk buku, yang sesaat kemudian dia pindah duduk mengetik cerita bersambungnya atau mengutak atik game di komputer.
Tiga anak dan sepupunya (1) Tiga anak dan sepupunya (2)
Foto: Tami Foto: Tami
Sibuk kembali menata hidupku sesudah menginjak tempat di mana aku akan tetap selalu berada, membuatku merasa bersyukur, walau tidak disangkal ada satu dua yang mengganjal di batin, tentang kerjaan dan beberapa hal. Jika aku tidak sesekali melihat ke bawah, aku bisa menyangka sebagai orang yang paling sial jika menghadapi ganjalan. Demikian juga, jika aku sesekali tidak mendongak, sulit kutahu kalau ada yang lebih atas dan lebih banyak memiliki dibandingkan aku. Dagu tegakku lebih membuatku nyaman pada diri, membuatku tetap bisa fleksibel melihat ke atas ke bawah. Dan ini yang membuatku tetap bersemangat menjalani hidup. Itulah hidupku di awal Juli. Penuh warna dan, umumnya ceria.
Monday, July 7, 2008
BERKAH SELAMA PRJ: PENJUAL KERAK TELOR ALA GARUT
Teddy, demikian dia memperkenalkan diri, dengan cekatan membalik wajan yang sudah berisi bahan kerak telor di atas tungku api anglo yang menyala. Beberapa menit kemudian, matanglah masakan tradisional khas Betawi itu. Pemuda berusia 19 tahun itu meletakkan kerak telor di atas piring dan menaburkan sejenis serundeng ebi di atasnya.
Aku, yang sengaja keluar menjelang tengah malam mencari kerak telor bersama sahabatku Lisa, kemudian asyik menyantap penganan variasi nasi itu. Iseng aku bertanya darimana Teddy berasal. Pikirku pasti orang Betawi asli. Ternyata salah besar. Dia ternyata berasal dari Garut, Jawa Barat.
Di sela-sela pelaksanaan Pekan Raya Jakarta (PRJ) yang diadakan selama sebulan dari 13 Juni sampai 13 Juli di Kemayoran, Jakarta, Teddy bersama 180 penduduk Kabupaten Garut, sengaja memboyong diri selama sebulan, datang ke sekitar areal PRJ, untuk berjualan kerak telor. Ternganga aku mendengarnya. Teddy yang berasal dari Desa Waas, bersama-sama dengan penduduk laki-laki dari 3 desa lainnya, berombongan naik bis menuju Jakarta demi mengais rejeki selama PRJ berlangsung.
Banyakkah keuntungan yang mereka peroleh sehingga mereka rela meninggalkan keluarga dan pekerjaan berkebun di desa selama sebulan? Teddy tidak menjawab pasti. Pemuda yang cukup bersahabat itu hanya berkomentar bahwa dari kerak telor yang per porsi dijual 12 ribu rupiah, ada keuntungan bersih sekitar 4 ribu rupiah. Dalam sehari antara 9 - 30 porsi yang berhasil dijual. “Jadi tidak menentu, Mbak, “ jelasnya sambil membereskan wajan dari sisa-sisa kerak nasi.
Aku bertanya-tanya, bagaimana Teddy yang bukan asli Betawi bisa dengan begitu piawai mengolah kerak telor. Ternyata sang pamanlah yang mengajar. Sebelumnya sewaktu muda, pamannya pernah bekerja sebagai pedagang kerok telor. Bos yang mengelola orang Betawi asli. Dari dialah sang paman belajar. Ilmu ini kemudian ditularkan tidak hanya kepada Teddy, tapi juga kepada banyak orang di Desa Waas.
Teddy melanjutkan bahwa seorang penjual kerak telor selama pelaksanaan PRJ harus membayar biaya sewa areal berjualan sebanyak 120 ribu rupiah. Dengan biaya sebesar itu, sang penjual akan mendapatkan keamanan berjualan selama sebulan dan tempat utuk tidur dalam tenda serupa barak besar di sekitar Tegalan, yang ditempuh sekitar 30 menit berjalan kaki dari area PRJ.
Hari makin larut, sudah lewat tengah malam. Teddy sudah berkemas-kemas hendak pulang sesudah berjualan dari jam 2 siang. Aku membayar 12 ribu rupiah, kemudian mengajak Lisa berjalan pulang ke apartemennya. Di jalan, obrolan kami tentang bedol para lelaki dari kampungnya selama PRJ untuk mencari nafkah, berlanjut. “Coba hitung Lis, dalam sehari jika rata-rata mereka satu porsi dapat keuntungan bersih 4 ribu rupiah dan mampu menjual 15 porsi, mereka akan mendapat 60 puluh ribu perhari. Sebulannya sekitar 1,8juta rupiah.”
Aku tidak berani menilai apakah jumlah tersebut belum atau sudah memadai bagi para pedagang kerok telor musiman tersebut. Tapi yang jelas, jika ratusan lelaki melakukan migrasi sementara dan rela tinggal di tenda-tenda sederhana pada saat PRJ selama sebulan, bisa jadi itu menunjukkan bahwa jumlah tersebut cukup luar biasa dan bisa menambah penghasilan di sela-sela waktu berkebun rutin mereka. Di balik hiruk pikuk PRJ, ada berkah tersendiri yang bisa ditanggukTeddy beserta kakak, ayah dan pamannya, bersama ratusan lelaki Garut lainnya. Demikian juga bagi penjual teh botol yang berdagang bersama istrinya yang sedang hamil 8 bulan, yang mengaku, PRJ memang membawa keuntungan yang berlipat. Aku tersenyum mendengarkannya.
Monday, June 30, 2008
Kekeluargaan dalam Kemasan Ekologi Politis
Suasana perkuliahan yang mendukung, pengajar dan mentor yang cukup profesional, membuat materi yang berat dan cukup padat menjadi nyaman dan lezat dikunyah otak. Bahan yang bejibun dalam Bahasa Inggris menjadi lebih bisa dipahami karena adanya diskusi malam yang kerap dilakukan bersama teman-teman.
Di satu seminar di ISS Habis kuliah, duduk depan ISS
Foto: Budi ISS Foto: Budi ISS
Total 17 orang yang datang dari penjuru Indonesia menjadi terbagi tiga, terutama kelompok anak lelaki di lantai dua, jika hampir tiba waktu makan malam. Terbagilah tiga kelompok sesuai keahlian masing-masing: juru masak, tukang belanja dan pencuci piring. Kelas juru masak paling elit, sementara tukang piring sudah tidak bisa naik kelas lagi karena kemampuan sudah mentok. Demikian komentar seorang teman yang disambut gelak tawa yang lain.
Rame-rame masak Santai di Scheveningen
Foto: Budi ISS Foto: Budi ISS
Suasana penuh tawa, canda dan terkadang nakal saling mencela inilah yang sangat membantu membuat betah satu sama lain. Belajar, masak, jalan dan belanjapun menjadi kegiatan bersama atau paling tidak berkelompok. Kehidupan yang lebih banyak dihabiskan di Den Haag pun menjadi tidak terasa lewat sebulan, menyisakan kenangan dan kenyamanan yang tidak terlupakan. All is one, 17 menjadi 1.
Monday, June 9, 2008
Masih dari Belanda: Budaya Bersepeda, Resapan Air dan Kanal
Untuk jarak dekat, sepeda menjadi “keharusan” bagi semua orang yang tinggal di Belanda. Mungkin di Belanda lebih banyak jumlah sepeda daripada penduduknya, komentar seorang teman yang sudah lebih dari 10 tahun tinggal di Belanda, menikah dan beranak pinak di sana. Jangan heran di sana menjadi pemandangan lazim jika lelaki atau perempuan bergaya eksekutif atau mengenakan baju mode paling mutakhir nampak begitu nyaman mengayuh sepeda, yang rata-rata menyerupai sepeda onthel di Indonesia. Jadi, biarpun Belanda berpenduduk sangat padat, polusi bukanlah sesuatu yang lazim ditemui layaknya Jakarta.
Hal kedua yang patut ditiru adalah penjagaan resapan air. Utamanya jalan yang diperuntukkan bagi pejalan kaki dan pengendara sepeda, bahan penutup jalan adalah sejenis batu yang dibentuk persegi empat, jajaran genjang atau bentuk lainnya. Yang unik, ketika disusun untuk membentuk trotoar misalnya, sengaja dibiarkan ada celah selebar beberapa mili atau sentimeter. Tujuannya tidak lain agar air hujan bisa meresap di antara celah-celah dan merembes ke tanah. Beberapa kali juga aku menemukan rumput-rumput kecil menyeruak bebas di antara celah mungil tadi. Pelajarannya, alam memang bisa diubah, tapi peruntukkannya bisa tetap dijaga.
Hal lain yang kusukai adalah keberadaan kanal yang banyak ditemui di Belanda. Di kanal tersebut, air mengalir bebas. Jarang sekali aku melihat sampah ditemui di kanal. Jikapun ada, paling hanya reruntuhan daun atau ranting yang jatuh dari pepohonan yang tumbuh subur di sepanjang kanal. Mungkin ini yang harus ditiru kota-kota di Indonesia yang dilewati sungai. Sistem kanal yang dibuat cukup lebar, membuat air, termasuk air hujan, bisa tertampung dan mengalir dengan baik. Budaya tidak membuang sampah di kanal juga menjadikan kanal tidak tersumbat. Mmh, beda dengan Jakarta dan Banjarmasin, keluhku, di mana sungai-sungai berukuran kecil atau sedang kerap tersumbat di sana sini dan kemudian menimbulkan bau tidak sedap. Akibatnya, ada hujan sedikit saja seperti di Jakarta, bisa dipastikan luapan air akan terjadi.
Selain itu, kanal yang terjaga dengan baik, kadang dilengkapi dengan bangku di bawah pepohonan yang tumbuh di pinggirnya, menjadikan kanal-kanal di Belanda sebagai tempat nyaman untuk duduk sekedar melepas lelah. Tenang sambil mengawasi riak air dan itik berenang. Begitulah yang kualami ketika aku menyempatkan diri duduk di pinggir kanal tepat di seberang ISS.
Sunday, June 8, 2008
MENJEJAK BELANDA: WELKOM TO HOLLAND
Dari 26 Mei sampai 23 Juni, aku dan beberapa teman dari suatu forum NGO lingkungan terkenal di Indonesia mengikuti kursus Political Ecology di Institute of Social Studies di Den Haag, Belanda.
Sesudah terbang 2 jam dari Jakarta ke Kuala Lumpur, kemudian lanjut ke Amsterdam selama 12 jam, mendaratlah burung besi Boeing 747-400 di Schipol. Dua teman sudah menjemput, Grace dan Anna. Angin yang berhembus cukup kencang di tengah-tengah musim semi membuatku harus mengancingkan jaket dan memasang syal. Lumayan bisa membantu menghangatkan badan.
Belanda akhirnya kujejaki. Waktu berbelas jam di pesawat ditambah rasa mengantuk yang luar biasa akibat hampir tidak tidur, dikalahkan oleh rasa dingin. Mungkin 11 atau 12 derajat. Persis musim semi di Melbourne. Dari Schipol, moda transport berganti. Giliran kereta bertingkat dua yang dicicipi. Schipol ke Holland Spur memakan waktu sekitar 45 menit. Keluar dari stasiun kereta, berganti trem yang ditempuh selama 10 menit menuju The Hague alias Den Haag.
Turun di stop Mauritskade, aku dan rombongan berjalan kaki ke hostel selama 10 menit. Angin masih menderu agak kencang, membuat kami merapatkan jaket dan menarik syal rapat-rapat. Ada sedikit insiden menarik saat Mukti menyadari ranselnya yang berisi laptop, hp dan beberapa benda berharga ketinggalan di trem. Dengan sigap Anna menghubungi petugas info trem dari hpnya dan beberapa saat kemudian mengatakan mungkin besok ransel Mukti bisa diambil, kalau ada yang mengembalikan. Aku sempat melirik Mukti yang terlihat pucat dan bersalah karena telah mengabaikan tas berharganya. Dasar Ambo…
Sesudah check-in dan pembagian kamar– aku mendapat kamar 9 — setengah mengantuk beramai-ramai kami berjalan kaki menuju kampus Institute of Social Studies (ISS). Berjalan sekitar 10 menit lurus dari pintu belakang hostel, kami sempat melewati Istana Resmi tempat berkantornya Ratu Belanda Beatix. “The flag is on,” jelas Anna. Bendera berkibar berarti sang Ratu sedang ada di tempat. Jika bendera turun, berarti yang bersangkutan berada di tempat lain (Hari-hari berikutnya sampai Jumat, aku melihat bendera terus berkibar di istana mungil ini. Berarti Ratu memang rajin bekerja 5 hari dalam seminggu. Mmh…).
Bertemu dengan Prof. Ben White dan Dr. Murat Arsel, dua pengajar utama kursus Political Ecology, sangat menyenangkan. Ben yang beristrikan perempuan aktivis pendiri LSM Perempuan pionir di Indonesia bersikap sangat ramah. Briefing tentang modul yang akan diberikan serta agenda kursus diberikan secara singkat. Rupanya mereka sadar bahwa rasa cape dan jetleg masih mendera. Sesudah lunch bersama di kantin kampus, pertemuan pertama selesai. (Ada hal menggembirakan sewaktu makan, karena Anna berhasil membawa tas Mukti dengan selamat sejahtera tidak kurang suatu apapun).
Dari kampus, ternyata perjalanan dilanjutkan dengan orientasi tempat. Grace dengan sabar menunjukkan beberapa tempat penting yang wajib diketahui, seperti tempat penjualan sim card (kartu hp Belanda), super market dan apotik. Agak mengagumkan melihat uniknya pertokoan yang berderet rapi. Sim Card Belanda, yang menurut para senior paling murah dan efektif, Lebara, kubeli dan segera kupasang di hp. Agak kesal aku karena ternyata telfon masih tidak bisa dipakai untuk sms dan hanya bisa untuk telfon — yang tentu saja memakan biaya lebih mahal –. Di super market aku sempat membeli beberapa bahan makanan.
Aku hampir menyerah karena mengantuk dan memutuskan untuk pulang cepat ke asrama. Tapi mengingat jalan yang dilalui masih belum kuhafal, daripada tersesat, aku akhirnya tetap bergabung dengan rombongan mengitari centrum. Peduli amat dengan rasa kantuk…
Malam hari teman-teman ISS yang mendapat beasiswa dari pemerintah Belanda, Stuned, berbaik hati membuatkan makan malam dan mengadakan acara selamat datang kepada 16 peserta kursus dari Indonesia (minus Boyce, yang baru datang keesokan harinya). Sesudah ber-haha hihi– termasuk kaget karena bertemu Erwanto, teman lama yang kukenal waktu aku beberapa kali ke Aceh –, menjelang jam 11 aku memutuskan untuk masuk kamar, tidur dan bermimpi panjang. Masih ada waktu empat minggu di Belanda dan Eropa untuk dijalani, Tami. Selamat tidur.
Tuesday, May 20, 2008
ANAK-ANAKKU (MEI 2008)
19 Mei hampir jam 23.00 WITA.
Aku baru sampai rumah dari bandara,
setelah Garuda yang membawaku dari Jakarta menyentuh landasan.
Kulihat di kamar, tiga buah hatiku sudah tidur.
Aku sempat mencium mereka satu persatu,
tapi tidak satupun yang nampak terganggu.
Jelas mereka sudah tertidur, karena sang Mamah datang sudah cukup larut.
20 Mei pagi, Alif, Ara dan Rama bangun.
Si bungsu langsung memelukku. Agak kaget dia melihat aku sudah datang. Sesudah digendong beberapa saat, dia kembali tertidur dalam pelukanku.
Ara tersenyum melihatku datang dan mengatakan, selamat ulang tahun Mamah. Agak siang, dia berlari membawakan rangkaian bunga yang ditaruh dalam vas kecil. Aku terharu melihat usaha kerasnya membuatkan kado spesial.
Alif mencium pipiku dan mengatakan selamat ulang tahun. Si sulung ikalku ini dengan cerewetnya mengatakan bahwa mereka telah lama menunggu kedatanganku untuk merayakan ulang tahun bersama.
I really love my babies.















